Selama turun-temurun, para petani di Desa Perigi, Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia, mengelola lahan mereka dengan cara yang sama: membakar gambut sebelum menanam padi. Praktik yang dikenal secara lokal sebagai sonor ini memang membuka lahan untuk padi, tetapi menyisakan tanah yang hangus, lahan yang semakin rusak, asap pekat, serta risiko kebakaran yang mudah meluas dan sulit dikendalikan.
“Lahan seperti ini tidak bisa menghasilkan apa pun,” ujar Mat Cuci, seorang petani yang mengingat bagaimana dulunya ia berjalan di atas tanah yang dipenuhi hamparan purun (Lepironia articulata) serta semak dan gulma keras yang setiap tahun kembali menguasai lahan.”
Kini, pemandangan itu mulai berubah. Desa tampak berbeda, udara lebih bersih, dan sawah lebih hijau. Di tempat yang dulu mengepul asap, kini berdiri barisan tanaman jagung
Transformasi ini dimulai ketika para peneliti dari Centre of Excellence Universitas Sriwijaya, bekerja sama dengan Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), memulai upaya restorasi lahan gambut desa menggunakan model agrosilvofishery. Sejak 2018, dengan dukungan dari National Institute of Forest Science Republik Korea, mereka telah menguji kombinasi pohon hutan dan buah, sayuran, serta kolam ikan di lahan seluas 12 hektare.
Tahun ini, kemitraan tersebut mencoba hal baru: menanam jagung
Awalnya, banyak warga desa meragukan ide ini. Panen tahun lalu gagal karena para petani melewatkan jendela tanam yang sempit. Namun pada Juni 2025, Mat Cuci dan lima petani lainnya menanam jagung di lahan seluas enam hektare tepat sesuai jadwal, bekerja sama dengan para peneliti untuk memantau kelembapan tanah dan pengelolaan lahan. Pada awal September, sawah mereka telah matang menjadi hamparan kuning cerah berkilauan yang sebelumnya tampak seperti mimpi.
Pada 20 September, masyarakat berkumpul di bawah terik matahari sore untuk merayakan panen. Para tokoh setempat, termasuk kepala desa, Biro Penyuluhan Pertanian, kepala polisi kecamatan, dan babinsa (perangkat pendukung desa dari TNI), bergabung dengan peneliti dan petani di sawah, memeriksa tongkol jagung yang terbelah menampilkan biji yang padat, sambil merayakan keberhasilan panen tersebut.


“Program penanaman jagung di lahan gambut ini sangat berhasil,” ujar Nazarudin, kepala Biro Penyuluhan Pertanian. “Program ini mendorong warga untuk menanam jagung, meningkatkan pendapatan mereka, dan memperbaiki kesejahteraan. Kami siap mendukung program berskala lebih besar.”
Bagi Kepala Polisi Andi Andry, perubahan ini lebih dari sekadar angka panen. “Ini telah mengubah paradigma masyarakat,” kata Andry. “Kini orang melihat lahan gambut bukan hanya sebagai kawasan rentan yang harus dihindari atau dibakar, tetapi sebagai lahan yang bisa mendukung tanaman pangan sekaligus melestarikan lingkungan.”
Keberhasilan panen jagung ini membuat masyarakat lebih menghargai lahan gambut mereka. Banyak orang akan mencontoh keberhasilan ini kedepannya.”
“Para peneliti yang terlibat dalam proyek ini melihat potensi yang sama. “Jika kegiatan pertanian berupa jagung dan padi di lahan gambut dapat dilakukan secara bergiliran setiap tahun, praktik pembakaran akan ditinggalkan,” ujar Umar Harun, peneliti dari Universitas Sriwijaya.”
Fasilitator lapangan CIFOR-ICRAF sekaligus penulis bersama, Sumantri, menyaksikan meningkatnya kepercayaan diri para petani. “Keberhasilan panen jagung ini membuat masyarakat lebih menghargai lahan gambut mereka,” ujar Sumantri. “Banyak orang kini akan mencontoh keberhasilan ini.
Bagi kepala Desa Perigi, panen ini menandai sebuah tonggak penting. “Ini pertama kalinya jagung ditanam di lahan gambut sini, di Kecamatan Pangkalam Lampam,” ujarnya. “Tahun depan, kami akan memastikan sebagian dana ketahanan pangan dialokasikan untuk mendukung penanaman jagung dan model agrosilvofishery
Secara total, para petani menghasilkan sekitar tiga ton jagung tanpa kulit dari enam hektare lahan jagung. Keinginan mereka untuk mendapatkan harga lebih baik—yang mendorong mereka mengolah tongkol jagung hasil panen—telah terwujud.
Penyediaan peralatan pengupas jagung dan panduan pascapanen untuk memastikan kadar air jagung sesuai standar, serta fasilitasi akses ke pemasok yang diizinkan pemerintah, memungkinkan para petani memperoleh harga yang lebih baik.
Keberhasilan menanam jagung telah meningkatkan kepercayaan diri mereka.
”Kini kami tahu bahwa lahan gambut bisa ditanami jagung dan bagaimana menjaga produksi tetap baik sambil mengendalikan hama,” ujar Mat Cuci. “Jika dukungan yang tepat terus diberikan, kami bisa terus melindungi lahan sekaligus memberi makan keluarga kami.”
Program restorasi gambut nasional Indonesia bertujuan untuk memulihkan lebih dari 1,2 juta hektare lahan gambut yang terdegradasi sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Selain itu, Presiden telah menetapkan target produksi satu juta ton jagung kering dalam negeri pada 2025, sebagaimana tercantum dalam Instruksi Presiden No. 10 Tahun 2025. Tujuannya adalah memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung tercapainya swasembada jagung. Di Sumatra Selatan, tempat Desa Perigi berada, gubernur telah menetapkan provinsi ini sebagai “pusat jagung” untuk meningkatkan produktivitas, memperluas lahan yang ditanami jagung, dan mendorong sistem tumpang sari.
Eksperimen Desa Perigi menanam jagung di lahan gambut menunjukkan bagaimana inisiatif lokal, yang disertai dukungan ilmiah dan kepemimpinan masyarkat dapat bekerja sama untuk mengubah lahan terdegradasi menjadi bentang alam yang tangguh, yang mendukung mata pencaharian sekaligus ekosistem, serta berkontribusi pada pencapaian tujuan ketahanan pangan yang lebih luas.








