LANGUAGE

Cari artikel

“Tangan sampai gemetar”: Mengenal Managalas lebih jauh dari lokakarya media sosial

EN, ID
7 menit baca
Lokakarya selama empat hari mengungkap sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan akses terhadap telepon pintar, kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi digital, hingga konektivitas internet di Managalas.
Participants attend a social media workshop in the Managalas Conservation Area, Papua New Guinea, with a facilitator leading the session.
Peserta mengikuti lokakarya media sosial di Kawasan Konservasi Managalas, Papua Nugini. Foto oleh Dean Arek / Landscape Alliance

Satia Ras, tim komunikasi Landscape Alliance, memimpin pelatihan media sosial selama empat hari bagi para Biodiversity Team Leaders, generasi muda, dan anggota masyarakat dari berbagai wilayah di Area Konservasi Managalas (MCA), Papua Nugini. Pelatihan ini dibagi menjadi dua kelompok, dengan satu hari khusus untuk para Biodiversity Team Leaders,

Satia membagikan pengalamannya, termasuk hal-hal yang berjalan sesuai rencana, tantangan yang dihadapi, serta pelajaran untuk menentukan langkah selanjutnya.

T: Apa yang ingin dicapai dari lokakarya ini?

J: Gagasannya adalah mendorong anggota masyarakat untuk menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi cerita dari Managalas, sehingga lebih banyak orang di luar kawasan tersebut dapat mengenal tempat ini, masyarakatnya, serta berbagai hal yang terjadi di lapangan. Penting bagi masyarakat setempat untuk menceritakan kisah mereka sendiri, berbagi pengalaman, dan menunjukkan realitas tempat yang mereka sebut rumah.

Khusus bagi para biodiversity team leaders , melihat catatan spesies yang dihasilkan melalui kegiatan pemantauan mereka dapat memperkuat pemahaman mereka mengenai apa yang sedang mereka lindungi. Media sosial kemudian dapat menjadi ruang bagi mereka untuk secara informal membagikan temuan, cerita, dan pengalaman tersebut kepada khalayak yang lebih luas.

Ini bukan berarti membebankan tanggung jawab komunikasi atau peningkatan kesadaran kepada masyarakat, melainkan menciptakan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kebanggaan mereka terhadap bentang alamnya, terhubung dengan orang lain yang memiliki minat serupa, serta menunjukkan kekayaan keanekaragaman hayati Managalas kepada jaringan yang lebih luas di Papua Nugini dan bahkan di luar negeri.

Q: Apa saja yang anda temukan disana?

J: Beberapa peserta sudah memiliki akses ke telepon pintar, tetapi banyak di antaranya merupakan telepon yang digunakan bersama oleh anggota keluarga, bukan perangkat pribadi. Sebagian besar peserta hanya menggunakan telepon pintar saat mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh proyek dan tidak memiliki banyak kesempatan untuk berlatih secara rutin di luar pelatihan.

Akses terbatas untuk mengisi daya telepon juga menjadi salah satu hal yang banyak dibicarakan peserta. Selama pelatihan, tim proyek membantu mengisi daya telepon menggunakan generator, sehingga peserta tidak perlu memikirkan biaya pengisian daya selama mengikuti sesi pelatihan. Namun, di luar kegiatan proyek, peserta menjelaskan bahwa mereka sering kali harus membayar kepada orang yang memiliki generator atau panel surya untuk mengisi daya telepon mereka.

Peserta juga menyampaikan bahwa mendapatkan kartu SIM tidak selalu mudah di MCA. Beberapa orang membutuhkan bantuan dalam proses registrasi, terutama jika mereka belum memiliki dokumen resmi seperti kartu identitas atau akta kelahiran.

Akses internet juga menjadi tantangan. Salah satu ketua tim keanekaragaman hayati mengatakan bahwa ia tinggal di wilayah yang tidak memiliki jaringan dan harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk mendapatkan akses internet. Bahkan di wilayah yang memiliki jaringan, koneksi internet terkadang tidak stabil, sehingga menyulitkan saat pelatihan, terutama ketika melakukan demonstrasi penelusuran internet dan aktivitas daring lainnya.

Peserta juga menyampaikan bahwa biaya data seluler cukup mahal, sehingga tetap terhubung secara rutin tidak selalu mudah.

Survei kesiapan digital yang dilakukan sebelum pelatihan juga menunjukkan adanya kesenjangan penting antara akses dan kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi digital. Meskipun banyak peserta sudah mengenal platform seperti Facebook, WhatsApp, YouTube, dan TikTok, tingkat literasi digital mereka masih sangat dasar. Beberapa peserta bahkan belum pernah menggunakan aplikasi pesan secara mandiri sebelumnya, meskipun mereka mengenali nama-nama platform media sosial tersebut.

A group of participants practise taking photographs with smartphones during a social media workshop, with a facilitator demonstrating how to use a phone camera.
Peserta berlatih mengambil foto menggunakan ponsel pintar dalam sesi praktik di Area Konservasi Managalas, Papua Nugini. Foto: Dean Arek / Landscape Alliance
Participants sit together in a group as they work on a practical storytelling exercise during a social media workshop.
Peserta mengikuti latihan praktik bercerita dalam lokakarya media sosial di Area Konservasi Managalas, Papua Nugini. Foto: Dean Arek / Landscape Alliance
Participants sit together during a social media training workshop in the Managalas Conservation Area, Papua New Guinea.
Peserta dari berbagai komunitas di Managalas mengikuti lokakarya pelatihan media sosial yang berfokus pada keterampilan bercerita secara digital dan komunikasi.
Foto: Dean Arek / Landscape Alliance

T: Seperti apa sesi pelatihan berjalan? 

J: Pelaksanaannya cukup menantang. Para peserta mengalami kesulitan terhadap hal-hal diluar perkiraan kami, seperti cara mengetik, menghapus, atau menyimpan kontak. Mereka merasa gugup; tangan mereka sampai gemetar. Pada satu kesempatan, seseorang tidak sengaja menghapus aplikasi GPS—yang digunakan oleh Biodiversity team leader untuk pemetaan dan kegiatan pemantauan di lapangan—tanpa menyadarinya.

Namun, terlepas dari berbagai keterbatasan tersebut, para peserta benar-benar antusias dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sepanjang pelatihan. Banyak di antara mereka yang sangat tertarik mempelajari cara menggunakan internet dan platform berkirim pesan. Ketika mereka mendapat kesempatan untuk mengirim pesan teks, foto, rekaman suara, dan video, antusiasme mereka terlihat jelas. Sesi-sesi pelatihan dipenuhi tawa, senyum, dan rasa ingin tahu.

Salah satu hal yang paling menarik adalah melihat antusiasme peserta ketika mereka mulai mengeksplorasi mesin pencari internet dan fitur berbasis suara. Bagi banyak peserta, menggunakan Google untuk mencari informasi tampaknya merupakan pengalaman yang benar-benar baru. Dalam sesi refleksi, beberapa peserta menyebut pencarian menggunakan Google sebagai salah satu kegiatan yang paling mereka sukai selama pelatihan.

Aktivitas merekam suara dan mengirim pesan suara juga menjadi sangat populer. Dalam banyak kasus, komunikasi berbasis audio terasa lebih mudah diakses dibandingkan mengetik, terutama bagi peserta yang masih belum terbiasa menggunakan papan ketik telepon pintar dan mengirim pesan teks.

Participants gather in a small group during a social media workshop, discussing a practical storytelling exercise with a facilitator.
Peserta bekerja sama dalam kelompok kecil saat mengikuti latihan praktik bercerita dalam lokakarya media sosial di Area Konservasi Managalas, Papua Nugini.
Foto oleh Dean Arek / Landscape Alliance
A participant presents a video story on vegetable gardening to other participants during a social media workshop.
Darling mempresentasikan video cerita kelompoknya tentang berkebun sayur dalam lokakarya media sosial di Area Konservasi Managalas, Papua Nugini.
Foto oleh Dean Arek / Landscape Alliance
Participants hold smartphones as they practise taking photographs and recording videos during a communications training session.
Peserta berlatih mengambil foto dan merekam video menggunakan ponsel pintar dalam sesi pelatihan komunikasi praktis di Kawasan Konservasi Managalas, Papua Nugini.
Foto oleh Dean Arek / Landscape Alliance

T: Bagaimana Anda menyesuaikan pendekatan selama pelatihan?

J: Kami segera menyadari bahwa kami perlu memperkuat pemahaman dasar terlebih dahulu. Jadi, alih-alih langsung memulai dengan pengenalan media sosial, kami memulainya dari hal-hal paling mendasar: cara menyalakan dan mematikan telepon, cara mengisi daya, cara mengambil foto dan video, serta cara menggunakan fungsi-fungsi utama telepon pintar.

Menciptakan suasana belajar yang nyaman juga membutuhkan usaha tidak sedikit. Sebagian peserta masih membangun kepercayaan diri untuk mengungkapkan pendapat secara terbuka, sehingga dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk mendorong interaksi dan diskusi yang lebih aktif.

Menariknya, seiring berjalannya lokakarya, minat peserta juga mulai berkembang. Pada sesi-sesi awal, banyak peserta terutama berfokus pada memahami fungsi dasar telepon dan sarana komunikasi. Namun, pada sesi-sesi berikutnya, peserta mulai semakin banyak bertanya tentang pembuatan cerita, penulisan keterangan foto, penyuntingan foto, video, pemasaran daring, serta bagaimana media sosial dapat digunakan untuk membagikan cerita positif dari komunitas mereka. Beberapa peserta juga menunjukkan ketertarikan menggunakan media sosial untuk mempromosikan kegiatan pertanian, upaya pelestarian lingkungan, dan berbagai inisiatif masyarakat.

T: Terlepas dari semua tantangan tersebut, apakah para peserta bersedia untuk terlibat?

J: Saya bisa melihatnya dengan jelas dari antusiasme mereka untuk menghadiri lokakarya. Saya ingat saat itu hujan, tetapi mereka tetap berjalan cukup jauh untuk datang ke tempat pelatihan. Beberapa peserta bahkan menunggu peserta lainnya agar mereka bisa berkumpul bersama sebelum lokakarya dimulai. Terlihat jelas adanya rasa kebersamaan dan kerja sama yang kuat di antara mereka.

Mereka juga sangat penasaran tentang berbagai alat dan aktivitas yang diperkenalkan selama lokakarya. Bahkan ketika melakukan kesalahan, mereka tetap mencoba dan berlatih. Kami memberikan tugas kelompok, dan mereka bekerja sama untuk menyelesaikannya. Beberapa kelompok membuat video cerita dan cerita foto sederhana, yang kemudian mereka presentasikan di hadapan peserta lainnya.

Secara umum, para peserta sebenarnya sudah tahu cerita apa yang ingin mereka sampaikan. Pelatihan ini hanya membantu mereka menemukan alat yang tepat untuk menyampaikannya.


Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi Landscape Alliance’s PNG Program Manager, Will Unsworth: [email protected]