Pada 2025, empat mahasiswa dari Indonesia dan Filipina mendapat kesempatan yang jarang dimiliki mahasiswa lainnya: terlibat langsung sebagai mitra perancang dalam mengembangkan program pendidikan yang kelak akan membekali mereka dan generasi profesional restorasi berikutnya.
Mereka bergabung sebagai konsultan melalui International Forestry Students’ Association (IFSA) dalam inisiatif Restoration Education yang dijalankan Landscape Alliance. Keterlibatan mereka bertujuan menjawab satu pertanyaan penting yang jarang ditanyakan:
Apa sebenarnya yang perlu dipelajari oleh mahasiswa yang mendalami restorasi hutan dan bentang alam di Afrika dan Asia, serta aspek apa saja yang masih belum terpenuhi dalam pendidikan yang tersedia saat ini?
Restoration Education merupakan inisiatif yang digagas oleh Landscape Alliance untuk mempertemukan universitas, tenaga pendidik, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai negara di Afrika dan Asia guna memperkuat kapasitas restorasi melalui pendidikan tinggi. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memahami diri sendiri, orang lain, serta sistem sosial dan lingkungan tempat mereka kelak bekerja.
IFSA, jaringan global mahasiswa kehutanan, dan Landscape Alliance telah menjalin kerja sama selama lebih dari satu dekade dalam berbagi pengetahuan, pengembangan profesional, serta pelibatan generasi muda dalam penelitian kehutanan. Pembaruan kemitraan pada 2024 membuka peluang kolaborasi baru melalui program konsultansi mahasiswa IFSA. Program ini melibatkan mahasiswa tingkat sarjana dan magister sebagai konsultan dalam inisiatif Restoration Education, dengan memberikan mereka peran aktif, bukan sekadar sebagai peserta magang atau pengamat.
“Pelibatan generasi muda yang berdampak terwujud ketika mahasiswa diberikan target kerja yang jelas dan kepercayaan nyata, bukan sekadar duduk dan hadir,” ujar Nilo Wijaya, mantan Presiden IFSA.
“Target kerja yang jelas berarti adanya kesepakatan mengenai hasil yang harus dicapai sejak hari pertama, sekaligus memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menentukan cara mencapainya. Kombinasi ini memberikan tanggung jawab dan rasa kepemilikan yang nyata kepada generasi muda. Hal ini juga melindungi semua pihak dari permintaan pekerjaan yang tidak jelas dan terus bertambah, yang sering kali muncul ketika ekspektasi sejak awal tidak ditetapkan dengan baik.”
Konsultan IFSA memaparkan hasil asesmen kebutuhan pelatihan mahasiswa dalam lokakarya penyusunan kurikulum Restoration Education, Bogor, Indonesia, Desember 2025.
Kurikulum yang dirancang oleh mahasiswa, untuk mahasiswa
Tugas pertama diberikan kepada empat konsultan mahasiswa di Asia, yaitu menyusun kajian analisis kebutuhan pelatihan (Training Needs Assessment/TNA) untuk mengidentifikasi kompetensi utama yang dibutuhkan para profesional restorasi hutan dan bentang alam (Forest and Landscape Restoration/FLR) di kawasan tersebut. Kajian ini juga bertujuan menelaah bagaimana universitas mengajarkan restorasi serta memberikan rekomendasi mengenai aspek pendidikan yang perlu diperbaiki.
Melalui survei terhadap 40 mahasiswa dan lulusan baru dari 10 negara di Asia, yang dilengkapi dengan focus group discussions dan wawancara, mereka menemukan pola yang konsisten: pemahaman teoretis sudah cukup kuat, tetapi masih terdapat kesenjangan dalam keterampilan praktis. Sebagian besar responden (75,8 persen) menyatakan belum memiliki keterampilan pemetaan geospasial yang diperlukan untuk memantau kegiatan restorasi dan degradasi. Hampir sama banyaknya responden merasa belum cukup siap dalam merancang proyek (72,7 persen) dan memahami kerangka kebijakan internasional (72,7 persen).
Temuan tersebut menunjukkan perlunya pendidikan restorasi di Asia beralih ke pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif, berbasis pengalaman langsung, dan lintas disiplin ilmu.
Pada Desember 2025, para konsultan mempresentasikan hasil kajian mereka dalam lokakarya perancangan kurikulum Restoration Education di Bogor, Indonesia. Mereka memaparkan kepada mitra universitas mengenai materi, topik, dan pendekatan pembelajaran yang perlu diakomodasi dalam kurikulum. Setelah itu, mereka turut terlibat langsung dalam proses perancangannya dengan membawa perspektif mahasiswa ke dalam setiap modul pembelajaran.
Setelah melalui proses pengembangan kurikulum selama satu tahun, tiba saatnya untuk menerapkan materi pembelajaran tersebut. Summer School Restoration Education yang diselenggarakan di University of the Philippines Los Baños diikuti oleh 25 mahasiswa setempat dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan lingkungan. Selama delapan hari, program ini membekali para peserta dengan pengetahuan, keterampilan, dan perspektif yang diperlukan untuk berkontribusi dalam berbagai inisiatif restorasi di seluruh Asia.
Para konsultan IFSA turut berperan dalam penyampaian seluruh modul pembelajaran. Ferizta Hardika, salah satu konsultan IFSA dari Indonesia, menjadi fasilitator pendamping dalam modul “People, Culture, and Identity for Landscape Restoration” (Manusia, Budaya, dan Identitas dalam Restorasi Bentang Alam). Ia juga memandu latihan pemetaan yang membantu mahasiswa memahami pentingnya keterikatan terhadap suatu tempat (sense of place) dalam bekerja bersama masyarakat lokal.
“Lebih dari sekadar menyampaikan materi, pengalaman ini terasa seperti menyelesaikan sebuah rangkaian proses, mulai dari melakukan analisis kebutuhan pelatihan (TNA), menyusun kurikulum, hingga akhirnya berdiri di ruang kelas dan menyaksikan langsung respons mahasiswa terhadap materi tersebut. Ini menjadi momen yang menyatukan seluruh proses, sekaligus membuat semua upaya yang telah dilakukan sebelumnya terasa nyata dan bermakna,” ujar Ferizta.

Dari Asia ke Afrika: Melanjutkan pengembangan pendidikan restorasi
Setelah penugasan konsultansi pertama selesai, Landscape Alliance melibatkan mahasiswa baru dari Ghana, Uganda, dan Nigeria untuk menghadirkan perspektif baru mengenai kebutuhan pelatihan mahasiswa di Afrika dalam mempersiapkan diri meniti karier di bidang restorasi bentang alam.
Salvation, salah satu konsultan baru IFSA, memiliki alasan tersendiri untuk bergabung dalam program ini. “Selama menempuh pendidikan kehutanan di Nigeria, saya memiliki sejumlah pertanyaan. Saya ingin mengetahui apakah beberapa tantangan yang kami hadapi di sini, terutama terkait pembelajaran di universitas dan kesenjangan antara materi yang diajarkan dengan keterampilan yang dibutuhkan di lapangan, juga dialami oleh mahasiswa di negara-negara Afrika lainnya.”
Berangkat dari kurikulum African Restoration Education yang diluncurkan pada 2022, hasil analisis kebutuhan pelatihan (TNA) mahasiswa di Afrika menunjukkan adanya kesenjangan serupa antara pembelajaran teoretis dan praktis. Mahasiswa telah memiliki dasar pengetahuan yang kuat mengenai aspek biofisik restorasi hutan dan bentang alam (FLR), tetapi menginginkan penguatan keterampilan profesional dan praktis, termasuk manajemen proyek dan pelibatan pemangku kepentingan. Keterampilan tersebut diperlukan untuk merancang dan melaksanakan proyek restorasi yang layak dan berkelanjutan.
“Melalui TNA, saya melihat betapa beragamnya cara kami, sebagai mahasiswa dari berbagai negara, memandang restorasi bentang alam. Namun, kami ternyata menghadapi kesenjangan yang sama dalam pendidikan restorasi,” ujar Theopista Abalo, konsultan IFSA dari Uganda.
Para konsultan melanjutkan pekerjaan ini dalam International Forestry Students’ Symposium (IFSS) yang diselenggarakan di Nigeria pada Agustus 2026. Dalam lokakarya Restoration Education, sebanyak 50 mahasiswa kehutanan dari berbagai negara berbagi pandangan mengenai kompetensi yang belum tercakup dalam pendidikan tinggi, hambatan kelembagaan yang menyebabkan kesenjangan tersebut, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Satu kesimpulan mengemuka dengan jelas: mahasiswa bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kesempatan untuk menerapkannya. Selain mendorong pembelajaran yang memadukan berbagai metode (blended learning) dan pengalaman praktik langsung, para konsultan juga mengusulkan program pendampingan (mentorship) yang menghubungkan mahasiswa dengan praktisi restorasi berpengalaman. Melalui program ini, para mahasiswa dapat memperoleh bimbingan langsung serta wawasan mengenai peluang dan jenjang karier di bidang restorasi.

Foto oleh IFSA.
Bagaimana mahasiswa menghubungkan para pendidik dari berbagai negara
Peran para konsultan tidak terbatas pada perancangan kurikulum. Mereka juga turut memperkuat jejaring universitas dalam proyek ini melalui peluncuran Restoration Education Community di Landscape Academy. Platform ini menjadi wadah berbagi sumber daya untuk mendukung peningkatan kapasitas tenaga pendidik, sekaligus ruang bagi para pendidik dari Afrika dan Asia untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.
Bagi Canakya, konsultan IFSA dari Indonesia yang turut menjadi moderator komunitas daring tersebut, peran ini memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan kelompok audiens yang benar-benar baru.
“Saya mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan para profesor, sesuatu yang benar-benar baru bagi saya,” ujar Canakya. Pengalaman ini juga mendorongnya untuk mengevaluasi kembali pendekatan yang digunakan. “Pengalaman tersebut membuat saya berpikir ulang tentang pendekatan yang selama ini saya gunakan dan menyadari bahwa cara kita melibatkan mahasiswa belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama kepada para pendidik.”
Canakya bersama rekan-rekan konsultannya kemudian menyampaikan sejumlah gagasan kepada Landscape Alliance untuk memperkuat keterlibatan anggota dalam jejaring Restoration Education. Usulan tersebut mencakup pelibatan kembali para alumni summer school dalam komunitas, penyediaan ruang pertukaran pengetahuan antara mahasiswa dan profesor dari berbagai universitas, serta pemanfaatan jejaring para pendidik untuk mengajak lebih banyak dosen bergabung dalam program ini.
Membangun fondasi pelibatan mahasiswa
Menilik kembali perjalanan selama dua tahun, di dua benua, dengan melibatkan delapan konsultan mahasiswa, capaian yang menonjol tidak hanya mencakup kurikulum, summer school, dan jejaring pendidik yang terbentuk, tetapi juga pelajaran penting tentang kepercayaan. Dengan memberikan tanggung jawab yang jelas serta keleluasaan untuk menyampaikan gagasan, mahasiswa dapat turut membentuk program pendidikan yang akan berdampak pada proses pembelajaran mereka sendiri maupun rekan-rekan sesama mahasiswa.
“Saya berharap proyek percontohan ini dapat menjadi landasan jangka panjang bagi pelibatan mahasiswa,” ujar Nilo. “Harapan saya, pendidikan restorasi di Asia tetap mengedepankan pendekatan lintas disiplin, berlandaskan kondisi nyata di lapangan, dan terus dirancang bersama mahasiswa. Dengan demikian, semakin terbuka kesempatan bagi mahasiswa untuk turut menentukan masa depan yang kelak akan mereka jalani.”
The collaboration between IFSA and Landscape Alliance shows what student involvement can contribute to restoration education. By bringing students into training needs assessments, curriculum design, teaching and educator networks, the initiative gives them a direct role in shaping how landscape restoration is taught and practised.









