LANGUAGE

Cari artikel

Membangun ketangguhan iklim Nepal melalui agroforestri

EN, ID
4 menit baca
Ketika perubahan iklim makin menekan pertanian dan hutan Nepal, agroforestri menjadi solusi praktis yang memperkuat ketangguhan, memulihkan lahan, dan mendukung kehidupan perdesaan.
Women harvesting lemongrass among trees in a community-managed forest landscape in Nepal.
Perempuan memanen serai di hutan kemasyarakatan di Nepal, tempat agroforestri mendukung mata pencaharian, pemulihan lahan, dan ketangguhan iklim.

Dengan mengintegrasikan pepohonan ke dalam sistem pertanian dan bentang alam, agroforestri dinilai sebagai solusi menjanjikan untuk meningkatkan ketangguhan iklim, ketahanan pangan, dan kesejahteraan perdesaan Nepal. Temuan ini disampaikan para ilmuwan CIFOR-ICRAF dalam buku Agriculture Sector Transformation in Nepal: A Roadmap (2025).

Bab berjudul Climate-Smart Agroforestry for Sustainable Landscapes and Agri-Food Systems’ Transformation in Nepal mendorong agar agroforestri cerdas iklim (climate-smart agroforestry/CSAF) diarusutamakan dalam kebijakan nasional pertanian dan tata guna lahan.

Bab ini ditulis bersama oleh Dr Himlal Baral (CIFOR-ICRAF), mantan Sekretaris Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Nepal Dr Bishwa Nath Oli, serta Dr Jagadish Timsina dari Institute for Study and Development Worldwide. Para penulis menegaskan bahwa CSAF merupakan pendekatan yang praktis dan mudah diterapkan secara luas untuk menjawab tantangan yang saling terkait—mulai dari degradasi lahan, ketahanan pangan, hingga perubahan iklim.

“Di Nepal, pertanian dan hutan tidak bisa dipisahkan,” ujar Baral. “Melalui agroforestri cerdas iklim, lahan yang terdegradasi dapat dipulihkan, pendapatan petani diperkuat, dan karbon diserap, sambil meningkatkan ketangguhan masyarakat dan ekosistem.”

Farmer working in a small agroforestry plot near his home in Nalma village, Nepal.
Seorang petani merawat lahannya di Desa Nalma, Nepal, tempat agroforestri semakin berperan penting dalam menjaga keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pedesaan.
Foto oleh Mokhamad Edliadi / CIFOR-ICRAF
Elderly woman carrying a basket as she walks along a rural path near farmland in Nepal.
Seorang perempuan berjalan pulang dari ladang di pedesaan Nepal, mencerminkan peran perempuan yang semakin besar dalam mengelola bentang alam pertanian dan hutan.
Foto oleh Mokhamad Edliadi / CIFOR-ICRAF

Agroforestri sebagai jembatan kebijakan lintas sektor

Berdasarkan bukti dari berbagai wilayah di Nepal, para penulis menegaskan bahwa beragam sistem agroforestri—mulai dari alley cropping dan silvopastura hingga kebun kayu berbasis masyarakat—mampu menyediakan berbagai jasa ekosistem. Manfaatnya mencakup peningkatan kesuburan tanah, perlindungan daerah aliran sungai, konservasi keanekaragaman hayati, serta penyimpanan karbon.

Namun, meski manfaat tersebut telah terbukti, penerapan agroforestri di Nepal masih berjalan terpisah antar sektor dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam program pertanian formal.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, bab ini mengusulkan peta jalan nasional agroforestri cerdas iklim (CSAF) yang dibangun melalui pendekatan nexus kebijakan, yang menghubungkan agenda pertanian, kehutanan, dan iklim.

Prioritas utama meliputi upaya-upaya sebagai berikut::

  • memperkuat layanan informasi iklim dan pertanian bagi petani
  • melestarikan keanekaragaman hayati pertanian melalui kombinasi pohon–tanaman yang disesuaikan dengan kondisi lokal
  • mengembangkan rantai nilai produk agroforestri—seperti buah-buahan, kayu, minyak atsiri, dan bambu—melalui kemitraan dengan sektor swasta
  • meningkatkan kapasitas dan pelatihan teknologi agroforestri cerdas iklim (CSAF) bagi petani, tenaga teknis, dan pemerintah daerah; serta
  • berinvestasi dalam riset dan infrastruktur untuk mengukur jasa ekosistem, termasuk penyerapan karbon dan potensi ekowisata.

“Agroforestri tidak semata-mata berkaitan dengan pepohonan dan tanaman pangan,” ujar Oli. “Pendekatan ini memerlukan kebijakan yang mengakui bentang alam multifungsi sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan.”

Selaras dengan agenda transformasi nasional Nepal

Buku ini menempatkan agroforestri cerdas iklim dalam peta jalan transformasi sektor pertanian, dengan tujuan mentransformasikan sistem subsisten menjadi sistem pangan-pertanian yang modern, berkelanjutan, dan berorientasi pasar.

Kerangka CSAF melengkapi berbagai strategi nasional Nepal, mulai dari Forestry Sector Strategy (2016–2025), National Adaptation Plan (NAP, 2021–2050), hingga Nationally Determined Contribution (NDC) 3.0 yang diperbarui pada 2025. Seluruh dokumen tersebut menegaskan pentingnya mengintegrasikan pepohonan ke dalam sistem pertanian sebagai bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Menurut Timsina, perluasan praktik agroforestri cerdas iklim dapat membantu Nepal memenuhi komitmennya untuk memulihkan sedikitnya 0,5 juta hektare lahan terdegradasi pada 2030, sekaligus meningkatkan penghidupan petani kecil.

Sains untuk kebijakan dan praktik

Riset CIFOR-ICRAF di berbagai wilayah Asia menunjukkan bahwa sistem agroforestri yang dirancang dengan baik mampu menyimpan hingga lima kali lebih banyak karbon dibandingkan pertanian tanaman semusim. Pada saat yang sama, sistem ini menyediakan sumber pangan, pakan ternak, dan energi yang berkelanjutan.

Berangkat dari bukti tersebut, para penulis mendorong agar agroforestri diarusutamakan dalam perencanaan pembangunan daerah dan mekanisme pembiayaan iklim, termasuk skema pembayaran karbon dan jasa ekosistem.

Mereka juga menekankan peran penting jejaring kehutanan masyarakat, koperasi, serta pelaku usaha swasta dalam memperluas penerapan model agroforestri cerdas iklim (CSAF).

Dengan insentif yang tepat, para pemangku kepentingan dapat mendorong investasi pada persemaian pohon, pengolahan bernilai tambah, dan akses pasar—menjadikan agroforestri tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berdampak positif bagi iklim.

Aerial view of terraced farmland, trees and village houses across steep hillsides in Nepal.
Tampak udara Desa Nalma di perbukitan Nepal memperlihatkan sawah berteras, hutan, dan permukiman yang menyatu dalam satu bentang alam pegunungan.
Foto oleh Mokhamad Edliadi / CIFOR-ICRAF

Model bagi ekonomi pegunungan Asia Selatan

Bab ini menegaskan bahwa pengalaman panjang Nepal dalam kehutanan masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam secara partisipatif memberikan pelajaran penting bagi negara-negara pegunungan lain yang menghadapi tantangan serupa—mulai dari tekanan iklim hingga keberlanjutan mata pencaharian.

“Jika Nepal mampu menempatkan agroforestri sebagai inti transformasi pertaniannya,” ujar Baral, “pendekatan ini dapat menginspirasi lahirnya generasi baru petani cerdas iklim di seluruh Asia Selatan.”