LANGUAGE

Cari artikel

Padang stepa, tanah, dan solusi

EN, ID
9 menit baca
Landscape Alliance hadir di UNCCD COP17 Mongolia
Braided river channels cross a green Mongolian steppe beneath barren mountains.
Sungai Delta yang berkelok melintasi hamparan stepa Mongolia. Foto: Andrew King.

Mongolia adalah salah satu tempat yang tepat untuk membahas persoalan lahan. Padang stepa yang sangat luas memiliki sejarah panjang dan telah digunakan untuk menggembalakan ternak selama berabad-abad. Hingga saat ini, padang stepa tersebut masih menjadi bagian penting dari kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat Mongolia.

Pada Agustus ini, Mongolia menjadi tuan rumah COP17 Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan (UNCCD) di Ulaanbaatar. Selama dua minggu, para peserta akan membahas berbagai isu penting, seperti pemulihan lahan, kekeringan, padang rumput untuk ternak, serta kehidupan dan praktik masyarakat penggembala.

Mongolia adalah negara pertama di Asia Timur dan Asia Tengah yang menjadi tuan rumah COP UNCCD. Sebagian besar wilayah Mongolia menghadapi masalah kerusakan lahan. Karena itu, pemulihan lahan menjadi salah satu bagian penting dalam kebijakan negara tersebut. Padang rumput yang luas menjadi sumber penghidupan bagi para penggembala dan membantu menyediakan pangan. Namun, kondisi padang rumput semakin terancam oleh perubahan iklim, praktik penggembalaan yang tidak berkelanjutan, kekeringan, dan berkurangnya luas padang rumput. COP17 juga menjadi bagian penting dari Tahun Internasional Padang Penggembalaan dan Penggembala PBB (IYRP 2026). Kampanye yang diprakarsai Mongolia ini membawa perhatian dunia pada sekitar 500 juta orang yang hidup dan bergantung pada padang penggembalaan.

Dalam kegiatan ini, World Wildlife Fund (WWF) bekerja sama dengan Landscape Alliance, Coalition of Action for Soil Health (CA4SH), dan beberapa mitra lainnya mengadakan kunjungan lapangan ke Taman Nasional Gorkhi-Terelj.

Peserta akan meninggalkan Ulaanbaatar dan mengunjungi langsung masyarakat setempat. Mereka akan bertemu dengan penggembala, pemerintah daerah, kelompok pemuda, dan perwakilan masyarakat. Peserta juga akan melihat dan belajar dari berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk menjaga dan memulihkan lahan serta mengatasi penggurunan. Kunjungan ini akan dilengkapi dengan pengalaman menginap di ger, rumah tradisional Mongolia yang juga dikenal sebagai yurt. โ€œIni adalah cara yang sangat baik untuk melihat langsung kondisi bentang alam dan memahami berbagai masalah yang ingin diatasi melalui konferensi ini,โ€ kata Leigh Winowiecki, salah satu pemimpin CA4SH dan pemimpin tema penelitian Tanah dan Kesehatan Lahan di Landscape Alliance.

Gorkhi-Terelj juga bukan tempat baru bagi Landscape Alliance. Pada 2025, tim Landscape Alliance pernah mengunjungi kawasan ini untuk mengikuti pertemuan Kelompok Kerja Komite Kehutanan FAO tentang Sistem Lahan Kering dan Agrosilvopastoral, serta Sekolah Lahan Kering Ketiga.

Cashmere goats graze on a grassy hillside in Mongolia under a clear blue sky.
Kambing kasmir merumput di kawasan padang penggembalaan di Mongolia. Foto: Tor-Gunnar Vรฅgen / Landscape Alliance.

Pada 2025, Landscape Alliance juga bekerja sama dengan Sustainable Fibre Alliance untuk mengadakan pelatihan pertama di Mongolia tentang Land Degradation Surveillance Framework (LDSF). LDSF adalah metode untuk memantau kondisi tanah dan lahan yang dikembangkan oleh para ilmuwan Landscape Alliance pada 2005. Sejak itu, metode ini telah digunakan di lebih dari 40 negara di wilayah tropis. LDSF membantu peneliti, masyarakat, dan pembuat kebijakan memantau perubahan kondisi tanah dan lahan dari waktu ke waktu.

Hal ini sangat penting bagi Mongolia. Sekitar 70 persen wilayah daratan Mongolia berupa padang rumput yang menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak masyarakat yang bergantung pada peternakan. Namun, kondisi padang rumput di Mongolia terus menurun. Menurut UNCCD, hampir 77 persen lahan di Mongolia telah mengalami kerusakan atau degradasi. Angka ini hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.

โ€œKekeringan semakin parah dan sering terjadi. Jumlah hari dengan badai pasir dan debu juga meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 1960-an,โ€ kata Battsetseg Batmunkh, Presiden Terpilih COP17 UNCCD sekaligus Menteri Luar Negeri Mongolia.

Students and SFA staff examine vegetation and record data in an LDSF plot in a grassland in Mongolia.
Mahasiswa dan staf SFA menerapkan modul padang penggembalaan pada plot LDSF selama pelatihan di Mongolia. Foto: Tor-Gunnar Vรฅgen / Landscape Alliance.
A botanist and two students examine and record grass species in a field plot in Mongolia.
Seorang ahli botani dan para mahasiswa mengidentifikasi spesies rumput di plot LDSF selama pelatihan di Mongolia. Foto: Tor-Gunnar Vรฅgen / Landscape Alliance.

Mongolia bukan satu-satunya negara yang menghadapi masalah kerusakan lahan. Di seluruh dunia, hingga 40 persen daratan telah mengalami degradasi. Kondisi ini berdampak besar pada kehidupan masyarakat, termasuk produksi pangan, ketersediaan air, sumber penghidupan, dan kondisi ekonomi.

Inilah yang menjadi salah satu perhatian utama dalam COP17 UNCCD. Dengan tema โ€œRestoring Land, Restoring Hopeโ€ (Memulihkan Lahan, Memulihkan Harapan), konferensi ini menegaskan bahwa pemulihan lahan bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga penting bagi pembangunan dan ketahanan masyarakat.

โ€œKetika kekeringan semakin parah dan kerusakan lahan terus meningkat, konferensi ini harus mendorong solusi yang nyata dan dapat didanai. Solusi tersebut mencakup pemulihan lahan dan tanah yang rusak serta pengelolaan lahan dan air yang lebih baik, agar masyarakat dapat terus hidup dan berkembang,โ€ kata Yasmine Fouad, Sekretaris Eksekutif UNCCD.

Mendorong restorasi yang lebih luas

Mongolia hanyalah salah satu bagian dari upaya Landscape Alliance untuk memulihkan lahan yang akan dibawa ke COP17. Salah satunya adalah Thrivelands, sebuah inisiatif senilai EUR 20 juta yang diluncurkan bersama Uni Eropa pada Desember 2025. Inisiatif ini bertujuan mendorong pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan di kawasan lahan kering di berbagai negara.

Di COP17, Thrivelands akan diperkenalkan melalui Ministerial Segment dan Business 4 Land Forum. Kedua forum ini menjadi kesempatan untuk membahas rencana dan tujuan Thrivelands bersama pemerintah, investor, dan berbagai mitra.

Thrivelands melanjutkan berbagai program yang sebelumnya didukung Uni Eropa. Sejak 2020, Landscape Alliance telah memberikan dukungan teknis dan membantu berbagai proyek saling berbagi pengalaman melalui Landscapes For Our Future. Program Komisi Eropa ini mendukung lebih dari 20 proyek pengelolaan lanskap terpadu di berbagai negara Global South, mulai dari Bolivia hingga Kamboja.

Di Afrika Barat dan Afrika Timur, fase kedua Regreening Africa juga sedang berjalan di tujuh negara, termasuk beberapa negara di kawasan Great Green Wall. Pada fase pertama, program ini berhasil memulihkan lebih dari 217.000 hektare lahan yang rusak dan memberikan manfaat bagi lebih dari 156.000 rumah tangga.

Data dan pengalaman dari kegiatan Great Green Wall akan ditampilkan di paviliun khusus pada COP17 UNCCD. Informasi tersebut kini juga menjadi bagian dari proyek Knowledge for Great Green Wall Action (K4GGWA).

Researchers measure grasses and collect samples in a dry open field.
Tim lapangan melakukan pengukuran di kawasan padang penggembalaan, Lenya. Foto: Kelvin Trautman / Landscape Alliance.

Mengatasi kesenjangan data

Padang penggembalaan, seperti stepa di Mongolia, mencakup sekitar 54 persen daratan Bumi. Kawasan ini menyimpan sekitar 30 persen karbon tanah dunia dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 500 juta penggembala di berbagai negara. Padang penggembalaan juga menjadi bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat. Namun, meskipun wilayahnya sangat luas, ekosistem ini masih belum banyak diteliti secara mendalam. Landscape Alliance meninjau lebih dari 6.000 publikasi tentang pemulihan bentang alam. Hasilnya menunjukkan bahwa 78 persen penelitian membahas kehutanan, sementara hanya 6 persen yang membahas padang rumput.

Kurangnya data tentang padang rumput menjadi salah satu masalah yang ingin diatasi melalui pemantauan langsung di lapangan, seperti dengan metode LDSF. Di Kenya, Landscape Alliance telah menggunakan metode ini di Laikipia Conservancies dan Ekosistem Amboseli. Bersama The Nature Conservancy dan Amboseli Ecosystem Trust, mereka memantau perubahan vegetasi, karbon dalam tanah, dan kondisi padang penggembalaan dari waktu ke waktu.

Kegiatan ini juga mendukung STELARR (Sustainable Investments for Large-Scale Rangeland Restoration), sebuah proyek yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF). Proyek ini mendorong sektor swasta yang usahanya bergantung pada padang penggembalaan untuk ikut mendanai pemulihan kawasan tersebut. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah industri kasmir di Mongolia.

Di atas landasan yang kokoh

Bagi Winowiecki, yang selama puluhan tahun memperjuangkan pentingnya kesehatan tanah, perhatian yang lebih besar terhadap isu ini dalam konferensi tahun ini merupakan perkembangan yang menggembirakan. Sebelum COP16 di Riyadh, Arab Saudi, pada 2024, kesehatan tanah belum dibahas secara khusus dalam UNCCD. Isu ini dianggap sebagai bagian dari kesehatan lahan, sehingga belum banyak mendapat perhatian.

Pada COP16, untuk pertama kalinya muncul keputusan khusus tentang pemulihan tanah di lahan pertanian, yaitu Keputusan 19. Padang penggembalaan dan kehidupan masyarakat penggembala yang sebelumnya juga kurang mendapat perhatian turut masuk dalam kesepakatan melalui Keputusan 29. โ€œIni adalah keputusan penting yang mengakui bahwa tanah yang sehat memiliki peran besar dalam mendukung upaya pemulihan lahan di seluruh dunia,โ€ kata Winowiecki.

Tahun ini, perhatian terhadap kesehatan tanah semakin meningkat. Untuk pertama kalinya, UNCCD akan mengadakan Hari Sistem Pangan dan Kesehatan Tanah pada Kamis, 27 Agustus. Landscape Alliance dan CA4SH menjadi bagian dari komite pengarah kegiatan tersebut. Keduanya juga akan mengadakan jamuan makan malam bersama para pemimpin di bidang kesehatan tanah. โ€œKami memiliki agenda yang jelas untuk diperjuangkan,โ€ kata Winowiecki.

Dalam berbagai agenda COP17 lainnya, para ilmuwan Landscape Alliance juga terlibat dalam lebih dari 25 kegiatan pendamping (side events). Mereka berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana restorasi bentang alam dapat membantu menjaga alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan tersebut antara lain mencakup Hari Sistem Pangan dan Kesehatan Tanah, inisiatif Business 4 Land dari UNCCD, serta pelatihan tentang pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan.

Sementara itu, Global Landscapes Forum (GLF) melanjutkan semangat dari konferensi GLF Africa 2026 bertajuk โ€œStewarding Our Rangelandsโ€. GLF juga membawa berbagai pengalaman dari dialog regional, kampanye digital, dan kerja sama dengan masyarakat di berbagai wilayah dunia.

โ€œCOP17 UNCCD menjadi kesempatan penting untuk mengubah komitmen global menjadi aksi nyata di tingkat bentang alam, sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat yang bergantung pada bentang alam tersebut,โ€ ujar Direktur GLF, Kamaluddin Prawiranegara.

โ€œKami ingin menghubungkan sains, kebijakan, dan pendanaan dengan pengalaman nyata masyarakat lokal, Masyarakat Adat, kaum muda, dan para pelaku restorasi. COP17 menjadi kesempatan penting untuk mendorong solusi yang berasal dari masyarakat, meningkatkan investasi untuk menjaga bentang alam tetap sehat dan tangguh, serta memastikan masyarakat yang menjaga dan mengelola lahan ikut terlibat dalam menentukan keputusan, solusi, dan manfaat yang dihasilkan.โ€

A woman wearing colourful beaded jewellery holds a handful of dry grass.
Foto oleh Kelvin Trautman / Landscape Alliance.

Dengan semangat tersebut, Winowiecki menilai sesi penutup Hari Sistem Pangan dan Kesehatan Tanah sebagai salah satu agenda yang menarik. Sesi ini akan menampilkan berbagai kegiatan yang dipimpin oleh kaum muda, termasuk peluncuran rencana pelaksanaan Youth4Soil Manifesto, yang pertama kali diperkenalkan pada Hari Tanah Sedunia, 5 Desember 2025. โ€œIni menjadi cara yang tepat untuk menutup rangkaian kegiatan hari itu, dengan mendengarkan suara kaum muda dan melihat bagaimana mereka dapat melanjutkan upaya ini ke depan,โ€ ujar Winowiecki.

Bagi CEO Landscape Alliance, ร‰liane Ubalijoro, kunjungan ke Mongolia dan keikutsertaan dalam COP17 merupakan bagian dari strategi organisasi untuk mendorong restorasi bentang alam.

โ€œKesehatan tanah adalah dasar dari restorasi,โ€ ujarnya. โ€œTanah yang sehat penting untuk menghasilkan pangan, menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung kehidupan petani, penggembala, dan masyarakat yang bergantung pada lahan. Di Landscape Alliance, kami menggabungkan penelitian, pemantauan bentang alam, dan pengetahuan masyarakat untuk memahami perubahan yang terjadi. Informasi ini membantu mengarahkan investasi ke wilayah yang paling membutuhkan dan memastikan restorasi memberikan manfaat dalam jangka panjang.โ€

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Leigh Ann Winowiecki. [email protected]


FURTHER READINGS

Other resources