LANGUAGE

Cari artikel

Menggali potensi besar Samudra Hindia selain pariwisata dan ikan

EN, FR, ID
6 menit baca
Para ahli mengajak penerapan tata kelola laut inklusif, yang mempertimbangkan manfaat ekologis, sosial, dan budaya masyarakat pesisir
Turquoise waters and sandy coastline along the Western Indian Ocean supporting the livelihoods of coastal communities.
Di balik keindahannya, Samudra Hindia menopang mata pencaharian jutaan masyarakat pesisir. Foto oleh Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.

Bagi para turis, Samudra Hindia identik dengan laut biru berkilau dan pantai berpasir yang indah di kota-kota pesisir Afrika. Namun di balik pesona tersebut, samudra ini menyokong mata pencaharian jutaan penduduk setempat.

WWF, lembaga konservasi global, memperkirakan bahwa Produk Kelautan Bruto tahunan di wilayah Samudra Hindia Barat mencapai minimal 20,8 miliar USD, setara dengan PDB sektor kelautan, dan menempatkannya sebagai salah satu ekonomi laut terbesar secara global.

Wilayah ini mencakup sejumlah negara pesisir dan kepulauan, mulai dari Komoro hingga Tanzania, termasuk Kenya, Madagaskar, Mauritius, Mozambik, Seychelles, Somalia, dan Afrika Selatan.

Tourism activities along the Indian Ocean coastline where marine ecosystems support local economies and livelihoods.
Pariwisata di sepanjang Samudra Hindia memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, tetapi manfaat ekologis dan sosial yang lebih luas sering kali terabaikan. Foto oleh Grapefox / Pixabay.

Di kawasan ini, Samudra Hindia selama ini lebih dikenal karena kontribusi ekonominya, terutama melalui sektor pariwisata dan perikanan.

Namun, para ahli menilai bahwa penekanan berlebihan pada aspek ekonomi dapat membuat berbagai manfaat penting lainnya luput dari perhatian.

“Samudra bukan hanya sumber ikan atau pendapatan dari pariwisata. Ia juga sangat penting untuk mengatur iklim, melindungi garis pantai, menjaga keanekaragaman hayati, dan melestarikan identitas budaya,” kata James Kairo, ilmuwan utama di Kenya Marine and Fisheries Research Institute (KMFRI).

Kairo menyampaikan hal ini dalam sesi khusus pada Simposium ke-13 Western Indian Ocean Marine Science Association (WIOMSA), yang diselenggarakan bersama oleh Center for International Forestry Research dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) melalui proyek Regional Centre of Excellence for Biodiversity, Forests and Seascape Ecosystems Management in Eastern and Southern Africa (RCOE-ESA) yang didanai Uni Eropa. Sesi ini membahas bagaimana tata kelola laut dapat lebih baik mengakui dan memanfaatkan manfaat ekologis, sosial, budaya, dan iklim yang diberikan oleh samudra.

Mangrove forest along the Indian Ocean coastline providing coastal protection, carbon storage and nursery habitat for fish.
Akar mangrove di sepanjang pesisir Samudra Hindia membantu menstabilkan garis pantai dan menciptakan habitat pembesaran yang penting bagi ikan serta berbagai spesies laut lainnya. Foto oleh Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.
Ekosistem mangrove di Samudra Hindia bagian barat menyimpan sejumlah besar karbon dan membantu melindungi masyarakat pesisir dari banjir serta erosi. Foto oleh Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.

“Ketika membicarakan samudra, fokusnya tidak hanya pada airnya saja, tetapi pada seluruh ekosistem yang menopang manfaat yang diperoleh masyarakat ” kata Ivy Amugune, peneliti dan pimpinan riset ekosistem laut proyek RCOE-ESA, CIFOR-ICRAF.

Mangrove dan lamun bukan hanya habitat bagi ikan untuk berkembang biak, tetapi juga penyerap karbon dalam jumlah besar yang membantu mengatasi perubahan iklim, sekaligus pelindung alami garis pantai dari gelombang dan banjir.

“Ekosistem ini menyimpan manfaat ekologis yang luar biasa, namun kerap tersembunyi. Ketika dijaga, mereka memperkuat sektor perikanan dan pariwisata, serta mendukung pendapatan, ketahanan pangan, dan penghidupan masyarakat,” jelas Amugune.

Berbagai penelitian kini menunjukkan bahwa nilai samudra jauh melampaui hitungan ekonomi semata.

Studi WWF tentang Samudra Hindia Barat menyoroti bahwa banyak manfaat penting—mulai dari pengaturan iklim dan produksi oksigen hingga penyimpanan karbon serta nilai budaya dan spiritual—sering kali tidak terlihat dalam pendekatan penilaian yang konvensional.

Karena jarang terukur, layanan ekosistem sering membuat nilai sejati samudra luput dari perhatian dalam kebijakan dan investasi. Padahal, justru manfaat yang tak terlihat inilah yang menopang kehidupan manusia.

Inilah alasan mengapa ekosistem seperti mangrove, terumbu karang, dan lamun perlu dijaga.

Elijah Chivatsi, seorang nelayan di pesisir Kenya, telah melihat sendiri dampak ketika keterhubungan ini diabaikan.

Sejak kecil, ia membawa pesan kakeknya: samudra dan segala ekosistemnya adalah warisan suci yang harus dihormati.

“Samudra dihormati karena nilai budaya dan spiritualnya. Masyarakat percaya samudra menghubungkan mereka dengan Tuhan, dan beberapa titik di pesisir dianggap sebagai tempat ibadah,” ujarnya.

Fishermen working along the Indian Ocean coast where healthy marine ecosystems support food security and livelihoods.
Ekosistem laut yang sehat menopang perikanan yang menjadi sumber ketahanan pangan dan mata pencaharian bagi jutaan orang. Foto oleh Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.
Community members restoring mangroves along the Indian Ocean coast to protect ecosystems and sustain livelihoods.
Ekosistem mangrove di Samudra Hindia bagian barat menyimpan sejumlah besar karbon dan membantu melindungi masyarakat pesisir dari banjir serta erosi. Foto oleh Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.

Menurut Chivatsi, keyakinan ini membentuk cara masyarakat berinteraksi dengan laut. Menebang mangrove tanpa alasan dianggap tabu, sementara penangkapan ikan di area tertentu dilarang karena dianggap suci atau sebagai makam.

“Leluhur kami percaya bahwa merusak mangrove akan membuat samudra mengambil kembali daratan,” katanya.

Nilai-nilai ini menjadi bagian dari sistem adat yang mengatur pengelolaan sumber daya laut, sebagaimana tercatat di Kenya, Tanzania, dan Madagaskar.“Leluhur kami percaya bahwa merusak mangrove akan membuat samudra mengambil kembali daratan,” katanya.

Nilai-nilai ini menjadi bagian dari sistem adat yang mengatur pengelolaan sumber daya laut, sebagaimana tercatat di Kenya, Tanzania, dan Madagaskar.

Namun, tradisi tersebut kini mulai memudar.

“Pengetahuan ini semakin hilang. Generasi muda kurang peduli, mangrove dieksploitasi, dan penangkapan ikan berlebihan menyebabkan populasi ikan menurun,” ujarnya.

Para ahli menekankan pentingnya mengakui dan mengintegrasikan pengetahuan tradisional dalam tata kelola laut.

UNESCO menggarisbawahi pentingnya menjembatani ilmu pengetahuan modern dengan pengetahuan adat dan lokal, karena keduanya sama-sama berperan dalam menjaga keberlanjutan laut.

Dalam praktiknya, hal ini berarti memberi ruang bagi masyarakat pesisir untuk ikut menentukan arah konservasi.

“Selama beberapa generasi, masyarakat telah hidup bersama ekosistem ini dan mengembangkan pengetahuan yang sangat berharga. Tantangannya adalah bagaimana kita bekerja bersama mereka dan memperkuat praktik yang sudah terbukti efektif,” ungkap Lorna Nyagah dari CIFOR-ICRAF.

Menurut Nyagah, perlindungan ekosistem tidak akan berjalan tanpa manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Floating restaurant in the Indian Ocean demonstrating sustainable ocean enterprises that support coastal economies.
Restoran terapung di Samudra Hindia menunjukkan bagaimana usaha kelautan berkelanjutan dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat pesisir. Foto oleh Kelvin Muchiri / CIFOR-ICRAF.

Penelitian pun menunjukkan bahwa ketika manfaat konservasi dibagikan secara nyata, dukungan masyarakat meningkat.

“Saat kita mendorong pelestarian mangrove atau pemulihan ekosistem, kita juga harus memastikan bahwa manfaat finansial—seperti dari karbon biru atau pariwisata—dirasakan oleh masyarakat,” kata Amugune. “Pada akhirnya, ini bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga keadilan dalam pembagian manfaat.”

Di tengah pencarian jalur pembangunan berkelanjutan di Samudra Hindia Barat, perlindungan laut menuntut pengakuan atas nilai-nilainya yang utuh.

Ketika sains dipadukan dengan pengetahuan tradisional, dan manfaat konservasi dirasakan oleh masyarakat, samudra akan tetap menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang.


↓ Tonton video di bawah ini untuk melihat lebih jauh upaya yang dilakukan ↓

Video playing in corner

WATCH NOW