Perburuan dan perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman besar bagi keanekaragaman hayati di Asia-Pasifik. Permintaan daging satwa liar—terutama dari kawasan perkotaan—terus memicu praktik yang tidak berkelanjutan dan meningkatkan risiko penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Tekanan ini makin berat karena habitat satwa terus menyusut dan terpecah. Dampaknya nyata: ratusan spesies mamalia, reptil, dan burung terus menurun, meninggalkan semakin banyak ‘hutan kosong’ yang sunyi tanpa satwa.
Asia dan Pasifik juga merupakan wilayah berisiko tinggi munculnya wabah penyakit menular baru di masa depan. Terutama di sepanjang rantai nilai daging satwa liar, di mana interaksi antara manusia, satwa liar, dan hewan ternak sering terjadi dan sulit diprediksi. Tantangan yang kompleks ini menuntut pendekatan pengelolaan yang lebih terpadu untuk memastikan rantai nilai daging satwa liar yang aman, adil, dan berkelanjutan—dari pemburu lokal hingga konsumen perkotaan.
Meski keterkaitan antara penggunaan daging satwa liar dengan hilangnya keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, dan risiko kesehatan sudah jelas, penelitian di Asia dan Pasifik masih sangat terbatas. Kesenjangan pengetahuan ini menghambat penyusunan rekomendasi dan kebijakan yang berbasis bukti, baik di tingkat nasional maupun regional.
Para ilmuwan dan praktisi terus berupaya menjembatani kesenjangan tersebut. Pada International Congress for Conservation Biology (ICCB) 2025 di Brisbane, para ahli daging satwa liar menyelenggarakan simposium berjudul “From forest to fork”: The impacts of wild meat use on food security, biodiversity conservation, rural livelihoods and health in the Asia-Pacific’.
Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh Program Sustainable Wildlife Management (SWM) dan International Livestock Research Institute (ILRI).
Banner untuk simposium ICCB 2025 “From Forest to Fork” tentang pemanfaatan daging satwa liar di kawasan Asia–Pasifik. Gambar atas izin para mitra Program SWM..
Pembicara pembuka memaparkan hasil penelitian yang dipimpin Program SWM di Asia dan Pasifik, dengan menyoroti kesenjangan pengetahuan serta peluang penelitian dan intervensi ke depan. Pembicara lain berbagi pengalaman tentang penerapan pendekatan terpadu berbasis hak untuk mendukung pengelolaan daging satwa liar yang lebih berkelanjutan dan adil.
Waktu penyelenggaraan kongres ini sangat relevan seiring percepatan implementasi Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal dan meningkatnya dorongan integrasi prinsip One Health. Mitra Program SWM dan ILRI berkontribusi dalam berbagai upaya untuk membantu para pengambil keputusan mengelola rantai nilai daging satwa liar dengan cara yang lebih aman dan berkelanjutan.


Mari terlibat
Program SWM sedang melakukan kajian komprehensif untuk mengidentifikasi kesenjangan penelitian terkait daging satwa liar di Asia dan Pasifik. Hasil kajian ini diperkirakan akan tersedia pada akhir 2025. Para peneliti yang bekerja pada isu daging satwa liar di kawasan ini dan ingin berkontribusi dipersilakan untuk menghubungi tim SWM.
Program Sustainable Wildlife Management (SWM) merupakan inisiatif internasional yang didanai bersama oleh Uni Eropa, French Facility for Global Environment, dan Badan Pembangunan Prancis. Program ini bertujuan untuk meningkatkan konservasi serta pemanfaatan satwa liar secara berkelanjutan di ekosistem tropis, memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat yang bergantung langsung pada satwa liar, serta mengurangi risiko penyakit zoonosis. Program SWM dilaksanakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO),French Agricultural Research Centre for International Development (CIRAD), Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) and Wildlife Conservation Society (WCS).
International Livestock Research Institute (ILRI) bekerja untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi di negara-negara berkembang melalui penelitian sistem peternakan. Kegiatan mereka terkait daging liar fokus pada perdagangan satwa liar, produksi ternak, dan kesehatan masyarakat, termasuk risiko penyakit zoonosis di Asia dan Afrika.








