LANGUAGE

Cari artikel

Bagaimana COP ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) mendorong pemanfaatan spesies liar yang berkelanjutan?

EN, ES, ID
6 menit baca
Menerjemahkan target global menjadi aksi nasional
Eight panelists from the SBSTTA28 side event on sustainable wildlife management pose for a group photo outdoors, standing in front of flags representing different countries and organizations.
El Bizri and the other panelists from the the Subsidiary Body on Scientific, Technical and Technological Advice (SBSTTA28) side event: “From use to sustainability: Rethinking the management of wild animals.” SBSTTA28 helped set the scene for sustainable use negotiations at CBD COP17. Photo provided by Hani Rocha El Bizri / Landscape Alliance

Mulai dari satwa yang kita konsumsi hingga tumbuhan yang kita panen, spesies liar menopang mata pencaharian, budaya, dan kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Namun, meskipun dapat diperbarui, sumber daya dari spesies liar tetap terbatas. Bagaimana kita dapat terus memanfaatkannya secara berkelanjutan tanpa mengorbankan keanekaragaman hayati yang menjadi tumpuan kehidupan kita?

Isu “pemanfaatan berkelanjutan” kembali menjadi sorotan pada Pertemuan ke-17 Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (UNCBD COP17), seiring upaya negara-negara untuk mengimplementasikan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal (Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework/KMGBF).

“Sebagai ilmuwan, kami berupaya mendukung para negosiator dalam CBD COP17 dengan menyediakan bukti ilmiah yang mereka butuhkan untuk menyusun rencana dan kebijakan yang menyeimbangkan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia dengan upaya konservasi,” ujar Lauren Coad, ilmuwan senior sekaligus penanggung jawab bidang keanekaragaman hayati di Landscape Alliance.

Fokus kerja para ilmuwan terkait pemanfaatan berkelanjutan dalam COP17 mencakup dua prioritas utama: membagikan bukti ilmiah yang mendasari rancangan awal panduan global sukarela pertama dari Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) tentang pengelolaan satwa liar secara berkelanjutan, serta mendorong penggunaan indikator terstandar untuk membantu negara-negara memantau dan melaporkan kemajuan dalam mencapai Target 5 dan 9 Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KMGBF).

Pada saat yang bersamaan, bukti ilmiah ini dapat memperkuat pelaksanaan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional (NBSAP) di setiap negara, sekaligus mendorong mobilisasi pendanaan dan kemitraan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Membangun kerangka pemahaman tentang ‘Pemanfaatan Berkelanjutan’ dalam UNCBDCOP17 : Target 5 dan 9

Pasal 2 Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity atau CBD) mendefinisikan “pemanfaatan berkelanjutan” sebagai “pemanfaatan komponen keanekaragaman hayati dengan cara dan pada tingkat yang tidak menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati dalam jangka panjang, sehingga potensinya untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi sekarang dan mendatang tetap terjaga.”

Dua Target dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KMGBF) sangat relevan dengan pemanfaatan berkelanjutan.

Target 5 berfokus pada upaya memastikan bahwa pemanfaatan, pemanenan, dan perdagangan spesies liar dilakukan secara berkelanjutan, aman, dan legal.

Target 9 melengkapi upaya tersebut dengan menekankan bahwa pemanfaatan berkelanjutan harus terus memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama komunitas yang mata pencahariannya bergantung pada keanekaragaman hayati. Target ini juga mengakui praktik pemanfaatan spesies liar secara berkelanjutan berdasarkan adat dan tradisi, termasuk berburu, menangkap ikan, dan memanen hasil alam oleh Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (Indigenous Peoples and Local Communities atau IPLCs).

Mencapai kedua target ini secara bersamaan bukanlah hal yang mudah. Bagaimanapun, eksploitasi berlebihan terhadap spesies liar merupakan salah satu penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati dunia. Banyak ilmuwan, pembuat kebijakan, dan kelompok masyarakat sipil berbeda pendapat mengenai apakah manusia benar-benar dapat memanfaatkan spesies liar secara berkelanjutan.

Namun, daging satwa liar masih menjadi sumber penting bagi ketahanan pangan, pemenuhan gizi, dan pendapatan bagi sekitar 150 juta rumah tangga di negara-negara Global Selatan. Larangan berburu secara menyeluruh mungkin tampak sejalan dengan prinsip keberlanjutan ekologis dalam Target 5. Akan tetapi, kebijakan tersebut berpotensi merugikan masyarakat yang paling bergantung pada perburuan, sehingga justru menghambat keberhasilan penerapan Target 9.

“Larangan berburu sering kali tidak menghentikan masyarakat untuk mengonsumsi atau memperdagangkan daging satwa liar,” ujar Hani Rocha El Bizri, koordinator utama Sustainable Use of Wild Species Transformative Partnership Platform (SU-TPP) sekaligus ilmuwan dalam delegasi Landscape Alliance di COP17. “Namun, larangan tersebut dapat mendorong praktik ini berlangsung secara tersembunyi, sehingga menyulitkan para pemburu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis melalui sumber daging yang tidak diatur.”

“Kami mendukung kebijakan dan kerangka pengelolaan yang disesuaikan dengan konteks setempat, yang membangun kepercayaan dengan masyarakat yang bergantung pada daging satwa liar sebagai sumber pangan dan pendapatan, sekaligus menjaga kelestarian populasi satwa liar yang sehat bagi generasi mendatang,” ujar El Bizri.

Menerapkan target global dan memantau kemajuan di tingkat nasional

Situasi ini semakin kompleks karena hanya tersedia sedikit format pelaporan yang dapat digunakan negara-negara untuk menunjukkan kemajuan dalam penerapan pemanfaatan berkelanjutan.

Sebagai contoh, satu-satunya indikator yang saat ini diterima untuk mengukur pencapaian Target 5 berfokus pada stok ikan, padahal target tersebut mencakup aspek yang jauh lebih luas, yaitu “pemanfaatan spesies liar secara berkelanjutan, aman, dan legal”.

Dalam COP17, El Bizri bersama para ilmuwan lainnya akan membagikan hasil kerja mereka dalam mengembangkan indikator pelengkap untuk Target 5. Indikator ini dirancang untuk membantu negara-negara menilai pemanfaatan spesies liar secara lebih menyeluruh.

El Bizri juga akan memaparkan pandangannya mengenai potensi indikator untuk mengukur pemanfaatan satwa liar dalam kerangka keanekaragaman hayati pasca-2030. Pemaparannya didasarkan pada pengalamannya sebagai anggota Stakeholder Working Group dalam proyek IN-WILD. Dipimpin oleh IUCN, TRAFFIC, dan University of Oxford, inisiatif ini mengembangkan indikator berbasis data dari pasar daring dan media sosial untuk menghasilkan informasi terkini, hampir secara waktu nyata, mengenai dinamika perdagangan satwa liar.

 Four people stand in front of a screen displaying the IN-WILD project presentation at COP17, with botanical and wildlife illustrations on the wall behind them.
Tim proyek IN-WILD dalam sesi pembahasan indikator pemanfaatan spesies liar untuk kerangka kerja keanekaragaman hayati pasca-2030 di COP ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD). Foto oleh Landscape Alliance

Selain metode yang lebih baik untuk mengukur kemajuan, negara-negara juga membutuhkan panduan praktis dan perangkat inovatif untuk mendukung pelaksanaannya.

Tahun ini, Sekretariat CBD bekerja sama dengan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES), Konvensi Konservasi Spesies Hewan Liar yang Bermigrasi (CMS), serta para pemangku kepentingan utama lainnya, menyusun rancangan panduan global sukarela tentang pengelolaan satwa liar secara berkelanjutan. Panduan ini diharapkan akan dipertimbangkan untuk diadopsi oleh para Pihak dalam konferensi tersebut.

Panduan ini tidak hanya berfokus pada daging satwa liar atau spesies tertentu, tetapi juga mendorong pengambilan keputusan yang inklusif, pengakuan terhadap beragam sistem pengetahuan, serta pembagian manfaat yang adil.

Program Sustainable Wildlife Management (SWM) juga akan memperkenalkanLegal Hub, sebuah platform yang dirancang untuk membantu negara-negara memperkuat kerangka hukum dan kebijakan nasional dalam mendukung pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan serta konservasi keanekaragaman hayati.

Bukti ilmiah terkait isu ini juga terus berkembang. Sebuah Special Feature terbaru dalam jurnal People & Nature menyoroti pentingnya konsumsi daging satwa liar yang berkelanjutan dan berkeadilan untuk mencapai berbagai target dalam Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KMGBF).

Pada akhirnya, setiap negara pihak (Parties) memiliki peran dalam menentukan bagaimana perangkat dan panduan ini akan diterapkan dalam pendekatan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan semakin kuatnya bukti ilmiah, pendekatan baru untuk memantau kemajuan, serta kemitraan lintas sektor yang semakin erat, COP17 menjadi momentum bagi negara-negara pihak untuk mewujudkan masa depan ketika seluruh spesies yang dimanfaatkan manusia dikelola secara berkelanjutan, adil, dan aman.