LANGUAGE

Cari artikel

Great Green Wall di COP17: Menghubungkan restorasi, bukti, dan investasi

Dalam COP17 UNCCD di Ulaanbaatar, para pemangku kepentingan membahas bagaimana bukti keberhasilan restorasi di kawasan Great Green Wall dapat membuka peluang investasi.
The Action Dome at UNCCD COP17 in Ulaanbaatar, Mongolia, with its traditional Mongolian-inspired entrance and COP17 branding.
Action Dome pada COP17 UNCCD di Ulaanbaatar, Mongolia. Foto: Aris Sanjaya / Landscape Alliance.

Selama dua pekan pembahasan dalam sesi ke-17 Konferensi Para Pihak Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan (UNCCD COP17) di Mongolia, Great Green Wall Initiative (GGWI) mendapat sorotan besar. Inisiatif ini menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan dengan beragam tema. GGWI semakin diposisikan sebagai wadah untuk mendorong investasi multipihak dalam pengelolaan bentang alam yang tangguh, penguatan ekonomi pedesaan, pendekatan berbasis data dan inovasi, serta pengembangan usaha hijau dan lapangan kerja.

Fokus pada investasi semakin terlihat dalam Finance Day pada 24 Agustus. Dalam AU High-Level Event on the Great Green Wall (GGW), para pemimpin Afrika dan mitra mendorong perubahan dari proyek-proyek yang berjalan sendiri-sendiri menuju program yang lebih terkoordinasi dan siap mendapatkan investasi. Langkah ini diharapkan dapat menarik dan menjaga pendanaan dari pemerintah maupun sektor swasta.

Moses Vilakati, Komisioner Uni Afrika untuk Pertanian, Pembangunan Pedesaan, Ekonomi Biru, dan Lingkungan Berkelanjutan, menyampaikannya dengan tegas:

โ€œGreat Green Wall Afrika siap bergerak dari ambisi menuju investasi, dan dari investasi menuju dampak nyata. Afrika hadir dengan solusi.โ€

Selama COP17, berbagai kegiatan yang didukung oleh program Knowledge for Great Green Wall Action (K4GGWA) dan Regreening Africa membahas bagaimana pengalaman dan bukti dari upaya restorasi dapat membantu menarik investasi.

Paviliun Great Green Wall, ruang berbagi dan berkolaborasi

Paviliun Great Green Wall menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pihak yang bekerja untuk memulihkan bentang alam di seluruh Afrika. Dipimpin oleh Pan-African Agency of the Great Green Wall (PAGGW), paviliun ini mempertemukan lembaga nasional GGW, mitra pembangunan, peneliti, dan praktisi selama COP17. Paviliun tersebut didukung oleh Landscape Alliance (K4GGWA), UNCCD, African Development Bank, WFP, IFAD, FAO, dan UNEP.

Pembahasan mencakup berbagai topik, mulai dari agroforestry, pengelolaan padang penggembalaan, air, pemantauan kesehatan lahan, dan pengelolaan lahan berkelanjutan.

Selain itu, diskusi juga menyoroti satu pertanyaan penting dalam banyak sesi COP17: bagaimana bukti dan pengalaman dari upaya restorasi dapat diterjemahkan menjadi proyek yang layak didanai dan mampu menarik investasi?

Bagi K4GGWA, keterkaitan antara pengetahuan dan investasi menjadi bagian penting dari program ini. Didanai oleh Uni Eropa dan diimplementasi oleh Landscape Alliance bersama FAO, Inisiatif ini mendukung berbagai inovasi yang siap diterapkan, berbagi pengetahuan dan pembelajaran, pengembangan platform data, pemantauan kesehatan lahan, penguatan kapasitas kelembagaan, serta kebijakan yang mendukung di kawasan Great Green Wall.

Secara keseluruhan, berbagai kegiatan tersebut bertujuan membantu pendekatan yang telah terbukti agar tidak berhenti pada proyek-proyek individu, tetapi dapat diperluas dan diterapkan dalam skala yang lebih besar.

A screen displays a K4GGWA presentation on combining scientific evidence, practitioner experience and local knowledge for landscape restoration at UNCCD COP17.
Presentasi dalam COP17 UNCCD menunjukkan bagaimana bukti ilmiah, pengalaman praktisi, dan pengetahuan lokal dapat mendukung upaya restorasi melalui program Knowledge for Great Green Wall Action (K4GGWA). Foto: Aris Sanjaya / Landscape Alliance.

Dari bukti menuju aksi dan investasi

Pertanyaan tentang bagaimana mengubah pengalaman restorasi menjadi program yang layak mendapatkan investasi menjadi fokus dalam sesi sampingan COP17 bertajuk โ€œStrengthening Resilience and Investment in the Great Green Wall: From Evidence to Actionโ€. Sesi yang berlangsung pada Finance Day ini diselenggarakan bersama K4GGWA, Regreening Africa, Landscape Alliance, Uni Eropa, IFAD, UNCCD, dan Business4Land Initiative.

Diskusi ini mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai investasi, mulai dari komunitas dan praktisi restorasi, peneliti, pemerintah, lembaga pembangunan dan keuangan, hingga pelaku usaha.

Salah satu pertanyaan utama yang dibahas adalah: bukti seperti apa yang dibutuhkan investor dan pengambil keputusan sebelum memberikan pendanaan untuk upaya restorasi?

Di kawasan Great Green Wall, telah banyak tersedia pengalaman dalam menerapkan berbagai pendekatan yang dapat memulihkan lahan sekaligus meningkatkan penghidupan masyarakat. Pendekatan tersebut mencakup regenerasi alami yang dikelola petani, sistem agroforestri, pengelolaan padang penggembalaan yang lebih baik, rantai nilai berkelanjutan berbasis pohon dan hasil hutan bukan kayu, usaha berbasis masyarakat, serta pendekatan pengelolaan air dan kekeringan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Namun, hal ini membuktikan bahwa suatu pendekatan yang berhasil hanyalah langkah awal.

Patrick Worms speaks into a microphone during a session on financing the water-land nexus at UNCCD COP17, with K4GGWA materials displayed behind him.
Patrick Worms berbicara dalam sesi tentang pendanaan keterkaitan air dan lahan pada COP17 UNCCD di Ulaanbaatar, Mongolia. Foto: Aris Sanjaya / Landscape Alliance.
Tor-Gunnar Vรฅgen presents the K4GGWA Knowledge Platform to participants at UNCCD COP17 in Ulaanbaatar, Mongolia. A display showing maps and spatial data is visible behind him.
Tor-Gunnar Vรฅgen, ilmuwan senior dan kepala Spatial Data Science and Applied Learning Lab (SPACIAL) di Landscape Alliance, mempresentasikan K4GGWA Knowledge Platform dalam sebuah sesi di COP17 UNCCD di Ulaanbaatar, Mongolia. Foto: Aris Sanjaya / Landscape Alliance.

Agar intervensi yang berhasil dapat berkembang menjadi proyek yang layak mendapatkan investasi, investor membutuhkan bukti mengenai kondisi lahan dan hasil restorasi, biaya dan keuntungan, pasar dan rantai nilai, tata kelola dan penguasaan lahan, risiko, inklusi sosial, serta kapasitas lembaga lokal untuk menerapkannya dalam skala yang lebih luas.

Pengetahuan lokal juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Petani, penggembala, organisasi perempuan, wirausaha muda, dan pelaku usaha lokal tidak bisa hanya dipandang sebagai penerima manfaat di tahap akhir proses investasi. Pengetahuan dan prioritas ekonomi mereka perlu menjadi bagian dalam perancangan investasi tahap awal.

Hal ini merupakan bagian dari upaya yang didukung oleh K4GGWA Spatial Evidence Hub. Pemantauan yang lebih baik dapat mengurangi ketidakpastian, sementara bukti mengenai pendekatan yang berhasil dapat membantu investor menilai risiko. Pembelajaran antarnegeri juga dapat membantu menghindari pengulangan pendekatan yang tidak berhasil di tempat lain, sementara penguatan kelembagaan dapat meningkatkan pelaksanaan di lapangan.

Memahami model bisnis yang sesuai dengan kondisi lokal juga penting agar upaya restorasi dapat terus memberikan manfaat ekonomi, bahkan setelah suatu proyek berakhir.

Aster Gebrekirstos, senior scientist at Landscape Alliance, presents a map and data on the water-land nexus during a session at UNCCD COP17 in Ulaanbaatar, Mongolia.
Aster Gebrekirstos, ilmuwan senior di Landscape Alliance, berbicara dalam sesi tentang pendanaan keterkaitan air dan lahan pada COP17 UNCCD di Ulaanbaatar, Mongolia. Foto: Aris Sanjaya / Landscape Alliance.

Berinvestasi dalam kapasitas pelaksanaan

Membangun proyek yang siap mendapatkan investasi juga bergantung pada kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk melaksanakannya.

Di Paviliun GGW, Landscape Alliance bersama para mitra meluncurkan kursus daring terbaru yang dapat diakses secara terbuka, dengan fokus pada agroforestri dan pelibatan pemangku kepentingan. Kursus ini memberikan keterampilan praktis kepada para praktisi dan pengambil keputusan untuk mendukung restorasi bentang alam berbasis bukti.

Diskusi panel lainnya yang didukung K4GGWA dan Landscape Alliance membahas berbagai topik, mulai dari regenerasi alami yang dikelola petani, pengelolaan dan restorasi padang penggembalaan, hingga pemantauan kesehatan lahan. Diskusi juga membahas apa saja yang diperlukan agar praktik-praktik yang telah terbukti berhasil di tingkat lokal dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.

Pada water day, 25 Agustus, isu pendanaan kembali menjadi fokus utama dalam pembahasan mengenai GGW melalui diskusi meja bundar bertajuk โ€œFinancing the Waterโ€“Land Nexus: From Commitments to Concrete Actionsโ€. Kegiatan ini diselenggarakan oleh UNCCD Global Mechanism dan Landscape Alliance (K4GGWA) sebagai sesi tindak lanjut dari AUโ€“AfDB High-Level Event yang digelar sehari sebelumnya.

Water Day merupakan satu dari empat hari tematik yang berfokus pada prioritas utama dalam COP17, bersama Finance Day, Land Day,

Diskusi ini kemudian dilanjutkan dengan sesi poster utama tentang pengelolaan penggembalaan serta pemantauan dan evaluasi. Berbagai pembahasan tersebut menunjukkan sejumlah hal yang diperlukan untuk membangun portofolio proyek yang siap mendapatkan investasi: kelembagaan yang mumpuni, bukti yang kredibel, usaha yang layak, serta sumber daya manusia dengan keterampilan untuk menerapkan pendekatan restorasi dalam praktik.

Dari proyek individu menuju program investasi

Sesi tingkat tinggi Uni Afrika kembali membahas bagaimana Great Green Wall dapat beralih dari proyek-proyek individu menuju program yang lebih besar dan terkoordinasi, yang mampu menarik investasi jangka panjang. Diselenggarakan oleh Komisi Uni Afrika bersama UNCCD, African Development Bank, PAGGW, dan SADC, sesi ini menempatkan GGW sebagai platform tingkat benua untuk mendorong solusi berbasis alam, adaptasi perubahan iklim, restorasi ekosistem, serta penciptaan lapangan kerja hijau.

Almoustapha Garba, Sekretaris Eksekutif PAGGW, menekankan bahwa mobilisasi pendanaan harus berjalan beriringan dengan pembangunan portofolio proyek yang kredibel dan siap mendapatkan investasi.

โ€œRestorasi bentang alam, koordinasi kelembagaan, penyiapan portofolio investasi, dan mobilisasi pendanaan dapat dihubungkan dalam satu rangkaian,โ€ ujar Garba.

Garba juga menekankan perlunya mengembangkan proyek yang terstruktur dengan baik, efisien dari sisi biaya, dan layak mendapatkan investasi, sehingga mampu menarik pendanaan publik maupun swasta. Ia juga menyerukan penguatan koordinasi antara Uni Afrika, negara-negara anggota, lembaga regional dan keuangan, serta mitra pembangunan.

Ia menyoroti peluang untuk membangun portofolio proyek GGW di tingkat benua yang telah diprioritaskan dan siap mendapatkan investasi. Langkah ini diharapkan dapat membantu GGW bergerak dari komitmen menuju investasi dan pada akhirnya menghasilkan dampak nyata.

Membangun portofolio tersebut membutuhkan keterkaitan yang lebih kuat antara lahan yang telah dipulihkan dengan rantai nilai pertanian dan produk berbasis pohon yang layak secara ekonomi. Hal ini juga mencakup peluang bagi ekonomi dan usaha berbasis penggembalaan untuk mendapatkan manfaat dari kondisi padang penggembalaan yang lebih sehat.

Upaya tersebut juga berarti mengembangkan usaha berbasis produk seperti shea dan hasil hutan bukan kayu lainnya, serta memberikan akses kepada wirausaha muda terhadap pendanaan, pasar, dan dukungan usaha. Pendanaan publik dan pendanaan konsesional dapat membantu mengurangi risiko dan, jika sesuai, menarik modal swasta.

Pendanaan publik akan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan, terutama untuk menyediakan manfaat publik dan mendukung masyarakat ketika keuntungan komersial saja belum mampu mencerminkan sepenuhnya nilai lingkungan dan sosial dari upaya restorasi. Untuk mencapai skala yang diharapkan melalui GGWI, keterlibatan bank pembangunan, dana iklim, lembaga keuangan nasional, serta investor swasta yang bertanggung jawab juga perlu semakin diperkuat.

Dalam COP17, African Development Bank mengumumkan rencananya untuk menyelenggarakan African GGW Investment Forum pertama pada 2027. Forum ini akan mempertemukan pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, dana iklim, dan investor untuk memperkuat portofolio investasi serta mengembangkan proyek-proyek yang layak mendapatkan pendanaan.

Almoustapha Garba speaks during a session at UNCCD COP17 in Ulaanbaatar, Mongolia, seated at a panel table with a microphone and laptop.
Almoustapha Garba, Sekretaris Eksekutif Pan-African Agency of the Great Green Wall, berbicara dalam sebuah sesi di COP17 UNCCD di Ulaanbaatar, Mongolia. Foto: Aris Sanjaya / Landscape Alliance.

Membangun Portofolio Investasi

GGW tidak pernah sekadar tentang menanam pohon. Inisiatif ini bertujuan memulihkan bentang alam produktif sekaligus menciptakan peluang bagi masyarakat yang hidup di dalamnyaโ€”petani, penggembala, perempuan, kaum muda, wirausaha, dan masyarakat pedesaan.

COP17 menegaskan perlunya menerjemahkan upaya tersebut ke dalam generasi baru investasi. Bagi K4GGWA, hal ini berarti memperkuat pengetahuan, bukti, pemantauan, pembelajaran, dan kapasitas kelembagaan yang diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan investasi serta mendorong inovasi di berbagai negara dan sektor dalam kawasan GGW.

Kini, fokus perlu diarahkan pada upaya mengidentifikasi pendekatan dan usaha yang berhasil dan dapat dikembangkan melampaui tahap uji coba, mendokumentasikan bukti mengenai kinerja lingkungan, sosial, dan ekonominya, serta menghubungkan bukti tersebut dengan pihak-pihak yang mampu membiayai penerapannya dalam skala yang lebih besar.

Seiring perhatian beralih dari Ulaanbaatar menuju tahap implementasi, tantangannya adalah menerjemahkan bukti tentang pendekatan yang berhasil menjadi portofolio proyek yang kredibel, layak mendapatkan investasi, berakar pada kondisi lokal, dan

COP17 menunjukkan bahwa banyak solusi yang dibutuhkan sebenarnya sudah tersedia. Tantangan berikutnya adalah menghubungkan pengetahuan dengan investasi, investasi dengan implementasi, serta upaya restorasi dengan peluang ekonomi yang berkelanjutan di seluruh kawasan GGW.


Ucapan Terimakasih

Artikel ini dikembangkan melalui program Knowledge for Great Green Wall Action (K4GGWA).

K4GGWA didanai oleh Uni Eropa dan dilaksanakan oleh Landscape Alliance bersama Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), bekerja sama dengan lembaga dan mitra GGW untuk memperkuat pengetahuan, pemantauan, kapasitas, inovasi, dan koordinasi guna mendukung pelaksanaan GGW yang efektif.

Berbagai kegiatan yang diangkat dalam artikel ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Pan-African Agency of the Great Green Wall (PAGGW), African Union, European Commission, UNCCD, termasuk Great Green Wall Accelerator dan Business4Land, serta IFAD, AfDB, FAO, UNEP, WFP, dan mitra lainnya yang bekerja di kawasan Great Green Wall.