Dengan mengintegrasikan pepohonan ke dalam sistem pertanian dan bentang alam, agroforestri dinilai sebagai solusi menjanjikan untuk meningkatkan ketangguhan iklim, ketahanan pangan, dan kesejahteraan perdesaan Nepal. Temuan ini disampaikan para ilmuwan CIFOR-ICRAF dalam buku Agriculture Sector Transformation in Nepal: A Roadmap (2025).
Bab berjudul Climate-Smart Agroforestry for Sustainable Landscapes and Agri-Food Systems’ Transformation in Nepal mendorong agar agroforestri cerdas iklim (climate-smart agroforestry/CSAF) diarusutamakan dalam kebijakan nasional pertanian dan tata guna lahan.
Bab ini ditulis bersama oleh Dr Himlal Baral (CIFOR-ICRAF), mantan Sekretaris Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Nepal Dr Bishwa Nath Oli, serta Dr Jagadish Timsina dari Institute for Study and Development Worldwide. Para penulis menegaskan bahwa CSAF merupakan pendekatan yang praktis dan mudah diterapkan secara luas untuk menjawab tantangan yang saling terkait—mulai dari degradasi lahan, ketahanan pangan, hingga perubahan iklim.
“Di Nepal, pertanian dan hutan tidak bisa dipisahkan,” ujar Baral. “Melalui agroforestri cerdas iklim, lahan yang terdegradasi dapat dipulihkan, pendapatan petani diperkuat, dan karbon diserap, sambil meningkatkan ketangguhan masyarakat dan ekosistem.”

Foto oleh Mokhamad Edliadi / CIFOR-ICRAF

Foto oleh Mokhamad Edliadi / CIFOR-ICRAF
Agroforestri sebagai jembatan kebijakan lintas sektor
Berdasarkan bukti dari berbagai wilayah di Nepal, para penulis menegaskan bahwa beragam sistem agroforestri—mulai dari alley cropping dan silvopastura hingga kebun kayu berbasis masyarakat—mampu menyediakan berbagai jasa ekosistem. Manfaatnya mencakup peningkatan kesuburan tanah, perlindungan daerah aliran sungai, konservasi keanekaragaman hayati, serta penyimpanan karbon.
Namun, meski manfaat tersebut telah terbukti, penerapan agroforestri di Nepal masih berjalan terpisah antar sektor dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam program pertanian formal.
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, bab ini mengusulkan peta jalan nasional agroforestri cerdas iklim (CSAF) yang dibangun melalui pendekatan nexus kebijakan, yang menghubungkan agenda pertanian, kehutanan, dan iklim.
Prioritas utama meliputi upaya-upaya sebagai berikut::
- memperkuat layanan informasi iklim dan pertanian bagi petani
- melestarikan keanekaragaman hayati pertanian melalui kombinasi pohon–tanaman yang disesuaikan dengan kondisi lokal
- mengembangkan rantai nilai produk agroforestri—seperti buah-buahan, kayu, minyak atsiri, dan bambu—melalui kemitraan dengan sektor swasta
- meningkatkan kapasitas dan pelatihan teknologi agroforestri cerdas iklim (CSAF) bagi petani, tenaga teknis, dan pemerintah daerah; serta
- berinvestasi dalam riset dan infrastruktur untuk mengukur jasa ekosistem, termasuk penyerapan karbon dan potensi ekowisata.
“Agroforestri tidak semata-mata berkaitan dengan pepohonan dan tanaman pangan,” ujar Oli. “Pendekatan ini memerlukan kebijakan yang mengakui bentang alam multifungsi sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan.”
Foto oleh Mokhamad Edliadi / CIFOR-ICRAF
Selaras dengan agenda transformasi nasional Nepal
Buku ini menempatkan agroforestri cerdas iklim dalam peta jalan transformasi sektor pertanian, dengan tujuan mentransformasikan sistem subsisten menjadi sistem pangan-pertanian yang modern, berkelanjutan, dan berorientasi pasar.
Kerangka CSAF melengkapi berbagai strategi nasional Nepal, mulai dari Forestry Sector Strategy (2016–2025), National Adaptation Plan (NAP, 2021–2050), hingga Nationally Determined Contribution (NDC) 3.0 yang diperbarui pada 2025. Seluruh dokumen tersebut menegaskan pentingnya mengintegrasikan pepohonan ke dalam sistem pertanian sebagai bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Menurut Timsina, perluasan praktik agroforestri cerdas iklim dapat membantu Nepal memenuhi komitmennya untuk memulihkan sedikitnya 0,5 juta hektare lahan terdegradasi pada 2030, sekaligus meningkatkan penghidupan petani kecil.
Sains untuk kebijakan dan praktik
Riset CIFOR-ICRAF di berbagai wilayah Asia menunjukkan bahwa sistem agroforestri yang dirancang dengan baik mampu menyimpan hingga lima kali lebih banyak karbon dibandingkan pertanian tanaman semusim. Pada saat yang sama, sistem ini menyediakan sumber pangan, pakan ternak, dan energi yang berkelanjutan.
Berangkat dari bukti tersebut, para penulis mendorong agar agroforestri diarusutamakan dalam perencanaan pembangunan daerah dan mekanisme pembiayaan iklim, termasuk skema pembayaran karbon dan jasa ekosistem.
Mereka juga menekankan peran penting jejaring kehutanan masyarakat, koperasi, serta pelaku usaha swasta dalam memperluas penerapan model agroforestri cerdas iklim (CSAF).
Dengan insentif yang tepat, para pemangku kepentingan dapat mendorong investasi pada persemaian pohon, pengolahan bernilai tambah, dan akses pasar—menjadikan agroforestri tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berdampak positif bagi iklim.

Foto oleh Mokhamad Edliadi / CIFOR-ICRAF
Model bagi ekonomi pegunungan Asia Selatan
Bab ini menegaskan bahwa pengalaman panjang Nepal dalam kehutanan masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam secara partisipatif memberikan pelajaran penting bagi negara-negara pegunungan lain yang menghadapi tantangan serupa—mulai dari tekanan iklim hingga keberlanjutan mata pencaharian.
“Jika Nepal mampu menempatkan agroforestri sebagai inti transformasi pertaniannya,” ujar Baral, “pendekatan ini dapat menginspirasi lahirnya generasi baru petani cerdas iklim di seluruh Asia Selatan.”








