LANGUAGE

Cari artikel

Bisakah kakao menjadi ‘tiket emas’ bagi petani Pasifik?

EN, FR, ID
7 menit baca
Papua Nugini menghasilkan kakao terbaik di dunia. Namun, membawanya hingga ke tangan Anda adalah cerita lain.
A hand sorting cocoa beans as they dry in the sun.
Biji kakao dijemur di bawah sinar matahari di Desa Kawowogi. Foto: Monica Evans/Landscape Alliance.

Ketika Pastor Samuel Namba masih bayi, ibunya menyaksikan langit berubah menjadi hitam dan merah akibat abu dan lava dari letusan Gunung Lamington pada 1951. Ia membungkus Samuel dengan tapa basahโ€”kain yang terbuat dari kulit kayuโ€”lalu berlari membawanya untuk berlindung di sebuah gua hingga asap akibat letusan gunung menghilang.

Namba masih terlalu kecil untuk mengingat letusan tersebut. Namun, 75 tahun kemudian, jejak letusan itu masih terlihat pada tanah vulkanik yang subur di sekitar desanya, Kawowoki, di Dataran Tinggi Managalas, Provinsi Oro. Tanah tersebut ternyata sangat cocok untuk menanam Theobroma cacao, tanaman perdu yang menghasilkan bahan baku cokelat.

Di sela-sela tugasnya sebagai pendeta, Namba juga membudidayakan kakao. Ia merawat bibit-bibit kakao dalam tabung bambu hingga cukup kuat untuk ditanam di hutan. Ia juga membeli biji kakao basah dari petani lain, kemudian menjemurnya di bawah sinar matahari di atas lembaran seng bergelombang sebelum menjualnya kepada para pembeli di luar Dataran Tinggi.

โ€œSekarang saya sedang mencoba membuat alat fermentasi agar biji kakao bisa lebih cepat dikeringkan dan kualitasnya meningkat, karena terkadang biji yang saya keringkan ditolak,โ€ ujarnya kepada saya sambil menunjukkan hamparan biji kakao berwarna cokelat kemerahan.

Kisah Namba mencerminkan kondisi kakao Papua Nugini (PNG) secara keseluruhan: tanah vulkanik yang subur, pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, biji kakao berkualitas duniaโ€”serta kerja keras untuk membawa hasil panen keluar dari pedalaman, mengolahnya dengan baik, dan memasarkannya dengan harga yang layak.

 Samuel Namba and his daughter Rosta standing behind cocoa beans drying in the sun in Kawowogi Village.
Samuel Namba (kanan) dan putrinya, Rosta Namba, menjemur biji kakao di Desa Kawowogi. Foto: Monica Evans/Landscape Alliance.

Pohon-pohon tua, peluang-peluang baru

Di sepanjang Dataran Tinggi Managalas, pohon-pohon kakao tua yang ditanam puluhan tahun lalu masih terlihat dari jalan. Sebagian telah ditinggalkan dan kini ditumbuhi lumut kerak. Letaknya yang terpencil membuat biaya membawa biji kakao ke pasar mahal dan tidak selalu mudah. Fluktuasi harga kakao global juga membuat banyak petani merasa kakao tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang mereka keluarkan.

Namun, terinspirasi oleh kenaikan harga kakao global yang dipicu oleh penurunan produksi di Afrika Barat, sejumlah pemilik lahan di Managalas mulai kembali merawat pohon-pohon tua tersebut dan menanam pohon baru. Kali ini, mereka mendapat dukungan.

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, Managalas Conservation Foundation (MCF), dengan dukungan Landscape Alliance dan Uni Eropa (EU), telah memetakan keberadaan dan volume produksi kakao di seluruh Dataran Tinggi.

Para klan kini merencanakan pembangunan jaringan gudang untuk menyimpan kakao bersama komoditas lainnya, seperti kopi, kacang okari, vanili, telur, dan sayuran. Langkah ini akan memudahkan mereka menggabungkan biaya transportasi, menjaga standar mutu, serta memenuhi persyaratan ketertelusuran yang diwajibkan kepada eksportir melalui peraturan baru, seperti Peraturan Bebas Deforestasi Uni Eropa (EU Deforestation Regulation/EUDR).

Emas yang tumbuh di kebun

Kakao cocok dikembangkan di Papua Nugini (PNG). Theobroma cacao tumbuh subur di iklim tropis, tanah vulkanik yang kaya unsur hara, dan di bawah naungan pepohonan dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-selanya. Kondisi ini sesuai dengan praktik agroforestri masyarakat setempat sekaligus mendorong upaya mempertahankan tutupan hutan hujan.

Masyarakat telah membudidayakan kakao di wilayah ini sejak 1884, ketika pengusaha perempuan asal Samoa, Emma Coeโ€”yang kini menjadi nama salah satu peritel cokelat lokal terbesar di PNGโ€”menanam pohon Theobroma pertama di Kokopo, East New Britain.

Saat ini, petani kecil masyarakat adat menghasilkan lebih dari 95% kakao negara tersebut. Sekitar dua juta dari 11 juta penduduk kepulauan PNG bergantung pada kakao sebagai sumber pendapatan utama mereka.

Jika diolah dengan baik, biji kakao Papua Nugini memiliki nilai yang tinggi. Keragaman kondisi iklim dan jenis tanah di negara ini menghasilkan beragam profil cita rasa khas yang secara khusus dicari oleh produsen cokelat single-origin dan para pencinta cokelat.Tahun lalu, Perdana Menteri Papua Nugini James Marape mendorong jutaan petani kecil di negaranya untuk memanfaatkan minat tersebut. โ€œDunia menginginkan apa yang kita tanam,โ€ katanya, โ€œdan mereka bersedia membayar dengan harga tinggi untuk mendapatkannya. Emas kita tidak hanya berada di dalam tanah. Emas itu ada di kebun kita.โ€

 Red cocoa pod growing in a garden in Kawowogi Village, Papua New Guinea.
Polong kakao di sebuah kebun di Desa Kawowogi, Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini. Foto: Monica Evans/Landscape Alliance.
Cocoa beans spread out to dry in the sun.
Biji kakao dijemur di bawah sinar matahari di Desa Kawowogi. Foto: Monica Evans/Landscape Alliance.

Dari โ€œATMโ€ menjadi komoditas premium

Namun, kesenjangan antara potensi kakao PNG dan kenyataan yang dihadapi para petani kecil masih sangat besar.

โ€œSecara historis, petani di PNG menyebut kakao sebagai ATM: kakao adalah sesuatu yang bisa mereka datangi ketika membutuhkan sedikit uang tunai,โ€ ujar Tom Swan, peneliti kakao di University of Sydney. Kondisi itu berubah sejak 2006, ketika hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) menyebar ke seluruh negeri, merusak buah yang sedang berkembang dan memangkas hasil panen. Pengelolaan hama dan penyakit secara intensif pun menjadi keharusanโ€”sebuah tantangan besar bagi petani subsisten yang hanya memiliki sedikit dukungan.

Di Managalas, belum ada persemaian bersertifikat maupun kebun sumber entres (budwood garden) di provinsi tersebut. Kondisi ini membatasi akses petani terhadap benih berkualitas. โ€œArtinya, banyak petani kakao baru menggunakan pohon kakao tua yang sudah lama ditinggalkan sebagai sumber benih,โ€ ujar Will Unsworth, Manajer Program Landscape Alliance di PNG. โ€œVarietas-varietas tua ini lebih rentan terhadap hama dan penyakit, serta pada akhirnya menghasilkan volume produksi yang lebih rendah dibandingkan varietas-varietas baru.โ€

Penurunan kesuburan tanah menjadi kendala lainnya. โ€œBanyak masyarakat di PNG mengandalkan kesuburan alami tanah, karena banyak lahan yang ditanami kakao berada di tanah vulkanik, aluvial, atau tanah yang terbentuk dari terumbu karang yang terangkatโ€”semuanya kaya akan mineral dan unsur hara,โ€ ujar Swan. โ€œNamun, kesuburan tersebut akan berkurang seiring waktu. Jika petani tidak mengembalikan unsur hara ke dalam tanah, hasil panen akan menurun secara drastis.โ€ Langkah-langkah sederhana, seperti membuat parit untuk mengubur buah kakao yang telah dibuang atau membuat kompos di sekitar pohon, dapat membantu. Penggunaan pupuk biasanya terlalu mahal bagi petani.

Kemudian, ada persoalan pengolahan. Setelah dipanen, biji kakao perlu difermentasi dan dikeringkan dengan benar untuk mengembangkan cita rasa sekaligus mencegah kerusakan. Sebagian petani di Managalas mengolahnya sendiri, seperti yang dilakukan Samuel dengan lembaran seng bergelombang dan alat fermentasi sederhana yang dibuatnya. Petani lainnya menjual biji kakao basah kepada pengolah di tingkat lokal atau di Popondetta. Namun, kualitas hasil pengolahan tersebut beragam, dan hasil yang tidak konsisten membatasi akses ke pasar dengan nilai yang lebih tinggi.

โ€œCemaran asap telah menghantui kakao PNG di pasar global,โ€ ujar Howard-Yana Shapiro, pakar kakao global sekaligus distinguished senior fellow di Landscape Alliance. Sekitar 20 tahun lalu, reputasi PNG terkait cemaran asapโ€”yang disebabkan oleh kebocoran pada alat pengering berbahan bakar kayuโ€”โ€œmembuat pembelian biji kakaonya turun hingga setengahnyaโ€. Masalah tersebut semakin diperparah oleh munculnya jamur akibat penyimpanan pascapanen yang buruk.

Di samping berbagai tantangan di tingkat petani dan pengolahan, โ€œproses mendapatkan izin untuk menanam, memfermentasi, membeli, menjual, dan mengekspor kakao juga rumit dan tidak transparan,โ€ ujar Unsworth. โ€œHal ini menjadi hambatan lain bagi banyak komunitas petani untuk mengakses pasar.โ€

 Pastor Samuel Namba standing behind materials for a cocoa bean fermenter.
Pastor Samuel Namba bersama bahan-bahan yang digunakannya untuk membuat alat fermentasi biji kakao yang lebih baik. Foto: Monica Evans/Landscape Alliance.

Lebih dari sekadar biji kakao

Jaringan gudang yang dibangun oleh komunitas di Managalas bersama para mitra konservasi mereka dirancang untuk mengatasi beberapa kendala tersebut sekaligus: penyimpanan yang aman dan dikelola secara kolektif; transportasi bersama; pengolahan yang konsisten; serta dokumentasi yang semakin dibutuhkan oleh pasar ekspor untuk memastikan ketertelusuran produk.

Dukungan sistemik semacam ini telah membawa perubahan di tempat lain. Di Wilayah Otonom Bougainville, komunitas yang berkomitmen mengembangkan kakao dan membenahi rantai nilainya kini mulai menikmati manfaat dari kenaikan harga kakao. Model yang mereka terapkanโ€”One Health Initiative yang dipimpin oleh David Guest dari University of Sydneyโ€”โ€œmencakup jauh lebih banyak daripada sekadar produksi; ini merupakan rencana sistematis untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,โ€ ujar Shapiro. โ€œModel ini kini telah diterapkan secara luas.โ€

Itulah model yang ingin dikembangkan Managalas. Prosesnya berjalan perlahan: infrastruktur masih terus dibangun, sementara kepercayaan dengan para pembeli di sepanjang rantai nilai perlu kembali diperkuat.

Namun, di seluruh Dataran Tinggi, petani seperti Samuel Namba menunjukkan bahwa masa depan kakao tidak hanya bergantung pada bijinya. Masa depan kakao justru akan ditentukan oleh sistem yang dibangun di sekelilingnyaโ€”mulai dari ketersediaan bahan tanam dan fermentasi hingga jalan, gudang, dan pasar.


Untuk informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan menghubungi Will Unsworth, Pimpinan Program Landscape Alliance di PNG: [email protected].


FURTHER READINGS