LANGUAGE

Cari artikel

Potensi keruntuhan ekosistem dan sinyal bahaya dari titik balik iklim, menurut para ilmuwan

EN, ID
5 menit baca
Penelitian terbaru mengungkap titik balik iklim yang mengkhawatirkan sekaligus memberi harapan — mulai dari runtuhnya ekosistem terumbu karang hingga terobosan dalam transisi energi terbarukan.
Pemandangan udara Hutan Amazon di dekat Manaus, Brasil — salah satu ekosistem paling penting di dunia yang kini mendekati titik balik iklim yang kritis.

Menurut studi terbaru, perubahan iklim mendorong terumbu karang di dunia menuju kepunahan yang tak terpulihkan, hal ini menjadi penanda pertama titik balik berbahaya dari serangkaian potensi keruntuhan ekosistem yang bisa jadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya jika kita tidak  bertindak sesegera mungkin.

Baru-baru ini, sebuah tim yang terdiri dari 160 ilmuwan — dipimpin oleh Tim Lenton dari Global Systems Institute, University of Exeter — merilis laporan Global Tipping Points, yang berisi temuan mengkhawatirkan sekaligus memberi harapan.

Laporan tersebut menggambarkan kematian besar-besaran terumbu karang perairan hangat yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai titik balik pertama. Berbagai ekosistem lain juga dihantui risiko keruntuhan akibat mencairnya lapisan es kutub; deforestasi dan perubahan iklim di Hutan Amazon; serta gangguan arus laut yang dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation, atau AMOC.

Di sisi lain, para ilmuwan juga mencatat adanya titik balik positif dalam adopsi energi surya dan tenaga angin secara global, serta meningkatnya tren pasar terhadap kendaraan Listrik, penyimpanan baterai, dan pompa panas.

Studi tersebut dirilis hanya beberapa minggu sebelum ribuan orang dari seluruh dunia berkumpul dalam KTT iklim COP30 di Belém, Brasil, di mana berbagai sesi telah dijadwalkan untuk membahas cara menghindari titik-titik balik yang saling terhubung dalam ekosistem Bumi.

Titik balik

Hampir dua dekade berlalu sejak Lenton dan Hans Joachim Schellnhuber secara resmi memperkenalkan konsep “titik balik” (tipping points) ke dalam ilmu iklim, mengadopsi istilah yang digunakan Malcolm Gladwell dalam buku terlarisnya untuk menggambarkan kekuatan di balik perubahan sosial.

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan titik balik? Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), “Titik balik adalah ambang batas kritis yang jika terlampaui membuat suatu sistem mengalami reorganisasi, sering kali secara mendadak dan/atau tidak dapat dipulihkan.”

Seperti Gladwell, para ilmuwan iklim mengakui bahwa sebuah titik balik dapat bersifat positif maupun negatif, sehingga isu perubahan iklim dapat dibingkai dengan cara yang menumbuhkan harapan sekaligus meningkatkan kesadaran.

“Lihatlah dunia di sekitar Anda. Dunia mungkin tampak seperti sesuatu yang kokoh dan tak tergoyahkan. Padahal tidak. Dengan sedikit dorongan — pada titik yang tepat — dunia dapat berubah,” tulis Gladwell dalam bukunya The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference, yang terbit pada tahun 2000. 

Sebuah titik balik dapat menandai dimulainya tren teknologi — seperti kendaraan listrik — yang mendukung tujuan Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Atau, titik balik dapat berupa fenomena lingkungan yang memicu umpan balik yang tak dapat dipulihkan, seperti degradasi terumbu karang atau kematian hutan hujan secara masif di Amazon.

Two farmers planting rice in a flooded paddy field in Bontomanai village, South Sulawesi, Indonesia, illustrating how sustainable farming and water systems support resilience to climate change.
Petani menanam padi di Desa Bontomanai, Bantaeng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pertanian berkelanjutan dan pengelolaan air dapat menjadi titik balik positif yang memperkuat mata pencaharian dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Foto oleh Tri Saputro / CIFOR-ICRAF
Farmer with cattle drinking at Lake Bam in Kongoussi, Burkina Faso, illustrating how sustainable water and land management supports resilience to climate change.
Seorang petani membawa ternaknya untuk minum di dekat Danau Bam di Kongoussi, Burkina Faso. Pengelolaan sumber daya air dan lahan secara berkelanjutan sangat penting untuk mencegah titik balik iklim yang merusak dan melindungi mata pencaharian masyarakat pedesaan.
Foto oleh Ollivier Girard / CIFOR-ICRAF

Potensi hutan sebagai titik balik positif

Lalu, apa makna titik balik iklim ini bagi kebijakan, hutan, dan penghidupan masyarakat?

“Masalah utamanya adalah bahwa para pengambil kebijakan sering menuntut bukti kuat tentang bencana yang diprediksi. Namun, ketika bukti itu akhirnya muncul, bisa jadi sudah terlambat untuk bertindak,” kata Beria Leimona, pemimpin tema perubahan iklim, energi, dan pembangunan rendah karbon di Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF).

“Seruan untuk menerapkan ‘prinsip kehati-hatian’ telah diabaikan, dan komitmen global terhadap ‘garis merah’ dalam Perjanjian Paris melemah akibat kepentingan jangka pendek lobi bahan bakar fosil dan pengaruh mereka terhadap mayoritas negara-negara,” tambahnya. 

Leimona menyoroti perlunya kebijakan dan keputusan investasi yang tepat dan sesegera mungkin, yang menekankan pentingnya hubungan antara air, iklim, dan hutan dalam mencegah terjadinya titik balik yang merusak. Hutan harus diakui sebagai pengatur utama hidroiklim, sementara keanekaragaman hayati dan air merupakan kunci bagi solusi iklim yang efektif.

“Ketika para ilmuwan CIFOR-ICRAF terus mengungkap hubungan antara curah hujan dan hutan, kami menyerukan perubahan cepat dalam kebijakan iklim yang ‘tidak sebatas karbon’ — kebijakan yang melihat pohon dan hutan sebagai elemen kunci dalam hidroiklim saat ini, dengan berbagai opsi intervensi yang masih memungkinkan jika dilakukan segera dan dengan tingkat urgensi yang tepat,” ujarnya

Menurut Leimona, pembayaran jasa lingkungan (payments for ecosystem services/PES) dan pembiayaan inovatif juga berperan penting dalam mendorong titik balik positif ketika petani kecil dan komunitas lokal benar-benar dilibatkan. Sebagai contoh, skema PES berbasis kinerja dapat berubah menjadi negatif apabila hanya memberikan insentif kepada petani yang memiliki lebih dari 1.000 hektare lahan.

“Kita perlu memastikan bahwa manfaat ini juga dirasakan oleh para petani kecil. Jika tidak, hal itu justru menjadi salah satu titik balik negatif. Manusia dan penghidupan mereka adalah faktor penting dalam perdebatan kebijakan. Harus ada sistem insentif yang berpihak pada petani kecil.”Kata Leimona

Video playing in corner

WATCH NOW