Bagi para turis, Samudra Hindia identik dengan laut biru berkilau dan pantai berpasir yang indah di kota-kota pesisir Afrika. Namun di balik pesona tersebut, samudra ini menyokong mata pencaharian jutaan penduduk setempat.
WWF, lembaga konservasi global, memperkirakan bahwa Produk Kelautan Bruto tahunan di wilayah Samudra Hindia Barat mencapai minimal 20,8 miliar USD, setara dengan PDB sektor kelautan, dan menempatkannya sebagai salah satu ekonomi laut terbesar secara global.
Wilayah ini mencakup sejumlah negara pesisir dan kepulauan, mulai dari Komoro hingga Tanzania, termasuk Kenya, Madagaskar, Mauritius, Mozambik, Seychelles, Somalia, dan Afrika Selatan.

Di kawasan ini, Samudra Hindia selama ini lebih dikenal karena kontribusi ekonominya, terutama melalui sektor pariwisata dan perikanan.
Namun, para ahli menilai bahwa penekanan berlebihan pada aspek ekonomi dapat membuat berbagai manfaat penting lainnya luput dari perhatian.
“Samudra bukan hanya sumber ikan atau pendapatan dari pariwisata. Ia juga sangat penting untuk mengatur iklim, melindungi garis pantai, menjaga keanekaragaman hayati, dan melestarikan identitas budaya,” kata James Kairo, ilmuwan utama di Kenya Marine and Fisheries Research Institute (KMFRI).
Kairo menyampaikan hal ini dalam sesi khusus pada Simposium ke-13 Western Indian Ocean Marine Science Association (WIOMSA), yang diselenggarakan bersama oleh Center for International Forestry Research dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) melalui proyek Regional Centre of Excellence for Biodiversity, Forests and Seascape Ecosystems Management in Eastern and Southern Africa (RCOE-ESA) yang didanai Uni Eropa. Sesi ini membahas bagaimana tata kelola laut dapat lebih baik mengakui dan memanfaatkan manfaat ekologis, sosial, budaya, dan iklim yang diberikan oleh samudra.


“Ketika membicarakan samudra, fokusnya tidak hanya pada airnya saja, tetapi pada seluruh ekosistem yang menopang manfaat yang diperoleh masyarakat ” kata Ivy Amugune, peneliti dan pimpinan riset ekosistem laut proyek RCOE-ESA, CIFOR-ICRAF.
Mangrove dan lamun bukan hanya habitat bagi ikan untuk berkembang biak, tetapi juga penyerap karbon dalam jumlah besar yang membantu mengatasi perubahan iklim, sekaligus pelindung alami garis pantai dari gelombang dan banjir.
“Ekosistem ini menyimpan manfaat ekologis yang luar biasa, namun kerap tersembunyi. Ketika dijaga, mereka memperkuat sektor perikanan dan pariwisata, serta mendukung pendapatan, ketahanan pangan, dan penghidupan masyarakat,” jelas Amugune.
Many of the ocean’s most important benefits – from climate regulation and biodiversity to cultural value – remain overlooked in economic assessments. Photo by Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.
Berbagai penelitian kini menunjukkan bahwa nilai samudra jauh melampaui hitungan ekonomi semata.
Studi WWF tentang Samudra Hindia Barat menyoroti bahwa banyak manfaat penting—mulai dari pengaturan iklim dan produksi oksigen hingga penyimpanan karbon serta nilai budaya dan spiritual—sering kali tidak terlihat dalam pendekatan penilaian yang konvensional.
Karena jarang terukur, layanan ekosistem sering membuat nilai sejati samudra luput dari perhatian dalam kebijakan dan investasi. Padahal, justru manfaat yang tak terlihat inilah yang menopang kehidupan manusia.
Inilah alasan mengapa ekosistem seperti mangrove, terumbu karang, dan lamun perlu dijaga.
Elijah Chivatsi, seorang nelayan di pesisir Kenya, telah melihat sendiri dampak ketika keterhubungan ini diabaikan.
Sejak kecil, ia membawa pesan kakeknya: samudra dan segala ekosistemnya adalah warisan suci yang harus dihormati.
“Samudra dihormati karena nilai budaya dan spiritualnya. Masyarakat percaya samudra menghubungkan mereka dengan Tuhan, dan beberapa titik di pesisir dianggap sebagai tempat ibadah,” ujarnya.


Menurut Chivatsi, keyakinan ini membentuk cara masyarakat berinteraksi dengan laut. Menebang mangrove tanpa alasan dianggap tabu, sementara penangkapan ikan di area tertentu dilarang karena dianggap suci atau sebagai makam.
“Leluhur kami percaya bahwa merusak mangrove akan membuat samudra mengambil kembali daratan,” katanya.
Nilai-nilai ini menjadi bagian dari sistem adat yang mengatur pengelolaan sumber daya laut, sebagaimana tercatat di Kenya, Tanzania, dan Madagaskar.“Leluhur kami percaya bahwa merusak mangrove akan membuat samudra mengambil kembali daratan,” katanya.
Nilai-nilai ini menjadi bagian dari sistem adat yang mengatur pengelolaan sumber daya laut, sebagaimana tercatat di Kenya, Tanzania, dan Madagaskar.
Namun, tradisi tersebut kini mulai memudar.
“Pengetahuan ini semakin hilang. Generasi muda kurang peduli, mangrove dieksploitasi, dan penangkapan ikan berlebihan menyebabkan populasi ikan menurun,” ujarnya.
Tata kelola laut yang berkelanjutan bergantung pada penggabungan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal masyarakat pesisir. Foto oleh Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.
Para ahli menekankan pentingnya mengakui dan mengintegrasikan pengetahuan tradisional dalam tata kelola laut.
UNESCO menggarisbawahi pentingnya menjembatani ilmu pengetahuan modern dengan pengetahuan adat dan lokal, karena keduanya sama-sama berperan dalam menjaga keberlanjutan laut.
Dalam praktiknya, hal ini berarti memberi ruang bagi masyarakat pesisir untuk ikut menentukan arah konservasi.
“Selama beberapa generasi, masyarakat telah hidup bersama ekosistem ini dan mengembangkan pengetahuan yang sangat berharga. Tantangannya adalah bagaimana kita bekerja bersama mereka dan memperkuat praktik yang sudah terbukti efektif,” ungkap Lorna Nyagah dari CIFOR-ICRAF.
Menurut Nyagah, perlindungan ekosistem tidak akan berjalan tanpa manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Penelitian pun menunjukkan bahwa ketika manfaat konservasi dibagikan secara nyata, dukungan masyarakat meningkat.
“Saat kita mendorong pelestarian mangrove atau pemulihan ekosistem, kita juga harus memastikan bahwa manfaat finansial—seperti dari karbon biru atau pariwisata—dirasakan oleh masyarakat,” kata Amugune. “Pada akhirnya, ini bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga keadilan dalam pembagian manfaat.”
Di tengah pencarian jalur pembangunan berkelanjutan di Samudra Hindia Barat, perlindungan laut menuntut pengakuan atas nilai-nilainya yang utuh.
Ketika sains dipadukan dengan pengetahuan tradisional, dan manfaat konservasi dirasakan oleh masyarakat, samudra akan tetap menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang.
↓ Tonton video di bawah ini untuk melihat lebih jauh upaya yang dilakukan ↓








