Apa yang bisa diperbuat anggrek Meksiko berwarna kuning kehijauan terhadap jalan raya dan sekolah di pedesaan Papua Nugini? Secara potensi, sangat banyak.
Anggrek-anggrek itu adalah Vanilla planifolia dan Vanilla tahitensis, yang dibudidayakan di seluruh daerah tropis karena polong dan bijinya yang harum dan lezat. Vanili pertama kali ditanam di Papua Nugini (PNG) sekitar lima puluh tahun lalu, dan sejak itu negara tersebut menjadi salah satu produsen vanili terkemuka di dunia, memasok sekitar 10 persen dari ekspor global.
Di Dataran Tinggi Managalas di Provinsi Oro, masyarakat telah menanam vanili dalam skala kecil selama beberapa dekade. Iklim lembap dataran tinggi, hutan hujan yang rimbun, dan tanah vulkanik yang subur sangat mirip dengan kondisi asli tanaman ini di Meksiko.
Ada keuntungan lainnya. Vanili dapat ditanam dengan cara yang membantu melestarikan hutan. Hal ini menjadikannya sangat cocok untuk Managalas, yang baru-baru ini dideklarasikan sebagai sebuah kawasan konservasi dan tempat masyarakat secara aktif mencari opsi-opsi pendapatan yang berkelanjutan. Tanaman ini tumbuh subur di lahan kecil, merambat di pohon peneduh atau terintegrasi ke dalam sistem wanatani, dan dapat menghasilkan keuntungan tinggi dari lahan yang terbatas, sehingga mengurangi tekanan untuk membuka hutan.
Rasio nilai terhadap beratnya yang tinggi dan umur simpannya yang panjang makin memperkuat daya tarik vanili. Di daerah terpencil seperti Managalas, di mana transportasi sulit dan mahal, hasil panen yang dijual dengan harga sekitar 5 kina [1,20 dolar AS] atau kurang per kilogram jarang menguntungkan. Banyak yang gagal bahkan lebih awal, karena tidak mampu menanggung biaya memindahkan hasil panen dari dataran tinggi itu dan kemudian melalui jalur pelayaran pesisir Papua Nugini.


Foto: Monica Evans / CIFOR-ICRAF
“Salah satu mantra kami untuk rantai nilai adalah nilai tinggi, volume rendah, dan tidak mudah rusak,” kata Will Unsworth, manajer program PNG untuk Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), yang telah bekerja sama dengan LSM lokal Managalas Conservation Foundation (MCF) untuk menyusun dan menerapkan rencana pengelolaan konservasi wilayah tersebut sejak tahun 2021.
“Vanili sangat sesuai dengan ketiga kriteria tersebut,” lanjut Unsworth. “Namun, kami menyadari bahwa tantangan sebenarnya adalah membantu para petani memahami pentingnya pengeringan yang tepat setelah panen, dan melakukan upaya yang diperlukan untuk mencapai kualitas premium.”
Upaya itu penting. Tanaman vanili membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk menghasilkan biji dan memerlukan pemangkasan, pemberian mulsa, dan pengaturan yang cermat pada pohon penyangga. Ketika tanaman itu akhirnya berbunga, setiap bunga hanya mekar selama beberapa jam, sering kali sebelum fajar. Itu berarti para petani perlu bangun sangat pagi setiap hari selama musim berbunga untuk memeriksa bunga yang mekar dan melakukan penyerbukan secara manual, karena penyerbuk alami tanaman ini hanya hidup di Meksiko.
Panen, bagaimanapun, hanyalah permulaan. Biji-biji itu kemudian harus dikeringkan dan dijemur di bawah sinar matahari selama berbulan-bulan, dijaga agar terhindar dari jamur dan pencurian, sebelum dapat dijual.
Lebih dari itu, para petani menghadapi tantangan untuk mengangkut hasil panen mereka melalui jalan yang sering kali tidak dapat dilalui. Mengingat kendala-kendala ini, banyak rumah tangga memprioritaskan tanaman pangan, yang menawarkan keuntungan lebih cepat dan lebih dapat diandalkan.
Namun, potensi vanili telah lama menjadikannya pusat pengembangan dan pekerjaan konservasi di Managalas. Pada awal tahun 2000-an, LSM Partners with Melanesians (PwM) yang berbasis di Port Moresby, yang didukung oleh Rainforest Foundation Norway, mulai menawarkan pelatihan tentang vanili. Pada tahun 2017, PwM mendatangkan ahli Mark Gozapao dari Highlands Vanilla untuk memimpin sebuah kursus selama seminggu mengenai penjaminan mutu.
“Sangat menyenangkan untuk membudidayakan tanaman komersial yang dapat menghasilkan nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat kami, di tempat yang sangat kekurangan layanan pemerintah,” kata Lusian Loibambe, ketua Asosiasi Vanili Managalas (Managalas Vanilla Association).
Namun, rintangan baru terus muncul. Pada tahun 2023, Uni Eropa (UE) menetapkan batasan ketat terhadap residu nikotin dalam vanili impor. Di PNG, di mana penggunaan tembakau meluas dan biji vanili sering dikeringkan bersama daun tembakau di rumah-rumah, peraturan tersebut dengan cepat menjadi penghalang utama untuk akses pasar.
Sebagai bentuk respons, perusahaan produk alami Kamapim Ltd telah melatih para petani melakukan praktik-praktik sederhana seperti mencuci tangan dan mengeringkan biji vanili di area terpisah dari tembakau. Tes mereka sekarang menunjukkan bahwa para petani yang mengikuti langkah-langkah ini menghasilkan vanili yang memenuhi standar Uni Eropa.
“Selama 18 bulan terakhir, kami telah berkembang dari vanili berkualitas sangat rendah menjadi produk yang cocok untuk pasar-pasar terbaik di dunia,” kata CEO Kamapim, Nancy Irwin.

Foto: Monica Evans / CIFOR-ICRAF
Tantangan lainnya lebih sulit diatasi. Semut api invasif telah menyebar di beberapa bagian Dataran Tinggi Managalas, melancarkan sengatan menyakitkan yang memaksa beberapa petani untuk meninggalkan perkebunan mereka sepenuhnya. “Banyak petani memutuskan untuk meninggalkan perkebunan mereka,” kata Joshua Ombo, seorang petugas proyek di CIFOR-ICRAF.
Meski sudah ada pelatihan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas teknis, produksi vanili di Managalas belum berkembang pesat. Transportasi tetap menjadi kendala utama, bersamaan dengan lemahnya dan tidak dapat diandalkannya jejaring pasar. Bagi banyak penduduk, rasa frustrasi ini kian meningkat. Saat masyarakat setuju untuk melestarikan hutan mereka daripada membukanya untuk penebangan kayu atau pertambangan, mereka mengharapkan dukungan nyata untuk mata pencaharian alternatif.
“Para pemilik lahan tidak melihat hasil dari program konservasi. Itulah mengapa mereka tidak terlalu senang,” kata Lancealot Piritano, wakil ketua MCF, dalam sebuah wawancara tahun 2024.
“Kami membutuhkan pasar untuk kopi, kakao, dan vanili. Jalan-jalan kami sangat buruk. Sebuah jembatan hanyut akibat Siklon Guba pada 2007, dan sampai sekarang belum diganti.”
Ketua MCF, Malchus Kajia, menyuarakan kekhawatiran yang sama. “Masyarakat menginginkan mata pencaharian dari kopi, kakao, dan vanili. Itulah yang telah mereka bicarakan selama lebih dari tiga puluh tahun,” katanya. Ia menyarankan, pembukaan kembali landasan udara di dataran tinggi tersebut mungkin menawarkan solusi jangka pendek yang lebih realistis daripada perbaikan jalan. “Kopi, vanili, dan beberapa sayuran dapat diangkut dengan pesawat terbang dengan jauh lebih andal daripada melalui jalan darat.”
Dengan kondisi pertumbuhan yang ideal dan konsorsium yang berkomitmen untuk memperkuat rantai pasok, tanaman kecil yang rumit ini masih menyimpan harapan. Di lain waktu Anda mencicipi atau mencium aroma vanili—mungkin dalam es krim, late, atau lilin aromaterapi—ada baiknya Anda berhenti sejenak untuk memikirkan asal-usulnya. Bisa jadi perjalanannya dimulai di hutan hujan Papua Nugini.








