LANGUAGE

Cari artikel

Bagaimana lahan terdegradasi bisa menjadi fondasi bioekonomi ramah hutan di Indonesia

Memenuhi kebutuhan pangan dan energi sekaligus memperkuat ketahanan iklim, tanpa menambah deforestasi.
Dry, sparsely vegetated hills near Labuan Bajo, eastern Indonesia, showing degraded land with scattered trees and coastal waters in the background.
perbukitan kering di dekat Labuan Bajo, Indonesia bagian timur, menggambarkan luasnya lahan terdegradasi dan marginal yang berpotensi direstorasi dan dimanfaatkan kembali untuk sistem pangan dan energi yang berpihak pada hutan.

Dengan tuntutan pangan, energi, dan mitigasi iklim yang kian meningkat, Indonesia perlu menjawab tantangan utama: bisakah pembangunan terus berjalan tanpa konversi hutan alam?

Alih-alih membuka hutan baru, sebuah perspektif ilmiah terbaru justru menunjukkan jalan lain. Dengan memanfaatkan lahan terdegradasi dan kurang dimanfaatkan secara cerdas, sistem pangan dan energi terintegrasi dapat menopang penghidupan, memulihkan alam, dan menyimpan karbon—semuanya tanpa mengorbankan hutan.

Tantangan utama: Trilema nasional

Para pembuat kebijakan di Indonesia dihadapkan pada dilema klasik yang kian kompleks. Di satu sisi, pertumbuhan penduduk dan ekonomi terus meningkatkan kebutuhan pangan dan energi. Di sisi lain, Indonesia juga telah berkomitmen pada target iklim yang ambisius serta perlindungan jangka panjang hutan alam.

Selama ini, peningkatan produksi sering ditempuh dengan membuka lahan baru—sebuah pendekatan yang berisiko mendorong hilangnya hutan. Cara ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan cadangan karbon, tetapi juga melemahkan ketahanan jangka panjang, sementara manfaat pembangunannya kerap bersifat sementara.

Burned and degraded forest land in West Kalimantan with charred vegetation and sparse tree cover.
Lahan terdegradasi akibat kebakaran di Kalimantan Barat menunjukkan bagaimana kawasan luas dengan fungsi ekologis yang menurun dapat diarahkan kembali pada pemanfaatan lahan berbasis restorasi dan berpihak pada hutan, alih-alih terus mengalami deforestasi.
Foto: Tim Cronin / CIFOR-ICRAF
Degraded peatland in South Sumatra with low vegetation and signs of past disturbance.
Bekas hutan rawa gambut di Sumatra Selatan menyoroti lanskap dengan potensi tinggi untuk restorasi dan mitigasi iklim apabila dikelola melalui sistem pemanfaatan lahan terpadu yang cerdas iklim.
Foto: Robert F. Finlayson / CIFOR-ICRAF

Arah pembangunan berbasis sains 

Melalui artikel ini, Baral dan rekan-rekannya, termasuk Robert Nasi, Direktur General CIFOR dan Direktur Sains CIFOR-ICRAF menunjukkan alternatif berbasis sains yang menjauh dari konversi hutan. Fokusnya adalah agroforestri dan bioenergi yang mendukung restorasi, pertanian cerdas iklim, dan pemanfaatan lahan terdegradasi.

Lahan-lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif kini dilihat sebagai ruang pemulihan—tempat pangan, energi terbarukan, dan ternak dapat diintegrasikan dalam sistem agroforestri yang berkelanjutan.

Di lahan-lahan ini, tanaman pangan dapat ditanam untuk memenuhi gizi dan pasar lokal, pohon penghasil bioenergi menyediakan energi terbarukan dan biomassa, sementara ternak dikelola dalam mosaik agroforestri yang saling mendukung.

Kombinasi ini membuat lahan lebih produktif, memperkuat penghidupan desa, dan meningkatkan penyerapan karbon tanpa mengorbankan hutan.

Mengapa lahan terdegradasi penting

Lahan terdegradasi tersebar luas di Indonesia, dari bekas pertanian hingga kawasan berhutan dengan produktivitas rendah. Meski potensinya besar, lahan-lahan ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pangan, iklim, dan keanekaragaman hayati.

Dengan memfokuskan pembangunan ke lahan tersebut, Indonesia bisa menjaga laju pertumbuhan tanpa menambah deforestasi—sekaligus membangun bioekonomi yang ramah hutan dan berkelanjutan.

Open grassland landscape in eastern Sumba with grazing animals and scattered vegetation under a wide sky.
Sabana kering di Sumba bagian timur menggambarkan lahan marginal tempat sistem agroforestri terpadu, peternakan, dan bioenergi dapat mendukung mata pencaharian tanpa mengalihfungsikan hutan yang tersisa. Foto oleh Robert F. Finlayson
Hilly agricultural landscape in Manggarai Regency on Flores Island with scattered houses and cultivated plots.
Lahan pertanian petani kecil di Kabupaten Manggarai, Flores, mencerminkan lanskap mosaik di mana produksi pangan dan tujuan restorasi dapat dikombinasikan pada lahan yang telah dibuka.
Foto: Jakub Hałun / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Manfaat besar, tantangan nyata

Bioekonomi yang bertumpu pada pemulihan lahan menawarkan manfaat ganda bagi masyarakat dan lingkungan. Pendekatan ini membuka peluang pendapatan baru di perdesaan, memperkuat energi terbarukan, dan meningkatkan penyerapan karbon.

Tak hanya itu, arah ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris serta berbagai agenda pembangunan nasional.

Meski menjanjikan, penerapan pendekatan ini dalam skala besar bukan tanpa tantangan. Diperlukan kejelasan tata kelola dan hak atas lahan, investasi pada infrastruktur pengolahan dan akses pasar, pelibatan aktif petani kecil, serta skema pembiayaan jangka panjang yang memberi insentif pada pemulihan ekosistem.

Tantangan ini memang kompleks, tetapi bukan mustahil diatasi—terutama jika direncanakan secara terpadu di tingkat bentang alam dan didukung strategi rantai nilai yang terintegrasi.

Relevansi kebijakan dan langkah selanjutnya

Pesan bagi pembuat kebijakan jelas: pertumbuhan ekonomi dan perlindungan hutan bisa berjalan beriringan. Dengan memanfaatkan lahan terdegradasi secara cerdas, Indonesia dapat mengembangkan bioekonomi yang produktif, adil, dan ramah hutan.

Pendekatan ini juga membuka peluang kerja sama lintas sektor serta menekankan pentingnya riset dan proyek percontohan untuk membuktikan efektivitasnya di lapangan.

Di tengah meningkatnya perhatian global pada solusi berbasis alam, pengalaman Indonesia dalam mengelola lahan terdegradasi berpeluang menjadi rujukan bagi negara-negara tropis lain yang ingin tumbuh secara berkelanjutan tanpa mengorbankan hutan mereka.