LANGUAGE

Cari artikel

Menjaga rumah Elang Filipina di hutan Mindanao, Filipina

EN, ID
6 menit baca
Sebuah proyek menghubungkan pemulihan habitat elang dengan hak-hak masyarakat adat dan sumber penghidupan.
Philippine eagle perched among dense forest vegetation, with its crest feathers raised and eyes facing the camera.
Elang Filipina di habitat hutan alaminya. Foto oleh Aimee Valencia.

Filipina merupakan rumah bagi salah satu raptor penghuni hutan terbesar dan terkuat di dunia, yaitu Elang Filipina (Pithecophaga jefferyi). Namun, dalam beberapa dekade terakhir, burung megah ini semakin terdesak menuju ambang kepunahan. Melalui proyek terbaru Landscape Alliance- ICRAF sebagai lembaga pelaksana utama proyek – bersama para mitra menunjukkan bahwa menjaga keanekaragaman hayati tidak cukup hanya dengan melindungi satu spesies atau habitatnya. Konservasi yang berhasil juga harus merangkul masyarakat yang hidup berdampingan habitat.

Mengapa Elang Filipina begitu berharga?

Elang Filipina adalah satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di negeri kepulauan tersebut. Burung langka ini hidup di hutan-hutan pegunungan hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, sering kali di kawasan yang terjal dan sulit dijangkau manusia.

Di antara rimbunnya hutan, Elang Filipina membangun sarangnya di pohon-pohon dipterokarpa asli yang menjulang tinggi, seperti lauan putih (Shorea contorta). Sesekali, ia juga terlihat di hutan sekunder dan kawasan hutan di sepanjang aliran sungai. Namun, elang ini jarang menghuni hutan yang kanopinya terbuka, tempat perjumpaan dan konflik dengan manusia lebih mungkin terjadi. Habitat burung ini tak terpisahkan dari hutan, tempat berburu biawak, ular, kelelawar, musang kelapa, dan monyet — satwa-satwa yang turut menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Elang Filipina juga dikenal sebagai spesies payung (umbrella species) karena membutuhkan wilayah jelajah dan habitat yang sangat luas untuk bertahan hidup. Ketika habitat elang ini dilindungi, berbagai spesies lain yang hidup di kawasan yang sama — terutama satwa yang lebih kecil dan kurang mampu berpindah tempat — ikut terlindungi. Sebagai predator puncak, Elang Filipina berada di posisi tertinggi dalam rantai makanan dan tidak memiliki musuh alami. Perannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan dengan mengendalikan populasi mangsanya.

Forested mountains in the Pantaron Mountain Range, with dense green canopy covering steep slopes under a bright sky.
Pemandangan Pegunungan Pantaron yang menjadi habitat pasangan-pasangan tersisa elang Filipina di Kecamatan San Fernando, Provinsi Bukidnon, Wilayah Mindanao, Filipina.

Melestarikan Elang Filipina berarti menjaga habitatnya dengan memulihkan hutan melalui penanaman kembali pohon-pohon asli yang menjadi bagian dari ekosistemnya.

Elang Filipina tidak hanya penting bagi ekosistem, tetapi juga bagi jati diri bangsa. Melalui Proklamasi No. 615, burung ini resmi ditetapkan sebagai burung nasional Filipina. Kehadirannya dihargai sebagai bagian dari warisan budaya dan kekayaan hayati.

Mengapa spesies ini terancam punah?

Elang Filipina dikategorikan sebagai spesies Terancam Punah dalam Red list International Union for Conservation of Nature (IUCN). Status ini diberikan kepada spesies dengan ‘populasi yang sangat kecil sebagai akibat dari penurunan yang sangat cepat selama tiga generasi terakhir.’ Menurut Philippine Eagle Foundation (PEF), hanya tersisa sekitar 400 pasang elang Filipina di alam liar. Perkiraan tersebut didasarkan pada luas dan kapasitas habitat hutan yang cocok bagi burung pemangsa ini. PEF mencatat bahwa jumlah aktualnya bisa jadi lebih rendah, mengingat beberapa elang mungkin telah punah dari beberapa kawasan tersebut.

Berbagai studi menunjukkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan penurunan populasi elang Filipina. Faktor-faktor tersebut meliputi deforestasi, yang sebagian dipicu oleh alih fungsi kawasan hutan menjadi lahan pertanian untuk tanaman semusim, pembalakan liar, serta pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari (subsistence). Perburuan juga menjadi ancaman lainnya; PEF melaporkan bahwa setidaknya ada satu ekor elang Filipina yang mati akibat ditembak setiap tahunnya. Meskipun aktivitas perburuan telah dinyatakan ilegal oleh Pemerintah Filipina di bawah Undang-Undang Konservasi dan Perlindungan Sumber Daya Satwa Liar (Wildlife Resources Conservation and Protection Act), beberapa insiden juga berkaitan erat dengan konflik dengan masyarakat setempat. Seiring berkurangnya tutupan hutan, elang Filipina cenderung bergerak mendekati permukiman manusia untuk mencari mangsa, yang terkadang termasuk hewan ternak. Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.

Mengapa konservasi keanekaragaman hayati membutuhkan pendekatan terpadu

Perlindungan dan restorasi dapat memberikan dampak yang sangat besar dalam melestarikan spesies kunci seperti elang Filipina. Namun, pertanyaan yang lebih sulit adalah bagaimana cara menjaga keberlanjutan dari capaian-capaian tersebut ketika proyek atau program berakhir.

Melalui proyek Nature’s Neighbours: Sustainable Co-existence between Indigenous People and Philippine Eagle yang didanai oleh Darwin Initiative, Landscape Alliance bekerja sama dengan Botanic Gardens Conservation International dan PEF di Filipina untuk mendorong koeksistensi yang berkelanjutan antara masyarakat adat dan elang Filipina di wilayah munisipalitas San Fernando, Propinsi Bukidnon, Mindanao.

Dengan merangkul komunitas masyarakat adat setempat, inisiatif ini mengintegrasikan restorasi ekologi, peningkatan mata pencaharian, dan hak atas wilayah adat sebagai bagian tak terpisahkan dari konservasi keanekaragaman hayati.


Selain itu, sebagai bagian dari upaya restorasi ekologi, proyek ini akan menanam lebih dari 80.000 pohon asli setempat di wilayah-wilayah terpilih di dalam kawasan adat di San Fernando. Lokasi restorasi dipilih berdasarkan keterkaitannya dengan fungsi ekosistem dan konektivitas habitat bagi elang Filipina. Di sektor mata pencaharian, proyek ini memperkenalkan praktik-praktik agroforestri yang didorong oleh pasar dan berketahanan iklim, sembari memperkuat pembibitan berbasis masyarakat serta menghasilkan pendapatan tambahan dari penjualan bibit tanaman. Upaya-upaya ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap hutan yang tersisa serta habitat elang Filipina.

Community members take part in a group discussion, writing notes on paper around a table during a workshop.
Pengumpulan perspektif masyarakat lokal di Kecamatan San Fernando mengenai konservasi hutan dan perlindungan habitat elang Filipina melalui diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Foto oleh Myron Alford Anarcon / CIFOR-ICRAF.
Sign marking the Tigwahanon Indigenous Cultural Communities Ancestral Domain Tree Nursery, surrounded by young plants and trees in San Fernando, Bukidnon.
Salah satu persemaian lokal yang dibangun sebagai bagian dari proyek untuk mendukung kegiatan penanaman. Foto oleh Rachmat Mulia, Zarrel Gel Noza / CIFOR-ICRAF.
Rows of young tree seedlings growing in a nursery, bordered by green netting and surrounded by banana plants and other vegetation.
Salah satu persemaian lokal yang dibangun sebagai bagian dari proyek untuk mendukung kegiatan penanaman. Foto oleh Rachmat Mulia, Zarrel Gel Noza / CIFOR-ICRAF.

Inisiatif ini menempatkan masyarakat adat setempat sebagai pusat dari upaya konservasi keanekaragaman hayati. Para anggota masyarakat dilatih dalam bidang agroforestri berkelanjutan, restorasi hutan, perbanyakan dan manajemen pembibitan, serta pengembangan agribisnis skala kecil; bahkan beberapa di antaranya dipersiapkan untuk menjadi pelatih lokal (local trainers). Bersamaan dengan itu, aktivitas pelibatan masyarakat dan peningkatan kesadaran publik turut membantu membangun pemahaman lokal mengenai konservasi keanekaragaman hayati sekaligus mendukung lahirnya para penjaga kelestarian alam (biodiversity stewards) di dalam komunitas tersebut.

Proyek ini juga akan mendukung penyusunan rencana pengelolaan bersama (co-management plans) berbasis masyarakat untuk wilayah adat di Munisipalitas San Fernando. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa praktik-praktik konservasi dan keberlanjutan dapat melekat menjadi bagian dari sistem komunitas serta proses pengambilan keputusan setempat, alih-alih berhenti begitu saja saat proyek ini berakhir.


Acknowledgements

Nature’s Neighbours adalah proyek selama empat tahun (2025–2029) yang didanai oleh United Kingdom Biodiversity Conservation Fund melalui Darwin Initiative. Proyek ini dilaksanakan oleh CIFOR-ICRAF bekerja sama dengan Botanic Gardens Conservation International dan Philippine Eagle Foundation, dengan tujuan mendukung keberlanjutan hidup berdampingan antara masyarakat adat dan elang Filipina di Kecamatan San Fernando, Provinsi Bukidnon, Filipina.Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.cifor-icraf.org/project/naturesneighbors/.