Di dataran rendah Amazon Peru, ekosistem yang beragam dan unik bergerak dalam irama alam yang terus berdenyut. Memahami perubahan musim di Taman Nasional Pacaya Samiria bukanlah perkara mudah. Namun bagi masyarakat adat San Francisco dan Chanchamayo, yang hidup jauh di dalam hamparan hutan rawa yang luas, siklus alam bukan sekadar fenomena untuk diamati, melainkan fondasi kehidupan sehari-hari. Kini, siklus itu pun tengah berubah.
Di sepanjang tepian Sungai Marañón, keluarga-keluarga di dua komunitas—dari sekitar 140 komunitas yang berbatasan dengan kawasan konservasi—telah lama menggantungkan hidup pada pasang surut sungai. Naik-turunnya air menjadi penentu kapan mereka menangkap ikan, menanam, berburu, dan memanen hasil alam.
“Saat permukaan sungai mulai surut, itu tanda musim menangkap ikan,” jelas Alexandro Lache, Apu muda (pemimpin komunitas) San Francisco. “Ikan-ikan mulai bermunculan ke permukaan, lalu orang-orang menebar jaring—untuk makan, kadang juga untuk penghasilan. Memang tidak selalu pasti, tapi begitulah cara kami hidup: memanfaatkan apa yang disediakan alam.”
Suaka Alam Pacaya Samiria, kawasan lahan basah yang terdaftar sebagai situs Ramsar, kaya akan keanekaragaman hayati dan sumber daya hutan. Namun, banyak warga—termasuk Apu Alexandro—mulai khawatir karena ketersediaan sumber daya alam tersebut terus menurun.
“Para tetua sering bercerita, dulu mereka bisa berburu tak jauh dari kampung. Kini kami harus berjalan berjam-jam menembus hutan yang tergenang air, dan tak jarang pulang dengan tangan kosong,” tuturnya pelan.
Baru berusia 23 tahun, Apu Alexandro memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin komunitas. Di tengah tantangan yang semakin berat, ia berusaha menyalakan harapan—mengajak generasi muda untuk bersama-sama menjaga tanah mereka. Baginya, dan bagi banyak warga lainnya, bertahan di tanah leluhur dan mengelolanya secara lestari bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya jalan untuk bertahan hidup dan meraih masa depan yang lebih baik.

Hidup bersama sungai
Sungai Marañón adalah nadi yang mengalirkan kehidupan—dapur yang memberi makan, jalan yang menghubungkan, dan ruang hidup bagi masyarakat di tepian air. Namun alirannya kini tak lagi sepenuhnya aman.
Selama puluhan tahun, tumpahan minyak dari pipa-pipa yang membelah sungai-sungai Amazon Peru telah meninggalkan luka—pada tubuh manusia dan pada hutan yang diam menyaksikan. Apu Alexandro masih menyimpan ingatan pahit tentang bencana tahun 2014. “Dulu kami meneguk air langsung dari sungai. Ketika tumpahan itu datang, kami tak tahu apa artinya. Kini, racun itu tinggal di tubuh sebagian dari kami. Karena itu, kami belajar menadah hujan, menyimpan air dari langit untuk bertahan hidup,” katanya lirih.
Belakangan ini, kekeringan terburuk yang pernah diingat kawasan ini membuat Sungai Marañón menyusut hingga nyaris tak bernyawa. Alirannya melemah, memutus komunitas-komunitas, mengeringkan ladang, dan meninggalkan ikan-ikan mati di dasar sungai yang retak.
“Sungai ini mengering,” kenang Ostin Lomas, wakil gubernur Chanchamayo. “Gundukan pasir menahan kami. Yang tersisa hanya genangan kecil, airnya panas nyaris mendidih. Dari situlah kami minum. Kami tak bisa mandi, dan tanaman kami—kakao, pisang, singkong—lenyap.”
Bagi Lache, itulah momen ketika sesuatu berubah. “Saya belum pernah menyaksikan kekeringan seperti ini,” katanya. San Francisco berjarak sepuluh jam perjalanan perahu dari Nauta, pelabuhan terdekat. Ketika sungai berhenti menjadi jalan, kehidupan pun ikut terhenti. “Risikonya sederhana namun kejam: kehilangan panen,” ujarnya.
Di usia 53 tahun, Lomas telah menyaksikan perubahan lingkungan yang begitu drastis. “Sekarang, di musim hujan justru terasa seperti kemarau,” katanya. Kekurangan hujan dan panas yang ekstrem mengusik keseimbangan alam, mengguncang seluruh ekosistem. Bahkan aguaje—rawa palma yang didominasi pohon Mauritia flexuosa—yang dulu selalu basah, kini ikut mengering.
Palma aguaje menjulang di atas hutan gambut di Amazon, Peru, di mana ekosistem yang tergenang mendukung keanekaragaman hayati, mata pencaharian, dan penyimpanan karbon.
Foto oleh Junior Raborg / CIFOR-ICRAF
Hutan rawa palma
Rawa palma aguaje adalah penyangga kehidupan—bagi keanekaragaman hayati dan bagi ekonomi masyarakat setempat. Buahnya menjadi pangan pokok sekaligus sumber penghasilan, sementara burung dan mamalia menggantungkan hidup pada hutan ini. Namun selama puluhan tahun, cara panen tradisional yang menebang pohon palma betina demi mencapai buah telah meninggalkan bentang alam yang rusak dan sunyi.
Antara 2007 hingga 2018, lahan gambut rawa palma di Amazon Peru kehilangan rata-rata 17.650 hektare setiap tahun akibat degradasi, dan 4.200 hektare lainnya lenyap karena deforestasi—sebagaimana dicatat dalam studi CIFOR-ICRAF dan para mitranya. Kehilangan ini bukan hanya mengurangi ketersediaan palma, tetapi juga mengubah iklim. Di dataran rendah Amazon Peru yang tergenang, rawa palma menyimpan cadangan karbon yang sangat besar di dalam tanahnya. Ketika lahan ini rusak, karbon dilepaskan ke udara, menambah panas yang kini kian terasa di seluruh dunia.
Di San Francisco, keluarga-keluarga mulai mengambil langkah. “Kami memikirkan anak-anak kami,” ujar Belvi López, agen komunitas.
Ia mengingat masa ketika panen aguaje berlangsung tanpa aturan—siapa pun bisa menebang, dan tak ada yang menegur. Namun sejak Suaka Alam Nasional Pacaya Samiria dibentuk pada 1972, masyarakat yang hidup di dalam kawasan lindung harus menyesuaikan diri dengan cara baru dalam memanfaatkan dan memperdagangkan sumber daya alam.
Kini, panen aguaje diatur melalui rencana pengelolaan yang diawasi oleh Sernanp, badan pengelola kawasan konservasi nasional Peru. Berbagai pelatihan mengajarkan warga untuk memanjat pohon aguaje—yang menjulang hingga 35 meter—alih-alih menebangnya.
“Awalnya orang berkata, ‘Bagaimana mungkin kami memanjat?’” kenang Apu Alexandro. “Tapi perlahan kami belajar. Tahun lalu, sekelompok anak muda memutuskan untuk memanen aguaje dengan cara ini.”
Namun jalan perubahan tak sepenuhnya lapang. “Ada persyaratan yang sering kali menjadi penghalang,” jelas Alonso Pérez, peneliti di Instituto del Bien Común (IBC).
“Sebagian warga tidak memiliki GPS, tak mampu membiayai inventarisasi hutan, atau belum memahami prosedur administratif negara.”

Untuk mendampingi langkah itu, proyek Sustainable management of palm swamp peatlands by local communities—yang dipimpin CIFOR-ICRAF bersama para mitra—mulai bekerja sejak Juni tahun ini di San Francisco dan Chanchamayo. Lebih dari sekadar membantu menavigasi berkas dan persyaratan administratif, proyek ini berupaya merancang bersama strategi pengelolaan aguaje, melibatkan komunitas dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas pengawasannya.
Melindungi rawa palma, kata Apu Alexandro, “bukan hanya menjaga buahnya, tetapi juga satwa yang bergantung padanya dan menopang pangan kami.” Pemantauan berbasis komunitas juga diyakini dapat menahan laju pembalakan ilegal. “Orang luar datang menebang tanpa izin, merusak apa yang sedang kami jaga,” ujarnya mengingatkan.
Di dalam ekosistem ini, pengetahuan tradisional pun berakar. “Kami menggunakan tanaman obat, dan kami tak ingin itu lenyap,” kata Lache. Ia menyebut shirisanago—akar yang direndam dalam minuman beralkohol, digunakan untuk meredakan rematik di hutan yang tergenang.
Di Chanchamayo, Roberto Núñez memanen sekaligus menanam aguaje. “Saya menanam palma pertama 20 tahun lalu, saat anak saya lahir—agar suatu hari ia juga bisa memetik buahnya,” kenangnya. Hingga kini, pohon-pohon itu masih berdiri. Roberto terus menanam, dengan keyakinan sederhana namun dalam: “Aguaje harus dirawat seperti kehidupan itu sendiri.”
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kristell Hergoualc’h at [email protected]








