Artikel ini merupakan bagian pertama dari serial tiga bagian yang menceritakan bagaimana masyarakat dan para peneliti menelusuri keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini.
Di sebuah lahan terbuka di hutan bagian Kawasan Konservasi Managalas (Managalas Conservation Area/MCA) di Provinsi Oro, Papua Nugini, sebuah mobil mainan yang membawa sebuah boneka penguin melaju perlahan di atas tanah merah. Sebuah kamera di dekatnya berbunyi, dan sekelompok orang bersorak.
Skenario tersebut bukanlah permainan anak-anak, melainkan sebuah eksperimen yang merupakan bagian dari sebuah proyek penting dan kompleks: memetakan keanekaragaman hayati Dataran Tinggi Managalas.
Pada hari itu, sekelompok orang yang tergabung dalam Biodiversity Team Leaders yang baru dibentuk โ terdiri atas anak-anak muda setempat yang dilatih untuk memantau flora dan fauna dataran tinggi tersebut โ bekerja sama dengan para ilmuwan dari Landscape Alliance untuk memasang kamera jebak dan perangkat pemantauan suara.
Pemasangan kamera jebak oleh pemimpin tim. Foto oleh Russell Wai / Landscape Alliance.
Boneka penguin yang berkendara pada hari Minggu itu ada di sana untuk membantu kelompok tersebut merumuskan seberapa besar ukuran hewan yang dibutuhkan untuk memicu sensor kamera jebak, dan pada sudut berapa kamera itu harus dipasang untuk mendapatkan data terbaik.
Aspek-aspek praktis nan menantang dalam memantau keanekaragaman hayati di Managalas sangatlah beragam. Aspek-aspek tersebut mencakup perjalanan epik menyusuri hutan, volume data yang sangat besar, dan berbagai metode yang dipakai, mulai dari pengetahuan ekologi tradisional hingga eDNA.
Namun pertama-tama, kita perlu melihat gambaran yang lebih besarnya: mengapa harus repot-repot memantau keanekaragaman hayati di Managalas?
Untuk membuat sebuah rencana pengelolaan kawasan yang efektif bagi dataran tinggi tersebut, kelompok-kelompok klan harus mengetahui sebanyak mungkin tentang apa yang hidup di mana, apakah ada perubahan dan mengapa, serta bagaimana masyarakat dapat mengelola bentang alam tersebut untuk menghasilkan berbagai manfaat. Saat ini, pencarian informasi tersebut merupakan tugas dari 152 klan Managalas, LSM lokal Managalas Conservation Foundation (MCF), dan para mitra Landscape Alliance yang didanai oleh Uni Eropa. Informasi itu sangatlah penting karena para mitra tersebut sedang mencari opsi pembiayaan berkelanjutan seperti kredit keanekaragaman hayati, yang bergantung pada set data dasar yang memadai.
โAda banyak nilai konservasi di bentang alamnya yang luas,โ kata ahli ekologi Landscape Alliance, Rhett Harrison, yang terlibat dalam kegiatan pemantauan di lokasi tersebut pada tahun 2025. โKami telah menemukan petunjuk bahwa Managalas benar-benar termasuk salah satu hutan hujan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.โ

Apa yang disampaikan Harrison itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena Pulau Papua memang dikenal sangat beraneka ragam, sama seperti Kalimantan dan Amazonia Barat. Namun, informasi tentang kehidupan di sana masih jauh lebih sedikit, sebagian besar karena kurangnya penelitian dan perhatian serta sumber daya untuk pemantauan. Misalnya, “hanya ada sedikit contoh yang tercatat tentang satwa-satwa seperti burung berkicau dari Papua Nugini, karena tidak banyak orang yang pergi ke sana untuk mencatat spesies,” kata Gabriel Leite dari organisasi nirlaba pemantauan satwa liar WildMon, yang berkolaborasi dengan MCA untuk membantu memantau keanekaragaman hayati di sana.
Catatan yang ada membenarkan bahwa sejumlah spesies langka dan/atau dilindungi hidup di kawasan konservasi tersebut โ antara lain burung cenderawasih, kasuari kerdil, ekidna moncong panjang, dan kanguru pohon. Bahkan ada sejumlah laporan yang menyebut bahwa di area yang lebih tinggi di dataran tinggi tersebut hiduplah anjing bernyanyi Papua, garis keturunan anjing purba yang ‘bernyanyi’ alih-alih menggonggong dan memiliki hubungan dekat dengan dingo Australia. Namun, “untuk banyak spesies ini, kita benar-benar tidak memiliki data untuk mengetahui apakah mereka terancam punah atau tidak,” kata Harrison.
Partners with Melanesians (PwM), sebuah LSM yang berbasis di Port Moresby yang telah bekerja sama dengan masyarakat Managalas selama beberapa dekade untuk mendeklarasikan dataran tinggi tersebut sebagai kawasan konservasi pada tahun 2017, memprakarsai beberapa survei keanekaragaman hayati selama masa tugasnya di sana. Namun, cakupan survei mereka terbatas dan banyak informasi yang dikumpulkan telah hilang akibat gangguan sistem.
Saat ini, banyak anggota masyarakat di dataran tinggi tersebut punya kecurigaan terhadap para peneliti yang datang untuk mengumpulkan informasi tentang daerah mereka. Seperti yang dijelaskan oleh Ketua MCF Malchus Kajia, โOrang-orang curiga terhadap informasi yang telah dikumpulkan dari kami. Mereka mengatakan kepada kami bahwa informasi adalah uang, dan dengan informasi [para peneliti] dapat menerima dana dari tempat lain, tanpa dana tersebut sampai kepada kami.โ
Tim media kami menyaksikan bentuk kecurigaan itu secara langsung selama kunjungan kami baru-baru ini ke dataran tinggi tersebut. Saat berhenti di sebuah desa untuk berbicara dengan anggota masyarakat tentang kehidupan satwa setempat, beberapa orang mengira bahwa anggota tim kami mencoba mengambil foto kupu-kupu di daerah tersebut untuk dijual demi meraup keuntungan.


Foto oleh Russell Wai / Landscape Alliance.

Foto oleh Russell Wai / Landscape Alliance.
Kini, dengan pemetaan keanekaragaman hayati skala luas sebagai tujuan, MCF dan para mitranya berupaya melakukan sains secara berbeda sehingga para anggota masyarakat terlibat di seluruh proses pemetaan itu dan dapat ikut merasa memiliki serta bertanggung jawab atas data tersebut.
Sebagai contoh, mereka melatih tim berisi anak-anak muda setempat sebagai Biodiversity Team Leaders, yang melakukan kian banyak pekerjaan lapangan untuk survei keanekaragaman hayati seiring dengan peningkatan keterampilan mereka. Tim itu juga membagikan kembali data tersebut kepada para anggota masyarakat saat data tersebut dianalisis, dan akan menyimpannya di sebuah jaringan lokal yang dapat diakses oleh semua orang.
Proses pemetaan tersebut memunculkan beberapa pertanyaan penting. Misalnya, mengingat banyaknya data yang berasal dari kamera jebak โ 1,5 terabit per petak wilayah per bulan โ konsultan biologi Mellie Musonera bertanya-tanya, โbagaimana cara terbaik untuk mengembalikan data tersebut kepada masyarakat?โ

Harrison juga mempertanyakan kegunaan data tersebut untuk pengambilan keputusan pengelolaan kawasan, karena dibutuhkan sekitar 20 tahun pemantauan untuk benar-benar memahami tren populasi. Namun, katanya, proses melibatkan masyarakat lokal dalam pemantauan keanekaragaman hayati itu memiliki manfaat tersendiri dalam hal peningkatan kesadaran dan pengembangan kapasitas. Dia berkata, โKami ingin mereka terlibat di dalamnya sehingga mereka jadi lebih memahami apa sebenarnya yang akan menjadi imbalan atas pekerjaan mereka.โ
Serial ini menelusuri perjalanan MCA untuk mengetahui secara pasti apa saja yang ada di dalam hutan mereka: sebuah proses yang menawarkan wawasan penting untuk pemantauan keanekaragaman hayati di seluruh wilayah Papua Nugini.
Cerita berikutnya menampilkan kisah tentang para pemuda setempat yang belajar memasang kamera jebak dan perekam suara, seorang ahli biologi Brasil yang menjelaskan bagaimana kondisi hutan hujan Managalas jika dibandingkan dengan Amazon, dan pengujian berbagai cara untuk mempelajari apa yang ada di dalam sebuah hutan, mulai dari menggali pengetahuan lokal hingga mengkaji etika dan peluang penggunaan teknik baru seperti pengambilan sampel eDNA.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan hubungi Will Unsworth, Pimpinan Program PNG Landscape Alliance: [email protected]








