LANGUAGE

Cari artikel

Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu 

EN, ID
7 menit baca
Bagaimana kacang okari dapat membantu masyarakat di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, memperoleh pendapatan sekaligus menjaga kelestarian salah satu bentang hutan terbesar negara itu.
Aerial view of forested hills and village gardens in the Managalas Conservation Area, Papua New Guinea.
Perbukitan berhutan dan kebun-kebun desa di dalam Kawasan Konservasi Managalas, Provinsi Oro, Papua Nugini, tempat masyarakat menjajaki berbagai pilihan mata pencaharian yang tetap menjaga hutan agar tetap lestari. Foto oleh Dean Arek / CIFOR-ICRAF.

Jika kacang okari jatuh di hutan, Anda pasti akan mendengarnya.

Kacang okari punya kulit buah berwarna merah tua dan berbentuk oval—ukurannya lebih besar dari telapak tangan orang dewasa. Kacang itu jatuh dalam jumlah ratusan dari kanopi pohon okari (Terminalia kaernbachii) setinggi 30 meter antara bulan Mei dan Agustus setiap tahunnya. Pohon ini berasal dari hutan hujan dataran rendah Provinsi Oro, Papua Nugini, dan diintroduksi ke Dataran Tinggi Managalas beberapa ratus tahun lalu, serta sejak itu menjadi bagian dari makanan dan mata pencaharian masyarakat setempat.

Selama beberapa generasi, masyarakat memilih pohon berdasarkan ukuran dan rasa kacangnya, menanamnya di kebun-kebun tua dan di sepanjang batas tanah klan. Biji-biji berwarna putih krem ​​yang melimpah itu, mirip dengan rasa almon, menyediakan sumber protein yang langka dan berharga di wilayah di mana makanan semacam itu bisa jadi langka. Kayunya sering digunakan untuk furnitur, sementara kulitnya yang berwarna cerah dapat direbus untuk menghasilkan pewarna untuk tapa, atau kain kulit kayu.

“Penguasaan lahan [di Managalas] memiliki banyak variasi,” kata Will Unsworth, manajer program Papua Nugini (PNG) di the Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF). “Namun jika Anda menanam pohon okari dan terus merawatnya — memotong rumput di sekitarnya, memanjatnya, memanennya — maka Anda dapat memilikinya dan semua kacang yang dihasilkannya. Anak-anak Anda juga dapat mewarisi pohon itu.”

Dengan beragam kegunaan dan nilai budayanya, pohon okari telah lama memainkan peran sentral dalam perekonomian lokal. Pohon-pohon ini juga menjadi kunci bagi pertanyaan yang jauh lebih besar yang terus membentuk Dataran Tinggi Managalas: bagaimana memperoleh mata pencaharian berkelanjutan tanpa mengorbankan hutan.

Close-up of freshly harvested okari nuts held in two hands, showing the red husk and inner kernel.
Kacang okari (Terminalia kaernbachii) yang baru dipanen, pangan hutan tradisional yang telah lama mendukung pola makan dan mata pencaharian masyarakat di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini. Foto oleh CIFOR-ICRAF

Mana yang lebih berharga: Hutan mati atau hutan hidup?

Ketika Mike Olsen, seorang dosen linguistik kelahiran AS di University of PNG, mulai mengunjungi Managalas bersama kelompok mahasiswa sarjana pada tahun 1980-an, mereka terkesan oleh keindahan luar biasa dan kekayaan sumber daya alam daerah tersebut, serta tantangan terus-menerus yang dihadapi masyarakatnya — perjuangan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan pendapatan.

Pada saat itu, penebangan hutan kian intensif di seluruh negeri itu. Perusahaan-perusahaan internasional (secara harfiah) memasuki wilayah-wilayah baru, makin masuk ke daerah-daerah berhutan, dan banyak pemilik lahan adat mengalihkan hak mereka dengan imbalan uang tunai. Akibatnya, di banyak tempat, terjadi hilangnya hutan secara cepat dan disrupsi sosial. Olsen dan rekan-rekannya menyadari bahwa Managalas rentan terhadap ancaman yang serupa.

Kelimpahan pohon okari di daerah tersebut menawarkan alternatif yang memungkinkan. Ukuran, kuantitas, dan kualitas kacang okari menunjukkan dasar untuk usaha di dataran tinggi yang dapat menghasilkan pendapatan sekaligus menjaga kelestarian hutan. Kelompok Olsen—yang kemudian dikenal sebagai PNG Trust dan kemudian Partners with Melanesians—mulai mengeksplorasi apakah okari dapat menjadi dasar usaha ramah lingkungan di dataran tinggi yang berkelanjutan. Mereka juga mulai menjalankan program pendidikan lingkungan untuk membantu penduduk setempat memahami nilai sumber daya alam mereka (termasuk pohon okari) dan implikasi jangka panjang dari keputusan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Ambisi awalnya bersifat global. Kelompok ini awalnya berharap untuk memasarkan kacang-kacang tersebut ke perusahaan-perusahaan penganan internasional sebagai pengganti almon dalam produk berbasis nugat. Namun, sebuah studi pendahuluan pada tahun 1993 mengklarifikasi bahwa hal ini tidak akan layak: kacang-kacang tersebut bersifat musiman, sedangkan produsen-produsen besar membutuhkan pasokan yang stabil dan konsisten sepanjang tahun.

Kesuksesan yang lebih sederhana kemudian diraih di daerah yang lebih dekat. Kacang-kacang sempat diangkut ke Port Moresby, awalnya dengan kapal uap dan kemudian dengan pesawat terbang. Namun, kelemahan logistik segera terlihat.

Pada tahun 1996, ancaman penebangan industri makin meningkat. Pemerintah nasional menetapkan dua lahan luas hutan hujan dataran tinggi tersebut untuk konsesi kehutanan. Namun kemudian, kesadaran akan nilai pohon okari—dan hutan yang mendukungnya—telah tumbuh. Sebagian besar pemilik lahan setempat menentang usulan tersebut. Dengan dukungan dari organisasi-organisasi advokasi, mereka berhasil mencabut konsesi tersebut.

Keputusan itu menarik perhatian internasional. Rainforest Foundation of Norway (RFN) kemudian mendukung sebuah proses panjang yang berpuncak, pada tahun 2017, dengan deklarasi Kawasan Konservasi Managalas (Managalas Conservation Area /MCA), yang mencakup 214.696 hektare. Namun, usaha okari yang membantu memicu hasil ini tidak pernah sepenuhnya stabil dan berkembang. Harga dan permintaannya di Moresby berfluktuasi, dan proses pengangkutannya terbukti tidak dapat diandalkan. Penduduk desa sering kali mengangkut karung-karung kacang yang berat dengan susah payah ke titik pengambilan yang terpencil, hanya untuk diberitahu bahwa kendaraan carter mereka telah dibatalkan — dan mungkin tidak akan kembali sampai kacang-kacang tersebut membusuk.

“Situasi ini menimbulkan kegelisahan dan kesedihan,” kata Caplin Sano, seorang penginjil Gereja Anglikan dan fasilitator komunitas dari Desa Suari, kepada evaluator eksternal Nancy Sullivan pada tahun 2010. “Dulu kami biasa memecahkan okari dan membuangnya, mengosongkan karung-karung kami, menangis, dan pulang ke rumah.”

“Hanya orang-orang yang kuat dan sehat yang mampu membawa karung-karung itu sampai ke Stasiun Afore, menumpang [truk] di sana dan melanjutkan perjalanan ke Popondetta, menjualnya, membeli sabun dan garam, lalu kembali.” Ketika biaya penerbangan pesawat carter meningkat pada awal tahun 2000-an setelah pemerintah berhenti mensubsidinya, penduduk Managalas berhenti mencoba menjual okari ke luar dataran tinggi itu.

Rezeki tak terduga yang layak dipertahankan

Delapan tahun setelah deklarasi MCA, kacang okari kembali masuk dalam agenda sebagai sumber mata pencaharian potensial. Kali ini, tim proyek sedang menjajaki cara mengkomersialkan kacang tersebut menjadi produk jadi yang dapat dibuat di Managalas dan dijual di dalam negeri — dan berpotensi juga ke luar negeri.

Upaya yang diperbarui ini dibangun berdasarkan pelajaran yang dipetik di tempat lain, dan memanfaatkan hasil kerja para perintis lainnya. Di Kokoda, wilayah dekat Managalas, para peneliti dari Griffith University Australia sudah bereksperimen dengan mengembangkan rantai nilai okari, dengan pendanaan dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Pekerjaan mereka sangat bergantung pada pengalaman dengan kacang asli lainnya.

Selama lebih dari satu dekade, Lektor Kepala Shahla Hosseini-Bai, pemimpin akademik bidang keberlanjutan dan manajemen lingkungan di Griffith University, telah bekerja sama dengan masyarakat di Provinsi New Ireland, PNG, untuk mengembangkan standar, prosedur pengolahan, dan strategi pemasaran untuk komersialisasi kacang kenari, yang tumbuh di pohon kenari asli (Canarium indicum).

A woman in Kokoda uses a mechanical press to crack galip nuts during local processing.
Seorang perempuan di Kokoda memecahkan kacang galip menggunakan alat pres mekanis, sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk hutan lokal dan mendukung mata pencaharian masyarakat setempat di Papua Nugini. Foto oleh Shahla Pietromonaco / Griffith Universit
Shahla Hosseini-Bai and a Kokoda community member examine processed okari nuts during a local workshop.
Shahla Hosseini-Bai (kanan) bersama seorang anggota komunitas Kokoda usai mengikuti lokakarya pengolahan kacang okari pada Juni 2025, di mana para peserta menjajaki berbagai pendekatan untuk meningkatkan nilai tambah produk hutan lokal. Foto oleh Cinthia Pietromonaco.

“Kami mengembangkannya sebagai produk kelas atas,” kata Hosseini-Bai. “Ini bukan kacang tanah, dan kami tidak ingin bersaing dengan para perempuan lokal yang menjualnya dalam kondisi segar di pasar dan merugikan mereka sebagai akibatnya. Jadi harganya mirip dengan kacang-kacang kelas atas seperti almon dan makadamia, dan dijual di pasar-pasar formal seperti area toko bebas bea atau City Pharmacy Limited.”

Pada kacang okari, Hosseini-Bai melihat “banyak potensi, dan banyak hal yang dapat kita terapkan” dari pengalaman dengan kenari — termasuk pengetahuan tentang penambahan nilai, protokol pengolahan yang aman, ketentuan masa simpan, dan pendekatan pasar. Pengolahan kacang di tempat, dengan cara mengeringkan atau memanggangnya, dapat membantu proses transportasi karena membuat kacang lebih tahan lama dan lebih ringan, serta menambah nilai di tingkat desa

Jika pendekatan ini berhasil, para pengunjung PNG suatu hari nanti mungkin akan menemukan Managalas bukan melalui jalan penebangan kayu atau peta konservasi, tetapi melalui cita rasa. Lebih penting lagi, masyarakat di dataran tinggi ini akhirnya dapat mewujudkan tujuan yang telah lama mereka impikan: memperoleh pendapatan yang stabil seraya menjaga kelestarian hutan yang menopang kehidupan mereka.