Ketika peta berbeda dengan kondisi nyata: Perbincangan dengan ekolog Rhett Harrison

EN, ID
7 menit baca
Kendala dan temuan menarik dari upaya membangun jaringan pemantauan keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas
Ecologist Rhett Harrison, with long grey hair in braids and wearing a plaid shirt, gestures while standing next to a presentation board displaying a map titled "Camera Traps and Sound" inside a classroom.
Rhett Harrison mengajarkan metode pemantauan kepada para pemimpin tim keanekaragaman hayati Managalas. Foto oleh Russell Wai / Landscape Alliance.

Artikel ini merupakan bagian ketiga dari serial tiga bagian yang menceritakan upaya konservasi di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini. Dua bagian sebelumnya membahas peluncuran proyek pemetaan keanekaragaman hayati berskala luas dan wawancara dengan ahli biologi Gabriel Leite tentang pemanfaatan bioakustik untuk melacak spesies-spesies yang sulit ditemukan.

Mencari tahu apa saja yang tersimpan di dalam hutan bukanlah pekerjaan yang semata-mata bersifat akademis. Ada tantangan praktis dan fisik yang harus dihadapi, sebagaimana tampak jelas dari berbagai bekas goresan di kaki Rhett Harrison, seorang pakar senior ekologi bentang alam.

Sambil duduk di atas koper di kantor baru Landscape Alliance di Port Moresby (kantor ini begitu baru sehingga perabotannya pun belum tiba!), Harrison menceritakan perjalanannya baru-baru ini ke Dataran Tinggi Managalas di Provinsi Oro. Di sana, organisasi tersebut mendukung pengelolaan berbasis masyarakat atas Kawasan Konservasi Managalas (Managalas Conservation Area/MCA), yang melindungi 214.696 hektare hutan hujan tropis dan padang rumput. “Hutan hujan ini sangat sulit untuk dijelajahi,” ujarnya. “Medannya benar-benar berat.”

Perjalanan Harrison berfokus pada pemasangan kamera jebak dan alat perekam suara untuk mengumpulkan data dasar mengenai satwa liar. Ia ditemani sekelompok anak muda setempat yang tergabung dalam Biodiversity Team Leaders (BTL), yang telah dilatih untuk memasang perangkat-perangkat tersebut dan melakukan survei di wilayah mereka sendiri.

Pertama, tim memilih 18 lokasi untuk memasang stasiun pemantauan menggunakan metode yang disebut pengambilan sampel acak berstrata (stratified random sampling). Mereka membuat kisi titik-titik yang tersebar di seluruh dataran tinggi tersebut. Lalu, mereka mengelompokkan setiap titik itu berdasarkan salah satu dari tiga zona ketinggian dan salah satu dari dua jenis geologi dasar, sehingga terbentuk enam kategori. Dari setiap kategori, tiga titik kisi dipilih secara acak. Setiap titik terpilih kemudian menjadi salah satu sudut kisi seluas 3 kilometer kali 3 kilometer yang terdiri atas 49 stasiun, dengan jarak antartasiun setengah kilometer.

Sejauh ini, semuanya terdengar cukup sederhanaโ€”tetapi proses pemasangannya ternyata lain cerita. Tim mengenakan sepatu bot dan berangkat untuk memasang stasiun pemantauan di empat dari 18 kisi yang telah ditentukan. Di lapangan, mereka menemukan banyak hal yang luput dari peta. Pemasangan terakhir menjadi โ€œsalah satu hari tersulit yang pernah saya alami,โ€ kata Harrison. Setelah berjalan kaki selama beberapa jam menyusuri jalur desa sambil membawa seluruh perlengkapan berkemah, mereka mendirikan kemah di tepi kisi tersebut. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk memasang kamera jebak dan alat perekam suara.

โ€œDi peta, wilayah ini tampak datar karena garis konturnya tidak terlalu banyak. Namun, sebenarnya wilayah ini terdiri atas serangkaian anak sungai kecil yang mengalir menuruni lereng,โ€ kata Harrison. โ€œPerbedaan ketinggian di setiap lembah kecil di sana mungkin hanya sekitar 20 atau 30 meter, tetapi Anda terus-menerus harus naik dan turun melewati tebing-tebing yang sangat curam, berulang kali, lagi dan lagi.โ€

Sebuah badai tropis juga baru saja melanda kawasan tersebut, sehingga โ€œpohon-pohon tumbang berserakan di mana-mana dan kami harus membuka jalan dengan menebasnya,โ€ kata Harrison. โ€œUntuk menempuh jarak tiga kilometer melintasi lokasi tersebut saja, kami membutuhkan waktu hampir tiga jam.โ€ Mereka hanya sempat memasang tiga dari tujuh perangkap yang ditargetkan hari itu, lalu harus kembali ke kemah dan baru bisa kembali lagi ke lokasi tersebut keesokan harinya

Pengalaman tersebut membuat Harrison bertanya-tanya apakah dirinya mulai terlalu tua untuk melakukan pekerjaan lapangan semacam ini.

โ€œKetika kami memulai pemetaan, saya berpikir, โ€˜Saya benar-benar ingin ikut melakukannya.โ€™ Namun setelah merasakan pengalaman tersebut, sekarang saya berpikir mungkin ini agak terlalu beratโ€”saya kan sudah bukan umur 25 tahun lagi!โ€ katanya sambil tertawa. Namun, bukan hanya Harrison yang merasa pekerjaan itu berat. Tim BTL yang mendampinginya masih mampu mengatasinya dengan cukup baik, โ€œtapi dua orang warga desa setempat yang ikut bersama kami benar-benar mogok total!โ€ tambahnya seraya tertawa.

Anda mungkin mengira penduduk setempat mengenal bentang alam ini seperti mengenal telapak tangan sendiri. Namun, setiap bagian hutan di sini memiliki pemiliknya masing-masing, dan kebanyakan orang hanya mengenal bagian-bagian tertentu dari tanah milik klan merekaโ€”biasanya beberapa lokasi yang biasa mereka gunakan untuk berburu. โ€œMereka biasanya tidak pergi terlalu jauh dari jalur yang ada; mereka juga tidak menjelajah sampai jauh ke dalam hutan,โ€ kata Harrison.

Will Unsworth, Rhett Harrison, and a local community elder sit at a wooden table during an indoor workshop, smiling and conversing with meeting papers and pens laid out before them.
Will Unsworth, Rhett Harrison dan George Tumai di Dataran Tinggi Managalas. Foto oleh Russell Wai / Landscape Alliance
A group of local men work together in a dense forest to install a camouflaged camera trap onto a slender tree trunk, with notebooks and equipment bags open on the jungle floor.
Biodiversity Team Leaders (BLTs) memasang kamera jebak.
Foto oleh Russell Wai / Landscape Alliance
Three men crouch low on the leafy forest floor, focusing intently as they adjust and strap a camouflaged camera trap to a thin tree trunk amidst dense undergrowth.
Para anggota Biodiversity Team Leaders memasang kamera jebak. Foto oleh Russell Wai / Landscape Alliance

Pekerjaan tim BTL terbantu oleh telepon seluler. Mereka menggunakan satu aplikasi untuk merekam pergerakan, dan aplikasi lainnya untuk mencatat pemasangan serta pengambilan kembali perangkat. Mereka juga harus mengikuti arah kompas GPS untuk mencapai lokasi yang dituju. โ€œPekerjaan ini membutuhkan beberapa keterampilan agar dapat dilakukan dengan baik,โ€ kata Harrison.

Namun, semangat mereka tetap tinggi. โ€œPara BTL ini termasuk anak-anak muda yang paling berkomitmen dan memiliki kepedulian tinggi terhadap konservasi di dataran tinggi tersebut,โ€ kata Harrison. โ€œHal itu mencerminkan hasil dari berbagai upaya yang telah dilakukan LSM-LSM sebelumnya dalam bidang pendidikan. Mereka juga memiliki pemahaman yang sangat jelas tentang apa yang dibutuhkan masyarakat sebagai imbalan atas penetapan tanah mereka sebagai Kawasan Lindung yang diakui secara nasional. Karena itu, mereka adalah anggota tim yang sangat berharga.โ€

Salah satu tantangan praktis yang mereka temui adalah memasang kamera jebak agar dapat menangkap gambar satwa liar dengan baik di medan yang terjal.

Para BTL dilatih untuk mengarahkan kamera ke permukaan tanah sekitar 4,5 meter di depannya. Namun, ketika lokasi pemasangan kamera berada di medan yang curam, menentukan posisi yang optimal menjadi hal yang sulit. โ€œTernyata ini cukup menantang,โ€ kata Harrison. โ€œPengaturan posisi kamera jebak sebenarnya merupakan faktor utama yang menentukan seberapa banyak satwa yang dapat terekam, dan posisi terbaik kamera akan berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.โ€

Metode pemasangan alat perekam suara, yang membantu mengidentifikasi keberadaan satwa-satwa yang mengeluarkan suara, lebih sederhana. Perangkat ini diambil kembali setelah hanya dua minggu merekam, berbeda dengan kamera jebak yang dibiarkan terpasang selama empat minggu. Hal ini mencerminkan besarnya volume informasi yang dikumpulkan oleh perangkat audio tersebut.

โ€œAnda bisa menghasilkan data hingga berukuran terabita, sehingga pengelolaan data menjadi masalah yang cukup merepotkan jika perangkat audio tersebut dibiarkan merekam lebih lama. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa memperpanjang waktu perekaman suara tidak menghasilkan estimasi keanekaragaman spesies yang lebih baik,โ€ kata Harrison. โ€œKamera jebak perlu dibiarkan terpasang lebih lama karena perangkat ini merekam informasi lebih jarangโ€”hanya ketika ada satwa yang melintas.โ€

Two men look intently as they secure a small green sound recorder to a thin tree branch with a black zip tie in a dense forest.
Anggota Biodiversity Team Leaders memasang alat pemantauan suara. Foro oleh Russell Wai / Landscape Alliance

Tim masih harus memasang perangkat pemantauan di 10 dari 18 kisi yang telah ditentukan. Di beberapa lokasi, pekerjaan mereka terhambat oleh sengketa kepemilikan atau penguasaan lahan serta aksi vandalisme. Beberapa lokasi yang lebih terpencil di area pegunungan tinggi yang mengelilingi dataran tinggi tersebutโ€”dengan lereng berkecuraman hingga 45 derajat dan hutan yang sangat lebatโ€”bahkan mungkin memerlukan pengiriman perbekalan melalui jalur udara.

Mereka juga menyadari perlunya meminta warga setempat untuk terlebih dahulu meninjau lokasi yang akan didatangi tim. Tujuannya untuk menemukan jalur termudah menuju lokasi sekaligus menghindari memasuki atau mendekati tempat-tempat yang dianggap keramat. โ€œJika Anda bisa mencapai suatu kisi melalui jalur desa, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan akan jauh lebih singkat dibandingkan jika harus membuka jalan sendiri menembus hutan,โ€ kata Harrison.

Meski penuh tantangan, pekerjaan tersebut sejauh ini telah menghasilkan banyak temuan menarik. Hanya dalam minggu pertama pemantauan, dua individu bandikut raksasa (Peroryctes broadbenti) yang terancam punah berhasil terekam kamera, bersama ular, katak, kuskus, walabi hutan, dan berbagai jenis satwa lainnya.

Tim juga telah mengambil sampel awal eDNA dari sejumlah badan air di beberapa lokasi. Sampel tersebut akan membantu mengungkap lebih banyak informasi mengenai keanekaragaman hayati MCA yang sangat luas dan sebagian besar belum terdokumentasi.

Pengambilan sampel dari sungai juga menangkap DNA yang terbawa aliran air, sehingga eDNA menjadi cara yang baik untuk mendeteksi spesies yang luput dari kamera jebak dan alat perekam suara, seperti kanguru pohon atau satwa arboreal lainnya yang jarang mengeluarkan suara.

โ€œSedikit demi sedikit, kami mendapatkan gambaran yang makin jelas tentang flora dan fauna di dataran tinggi itu,โ€ kata Harrison. โ€œMasih banyak yang belum kami ketahui, tetapi kami tidak perlu mengetahui semuanya. Yang ingin kami dapatkan adalah gambaran yang cukup baik untuk dijadikan data dasar dan digunakan dalam perencanaan spasial sebagai bagian dari rencana pengelolaan kawasan konservasi tersebut.โ€


Untuk informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan hubungi Will Unsworth, PNG Programme Lead di Landscape Alliance, melalui email [email protected].