{"id":94274,"date":"2025-10-24T17:54:06","date_gmt":"2025-10-24T10:54:06","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2011\/09\/erik-solheim.png"},"modified":"2025-10-29T07:09:22","modified_gmt":"2025-10-29T00:09:22","slug":"dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan","title":{"rendered":"Dari degradasi menuju regenerasi lahan"},"content":{"rendered":"<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Degradasi lahan terjadi saat tanah kehilangan daya hidupnya seperti tak lagi subur, tak lagi produktif. Penyebabnya bisa karena ulah manusia, proses alami, atau keduanya. Dampaknya nyata: pangan berkurang, karbon tak terserap, air makin langka, dan keanekaragaman hayati pun ikut terancam. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Pada 2015, para ahli dari <\/span><span class=\"cf1\">Economics of Land Degradation (<a href=\"https:\/\/www.eld-initiative.org\/fileadmin\/ELD_Filter_Tool\/Publication_ELD_Strategy_2023-2030\/ELD_Strategy_2023-2030_Transformative_action_for_land.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">ELD<\/a>)<\/span><span class=\"cf0\"> membuat <a href=\"https:\/\/forestsnews.cifor.org\/94096\/policy-pathways-ecosystem-restoration-bonn?fnl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">perhitungan<\/a> yang mengejutkan: setiap tahun, dunia kehilangan jasa ekosistem senilai 6,3 hingga 10,6 triliun USD atau 10\u201317 persen dari PDB global. Nilai yang bahkan lima kali lipat sektor pertanian dunia. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Kerugian akibat degradasi lahan paling dirasakan oleh perempuan, kaum muda, masyarakat adat, dan komunitas lokal, mereka yang sering tak punya suara dalam keputusan soal lahan. Bagi pemerintah, dampaknya tak hanya soal ekologi seperti pangan terancam, ketimpangan melebar, migrasi meningkat, konflik muncul, dan stabilitas ekonomi pun terguncang.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><span class=\"TextRun SCXW43565544 BCX0\" lang=\"EN-NZ\" xml:lang=\"EN-NZ\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"NormalTextRun SCXW43565544 BCX0\"><!--StartFragment --><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Melihat besarnya dampak degradasi ekosistem, PBB mencanangkan Dekade Restorasi Ekosistem (2021\u20132030) untuk <\/span><span class=\"cf1\">mencegah, menghentikan, dan membalikkan<\/span><span class=\"cf0\"> kerusakan alam di seluruh dunia.<br \/>\nKini, kita sudah sampai di pertengahan perjalanan tapi pekerjaan besar masih menanti.<br \/>\nKeberhasilannya bergantung pada kebijakan yang kuat, relevan, terintegrasi, dan konsisten dijalankan.<\/span><span class=\"TextRun SCXW43565544 BCX0\" lang=\"EN-NZ\" xml:lang=\"EN-NZ\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"NormalTextRun SCXW43565544 BCX0\"><!--EndFragment --> <div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-94277 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/35707112972_6eb5ea9314_k-e1760108857493-1.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Lahan pertanian yang telah dibuka di wilayah Nebbou, antara Ouagadougou dan Leo, Burkina Faso. Memahami degradasi lahan merupakan kunci untuk merumuskan jalur kebijakan yang efektif bagi pemulihan ekosistem. Foto oleh Ollivier Girard \/ CIFOR-ICRAF<\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div><\/span><\/span><\/p>\n<h2><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Kota Bonn menjadi saksi: Saat dunia berkumpul untuk bertindak <\/span><!--EndFragment --><\/h2>\n<p><span data-contrast=\"none\"><!--StartFragment --><\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Agustus lalu, European Association of Agricultural Economists (EAAE) menggelar <a href=\"https:\/\/www.ilr1.uni-bonn.de\/eaaecongress2025\/en\/congress_home\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kongres ke-18<\/a> di Bonn, Jerman.<br \/>\nFokus utamanya adalah mendorong transformasi sistem pangan menuju keberlanjutan global, dan menjawab pertanyaan besar yaitu bagaimana ilmu ekonomi pertanian dapat menjembatani beragam kepentingan dalam sistem agrifood yang kompleks. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:263,&quot;469777462&quot;:[360,720,1080,1440,1800,2160,2880,3600,4320],&quot;469777927&quot;:[0,0,0,0,0,0,0,0,0],&quot;469777928&quot;:[1,1,1,1,1,1,1,1,1]}\"> <\/span><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Lokasi ini bukan kebetulan. Jerman sendiri tengah menghadapi degradasi lahan serius dengan sekitar 19 persen lahan pertanianya terdampak erosi. Sementara itu, Bonn menjadi rumah bagi lembaga-lembaga penting dunia seperti UNCCD, GLF, CIFOR-ICRAF, IFRE, dan GIZ yang sama-sama berfokus pada pemulihan lahan. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">26 Agustus jadi momen penting, para ahli, pembuat kebijakan, dan praktisi dari berbagai sektor bertemu di lokakarya pra-kongres untuk mencari cara menguatkan ekonomi dan kebijakan restorasi ekosistem. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Dari lokakarya tersebut, lahir empat pembelajaran penting.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<h3><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">1. Kebijakan harus mampu menjembatani realitas petani dengan visi jangka panjang.<\/span><!--EndFragment --><\/h3>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf1\">Petani adalah tulang punggung pangan. Meminta mereka menjadi pengelola bentang alam tanpa dukungan yang tepat bisa memicu dilema antara mempertahankan penghidupan keluarga dan menjaga ketahanan pangan nasional.<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:263,&quot;469777462&quot;:[360,720,1080,1440,1800,2160,2880,3600,4320],&quot;469777927&quot;:[0,0,0,0,0,0,0,0,0],&quot;469777928&quot;:[1,1,1,1,1,1,1,1,1]}\"><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Anja Gassner, Direktur CIFOR-ICRAF untuk kawasan Eropa, menyoroti besarnya tantangan tersebut. Menurutnya tanpa harga karbon yang adil dan peluang ekonomi nyata, restorasi belum bisa sepenuhnya hidup. <!--StartFragment -->Belum ada model bisnis yang layak untuk restorasi,\u201d ungkap Gassner. \u201cTantangan ini saya lemparkan kepada Anda semua, para ekonom pertanian.\u201d<!--EndFragment --><\/span><!--EndFragment --><\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"none\"><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Dalam sesi diskusi kelompok, para peserta sepakat bahwa kebijakan restorasi tak bisa berjalan di ruang hampa. Fragmentasi lahan, lemahnya pemantauan, dan terbatasnya kerja sama antarpetani kecil menjadi tantangan nyata. Mereka mendorong solusi konkret dengan memperkuat garis dasar, membangun visi jangka panjang bersama komunitas lokal dan masyarakat adat, menjamin pendanaan berkelanjutan, menunjuk lembaga koordinator utama, dan memastikan semua pihak dilibatkan sejak awal. <\/span><!--EndFragment -->.<\/span><span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/forestsnews.cifor.org\/91093\/what-do-farmers-want-and-what-do-we-want-from-them?fnl=en' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>What do farmers want and what do we want from them? <\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<h3><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">2. Kebijakan efektif hanya lahir dari sistem tangguh dan keberanian politik yang jujur. <\/span><!--EndFragment --><\/h3>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Restorasi butuh puluhan tahun. Demikian juga dinamika politik. Di sinilah letak tantangannya yaitu menjaga koherensi kebijakan. <\/span><span class=\"cf0\">\u201cKeberlanjutan finansial sering kali berbenturan dengan siklus politik yang hanya empat atau lima tahun,\u201d ujar Michiel De Bouw, peneliti pascadoktoral di Universitas Leuven. <\/span><span class=\"cf0\">Ia menegaskan, keberhasilan restorasi hanya mungkin tercapai jika ada koherensi kebijakan \u2014 secara vertikal, horizontal, dan lintas waktu. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">\u201cPendekatan di tingkat bentang alam\u2014atau bentang lautan\u2014dapat menjadi kuncinya,\u201d ujar Victoria Gutierrez, Kepala Kebijakan Global Commonland, lembagan nirlaba dari Belanda. \u201cKita perlu menegosiasikan kompromi antar pengguna lahan dan air, bekerja lintas sektor, dan menyentuh akar penyebab degradasi.\u201d <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:263}\"><!--StartFragment --><\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Restorasi yang terintegrasi bukan hanya menyatukan upaya, tapi juga menghemat biaya. <\/span><span class=\"cf0\">Menurut Johannes Kruse, Ko-Koordinator <\/span><span class=\"cf2\">Economics of Land Degradation (ELD) Initiative<\/span><span class=\"cf0\">, studi di Rwanda menunjukkan penghematan hingga 15 persen lewat integrasi lintas konvensi lingkungan. Di Asia Tengah, angkanya bahkan mencapai 24 persen\u2014setara USD 6,2 miliar hingga tahun 2050. Namun, Kruse mengingatkan, peningkatan koherensi kebijakan bukan semata urusan teknis. <\/span><span class=\"cf0\">\u201cMengintegrasikan kebijakan\u2014untuk siapa dan untuk tujuan apa\u2014adalah pertanyaan politik yang sering kita abaikan,\u201d ujar Michiel De Bouw dari Universitas Leuven. <\/span><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/forestsnews.cifor.org\/92692\/regulating-global-trade-without-harming-agroforestry-farms?fnl=en' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Regulating global trade without harming agroforestry farms? <\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/p>\n<h3><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">3. Di tangan yang tepat, teknologi mempercepat restorasi. Di tangan yang salah dapat memperburuk kerusakan. <\/span><!--EndFragment --><\/h3>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Teknologi tengah mengubah wajah restorasi. Dari penginderaan jauh, ekonometrika, robotika, hingga pembelajaran mesin, berbagai inovasi membuka peluang baru untuk pemantauan real-time, peningkatan produktivitas, dan pengambilan keputusan berbasis data. <\/span><span class=\"cf0\">Namun, kemajuan ini bukan tanpa risiko. Biaya tinggi, kesenjangan akses, ketergantungan teknologi, hingga salah tafsir data menjadi tantangan nyata. Seperti diingatkan salah satu peserta diskusi, dorongan menuju efisiensi bisa berujung pada \u201ckonsentrasi pasar di mana sebagian petani kecil tersingkir dari sistem.\u201d<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Hinrich Paulsen, salah satu pendiri perusahaan geo-informasi Mundialis, memperkenalkan ESMERALDA \u2014 startup Prancis-Jerman yang memadukan teknologi canggih dengan keterlibatan masyarakat. <\/span><span class=\"cf0\">Melalui <\/span><span class=\"cf2\">Starter Fund<\/span><span class=\"cf0\">, mereka menggandeng komunitas lokal untuk merancang proyek yang layak secara finansial, sementara platform <\/span><span class=\"cf2\">Tracker<\/span><span class=\"cf0\"> memanfaatkan data satelit untuk memantau vegetasi, kondisi tanah, dan infrastruktur. <\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">\u201cKe depan,\u201d ujar Paulsen, \u201cmisi-misi baru akan memberi kita alat yang jauh lebih kuat.\u201d <\/span> <div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/forestsnews.cifor.org\/85019\/to-fix-the-climate-think-of-food-soils-and-trees?fnl=' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>To fix the climate, think of food, soils, and trees <\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/p>\n<h3><b><span data-contrast=\"none\">4. <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Tanpa perspektif lokal, restorasi hanya tinggal rencana. <\/span><!--EndFragment --><\/span><\/b><\/h3>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Kelompok yang membahas perspektif lokal menyoroti satu fakta penting: kebijakan dan standar pasar dari negara donor sering menimbulkan dampak tak terduga bagi produsen di Global South. Petani kerap menanggung biaya tinggi untuk memenuhi sertifikasi dan regulasi yang terus berubah, seperti Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR). Mereka yang gagal memenuhi standar berisiko tersingkir. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><span class=\"NormalTextRun SCXW63304719 BCX0\" data-ccp-parastyle=\"heading 3\"><!--StartFragment --><\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Para peserta menekankan pentingnya penyesuaian kebijakan di tingkat lokal dan dorongan bagi negara produsen untuk menetapkan standar sendiri, meski belum diakui luas. Pendekatan bottom-up, melibatkan masyarakat dan LSM lokal, membantu memastikan kebijakan benar-benar berakar di lapangan.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Seperti ditegaskan Emmi Riikonen dari GLF: \u201cRestorasi hanya akan berhasil jika partisipasi sosial menjadi pusatnya.\u201d Kolaborasi yang peduli dan pengelolaan berbasis masyarakat adat adalah kunci tata kelola yang efektif tegas Emmi Riikonen. <\/span><\/p>\n<h3><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Masa Depan Restoratif<\/span><!--EndFragment --><\/h3>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Dampak degradasi lahan semakin nyata di seluruh dunia. Lokakarya di Bonn menegaskan bahwa ekonomi restorasi jauh lebih kompleks daripada sekadar rasio biaya-manfaat. Keberhasilan memerlukan tata kelola yang inklusif, layak secara politik, berakar pada konteks lokal, dan berkelanjutan. Saat Dekade Restorasi PBB memasuki titik tengahnya, pelajaran dari pertemuan ini bisa menjadi panduan bagi arah kebijakan restorasi ke depan.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulihkan Bumi lewat rancangan dan kebijakan yang tepat. <\/p>\n","protected":false},"author":454,"featured_media":94276,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1072],"tags":[8475,8244],"language":[2171],"location":[12326],"tag-bahasa":[12156,2647,11048],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[2424,2423],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-94274","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-landscapes","tag-degraded-landscapes","tag-food-system","language-bahasa-indonesia","location-bonn","tag-bahasa-degradasi-bentang-alam","tag-bahasa-restorasi","tag-bahasa-sistem-pangan","type-bahasa-analisis","type-english-analysis-opinion","type-english-event-coverage"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Dari degradasi menuju regenerasi lahan<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Para ahli dalam Kongres EAAE membahas jalur kebijakan restorasi ekosistem, dengan meninjau aspek kebijakan, ekonomi, dan perspektif lokal\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari degradasi menuju regenerasi lahan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Para ahli dalam Kongres EAAE membahas jalur kebijakan restorasi ekosistem, dengan meninjau aspek kebijakan, ekonomi, dan perspektif lokal\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-24T10:54:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-29T00:09:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan\"},\"author\":{\"name\":\"Dodi Hidayatullah\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/eb9ef1b13071a1e512036edfec6a0e82\"},\"headline\":\"Dari degradasi menuju regenerasi lahan\",\"datePublished\":\"2025-10-24T10:54:06+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-29T00:09:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan\"},\"wordCount\":974,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg\",\"keywords\":[\"degraded landscapes\",\"food system\"],\"articleSection\":[\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2025\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan\",\"name\":\"Dari degradasi menuju regenerasi lahan\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-10-24T10:54:06+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-29T00:09:22+00:00\",\"description\":\"Para ahli dalam Kongres EAAE membahas jalur kebijakan restorasi ekosistem, dengan meninjau aspek kebijakan, ekonomi, dan perspektif lokal\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Perempuan membawa bibit akasia untuk ditanam di dekat Desa Moussa, Yangambi, Republik Demokratik Kongo. Upaya restorasi yang dipimpin masyarakat seperti ini mendukung jalur kebijakan yang lebih luas untuk pemulihan ekosistem. Foto oleh Axel Fassio \\\/ CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dari degradasi menuju regenerasi lahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/eb9ef1b13071a1e512036edfec6a0e82\",\"name\":\"Dodi Hidayatullah\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/The-force-of-the-blast-left-the-remains-of-a-jeep-suspended-on-a-tree.-Photo-by-Bert-Speer_National-Library-of-Australia-263x176.jpg0db4d01b2c122318f1a805405e28215f\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/The-force-of-the-blast-left-the-remains-of-a-jeep-suspended-on-a-tree.-Photo-by-Bert-Speer_National-Library-of-Australia-263x176.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/The-force-of-the-blast-left-the-remains-of-a-jeep-suspended-on-a-tree.-Photo-by-Bert-Speer_National-Library-of-Australia-263x176.jpg\",\"caption\":\"Dodi Hidayatullah\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/dodih\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/94274\\\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dari degradasi menuju regenerasi lahan","description":"Para ahli dalam Kongres EAAE membahas jalur kebijakan restorasi ekosistem, dengan meninjau aspek kebijakan, ekonomi, dan perspektif lokal","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dari degradasi menuju regenerasi lahan","og_description":"Para ahli dalam Kongres EAAE membahas jalur kebijakan restorasi ekosistem, dengan meninjau aspek kebijakan, ekonomi, dan perspektif lokal","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2025-10-24T10:54:06+00:00","article_modified_time":"2025-10-29T00:09:22+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan"},"author":{"name":"Dodi Hidayatullah","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/eb9ef1b13071a1e512036edfec6a0e82"},"headline":"Dari degradasi menuju regenerasi lahan","datePublished":"2025-10-24T10:54:06+00:00","dateModified":"2025-10-29T00:09:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan"},"wordCount":974,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg","keywords":["degraded landscapes","food system"],"articleSection":["Landscapes"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2025","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan","name":"Dari degradasi menuju regenerasi lahan","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg","datePublished":"2025-10-24T10:54:06+00:00","dateModified":"2025-10-29T00:09:22+00:00","description":"Para ahli dalam Kongres EAAE membahas jalur kebijakan restorasi ekosistem, dengan meninjau aspek kebijakan, ekonomi, dan perspektif lokal","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Perempuan membawa bibit akasia untuk ditanam di dekat Desa Moussa, Yangambi, Republik Demokratik Kongo. Upaya restorasi yang dipimpin masyarakat seperti ini mendukung jalur kebijakan yang lebih luas untuk pemulihan ekosistem. Foto oleh Axel Fassio \/ CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dari degradasi menuju regenerasi lahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/eb9ef1b13071a1e512036edfec6a0e82","name":"Dodi Hidayatullah","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/The-force-of-the-blast-left-the-remains-of-a-jeep-suspended-on-a-tree.-Photo-by-Bert-Speer_National-Library-of-Australia-263x176.jpg0db4d01b2c122318f1a805405e28215f","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/The-force-of-the-blast-left-the-remains-of-a-jeep-suspended-on-a-tree.-Photo-by-Bert-Speer_National-Library-of-Australia-263x176.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/The-force-of-the-blast-left-the-remains-of-a-jeep-suspended-on-a-tree.-Photo-by-Bert-Speer_National-Library-of-Australia-263x176.jpg","caption":"Dodi Hidayatullah"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/dodih"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/94274\/dari-degradasi-menuju-regenerasi-lahan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/51221618605_e1fcf93115_k-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94274","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/454"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94274"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94274\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":151992,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94274\/revisions\/151992"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94276"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94274"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94274"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94274"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=94274"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=94274"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=94274"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=94274"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=94274"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=94274"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=94274"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=94274"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=94274"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=94274"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}