{"id":93849,"date":"2025-09-25T16:41:42","date_gmt":"2025-09-25T09:41:42","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/Wild-orchid-ecotourism1.jpg"},"modified":"2025-12-15T10:20:27","modified_gmt":"2025-12-15T03:20:27","slug":"pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara","title":{"rendered":"Pemetaan karhutla: Kunci selamatkan hutan Asia Tenggara"},"content":{"rendered":"<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Krisis kebakaran lahan dan gambut berskala besar telah mewarnai Asia Tenggara selama beberapa dekade, mengakibatkan asap lintas batas, pelepasan karbon tinggi, dan kerusakan area yang luas. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Sebagai upaya mengatasi masalah ini, ASEAN telah merumuskan sejumlah dokumen strategis, antara lain <\/span><span class=\"cf1\">ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP)<\/span><span class=\"cf0\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/event\/launch-of-the-second-asean-haze-free-roadmap-2023-2030-and-policy-dialogue-on-strategies-and-actions-for-achieving-a-haze-free-southeast-asia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span class=\"cf1\">Peta Jalan Kerja Sama ASEAN menuju Pengendalian Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas Kedua 2023\u20132030<\/span><\/a><span class=\"cf0\">, serta <\/span><a href=\"https:\/\/forestsnews.cifor.org\/90047\/as-southeast-asias-haze-dissipates-managing-peatlands-is-more-urgent-than-ever?fnl=\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span class=\"cf1\">Strategi Pengelolaan Lahan Gambut ASEAN Kedua (APMS) 2023\u20132030<\/span><\/a><span class=\"cf0\">. Dokumen-dokumen ini menjadi pedoman penting bagi inisiatif menuju kawasan bebas asap.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Kebakaran memang telah lama dimonitor dengan teknologi penginderaan jauh, tetapi pemetaan area terbakar yang lebih presisi dan seragam masih krusial untuk mendukung tata kelola kebakaran dan pemanfaatan lahan berkelanjutan. Saat ini, kawasan Asia Tenggara belum memiliki metode terpadu untuk pemetaan real-time yang dapat saling dibandingkan. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Kesenjangan tersebut akhirnya diisi dengan hadirnya <\/span><a href=\"https:\/\/asean.org\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Guideline-Burned-Area-Mapping-and-Estimation_PDF_logo.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span class=\"cf1\">Pedoman Pemetaan dan Estimasi Area Terbakar di Asia Tenggara<\/span><\/a><span class=\"cf0\"> yang perdana. Publikasi ini menyajikan panduan praktis bagi berbagai pemangku kepentingan\u2014mulai dari pembuat kebijakan, peneliti hingga praktisi\u2014untuk meningkatkan akurasi pemetaan dan pengelolaan kebakaran. Penyusunannya dipimpin CIFOR-ICRAF melalui proyek <a href=\"https:\/\/hazeportal.asean.org\/programmes\/mahfsa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Measurable Action for Haze-Free Sustainable Land Management in Southeast Asia (MAHFSA)<\/a> dengan dukungan negara anggota ASEAN, Sekretariat ASEAN, dan para ahli regional dari Indonesia, Thailand dan Lao PDR maupun internasional. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:261}\"><span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/linktr.ee\/ASEANpeatland' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Discover more<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>ASEAN peatlands and haze publications<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/span><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Kabar Hutan berkesempatan mewawancarai dua anggota tim penyusun pedoman \u2014 <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/research-staff\/michael-allen-brady\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Michael Brady<\/a>, peneliti senior CIFOR-ICRAF, dan <a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/profile\/Yenni-Vetrita\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Yenni Vetrita<\/a>, peneliti senior BRIN \u2014 untuk menggali lebih dalam isi pedoman serta potensinya dalam memperkuat kapasitas pemangku kepentingan menghadapi kebakaran hutan di Asia Tenggara. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<h3><strong><span class=\"TextRun MacChromeBold SCXW44493422 BCX0\" lang=\"EN-GB\" xml:lang=\"EN-GB\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"NormalTextRun SCXW44493422 BCX0\">Tanya: <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Apa yang dimaksud dengan Pedoman Pemetaan dan Estimasi Area Terbakar di Asia Tenggara pertama, serta apa alasan di balik penyusunannya? <\/span><!--EndFragment --><\/span><\/span><\/strong><\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\"><strong><span class=\"TextRun MacChromeBold SCXW217963405 BCX0\" lang=\"EN-GB\" xml:lang=\"EN-GB\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"NormalTextRun SCXW217963405 BCX0\">Michael Brady:<\/span><\/span><\/strong> <span class=\"cf0\">Pedoman ini telah menjadi dokumen resmi <a href=\"https:\/\/asean.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">ASEAN<\/a> setelah disahkan oleh Committee under the Conference of the Parties to the ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (COM AATHP). Dokumen ini ditujukan untuk membantu negara yang belum memulai pekerjaan serupa, sekaligus mendukung negara seperti Indonesia dalam pelatihan di tingkat provinsi maupun dalam berbagi pengalaman dengan negara tetangga. <\/span><\/span><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Lebih dari sekadar panduan teknis, pedoman ini juga memberikan arahan membangun program nasional pemetaan area terbakar, lengkap dengan sumber daya dan data yang diperlukan untuk keberlanjutan. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Salah satu tantangan utama dalam pemetaan area terbakar adalah biaya tinggi, terutama karena membutuhkan verifikasi lapangan (ground truthing) di lokasi terpencil. Kini, sebagian verifikasi dapat digantikan dengan citra satelit beresolusi tinggi\u2014kurang dari satu meter\u2014yang mampu memperlihatkan tanda kebakaran seperti vegetasi hangus, abu, asap, bahkan api, tanpa harus turun langsung ke lapangan. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Inovasi ini telah memangkas biaya verifikasi dan validasi serta menyusun prosesnya secara lebih rapi. Walau terkesan teknis, hal ini merupakan pencapaian besar yang membuat pemetaan area terbakar semakin terjangkau dan dapat diandalkan di kawasan Asia Tenggara. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">Yenni Vetrita:<\/span><\/b><span class=\"cf0\">Pentingnya pemetaan dan estimasi area terbakar di Asia Tenggara tak lepas dari besarnya dampak kebakaran, pengalaman yang nyata dirasakan di Indonesia. Pemetaan berfungsi bukan hanya menunjukkan titik kebakaran, melainkan juga mendukung perhitungan kerugian dan emisi, terutama dari lahan gambut. <\/span><\/p>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Tantangan pemantauan kebakaran di Asia Tenggara muncul karena perbedaan skala dan tujuan, mulai dari kebakaran hutan luas hingga pembakaran kecil terkontrol. Ditambah lagi, faktor seperti tutupan awan, akses terbatas, dan beragamnya penggunaan lahan membuat pemantauan berbasis darat sulit dijalankan dengan efektif. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Pendekatan berbasis satelit menawarkan solusi penting dengan menyediakan pemantauan yang konsisten, real-time, dan mencakup wilayah luas\u2014mendukung tindakan cepat terhadap kebakaran, estimasi emisi, serta pengelolaan lahan berkelanjutan di Asia Tenggara. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<h3><b>Tanya: <strong>Bagaimana panduan ini membantu mengelola dan mengurangi dampak kebakaran hutan?<\/strong><\/b><\/h3>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>Yenni Vetrita:<\/b><\/span> <span class=\"cf0\">Pedoman ini membantu negara-negara di Asia Tenggara mengelola dan mengurangi dampak kebakaran hutan dengan menyediakan cara yang jelas dan konsisten untuk memetakan serta melaporkan area terbakar. Lebih lanjut, pedoman ditujukan untuk berbagai pihak, mulai dari pembuat kebijakan (seperti kementerian kehutanan dan lingkungan), pengelola lahan, hingga peneliti, sehingga data yang dihasilkan bisa langsung digunakan untuk mendorong aksi nyata di lapangan. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Konsistensi ini membantu respons yang lebih cepat, perencanaan yang lebih baik, dan perkiraan kerugian serta emisi yang lebih akurat, suatu hal penting bagi wilayah rawan kebakaran seperti Indonesia. Panduan ini juga mendorong pelaporan yang seragam, sehingga data bisa dimanfaatkan tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat regional, termasuk untuk menangani masalah asap lintas batas. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>Michael Brady:<\/b><\/span> <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Salah satu alasan kami ingin memperkenalkan metodologi ini adalah karena selama 30 tahun terakhir, sejak kebakaran besar di wilayah selatan Asia Tenggara, deteksi kebakaran sebagian besar masih mengandalkan hot spot. Hot spot ini terdeteksi secara termal melalui citra satelit, artinya satelit menandai sebuah hot spot ketika suhu pada satu piksel melewati ambang batas tertentu, yang diasumsikan menandakan adanya kebakaran. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Namun, cara tersebut merupakan pengukuran tidak langsung dan tidak memberikan informasi yang cukup mengenai luas area terbakar maupun ukuran dan tingkat keparahan kebakaran. <\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Sementara itu, pemetaan area terbakar memungkinkan kita untuk mengukur berapa hektare yang terbakar pada berbagai skala, sehingga kita bisa mengetahui total luas area terbakar setiap tahun di tingkat nasional.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Setelah mengetahui seberapa luas area yang terbakar, kita juga bisa menilai jenis tutupan lahan atau bahan bakar yang terbakar misalnya hutan atau padang rumput dengan menggabungkannya dengan data lain. Hal ini membuka peluang untuk analisis tambahan yang lebih mendalam.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--EndFragment --><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/forestsnews.cifor.org\/92155\/regional-policy-shift-gains-ground-on-peatland-management-and-haze-solutions?fnl=' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read more<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Regional policy shift gains ground on peatland management and haze solutions<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/p>\n<h3 class=\"p1\"><b>FN: <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Siapa yang menjadi sasaran penerapan pedoman ini, dan bagaimana pedoman ini dirancang untuk mengatasi tantangan khusus di Asia Tenggara? <\/span><!--EndFragment --><\/b><b><\/b><\/h3>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\"><b>Yenni Vetrita:<\/b><\/span> <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Pedoman ini terutama dirancang untuk digunakan di kawasan ASEAN, dengan mengacu pada penerapannya di Indonesia dan Thailand, di mana upaya pemetaan area terbakar di tingkat nasional dan subnasional sudah mulai dilakukan.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Kebakaran hutan di Asia Tenggara memang punya tantangan tersendiri mulai dari tutupan awan yang hampir selalu ada, kebakaran kecil yang tersebar dan sering terkait dengan praktik penggunaan lahan (misalnya untuk pertanian), hingga berbagai jenis kebakaran, seperti kebakaran lahan kering di Thailand dan kebakaran gambut di Indonesia. Kondisi ini membuat pemantauan langsung di lapangan menjadi sulit dan kurang efektif.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p3\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Yang membuat pedoman ini sangat relevan adalah fleksibilitasnya. Pedoman ini mendorong pemanfaatan data satelit gratis seperti Landsat dan Sentinel-2, merekomendasikan penggunaan citra radar untuk mengatasi masalah tutupan awan, serta mendukung metode manual maupun otomatis sesuai dengan kemampuan dan sumber daya lokal. Panduan ini bukan model yang sama untuk semua, melainkan dapat disesuaikan dengan kompleksitas masing-masing kawasan. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\"><b>Michael Brady:<\/b><\/span> <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Negara-negara seperti Indonesia telah melakukan pemetaan area terbakar, sementara negara lain seperti Malaysia dan Thailand juga mulai menggunakan metode serupa, meski penerapannya belum rutin dan operasional. Kami sangat ingin mendukung mereka agar dapat mencapai tahap tersebut. Namun, ada beberapa negara yang sama sekali belum melakukan pemetaan sendiri dan masih bergantung pada produk pemetaan area terbakar global. Produk global ini memang berguna untuk penilaian skala besar, tetapi terlalu kasar dan kurang efektif untuk digunakan di tingkat nasional maupun subnasional.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Kami sangat menyarankan agar setiap negara mulai membuat peta area terbakar mereka sendiri. Secara teknis, proses ini tidak terlalu rumit. Dalam pedoman ini, kami menyertakan bab tentang pengendalian kualitas dan validasi, suatu langkah lanjutan yang penting, namun pemetaan dasar sebenarnya cukup mudah dilakukan. Sebagian besar negara sudah memiliki tenaga ahli penginderaan jauh yang terlatih untuk melaksanakan hal ini; sering kali yang masih kurang adalah mandat atau program terstruktur di lembaga mereka untuk memproduksi peta ini secara rutin.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><!--EndFragment --><\/p>\n<h3 class=\"p1\"><b>Tanya: <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Mengapa penting memiliki metode yang konsisten untuk memetakan area terbakar di berbagai negara di Asia Tenggara? <\/span><!--EndFragment --><\/b><b><\/b><\/h3>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\"><b>Michael Brady:<\/b><\/span> <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Salah satu alasan awal kami mengembangkan pedoman ini adalah pengalaman dengan hot spot, di mana setiap yurisdiksi menggunakan ambang suhu yang berbeda-beda, sehingga jumlah kebakaran yang dihitung sering diragukan. Dengan pemetaan area terbakar, tujuannya adalah memulai dari awal dan mendorong pendekatan yang lebih seragam. ASEAN merupakan organisasi kawasan yang relatif terkoordinasi dengan baik; jika sebuah pedoman disahkan di tingkat ASEAN, kemungkinan besar pedoman tersebut akan diadopsi dan diterapkan. <\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Hal ini menjadi dorongan kuat untuk mengembangkan pendekatan yang disepakati bersama. Tujuan utamanya adalah mendukung negara-negara menghasilkan data luas area terbakar tahunan di tingkat nasional yang kredibel. Hal ini penting, tidak hanya untuk pengelolaan kebakaran secara operasional, tetapi juga ketika data tersebut digunakan untuk perhitungan karbon atau pelaporan emisi gas rumah kaca nasional. Dengan metode yang seragam, data yang dihasilkan menjadi konsisten, dapat dibandingkan, dan dapat dipertanggungjawabkan di seluruh kawasan.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><!--EndFragment --><\/p>\n<h3 class=\"p1\"><b>Tanya: <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Bagaimana pedoman ini disosialisasikan dan diterapkan di berbagai wilayah serta oleh beragam pemangku kepentingan? <\/span><!--EndFragment --><\/b><b><\/b><\/h3>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\"><b>Michael Brady:<\/b><\/span> <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Penyusunan panduan ini memakan waktu lebih dari dua tahun dan melibatkan lokakarya dengan semua negara ASEAN serta sejumlah pakar internasional. Isinya dibahas, direvisi, dan akhirnya disahkan oleh perwakilan ASEAN.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Saat ini, panduan ini sudah tersedia di situs web ASEAN. Promosi dan pemanfaatannya menjadi tanggung jawab utama Sekretariat ASEAN, meskipun CIFOR juga akan membagikannya melalui jaringan kami dan mendukung pelatihan bila diperlukan. Ke depannya, kami mendorong setiap negara untuk memimpin sendiri pelatihan dan penerapannya.<\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s1\"><b>Yenni Vetrita:<\/b><\/span> <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Pelatihan dan lokakarya di tingkat pemerintah daerah sangat penting. Di Indonesia, kami aktif melibatkan otoritas lokal dan mengajarkan mereka cara menerapkan teknik ini. Pendekatan ini memastikan informasi penting terkait kebakaran dapat dikumpulkan lebih dekat dengan sumbernya, sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan efektif. Ketika tim lokal dibekali dengan alat dan pengetahuan yang tepat, pengelolaan kebakaran menjadi lebih responsif, terkoordinasi, dan pada akhirnya lebih berdampak. <\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/doi.org\/10.1080\/01431161.2024.2421942' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read more<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Monthly mapping of Indonesia\u2019s burned areas: implementation, history, techniques, and future directions<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<h3 class=\"p1\"><b>Tanya: <span class=\"cf0\">Apakah ada kesimpulan atau pendapat terakhir? <\/span><!--EndFragment --><\/b><b><\/b><\/h3>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>Yenni Vetrita:<\/b><\/span> <!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Pemetaan area terbakar di negara yang luas dan beragam seperti Indonesia tidak pernah mudah. Pola kebakaran sangat bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain, namun sejak awal kami menyadari bahwa pemetaan yang konsisten dan andal sangat penting.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Kami baru-baru ini menerbitkan artikel ilmiah yang menjelaskan teknik kami. Metode ini mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi relatif mudah diterapkan, bahkan bagi negara yang belum pernah melakukan pemetaan area terbakar sebelumnya. Indonesia belajar melalui praktik langsung. <\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Seiring waktu, kami menyempurnakan proses, mendokumentasikannya, dan mengembangkannya menjadi prosedur yang terstandarisasi. Memiliki standar yang jelas seperti diuraikan dalam panduan ini, telah meningkatkan kepercayaan diri kami. Tidak ada metode yang sempurna; selalu ada keterbatasan, baik dari sisi data, alat, maupun metode. Namun, pendekatan yang transparan dan dapat direplikasi memberikan dasar yang kuat untuk dijadikan acuan.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Yang tidak kalah penting adalah penyebarluasan pengetahuan ini. Pelatihan dan pertukaran harus dilakukan tidak hanya antarnegara, tetapi juga dengan pemerintah daerah dan komunitas. Indonesia secara aktif memperluas kapasitas di tingkat lokal, karena kami percaya bahwa membangun keterampilan di semua lapisan \u2014 tidak hanya di lembaga pusat \u2014 akan meningkatkan kesadaran, memperkuat sistem peringatan dini, dan meningkatkan kesiapsiagaan regional. <span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/9360\/' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read more<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Controlling Fires in Peatlands and Peatland Forests in Southeast Asia: A manual<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--EndFragment --><\/p>\n<div class=\"cfs_loop_body open\"><\/div>\n<hr \/>\n<p><strong>Profil para ahli<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><em><span class=\"cf0\">Michael Brady<\/span><\/em><span class=\"cf1\"> adalah Senior Associate di CIFOR-ICRAF, Bogor. Sejak 1985, ia meneliti perilaku kebakaran hutan di Asia Tenggara dan aktif terlibat dalam pemantauan serta upaya mitigasi kebakaran di tingkat global. Pada 1999, ia memperkenalkan sistem penilaian bahaya kebakaran (<\/span><span class=\"cf2\">fire danger rating<\/span><span class=\"cf1\">) di kawasan ini. Di awal 2000-an, ia juga memimpin pemetaan tahunan area terbakar di Kanada.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><!--StartFragment --><em><span class=\"cf0\">Yenni Vetrita<\/span><\/em><span class=\"cf1\"> adalah peneliti senior di BRIN yang sejak 2005 fokus pada penggunaan penginderaan jauh untuk mempelajari kebakaran hutan tropis, pemantauan lingkungan, dan manajemen bencana, khususnya di ekosistem gambut dan hutan Indonesia. Ia juga menjadi National Focal Point Indonesia untuk UN-SPIDER Regional Support Office, dan mendorong pemanfaatan informasi berbasis antariksa dalam manajemen bencana.<\/span><!--EndFragment --><br \/>\n<!--EndFragment --><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Ucapan terima kasih<\/strong><\/p>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><em><span class=\"cf0\">Blog tanya jawab ini disusun dengan dukungan program <\/span><span class=\"cf1\">Measurable Action for Haze-Free Southeast Asia<\/span><span class=\"cf0\"> (MAHFSA). MAHFSA merupakan inisiatif bersama ASEAN dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) yang mendukung upaya mengurangi polusi asap lintas batas dan dampaknya di Asia Tenggara.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em>Blog ini dapat terwujud berkat dukungan Divisi Lingkungan Sekretariat ASEAN, serta kontribusi para ahli.<\/em><\/p>\n<p><!--EndFragment --><\/p>\n<hr \/>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Krisis kebakaran lahan dan gambut berskala besar telah mewarnai Asia Tenggara selama beberapa dekade, mengakibatkan asap lintas batas, pelepasan karbon tinggi, dan kerusakan area yang luas. Sebagai upaya mengatasi masalah ini, ASEAN telah merumuskan sejumlah dokumen strategis, antara lain ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP), Peta Jalan Kerja Sama ASEAN menuju Pengendalian Pencemaran Kabut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":154202,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[9806],"tags":[7004,10481,8265],"language":[2171],"location":[12251],"tag-bahasa":[7944,2548,11293],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3094],"type-english":[2427],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-93849","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fire-haze","tag-fire-and-haze","tag-mahfsa","tag-wildfires","language-bahasa-indonesia","location-asia-pacific","tag-bahasa-api-dan-asap","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-mahfsa","type-bahasa-wawancara","type-english-interview"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Better mapping could help mitigate Southeast Asia\u2019s wildfire risks<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pedoman ASEAN terbaru bertujuan meningkatkan pemantauan dan tata kelola kebakaran hutan Asia Tenggara.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pemetaan karhutla: Kunci selamatkan hutan Asia Tenggara\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pedoman ASEAN terbaru bertujuan meningkatkan pemantauan dan tata kelola kebakaran hutan Asia Tenggara.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-09-25T09:41:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-15T03:20:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1360\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Pemetaan karhutla: Kunci selamatkan hutan Asia Tenggara\",\"datePublished\":\"2025-09-25T09:41:42+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-15T03:20:27+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara\"},\"wordCount\":1839,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg\",\"keywords\":[\"fire and haze\",\"MAHFSA\",\"wildfires\"],\"articleSection\":[\"Fire &amp; haze\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2025\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara\",\"name\":\"Better mapping could help mitigate Southeast Asia\u2019s wildfire risks\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-09-25T09:41:42+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-15T03:20:27+00:00\",\"description\":\"Pedoman ASEAN terbaru bertujuan meningkatkan pemantauan dan tata kelola kebakaran hutan Asia Tenggara.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1360,\"caption\":\"Kabut asap akibat kebakaran hutan menyelimuti sebagian besar bentang alam saat penerbangan melintasi hutan gambut. Curah hujan semakin memperburuk jarak pandang.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pemetaan karhutla: Kunci selamatkan hutan Asia Tenggara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/93849\\\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Better mapping could help mitigate Southeast Asia\u2019s wildfire risks","description":"Pedoman ASEAN terbaru bertujuan meningkatkan pemantauan dan tata kelola kebakaran hutan Asia Tenggara.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pemetaan karhutla: Kunci selamatkan hutan Asia Tenggara","og_description":"Pedoman ASEAN terbaru bertujuan meningkatkan pemantauan dan tata kelola kebakaran hutan Asia Tenggara.","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2025-09-25T09:41:42+00:00","article_modified_time":"2025-12-15T03:20:27+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1360,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Pemetaan karhutla: Kunci selamatkan hutan Asia Tenggara","datePublished":"2025-09-25T09:41:42+00:00","dateModified":"2025-12-15T03:20:27+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara"},"wordCount":1839,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg","keywords":["fire and haze","MAHFSA","wildfires"],"articleSection":["Fire &amp; haze"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2025","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara","name":"Better mapping could help mitigate Southeast Asia\u2019s wildfire risks","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg","datePublished":"2025-09-25T09:41:42+00:00","dateModified":"2025-12-15T03:20:27+00:00","description":"Pedoman ASEAN terbaru bertujuan meningkatkan pemantauan dan tata kelola kebakaran hutan Asia Tenggara.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg","width":2048,"height":1360,"caption":"Kabut asap akibat kebakaran hutan menyelimuti sebagian besar bentang alam saat penerbangan melintasi hutan gambut. Curah hujan semakin memperburuk jarak pandang."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pemetaan karhutla: Kunci selamatkan hutan Asia Tenggara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93849\/pemetaan-karhutla-kunci-selamatkan-hutan-asia-tenggara#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/35957190686_6ec4f14b6a_k-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93849","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93849"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93849\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":154208,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93849\/revisions\/154208"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/154202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93849"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93849"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93849"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=93849"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=93849"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=93849"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=93849"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=93849"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=93849"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=93849"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=93849"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=93849"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=93849"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}