Hutan mangrove dan padang lamun Viet Nam merupakan salah satu ekosistem karbon biru paling berharga di Asia Tenggara. Ekosistem ini mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah yang sulit ditandingi oleh ekosistem daratan, sekaligus melindungi masyarakat pesisir dari badai dan mendukung penghidupan masyarakat lokal.
Meski memiliki potensi besar, menerjemahkan pembelajaran dari berbagai inisiatif di tingkat lokal menjadi aksi nasional yang terkoordinasi masih menjadi tantangan.
Studi terbaru mengenai peluang karbon biru di Viet Nam yang dilakukan oleh Flinders University dan Landscape Alliance menemukan bahwa upaya restorasi mangrove di tujuh provinsi di Delta Mekong belum mampu mengimbangi laju kehilangan mangrove yang terus berlangsung. Antara 2016 dan 2024, kondisi ini menyebabkan dampak emisi bersih sebesar 14,5 juta metrik ton COโ.
Tantangan saat ini adalah menerjemahkan pembelajaran dari berbagai inisiatif karbon biru menjadi aksi iklim nasional. Untuk mewujudkannya, diperlukan kebijakan yang jelas, standar yang konsisten, serta koordinasi yang efektif.
Kebutuhan ini sangat terlihat di Ca Mau, yang menyumbang 77 persen dampak emisi bersih dari mangrove di Delta Mekong selama periode kajian. Provinsi ini kemudian menjadi salah satu fokus area bagi berbagai inisiatif karbon biru yang didukung oleh UBS Optimus Foundation, yang mengeksplorasi pendekatan praktis untuk konservasi dan restorasi mangrove.
Akar mangrove di Pulau Osi, Maluku, Indonesia. Mangrove menyimpan karbon dalam biomassa serta tanah yang tergenang air, menjadikan ekosistem pesisir ini sebagai bagian penting dari strategi karbon biru, seperti yang kini tengah dikembangkan di Vietnam. Foto oleh Ulet Ifansasti / Landscape Alliance.
Membangun kebijakan karbon biru nasionalย
Viet Nam telah memperkuat landasan kebijakan dan kelembagaan untuk karbon biru melalui pembaruan Nationally Determined Contribution (NDC) pembentukan Sekretariat Kemitraan Aksi Karbon Biru Nasional (NBCAP) pada Januari 2026 setelah diumumkan pada COP30, serta penunjukan Kementerian Pertanian dan Lingkungan (MAE) untuk memimpin penyusunan peta jalan karbon biru nasional.
Berbagai perkembangan ini menunjukkan semakin kuatnya komitmen Viet Nam untuk mengintegrasikan karbon biru ke dalam strategi iklim nasionalnya.
Sejak 2024, Landscape Alliance telah bekerja bersama MAE untuk memastikan bahwa pembelajaran yang muncul dari berbagai inisiatif karbon biru dapat menjadi masukan bagi panduan kebijakan nasional. Melalui berbagai inisiatif yang didukung oleh UBS Optimus Foundation di Can Tho, Ca Mau, dan An Giang, World Wildlife Fund (WWF) dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang telah mengeksplorasi pendekatan praktis untuk penerapan karbon biru.
Sementara itu, Landscape Alliance berfokus pada pengembangan kerangka kebijakan yang diperlukan untuk mendukung penerapan karbon biru secara lebih luas di masa mendatang.
Pada Juni 2026, Landscape Alliance bersama WWF, IUCN, Flinders University, dan mitra lokal menggelar dua kegiatan pertukaran pengetahuan di Ho Chi Minh City dan Ha Noi.
Lokakarya selama dua hari tersebut diikuti oleh 151 peserta, sementara kegiatan jejaring dihadiri 22 peserta. Perwakilan dari MAE, NBCAP, pemerintah provinsi, lembaga penelitian, dan mitra pembangunan internasional bersama-sama membahas pembelajaran dari berbagai inisiatif yang didukung oleh UBS Optimus Foundation, perkembangan terbaru kebijakan dan pendanaan karbon biru di Viet Nam, serta langkah-langkah konkret untuk mendorong aksi di tingkat nasional.
Diskusi juga menyoroti pentingnya menyelaraskan pendanaan karbon biru di masa depan dengan standar nasional pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV), serta memperkuat mekanisme untuk memastikan pendapatan dari karbon dapat diterima oleh masyarakat lokal.
Pengalaman Viet Nam memberikan pelajaran yang lebih luas: penerapan di tingkat lokal dan kebijakan nasional perlu berkembang secara beriringan. Pengalaman di lapangan dapat membantu membentuk kelembagaan yang lebih kuat, sementara kebijakan yang jelas, standar yang konsisten, dan pendanaan yang terkoordinasi menciptakan kondisi yang diperlukan untuk menerapkan berbagai pendekatan yang menjanjikan secara lebih luas.
Artinya, kepemimpinan MAE perlu didukung oleh pembelajaran dan bukti dari penerapan di lapangan. Pada saat yang sama, donor, organisasi pelaksana, dan lembaga pemerintah perlu bekerja berlandaskan bukti dan prioritas yang sama.

Dari penyelarasan kebijakan menuju aksi nyata
Dengan kelompok kerja NBCAP yang baru saja resmi dibentuk dan MAE memimpin penyusunan Peta Jalan Aksi Karbon Biru Nasional, fokus kini beralih dari menyelaraskan kebijakan ke tahap pelaksanaan.
Langkah selanjutnya adalah memanfaatkan momentum politik ini dengan mengembangkan standar pengukuran yang konsisten serta mekanisme pendanaan yang andal. Sistem tersebut diperlukan agar berbagai inisiatif karbon biru dapat terus berjalan melampaui siklus masing-masing proyek.
Berbagai kegiatan pada Juni lalu menandai berakhirnya Fase 1 (2024โ2025) dari inisiatif yang didukung oleh UBS Optimus Foundation sekaligus membantu menentukan arah menuju Fase 2. Upaya ini menjadi bagian dari langkah Viet Nam untuk menghubungkan pengalaman dari berbagai inisiatif karbon biru dengan perencanaan, standar, dan mekanisme pendanaan di tingkat nasional.








