LANGUAGE

Cari artikel

Kisah-kisah yang menyelamatkan orang utan

EN, ES, ID
7 menit baca
Di hutan Kalimantan Barat, upaya konservasi orang utan didasarkan pada cerita-cerita rakyat.
A female orangutan sits in a forest with her young clinging to her side
Seekor induk orangutan bersama bayinya. Foto oleh Terry Sunderland / CIFOR-ICRAF

Pada tahun 1982, Usman Saibul dan temannya, Jerry, sedang bekerja untuk program transmigrasi pemerintah Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat. Ketika itu mereka melihat seorang pemburu menembak seekor induk orang utan โ€” dan bayinya yang berpegangan erat padanya โ€” hingga jatuh dari atas sebuah pohon.

Hewan-hewan itu jatuh ke lantai hutan, masih berpegangan erat satu sama lain. Saat sang induk sekarat, dia meraih sehelai daun, menekan susunya ke daun itu, dan meletakkannya di samping bayinya.

โ€œSeolah-olah dia berkata: meskipun aku mati, aku meninggalkan apa yang kau butuhkan untuk hidup,โ€ kenang Usman. โ€œDan dia pun meninggal.โ€ 

Bayi orang utan itu diambil, dan tubuh induknya dimakan oleh para pemburu. Momen itu membekas dalam ingatan Usman. โ€œSaya merasa sangat menyesal, sangat sedih,โ€ katanya. โ€œBagaimana mungkin orang itu tega membunuh induk orang utan itu, untuk mengambil bayinya?โ€  

Kemudian, setelah menyelesaikan kontrak penebangan dan kembali ke desanya di Kapuas Hulu, ia menerima surat dari Jerry. โ€œRupanya, ketika pemburu tersebut menembak orang utan itu, istri sang pemburu sedang hamil di rumah,โ€ ceritanya. โ€œKetika ia melahirkan, bayinya sangat mirip dengan bayi orang utan! Kami mengatakan itu adalah kutukan dari orang utan.โ€

Usman telah menceritakan kisah itu berkali-kali sejak saat itu, untuk tujuan yang sangat spesifik: untuk membujuk orang-orang di komunitas Melayu tempat ia tinggal agar melindungi orang utan. Dan bukti menunjukkan bahwa jenis penceritaan seperti ini berdampak baik bagi hewan-hewan itu.

Misteri perhitungan sarang di dua hutan

Ketika para peneliti dari Center for International Forestry Research dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) dan LSM lokal Riak Bumi mulai melakukan survei populasi orang utan kalimantan [Pongo pygmaeus pygmaeus] di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, pada awal tahun 2010-an, mereka menemukan sesuatu yang “agak aneh”, kata ilmuwan CIFOR-ICRAF, Linda Yuliani.

Dua area hutan, keduanya sama-sama dalam kondisi baik menurut ukuran standar, memiliki isi yang sangat berbeda. Salah satunya memiliki kepadatan sarang orang utan yang tinggi (indikator yang digunakan para ilmuwan untuk menentukan ukuran populasi hewan yang terkenal sulit ditemukan itu). Yang lainnya tidak memiliki sarang sama sekali.

Para ahli biologi dalam tim tersebut kebingungan. Namun rekan-rekan antropolog mereka memiliki sebuah hipotesis. โ€œMereka memberi tahu kami bahwa di hutan dengan banyak sarang orang utan โ€” di daerah Dayak Iban [kelompok penduduk asli setempat] โ€” terdapat sistem pengetahuan tradisional yang kuat yang diterapkan oleh masyarakat setempat,โ€ kata Yuliani.

โ€œMereka memiliki sejumlah cerita yang sangat terkenal yang mendorong orang-orang untuk melindungi hewan-hewan tersebut, dan mendukung norma dan tabu yang kuat tentang larangan mengganggu orang utan.โ€

Kisah-kisah yang punya taring

Cerita kesaksian Usman sebagai saksi mata kekejaman manusiaโ€”dan kebaikan hewanโ€”adalah salah satu contoh kisah itu. Kisah-kisah lainnya jauh lebih tua.

Dami, seorang anggota komunitas Dayak Iban, mengenang sebuah cerita yang diwariskan dari kakeknya tentang seorang pria tua dalam garis keturunan keluarga mereka yang bernama Baring. Pria tua bereinkarnasi sebagai orang utan setelah meninggal โ€” dan kemudian meninggalkan instruksi ketat bagi mereka yang lahir setelahnya.

โ€œDia berkata: Cucu-cucu saya, cicit-cicit saya, dan keturunan mereka dilarang memakan atau membunuh orang utan,โ€ ceritanya. Saat ini, para tetua di komunitas Dayak Iban memastikan untuk meneruskan amanat itu kepada keturunan mereka sendiri, dan mendesak mereka untuk melakukan hal serupa di masa depan.

Video playing in corner

WATCH NOW

Tema cerita semacam itu โ€” para tetua yang dihormati bereinkarnasi sebagai orang utan โ€” sering muncul dalam kisah-kisah Dayak Iban, kata Heri Valentinus, pendiri dan direktur eksekutif Riak Bumi. Tema umum lainnya adalah bahwa orang utan melindungi leluhur mereka selama perang antaretnis sekitar 100 tahun lalu.

Ada juga kisah populer tentang sebuah keluarga yang menemukan bayi orang utan di hutan, membawanya pulang, dan membesarkannya bersama putra mereka. โ€œSuatu kali, ketika putra mereka berenang di sungai, ia dimangsa buaya,โ€ kata Yuliani. โ€œOrang utan itu mengejar buaya, memukulnya, dan menyelamatkan sang putra.โ€

Kisah-kisah ini memiliki bobot hukum. Masyarakat telah memformalkan perlindungan orang utan melalui sanksi adat dan, dalam beberapa kasus, perjanjian. โ€œKami telah menandatangani perjanjian bahwa siapa pun yang menembak orang utan akan dihukum, atau dikenakan hukum adat,โ€ kata Rado, seorang anggota komunitas Iban.

Stasiana, anggota komunitas lainnya, juga berbicara senada: โ€œMasyarakat kami tidak boleh membunuh, menangkap, atau menjual orang utan. Jika mereka melanggar aturan ini, masyarakat Iban percaya mereka akan dikutuk dan dihukum.โ€

Perlindungan ini juga mencakup beberapa elemen habitat orang utan. โ€œAda pohon-pohon rambutan di danau, dan orang-orang menyebutnya โ€˜rambutan mayasโ€™ [rambutan orang utan],โ€ kata Stasiana. โ€œKita boleh memanen buahnya, tetapi kita tidak diperbolehkan menebang pohon-pohon itu.โ€  

Rado menjelaskan bagaimana kemurahan hati semacam itu berdampak dua arah: โ€œBenih buah yang dilemparkan manusia hanya akan tumbuh di sekitar sini,โ€ katanya, sambil menunjuk ke arah permukiman. โ€œNamun jika orang utan memakannya, benih tersebut akan menyebar jauh lebih luas, dan mereka membantu meregenerasi hutan.โ€

Memperkuat kisah, mendukung penghidupan

Yuliani dan rekan-rekannya telah menerbitkan penelitian mereka tentang topik ini pada tahun 2018 lalu. Namun, entah bagaimana, kisah-kisah orang utan ini โ€” dan tetangga manusia mereka โ€” tetap melekat dalam ingatan mereka lama setelah makalah tersebut diterbitkan.

Tim tersebut menyadari bahwa pengetahuan semacam ini telah hilang di banyak daerah Kalimantan Barat, dan bahwa daerah ini bisa jadi akan menjadi yang berikutnya. Yuliani mengatakan para respondan penelitian berulang kali menyebutkan bahwa โ€œmakin banyak anak muda dan anak-anak yang tidak mengetahui kisah-kisah ini, karena mereka pindah ke kota untuk sekolah atau bekerja. Kami juga mendengar mereka mengatakan: bagi kaum muda, kita perlu memberikan bukti bahwa melindungi orang utan juga membawa manfaat bagi kita.โ€

Maka, dengan pendanaan dari Darwin Initiative, tim tersebut bekerja sama dengan para anggota komunitas dari tahun 2022 hingga 2025 untuk menghidupkan kembali dan memperkuat kisah-kisah tersebut melalui program penyadartahuan, penceritaan, dan video.

Di samping itu, mereka juga mendukung masyarakat dengan manfaat pembangunan yang nyata. Mereka memasang unit-unit pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang warga kelola secara mandiri dan sistem air bersih, serta melatih para perempuan untuk memproduksi dan memasarkan produk hutan, seperti selai dari varietas mangga lokal, dan pewarna alami untuk pakaian. Mereka juga membantu merehabilitasi lahan yang terdegradasi, menciptakan koridor-koridor yang mendukung satwa liar seperti orang utan untuk berpindah di antara petak-petak kecil hutan.

Pada titik ini, intervensi tersebut telah terbukti berhasil dan dapat diperluas. Tim mengajukan proposal untuk memperluasnya ke komunitas-komunitas yang tersisa. Namun, meskipun mendapat rekomendasi positif dari pengulas, permohonan tersebut tidak didanai lantaran anggaran donor sudah habis. Di satu area hutan yang masih utuh yang dimiliki oleh empat dusun yang bertetanggaan, dua dusun memiliki sistem mikrohidro, dan dua lainnya tidak. โ€œMereka berkata: kami juga melindungi orang utan โ€” kapan kami mendapatkan pembangkit listrik mikrohidro seperti yang lain?โ€

Two people crouch on a forest floor during orangutan population monitoring along a line transect.
Pemuda Dayak Iban berpartisipasi dalam pemantauan habitat orangutan. Foto oleh IMPRO / CIFOR-ICRAF.

Perlindungan yang sudah tertanam di tempatnya

Orang utan kalimantan diklasifikasikan bersatus Kritis (Critically Endangered) oleh IUCN, dengan hilangnya habitat dan perburuan sebagai ancaman utama. Strategi konservasi kian mengakui pentingnya keterlibatan masyarakat โ€” tetapi hal itu sering dipahami dalam konteks instrumental: masyarakat lokal sebagai penjaga hutan, atau sebagai penerima pembayaran untuk jasa ekosistem.

Hal yang disarankan oleh penelitian ini adalah sesuatu yang lebih tahan lama. Perlindungan di sini sudah ada sejak beberapa generasi sebelum proyek ini dimulai. โ€œIni adalah sesuatu yang sudah ada di antara masyarakat,โ€ kata Yuliani. โ€œKami membantu menghidupkan kembali dan memperkuatnya.โ€

Stasiana merangkumnya dengan lebih sederhana. โ€œBiarkan saja [para orang utan itu] melakukan apa yang mereka inginkan,โ€ katanya. โ€œKita berbagi rumah yang sama.โ€


Untuk informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan menghubungi Linda Yuliani: [email protected]