LANGUAGE

Cari artikel

Daging satwa liar di Asia Pasifik: Apa yang kita ketahui?

EN, ID
6 menit baca
Sebuah komunitas penelitian baru menyerukan agar penelitian dilakukan secara lebih interdisipliner dan berorientasi pada sistem
A person carries a pig wrapped in woven palm leaves for a community feast in East Nusa Tenggara, Indonesia.
Babi untuk pesta, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Foto oleh Aulia Erlangga/Landscape Alliance.

Catatan editor: Artikel ini semula diterbitkan di situs web Sustainable Use of Wild Species Transformative Partnership Platform (SU-TPP).

“Di dalam hutan di Cekungan Kongo, seorang pemburu memeriksa jerat kawat menjelang fajar. Apa yang akan ia bawa pulang malam ini mungkin merupakan satu-satunya sumber protein hewani yang akan dikonsumsi keluarganya minggu ini.” 

[Pada saat yang sama], di pasar-pasar Kinshasa, seorang wanita rela membayar lebih mahal untuk daging antelop asap karena itulah yang disajikan oleh ibunya dan neneknya

Dan di sebuah ruang rapat, seorang aktivis konservasi berpendapat bahwa kedua orang ini sedang mendorong suatu spesies menuju kepunahan.

“Ketiganya tidak salah,” kata Robert Nasi, Direktur Sains, Landscape Alliance, dalam webinar Wild Meat Dialogues yang pertama untuk kawasan Asia dan Pasifik. Meskipun contoh-contoh ini berasal dari Afrika, diskusi tersebut menunjukkan bahwa contoh-contoh tersebut mewakili faktor pendorong sosial dan ekologi yang kompleks terkait penggunaan daging satwa liar atau daging satwa buruan secara global.

The Wild Meat Dialogues adalah sebuah inisiatif dari Sustainable Wildlife Management (SWM)atau Program Pengelolaan Satwa Liar Berkelanjutan yang bertujuan membangun komunitas di kawasan Asia-Pasifik seputar penelitian daging satwa liar di tingkat regional, menutup kesenjangan pengetahuan, serta berkontribusi pada kebijakan yang lebih terinformasi dan pengelolaan satwa liar berbasis masyarakat. 

Sesi pertama membahas pertanyaan, “Mengapa kita berada di sini?” dan memaparkan alasan di balik perlunya penelitian dan praktik yang lebih kolaboratif tentang topik ini.

Video playing in corner

WATCH NOW

Apa yang kita ketahui dan tidak ketahui

Daging satwa liar berada di persimpangan berbagai isu, termasuk konservasi keanekaragaman hayati, penghidupan berkelanjutan, risiko penyakit zoonosis, serta ketahanan pangan dan gizi. 

Sebuah survei global menemukan bahwa diperkirakan 150 juta rumah tangga di belahan selatan dunia berburu daging satwa liar sebagai sumber protein harian yang esensial, penghasilan, serta mikronutrien seperti zat besi dan seng bagi penduduk pedesaan. Namun, eksploitasi berlebihan berkontribusi terhadap munculnya “hutan kosong” yang tampak sehat dari atas namun secara fungsional telah mati, karena populasi vertebrata di dalamnya telah lenyap. Eksploitasi berlebihan mendorong meningkatnya permintaan akan daging satwa liar, hilangnya habitat, dan perubahan iklim.

Memahami rantai nilai dan tren daging satwa liar memberikan wawasan berharga bagi masyarakat dan pemerintah mengenai cara mengelola satwa liar secara berkelanjutan, adil, dan aman, serta memantau perubahan dalam ekosistem.


“[Di Asia dan Pasifik] kita belum memiliki gambaran regional yang jelas tentang bagaimana rantai nilai daging satwa liar berfungsi, apa dampaknya, serta apa risiko dan peluang terbesarnya,” kata Manon Mispiratceguy, koordinator regional Asia dan Pasifik FAO , dalam sambutan pembukaannya.

Hal yang sangat penting untuk diatasi adalah kesenjangan pengetahuan di Asia dan Pasifik, mengingat tingginya keanekaragaman hayati di kawasan ini, pada saat yang sama tingkat perburuan yang tinggi, serta jaringan perdagangan satwa liar yang luas. Selain itu, dalam beberapa dekade terakhir juga telah terjadi beberapa wabah penyakit zoonosis yang terkait dengan konsumsi daging satwa liar.

Jasmine Willis, mahasiswa program doktoral di Universitas Oxford dan peneliti di Landscape Alliance, mengungkap beberapa celah tersebut dengan memaparkan temuan dari kegiatan pemetaan sistematis yang dilakukannya bersama rekan-rekannya untuk memahami penggunaan daging satwa liar di Asia Tenggara antara tahun 2000 dan 2023. Mereka menemukan:

  • Jumlah penelitian yang terus bertambah: Penelitian mengenai daging satwa liar meningkat secara signifikan sekitar tahun 2019–2020, dengan jumlah publikasi mencapai puncaknya pada tahun 2021.
  • Upaya penelitian tidak merata: Sejumlah besar penelitian berfokus pada Vietnam dan Indonesia, sedangkan negara-negara yang paling sedikit diteliti adalah Singapura, Brunei, dan Timor Leste, masing-masing dengan satu penelitian.
  • Fokus yang lebih besar pada “apa” daripada “mengapa”: Sebagian besar penelitian dari kawasan ini bersifat deskriptif, yang mendokumentasikan jumlah, frekuensi perburuan, dan harga daging satwa liar. Penelitian yang tersedia mengenai faktor pendorong sosial, efektivitas intervensi perilaku, mitigasi penyakit zoonosis, serta tabu atau proses pengambilan keputusan yang memengaruhi perdagangan dan konsumsi daging satwa liar masih terbatas.

Sedikit penelitian gunakan metode campuran atau pendekatan interdisipliner

Masih adanya kesenjangan dalam data berbasis lokasi dan faktor pendorong sosial merupakan hal yang penting: Kebijakan yang dijalankan tanpa pemahaman yang memadai mengenai cara sistem sosial dan ekologi saling berinteraksi, atau yang tidak didasarkan pada penelitian yang sesuai dengan konteksnya, berisiko gagal. Willis dan para pembicara lainnya merekomendasikan untuk melangkah melampaui penelitian deskriptif menuju penelitian interdisipliner dan berbasis sistem yang dapat menutup kesenjangan pengetahuan serta meningkatkan efektivitas intervensi kebijakan.

A traditional hunter wearing a leafy headpiece aims a bow and arrow in the rainforest of Papua New Guinea, illustrating customary hunting practices.
Seorang pemburu masyarakat adat di Papua Nugini. Foto oleh FAO

Studi kasus: Risiko zoonosis, kelelawar buah, dan perburuan untuk kebutuhan hidup

Setelah presentasi pengantar, Kim Sookee, pemagang di bidang kehutanan dan keanekaragaman hayati di FAO, memandu tiga sesi presentasi singkat dari Vietnam, Kaledonia Baru, dan Papua, serta sebuah diskusi panel.

Direktur Wildlife Conservation Society (WCS) untuk Vietnam, Hoang Thuy, menjelaskan tantangan yang terus berlanjut dalam memetakan rantai nilai daging satwa liar serta risiko zoonosis yang terkait dengan rantai pasokan tersebut. Meskipun mereka telah melacak perdagangan daging satwa liar dan hewan peliharaan melalui postingan daring, mereka belum mampu mengukur volume daging satwa liar yang langsung dikirim ke restoran dan berencana melakukan penelitian berbasis komunitas lebih lanjut untuk menutup kesenjangan ini. Menggemakan presentasi Willis sebelumnya, ia mencatat bahwa mereka membutuhkan lebih banyak data mengenai faktor pendorong sosio-ekologis perdagangan daging satwa liar di negara tersebut.

Malik Oedin, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten dan Presiden Guardiens des Iles, memfokuskan presentasinya pada kelelawar buah di Kaledonia Baru, di mana dagingnya dianggap sebagai hidangan lezat sekaligus bagian penting dari upacara-upacara masyarakat adat. Dalam beberapa kasus, masyarakat juga menggunakan tulang dan bulu kelelawar buah sebagai alat tukar. Namun, perburuan telah menjadi tidak berkelanjutan, dan populasi kelelawar buah pun terus menurun. Oedin dan timnya sedang melatih staf dinas lingkungan hidup serta berkonsultasi dengan masyarakat, pemburu liar, menteri pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun masa depan yang berkelanjutan bagi spesies ini.

Sementara itu, menurut Freddy Pattiselanno, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Papua, Indonesia, eksploitasi berlebihan terhadap daging satwa liar belum menjadi masalah di Papua. Hampir seluruh konsumsi dan perdagangannya bersifat subsisten, dan terdapat norma-norma tradisional yang kuat terkait pemanfaatan berkelanjutan.

Langkah selanjutnya

Wild Meat Dialogues yang pertama ini hanyalah sebuah pengantar. Untuk terus menjawab pertanyaan mengenai apa yang kita ketahui dan tidak ketahui tentang daging satwa liar di Asia dan Pasifik, dialog-dialog selanjutnya akan beralih dari memahami konteks ke mengidentifikasi solusi, alat-alat yang sudah ada, serta menghubungkan penelitian dengan kebijakan.


Ucapan Terima Kasih

Program SWM merupakan inisiatif internasional berskala besar yang bertujuan untuk meningkatkan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan satwa liar di ekosistem hutan, sabana, dan lahan basah. Program ini didanai oleh Uni Eropa, dengan pendanaan bersama dari French Facility for Global Environment (FFEM) dan French Development Agency (AFD). Berbagai proyek sedang dijalankan sebagai percontohan dan diuji coba bersama pemerintah dan masyarakat di 16 negara peserta. Inisiatif ini dikoordinasikan oleh konsorsium dinamis yang terdiri dari empat mitra, dipimpin oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama Landscape Alliance (sebelumnya dikenal sebagai Center for International Forestry Research dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF)), French Agricultural Research Centre for International Development (CIRAD), dan Wildlife Conservation Society (WCS).