LANGUAGE

Cari artikel

Manisnya hasil kebun: Petani mengubah lanskap kakao dan sawit Asia Tenggara

EN, ID
7 menit baca
Petani di Indonesia dan Filipina memadukan agroforestri, budidaya lebah Trigona, dan perencanaan usaha tani untuk menciptakan penghidupan berkelanjutan.
Di Luwu Utara, Indonesia, petani menjemur biji kakao dengan cermat di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, mencegah jamur, dan meningkatkan cita rasa. Langkah krusial ini untuk menjaga kualitas premium dan nilai pasar, serta mendukung keberlanjutan dan penghidupan petani. Foto oleh Arga Pandiwijaya/CIFOR-ICRAF

Kasum dan Sulastri, pasangan petani dari Desa Mappadeceng, Sulawesi, membudidayakan kakao yang hasil panennya diekspor ke luar negeri. Bahkan, biji kakao mereka telah menjadi bagian dari produk cokelat ternama seperti Mars Bars dan M&Ms. 

Namun, kakao bukan satu-satunya sumber penghasilan mereka. โ€œAwalnya, tetangga mengira saya aneh karena menggantung kotak-kotak lebah di bawah rumah panggung,โ€ ujar Kasum sambil tersenyum. Kini, 200 kotak lebah yang mereka rawat menghasilkan madu yang membawa perubahan besar bagi keluarga dan memungkinkan mereka membeli kendaraan, memperbaiki rumah, dan membiayai pendidikan anak-anak hingga perguruan tinggi.

Untuk mendukung koloni lebahnya, Kasum menanam pohon durian, mangga, rambutan, nangka, dan kelapa di antara tanaman kakao. Pohon-pohon ini menyediakan pakan bagi lebah sekaligus pangan bagi keluarga dan pelindung alami bagi tanaman utama.

Untuk menjaga populasi lebah, mereka berhenti menggunakan pestisida dan beralih ke pengendalian hama ramah lingkungan. Buah kakao dibungkus plastik atau botol bekas agar terlindung dari larva penggerek yang merusak buah setengah matang.

โ€œDi banyak wilayah seperti ini, petani mulai melihat hasil nyata dari penerapan sistem agroforestriโ€”menanam beragam jenis tanaman di antara barisan kakao atau kelapa sawit. Pendekatan ini terbukti tidak hanya memperkaya sumber penghidupan mereka, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem di sekitarnya.โ€

Di Kabupaten Luwu Utara, Indonesia, para petani menerapkan sistem agroforestri sekaligus membudidayakan lebah tanpa sengat (Trigona) untuk menghasilkan madu. Budidaya lebah ini tidak hanya menambah sumber pendapatan, tetapi juga membantu proses penyerbukan, menjaga keanekaragaman hayati, dan membuat sistem pertanian berbasis kakao menjadi lebih tangguh. Foto oleh: Riky Mulya Hilmansyah/CIFOR-ICRAF
Sementara di Filipina, petani kakao melindungi buah yang mulai matang dengan membungkusnya menggunakan plastik. Cara sederhana tanpa bahan kimia ini terbukti efektif mencegah serangan hama penggerek buah kakao sekaligus mengurangi risiko kehilangan hasil panen secara berkelanjutan. Foto oleh: Isabela Dela Paz/CIFOR-ICRAF

Sejak 2021, inisiatif Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes (SFITAL) telah bekerja bersama petani kakao seperti Kasum dan Sulastri di Luwu Utara, Sulawesi; petani di Davao de Oro, Filipina; serta petani kelapa sawit di Labuhanbatu Utara, Sumatra.

Program ini bertujuan memperkuat keterhubungan petani dengan rantai pasok global melalui praktik yang ramah lingkungan, menguntungkan secara ekonomi, dan bertanggung jawab secara sosial.

โ€œDi banyak bentang alam pertanian seperti ini, penerapan sistem agroforestry yaitu menanam beragam jenis tanaman di antara barisan pohon kakao atau kelapa sawit dapat memberikan berbagai manfaat,โ€ ujar Betha Lusiana, peneliti di Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) sekaligus pemimpin program SFITAL di Indonesia.

Kisah Kasum dan Sulastri cepat menyebar di antara warga desa, menginspirasi petani lain untuk meninjau kembali cara mereka menanam kakao.

Pengalaman keduanya membuktikan bahwa budidaya lebah dapat berkembang dengan baik di kebun kakao yang ditanami beragam pohon, bukan di lahan monokultur.

โ€œKeberagaman pohon menjadi sumber pakan bagi lebah,โ€ jelas Betha Lusiana, peneliti CIFOR-ICRAF. โ€œSelain itu, kehadiran lebah mendorong petani mengurangi penggunaan pestisida yang dapat membahayakan penyerbuk alami ini.โ€

Semangat itu menular. Banyak petani di Luwu Utara kini memperkaya kebun mereka dengan pohon aren, pisang, dan cabai. Saat musim kering, daun pisang yang lebar membantu menjaga kelembapan tanah, sementara cabai menjadi sumber pendapatan cepat. โ€œMenanam pisang dan cabai itu seperti penyemangat,โ€ ujar Jafar, atau akrab disapa Papa Ono, petani dari Desa Tulak Tallu. โ€œSekali tanam, bisa tumbuh beberapa anakan dan panen setiap tahun. Rasanya lebih semangat ke kebun, bukan cuma untuk mengurus kakao.โ€

Setiap wilayah memiliki caranya sendiri dalam menerapkan inisiatif ini. Di Indonesia dan Filipina, langkahnya berbeda, namun tujuannya sama: membangun sistem pertanian yang lebih lestari dan adil.

Trainer speaking to oil palm farmers in North Labuhanbatu, Indonesia, during a workshop on making and using organic fertilizer for sustainable farming.
Di Labuhanbatu Utara, Indonesia, kelompok tani kelapa sawit mengikuti sesi pelatihan di lapangan tentang produksi dan penerapan pupuk organik. Pelatihan komunitas ini memperkuat kesehatan tanah, meningkatkan produktivitas, dan mendorong pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan. Foto oleh Riky Mulya Hilmansyah/CIFOR-ICRAF

โ€œPendekatan kami menyesuaikan dengan kondisi lokal โ€” dari jenis tanaman hingga struktur pemerintahan,โ€ jelas Beria Leimona dari CIFOR-ICRAF. โ€œTapi benang merahnya satu: semua berangkat dari kerja bersama antara pemerintah daerah dan petani untuk menyusun rencana aksi tingkat kabupaten.โ€

Di Indonesia, hasilnya adalah peta jalan pertama yang berbasis bukti dan memanfaatkan data spasial. Sementara di Filipina, inovasi ini menjadi tonggak baru bagi sektor kakao yang mulai menapaki arah serupa.

Di atas kertas, setiap daerah penghasil sawit di Indonesia wajib memiliki rencana aksi minyak sawit berkelanjutan. Namun kenyataannya, banyak daerah yang belum mampu menyusunnya, tutur Betha Lusiana.

Labuhanbatu Utara adalah salah satu kabupaten yang sebagian besar lahannya ditanami sawit rakyat, tapi belum memiliki arah yang jelas untuk pengembangannya.

โ€œPemerintah daerah menghadapi keterbatasan kapasitas dan pengalaman dalam menyusun rencana seperti ini,โ€ kata Lusiana. Ketika tim SFITAL datang, mereka menjadi lembaga riset pertama yang bekerja di sana. โ€œKami membantu mereka memetakan tutupan lahan secara spasial,โ€ kenang Lusiana. โ€œSambutannya luar biasa โ€” pemerintah daerah benar-benar antusias.โ€

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil.

โ€œEntah karena advokasi kami atau faktor lain,โ€ ujar Beria Leimona sambil tersenyum, โ€œ pada pertengahan 2023, pemerintah nasional mengumumkan bahwa daerah dengan rencana aksi kelapa sawit berkelanjutan akan mendapat bagian dari dana pungutan ekspor. Sekarang, mereka tahu betul bagaimana menyalurkannya untuk membantu petani kecil.โ€

Yang membuat program SFITAL begitu istimewa, ujar Betha Lusiana, adalah fokusnya yang melampaui sekadar penyusunan rencana di atas kertas. โ€œKami tidak berhenti di dokumen,โ€ katanya. โ€œKami memastikan rencana itu hidup dan diterapkan di lapangan.โ€ Peta jalan yang dikembangkan bersama pemerintah daerah dan petani benar-benar tumbuh dari realitas lokalโ€”dari cara mereka bertani, berinovasi, hingga menghadapi tantangan sehari-
hari. โ€œBagi kami, pembelajaran bukan sekadar menyampaikan informasi,โ€ tambahnya, โ€œmelainkan menumbuhkan cara berpikir yang memungkinkan masyarakat menemukan pemahaman melalui pengalaman mereka sendiri.โ€

Pendekatan ini mulai membuahkan hasil nyata. Di Desa Simonis, Labuhanbatu Utara, misalnya, seorang petani kelapa sawit bernama Suhendro kini menanam kembali durian lokal di antara pohon sawitnya. โ€œTujuannya untuk mengembalikan durian sebagai ikon Desa Simonis,โ€ ujarnya. Dulu, durian tumbuh di hampir setiap kebun, sebelum banyak ditebang ketika wilayah itu berubah menjadi perkebunan sawit monokultur sekitar satu dekade lalu.

Belajar bertani kini tak lagi membosankan. Di Labuhanbatu dan Luwu Utara, petani belajar menanam durian dan aren lewat lokakarya, permainan papan Agroforestry Board Game, hingga kelas daring di e-learning.agroforestri.id.

Di Kabupaten Luwu Utara, Indonesia, para petani memamerkan hasil panen buah kakao segar yang menjadi bukti keberhasilan penerapan Good Agricultural Practices (GAP). Melalui pemangkasan yang tepat, pengelolaan naungan, dan pemanenan yang cermat, mereka mampu meningkatkan kualitas biji, memaksimalkan hasil panen, sekaligus menjaga kesehatan ekosistem.
Seorang petani di Luwu Utara berdiskusi mengenai rancangan agroforestri menggunakan permainan papan agroforestry, dalam sesi pelatihan partisipatif. Melalui alat pembelajaran interaktif seperti Agroforestry Board Game ini, para petani dan penyuluh belajar bersama merancang sistem pengelolaan lahan yang sesuai dengan kondisi lokal mereka.

Pelatihannya tak hanya soal menanam โ€” tapi juga soal mengelola uang, menjaga kesetaraan, dan memastikan hasil panen dikelola dengan baik. Bahkan, modul kakao dari program ini telah diadopsi oleh MARS Cocoa Academy, Rainforest Alliance, dan pemerintah daerah.

โ€œKami sedang mengarusutamakan kurikulum agroforestri kakao di sektor swasta dan pemerintah,โ€ jelas Beria Leimona. โ€œHarapannya, semakin banyak petani yang bisa ikut merasakan manfaatnya.โ€

Menurut Leimona, keberhasilan program ini mendorong pemerintah untuk berpikir lebih jauh. โ€œBappenas berencana mereplikasi peta jalan keberlanjutan kakao yang telah kami rancang, agar menjadi pedoman bagi inisiatif serupa di daerah lain,โ€ ujarnya. โ€œTujuan akhirnya adalah memperluas penerapan praktik pertanian berkelanjutan untuk berbagai komoditas ekspor, tidak hanya kakao dan sawit, di Indonesia maupun Filipina.โ€


Untuk informasi lebih lanjut mengenai program SFITAL, silakan hubungi Betha Lusiana (Indonesia) melalui email [email protected], atau Rachmat Mulia (Filipina) melalui email [email protected].

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan CIFOR-ICRAF terkait perubahan iklim dan investasi bentang alam, silakan hubungi Beria Leimona melalui email [email protected].

Untuk informasi mengenai proyek kunjungi: https://darikebunkelanskapsehat.id/ and https://www.cifor-icraf.org/project/SFITAL/