{"id":92937,"date":"2025-07-10T13:21:40","date_gmt":"2025-07-10T06:21:40","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/Heaquarters-bogor2.jpg"},"modified":"2025-09-04T14:42:02","modified_gmt":"2025-09-04T07:42:02","slug":"perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan","title":{"rendered":"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan?"},"content":{"rendered":"<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Selama ini, komoditas global yang ditanam lewat sistem pertanian mirip hutan, dikenal sebagai <\/span><span class=\"cf1\">agroforestri<\/span><span class=\"cf0\">, menjadi salah satu cara jitu menjaga batas kawasan hutan tetap stabil. <\/span><span class=\"cf0\">Sistem ini membantu masyarakat lokal mengelola lahan secara bijak tanpa merusak lingkungan, tidak seperti pertanian lahan terbuka yang seringkali menimbulkan masalah ekologis. <\/span><span class=\"cf0\">Tapi anehnya, pendekatan ramah lingkungan ini kini justru menghadapi tantangan dari kebijakan perlindungan hutan itu sendiri. <\/span><span class=\"cf0\">Aturan-aturan baru yang mendorong perdagangan bebas deforestasi memang bertujuan mulia: melindungi hutan dari kerusakan. Tapi semua itu sangat bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan \u201chutan\u201d. <\/span><span class=\"cf0\">Dari citra satelit, agroforestri yang penuh pohon memang menyerupai hutan alam. Salah kaprah ini bisa berujung pada kebijakan yang justru merugikan sistem pertanian yang sebenarnya ramah lingkungan.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><span class=\"TextRun SCXW24051295 BCX0\" lang=\"EN-GB\" xml:lang=\"EN-GB\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"NormalTextRun SCXW24051295 BCX0\"><!--StartFragment --><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Mulai Desember 2025, Uni Eropa akan mulai menerapkan aturan ketat soal perdagangan komoditas yaitu <\/span><a href=\"https:\/\/environment.ec.europa.eu\/topics\/forests\/deforestation\/regulation-deforestation-free-products_en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span class=\"cf1\">European Union Deforestation-free Regulation<\/span><\/a><span class=\"cf0\"> (EUDR). Aturan ini akan berlaku lebih dahulu untuk perusahaan besar, lalu menyusul usaha kecil dan menengah mulai Juni 2026. <\/span><span class=\"cf0\">Tujuan utamanya jelas: konsumen di Eropa tidak ingin lagi menjadi bagian dari rantai pasok yang merusak hutan. Mereka ingin semua komoditas pertanian termasuk sawit, kopi, kakao, dan lain-lain bebas dari jejak deforestasi.  <!--StartFragment --><\/span><span class=\"cf0\">EUDR adalah bagian dari rangkaian upaya panjang untuk mengendalikan, mengurangi, atau bahkan menghentikan deforestasi. Tapi muncul satu pertanyaan penting: apakah kebijakan ini sudah benar-benar belajar dari pengalaman? <\/span><span class=\"cf0\">Mengapa berbagai inisiatif dan komitmen sebelumnya hanya bisa memenuhi sebagian kecil dari janji mereka? Kalau akar persoalannya tak dibenahi, mungkinkah EUDR justru mengulang kegagalan yang sama?<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\"><!--EndFragment --><\/span><\/p>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Peneliti dari <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF)<\/a> ikut ambil bagian dalam perdebatan soal kebijakan EUDR.  <\/span><span class=\"cf0\">Di satu sisi, ada dorongan kuat agar dunia segera bertindak untuk hentikan deforestasi. Tapi di sisi lain juga mengingatkan agar kebijakan ini tidak terjebak pada solusi instan yang tampak sederhana, tapi sebenarnya tidak menyentuh akar persoalan (<\/span><span class=\"cf2\">silver bullet<\/span><span class=\"cf0\">).<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Lebih jauh, para peneliti juga menekankan pentingnya menerapkan prinsip <\/span><span class=\"cf2\">tanggung jawab bersama namun berbeda<\/span><span class=\"cf0\"> (<\/span><span class=\"cf2\">common but differentiated responsibility\/CBDR<\/span><span class=\"cf0\">) secara nyata, khususnya dalam menjawab kesenjangan pembangunan antara negara maju dan berkembang. Semua ini, tentu saja, harus tetap berada dalam batas aman yang ditentukan oleh daya dukung Bumi.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-92700\" src=\"https:\/\/forestsnews.cifor.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-566x161.png\" alt=\"\" width=\"850\" height=\"241\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-566x161.png 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-832x236.png 832w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-768x218.png 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-220x62.png 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-1536x436.png 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-800x227.png 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-610x173.png 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-672x191.png 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21-1100x312.png 1100w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-06-25-at-22.10.21.png 1790w\" sizes=\"auto, (max-width: 850px) 100vw, 850px\" \/><\/p>\n<p><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Pentingnya menjaga sisa hutan alam primer dunia sudah sering disuarakan dalam berbagai kesepakatan internasional yang membahas krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Faktanya, sebagian besar hutan yang digunduli\u2014atau yang rentan terbakar hebat\u2014lama-kelamaan akan berubah fungsi menjadi lahan pertanian. Penyebab deforestasi sendiri bervariasi tergantung kondisi lokal. Namun baik produksi pangan untuk kebutuhan dalam negeri maupun komoditas ekspor, keduanya sama-sama berkontribusi besar.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Peran Uni Eropa sebagai pengimpor produk-produk berbasis deforestasi juga tidak bisa dianggap sepele. Meski bervariasi tergantung jenis komoditas dan negara asal, dampaknya tetap terasa, setidaknya di beberapa kasus penting.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"label\"><!--StartFragment --><\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">\u201cKesalahan umum dalam EUDR adalah menyederhanakan realitas lapangan yang sangat kompleks menjadi hanya dua pilihan: \u2018hutan atau bukan hutan\u2019,\u201d ujar Meine van Noordwijk, <\/span><span class=\"cf1\">Distinguished Science Fellow<\/span><span class=\"cf0\"> di CIFOR-ICRAF sekaligus penulis utama publikasi terbaru soal isu ini. <\/span><span class=\"cf0\">Ia juga menyoroti keyakinan yang terlalu besar pada satu solusi teknis yaitu penilaian lokasi berbasis data untuk menentukan apakah suatu wilayah mengalami deforestasi atau tidak. Padahal kenyataan di lapangan jauh lebih rumit. <\/span><span class=\"cf0\">\u201cMeski ada upaya untuk memperhatikan dampak sosial terhadap petani kecil di sekitar hutan, upaya itu datang terlambat dan masih belum cukup,\u201d tambahnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Menurutnya, kurangnya sinergi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan tidak terhubungnya kebijakan ini dengan kerangka kerja negara pengekspor menimbulkan kesan bahwa EUDR terlalu memaksa. Apalagi jika setiap pohon di bentang alam diperlakukan sama dengan hutan bernilai konservasi tinggi, hal itu bisa jadi tidak adil dan kontraproduktif.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"label\"><!--EndFragment --><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/doi.org\/10.1002\/pan3.70088' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read more<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Beyond imperfect maps: Evidence for EUDR-compliant agroforestry<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><span class=\"cf0\">Peta yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga Uni Eropa untuk mendukung penerapan EUDR menunjukkan bahwa pada tahun 2020, luas hutan dunia tercatat 12% lebih besar dibandingkan perkiraan dari sumber data lainnya. Namun, studi validasi mengungkap adanya ketidaksesuaian data: terdapat kemungkinan hingga 18% bahwa suatu area yang dikategorikan sebagai hutan dalam satu basis data justru dianggap bukan hutan dalam basis data lain.<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">\u201cSejauh penilaian kami, sebagian besar perbedaan data tersebut disebabkan oleh tutupan pohon dari sistem agroforestri,\u201d ujar <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/fr\/staff\/peter-minang-3\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Peter Minang<\/a>, Direktur Regional CIFOR-ICRAF untuk Afrika dan salah satu <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/44660\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penulis publikasi<\/a>. <\/span><span class=\"cf0\">\u201cKesalahan dalam peta ini membawa dua konsekuensi besar: (1) Produk berbasis deforestasi mungkin tetap lolos masuk ke pasar Eropa; dan (2) para pedagang bisa saja menghindari produk yang sebenarnya patuh terhadap EUDR karena khawatir dianggap berisiko dan ditolak di perbatasan. Konsekuensi kedua ini sudah mulai merugikan para pelaku agroforestri\u2014dan kami mendengar langsung keluhan tersebut dari banyak negara di lapangan. Ini adalah efek sampingan\u2014istilah yang terdengar keras, tetapi sayangnya cukup tepat.\u201d<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">\u201cKami menemukan bahwa untuk kebun agroforestri di Indonesia yang memproduksi kopi, kakao, atau karet, terdapat kemungkinan sebesar 63% bahwa lahan-lahan ini secara keliru dipetakan sebagai hutan dalam <\/span><span class=\"cf1\">dataset<\/span><span class=\"cf0\"> terbaru,\u201d ujar <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/staff\/sonya-dewi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sonya Dewi<\/a>, Direktur Regional CIFOR-ICRAF untuk Asia dan salah satu penulis publikasi. <\/span><span class=\"cf0\">\u201cAgroforestri umumnya menggabungkan pohon-pohon yang ditanam, tumbuh kembali secara alami, atau dipertahankan dari penggunaan lahan sebelumnya\u2014sering kali tanpa pola spasial yang kaku. Diperlukan pemahaman terhadap konteks lokal untuk dapat membedakan sistem ini dari hutan alam ketika dilihat melalui citra satelit.\u201d<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Komunikasi resmi terbaru dari Uni Eropa mengenai EUDR cenderung mengecilkan kekhawatiran terhadap keandalan peta hutan yang disusun oleh EU Joint Research Centre (JRC), yang dijadikan acuan untuk menentukan batas waktu kepatuhan terhadap EUDR.<\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">Namun, hal ini justru menimbulkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah EU-JRC gagal dalam pelaksanaan teknis, ataukah mereka sebenarnya diminta untuk memetakan sesuatu yang\u2014berdasarkan asumsi saat ini\u2014memang tidak dapat dipetakan secara akurat? <\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><!--EndFragment --> <div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.cosust.2024.101505' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>The European deforestation-free trade regulation: collateral damage to agroforesters?<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/p>\n<p class=\"p1\"><!--StartFragment --><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">\u201cDengan upaya kolaboratif yang lebih lanjut, ketidakpastian dalam pemetaan dapat dikurangi. Namun, definisi hutan yang spesifik di tiap negara harus diakui dalam kebijakan global terkait perubahan iklim,\u201d ujar <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/staff\/beria-leimona\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Beria Leimona,<\/a> pemimpin riset iklim di CIFOR-ICRAF dan salah satu penulis publikasi. <\/span><\/p>\n<p class=\"pf0\"><span class=\"cf0\">\u201cEUDR akan menghadapi lebih sedikit penolakan jika diintegrasikan secara lebih mulus ke dalam rencana aksi di tingkat yurisdiksi terutama yang secara jelas mengakui peran tutupan pohon pertanian di luar kawasan hutan.\u201d<\/span><!--EndFragment --><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr \/>\n<h4><i>Baca Selengkapnya<br \/>\nBeyond imperfect maps: evidence for EUDR-compliant agroforestry. <\/i><i><\/i>June 2025. <i>People and Nature.<\/i> <a href=\"https:\/\/besjournals.onlinelibrary.wiley.com\/doi\/epdf\/10.1002\/pan3.70088\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">DOI:10.1002\/pan3.70088<\/a><i>(forthcoming) <\/i><i><\/i>Blog: <a href=\"https:\/\/relationalthinkingblog.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/relationalthinkingblog.com<\/a><\/h4>\n<hr \/>\n<p class=\"p1\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama ini, komoditas global yang ditanam lewat sistem pertanian mirip hutan, dikenal sebagai agroforestri, menjadi salah satu cara jitu menjaga batas kawasan hutan tetap stabil. Sistem ini membantu masyarakat lokal mengelola lahan secara bijak tanpa merusak lingkungan, tidak seperti pertanian lahan terbuka yang seringkali menimbulkan masalah ekologis. Tapi anehnya, pendekatan ramah lingkungan ini kini justru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":459,"featured_media":149866,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12042,12105,12052,12073],"tags":[],"language":[],"location":[],"tag-bahasa":[],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[11051],"class_list":["post-92937","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-energi-perubahan-iklim","category-hutan-masyarakat","category-pengelolaan-restorasi-hutan","category-rantai-nilai-dan-keuangan"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Selama ini, komoditas global yang ditanam lewat sistem pertanian mirip hutan, dikenal sebagai agroforestri, menjadi salah satu cara jitu menjaga batas kawasan hutan tetap stabil. Sistem ini membantu masyarakat lokal mengelola lahan secara bijak tanpa merusak lingkungan, tidak seperti pertanian lahan terbuka yang seringkali menimbulkan masalah ekologis. Tapi anehnya, pendekatan ramah lingkungan ini kini justru [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-10T06:21:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-04T07:42:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Meine van Noordwijk\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan\"},\"author\":{\"name\":\"Meine van Noordwijk\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3c7f4a858a7700897ffe240b2b3ee226\"},\"headline\":\"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan?\",\"datePublished\":\"2025-07-10T06:21:40+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T07:42:02+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan\"},\"wordCount\":975,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Energi &amp; perubahan iklim\",\"Hutan masyarakat\",\"Pengelolaan &amp; restorasi hutan\",\"Rantai nilai dan keuangan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2025\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan\",\"name\":\"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-10T06:21:40+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T07:42:02+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"A farmer walks through a coffee plantation in Tri Budi Syukur village, West Lampung regency, Indonesia. Photo by Ulet Ifansasti \\\/ CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3c7f4a858a7700897ffe240b2b3ee226\",\"name\":\"Meine van Noordwijk\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5b0b459e1c607569ff454450c8cf21b333d02a716a2d4154d613a4be8a93ced6?s=96&d=mm&r=ge1ca19cdfb5b287a3bd42f671526ecb5\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5b0b459e1c607569ff454450c8cf21b333d02a716a2d4154d613a4be8a93ced6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5b0b459e1c607569ff454450c8cf21b333d02a716a2d4154d613a4be8a93ced6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Meine van Noordwijk\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/meine\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92937\\\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan?","og_description":"Selama ini, komoditas global yang ditanam lewat sistem pertanian mirip hutan, dikenal sebagai agroforestri, menjadi salah satu cara jitu menjaga batas kawasan hutan tetap stabil. Sistem ini membantu masyarakat lokal mengelola lahan secara bijak tanpa merusak lingkungan, tidak seperti pertanian lahan terbuka yang seringkali menimbulkan masalah ekologis. Tapi anehnya, pendekatan ramah lingkungan ini kini justru [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2025-07-10T06:21:40+00:00","article_modified_time":"2025-09-04T07:42:02+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Meine van Noordwijk","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan"},"author":{"name":"Meine van Noordwijk","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3c7f4a858a7700897ffe240b2b3ee226"},"headline":"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan?","datePublished":"2025-07-10T06:21:40+00:00","dateModified":"2025-09-04T07:42:02+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan"},"wordCount":975,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg","articleSection":["Bentang alam","Energi &amp; perubahan iklim","Hutan masyarakat","Pengelolaan &amp; restorasi hutan","Rantai nilai dan keuangan"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2025","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan","name":"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg","datePublished":"2025-07-10T06:21:40+00:00","dateModified":"2025-09-04T07:42:02+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"A farmer walks through a coffee plantation in Tri Budi Syukur village, West Lampung regency, Indonesia. Photo by Ulet Ifansasti \/ CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Perdagangan bebas deforestasi: Solusi hijau atau ancaman baru untuk hutan?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3c7f4a858a7700897ffe240b2b3ee226","name":"Meine van Noordwijk","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5b0b459e1c607569ff454450c8cf21b333d02a716a2d4154d613a4be8a93ced6?s=96&d=mm&r=ge1ca19cdfb5b287a3bd42f671526ecb5","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5b0b459e1c607569ff454450c8cf21b333d02a716a2d4154d613a4be8a93ced6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5b0b459e1c607569ff454450c8cf21b333d02a716a2d4154d613a4be8a93ced6?s=96&d=mm&r=g","caption":"Meine van Noordwijk"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/meine"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92937\/perdagangan-bebas-deforestasi-solusi-hijau-atau-ancaman-baru-untuk-hutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/38433831551_e256240c2a_k-2-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/459"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92937"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92937\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":150730,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92937\/revisions\/150730"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/149866"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92937"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=92937"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=92937"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=92937"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=92937"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=92937"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=92937"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=92937"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=92937"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=92937"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=92937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}