{"id":92754,"date":"2025-07-01T13:20:13","date_gmt":"2025-07-01T06:20:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=92754"},"modified":"2025-09-04T16:11:06","modified_gmt":"2025-09-04T09:11:06","slug":"yam-towers-managalass-part2-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2","title":{"rendered":"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMereka tidak akan pernah hidup tanpa yam.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Papua Nugini (PNG), yam merupakan sahabat purba. Manusia pertama yang <a href=\"https:\/\/www.science.org\/doi\/10.1126\/science.1193130\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tiba di Pulau Papua<\/a> membawanya saat mereka bermigrasi dari Asia sekitar 50.000 tahun lalu, dan yam kemudian menjadi bagian dari budaya di sana sejak saat itu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disebut juga sebagai yam besar, <em>Dioscorea alata<\/em>, <em>yam tru<\/em> dalam bahasa Tok Pisin\u2014bahasa kreol Inggris yang digunakan di seluruh PNG\u2014, dan sejumlah nama lain dalam 839 bahasa di negara itu, umbi-umbian tersebut tumbuh cepat di tanah vulkanik. Di Dataran Tinggi Managalas, di kaki bukit berhutan Provinsi Oro, umbi-umbian tersebut disebut <em>ninuri <\/em>di timur dan <em>manang<\/em> di barat. Di sana\u2014seperti yang saya pelajari ketika saya mengunjungi dataran tinggi tersebut pada September 2024\u2014budi daya yam merupakan proses yang sangat terkait dengan identitas dan kekuasaan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"566\" height=\"377\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-566x377.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-92648\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-800x533.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0158-1-1100x733.jpg 1100w\" sizes=\"auto, (max-width: 566px) 100vw, 566px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBagi masyarakat Managalas, menanam kebun yam merupakan proses inisiasi yang diwariskan oleh para tetua,\u201d kata Crispin Burava, seorang petugas pemberdayaan masyarakat untuk Managalas Conservation Foundation (MCF), organisasi lokal yang mengelola Kawasan Konservasi Managalas (MCA) yang luas. \u201cMereka tidak akan pernah hidup tanpa yam.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai makanan pokok yang tahan lama dan bergizi, yam memainkan peran khusus dan krusial dalam perayaan masyarakat dan pertukaran sumber daya. \u201cKetika menyangkut pesta seremonial, rekonsiliasi konflik, dan kewajiban budaya untuk banyak hal seperti mahar, pasti ada yam,\u201d kata anggota masyarakat Managalas, Bradley Dabadaba.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Praktik ini secara ketat mengatur gender: hanya laki-laki yang diizinkan menanam yam, meskipun perempuan memegang peran penting dalam proses budi daya, seperti menyiangi gulma dan memanen. Laki-laki yang memanen yam yang sangat besar mendapatkan status dalam komunitas mereka. &#8220;Saat Anda memanen yam besar di kebun Anda, Anda akan dianggap sebagai orang penting dalam masyarakat,&#8221; kata Nehemiah Gaboe, seorang petugas pengembangan bisnis untuk Distrik Ijivitari di provinsi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak mengherankan bahwa tanaman ini dikaitkan dengan kejantanan\u2014selain dari tampilannya yang seperti penis sedang ereksi, umbi-umbian ini adalah bukti nyata kemampuan seseorang untuk memberi nafkah. Kapasitas yam untuk memberikan kekuasaan juga diakui lebih dalam. \u201cDi masa lalu, kemampuan seorang pria untuk menanam yam besar diasumsikan tidak hanya terkait dengan kerja keras fisik, tetapi juga kemampuannya untuk memengaruhi dunia nonfisik,\u201d kata ilmuwan Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) dan manajer program PNG Will Unsworth, yang membantu organisasi-organisasi masyarakat di Dataran Tinggi Managalas untuk menyusun rencana pengelolaan bagi kawasan konservasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignleft wp-image-92650\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"400\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-300x400.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-92650\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-300x400.jpeg 300w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-311x415.jpeg 311w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-135x180.jpeg 135w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-450x600.jpeg 450w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-610x813.jpeg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-335x446.jpeg 335w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki-585x780.jpeg 585w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Reckson-Kajiaki.jpeg 810w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Community Based Organisation manager, Reckson Kajiaki. Photo by Monica Evans \/ CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cItu adalah cara untuk membuktikan dirinya sebagai orang yang kuat secara fisik dan spiritual dan sebagai orang yang layak didengarkan ketika tiba saatnya bagi klan untuk membuat keputusan penting, seperti tentang tanah, pernikahan, perdagangan, perang, dan lain-lain. Jadi, yam lebih dari sekadar makanan dan &#8216;nilai&#8217;, tetapi melambangkan kepemilikan pengetahuan tradisional, yang memberikan kelayakan untuk dihormati ketika tiba waktunya untuk membuat keputusan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, ketika seorang pria datang ke sebuah pesta atau upacara dengan yam besar, \u201cdia merasa sangat bangga,\u201d kata Reckson Kajiaki, yang mengelola organisasi berbasis masyarakat di salah satu dari sepuluh zona dataran tinggi tersebut<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendapatkan yam raksasa biasanya tidak terjadi secara kebetulan. &#8220;Untuk mencapai ukuran ini, dibutuhkan banyak pekerjaan,&#8221; kata Kajiaki. Pertama, orang-orang membersihkan pohon dan semak di area yang ditentukan\u2014untuk menjaga kesuburan tanah, mereka cenderung merotasi tanaman mereka di area-area hutan sekunder yang berbeda, sehingga setiap petak lahan bisa subur kembali sebelum ditanami lagi. Hutan primer biasanya tidak menjadi target, tetapi seiring dengan terus bertambahnya populasi penduduk di Dataran Tinggi Managalas, mungkin ada lebih banyak tekanan untuk melakukannya\u2014salah satu alasan mengapa penyusunan rencana pengelolaan kawasan tersebut menjadi sangat penting.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menyiangi semak belukar merupakan pekerjaan seluruh anggota keluarga, kata Alking Fufus, yang memimpin Kelompok Teater Kuaefienami Managalas. \u201cMereka semua bekerja sama\u2014laki-laki menebang, perempuan membersihkan tanah, dan anak-anak memanjat pohon untuk memotong dahan,\u201d katanya. \u201cJika tidak ada bantuan dari anggota keluarga atau orang lain yang berkepentingan, Anda harus bekerja keras sendiri hingga seluruh kebun selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu lahannya bersih, para lelaki menggali lubang yang dalam di tanah dengan sekop atau tongkat panjang, mengisinya kembali dengan tanah lunak atau pelepah palem dan menanam benih yam (umbi kecil yang tumbuh menjadi tanaman baru)\u2014yang dipilih secara hati-hati dari tanaman yang tumbuh paling besar dan dipanen pada tahun sebelumnya\u2014di dalam lubang tanah tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemilihan waktu adalah hal yang penting. Yam perlu ditanam menjelang akhir musim kemarau\u2014Agustus hingga November\u2014dan mungkin perlu disiram jika hujan terlambat turun. Panen kemudian dilakukan setelah akhir musim hujan\u2014Maret hingga Juli. Malchus Kajia, yang mengepalai Managalas Conservation Foundation, menjelaskan bagaimana menurut pengetahuan tradisional, yam tumbuh paling baik jika terjadi badai petir besar selama musim hujan setelah benih itu ditanam, karena gemuruh guntur menyebabkan benih yam &#8220;melompat keluar dari kulitnya&#8221; dan mulai menumbuhkan akar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.forestsnews.org\/88884\/jalan-berliku-menuju-konservasi-berbasis-masyarakat-di-papua-nugini?fnl=' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Jalan Berliku Menuju Konservasi Berbasis Masyarakat di Papua Nugini<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div>&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah tunas pertama muncul, para lelaki memotong batang-batang untuk menandai tempat mereka. &#8220;Kemudian, begitu gulma tumbuh, para perempuan berperan dalam menyiangi kebun itu,&#8221; kata Dabadaba. Para lelaki juga mengunjungi kebun secara berkala untuk memastikan yam itu punya ruang untuk tumbuh. &#8220;Saat tumbuh, Anda perlu terus menggali tanah di sekitarnya sehingga tanah cukup lunak agar yam dapat tumbuh lebih panjang dan lebih lebar,&#8221; ujar Kajiaki.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada juga praktik-praktik khusus yang dilakukan di tempat tertentu. Sebagian orang memanen daun tanaman yang tumbuh di sekitar mata air suci dan menaruhnya di sekitar tanaman yam\u2014\u201citu seperti kekuatan ajaib yang membuat yam itu tumbuh,\u201d kata Kajiaki. Sebagian orang akan merendam kulit pohon lokal dalam air selama beberapa bulan, lalu menyiramkannya ke tanaman tersebut. Sebagian lainnya menggunakan kekuatan pelindung dari jenis akar tertentu: \u201cSebagian orang datang dan menghancurkan [tanaman yam milik orang lain] agar yam orang lain tidak tumbuh besar, jadi mereka menggunakannya di sana untuk melindungi yam mereka,\u201d kata Fufus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebulan setelah perjalanan saya ke Managalas, saat saya pulang ke rumah di Selandia Baru, sebuah foto muncul di ponsel saya: seorang pria bertopi bisbol dan celana pendek denim berdiri di samping yam terbesar yang pernah saya lihat\u2014tampaknya hampir dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya. Keterangan dari Kajiaki berbunyi sebagai berikut: \u201cYam ini berasal dari Desa Manusi, digali oleh John Saks, 35 tahun. Ini adalah yam terpanjang yang pernah ada di Yombu: 2,75 meter.\u201d Pria itu tersenyum bangga: ia telah mendapatkan rasa hormat atas jerih payahnya\u2014dan semua orang akan memakan yam itu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter wp-image-92652\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"400\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-300x400.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-92652\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-300x400.jpeg 300w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-311x415.jpeg 311w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-135x180.jpeg 135w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-450x600.jpeg 450w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-610x813.jpeg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-335x446.jpeg 335w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam-585x780.jpeg 585w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/John-Saks-of-Manusi-Village-holds-up-his-2.75-metre-yam.jpeg 810w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">John Saks of Manusi Village holds up his 2.75 metre yam. Photo by <span style=\"font-weight: 400;\">Kajiaki<\/span><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Cerita ini adalah bagian kedua dari satu seri cerita soal yam. <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/92710\/menara-ubi-managalas-bagian-1?fnl=id\">Baca Bagian 1<\/a> di sini untuk mengetahui seperti apa upacara mahar\u2014menara yam raksasa dan sebagainya!<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan hubungi William Unsworth (CIFOR-ICRAF): <strong data-start=\"260\" data-end=\"290\" data-is-last-node=\"\"><a class=\"cursor-pointer\" rel=\"noopener\" data-start=\"262\" data-end=\"288\">w.unsworth@cifor-icraf.org<\/a><\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cMereka tidak akan pernah hidup tanpa yam.\u201d Di Papua Nugini (PNG), yam merupakan sahabat purba. Manusia pertama yang tiba di Pulau Papua membawanya saat mereka bermigrasi dari Asia sekitar 50.000 tahun lalu, dan yam kemudian menjadi bagian dari budaya di sana sejak saat itu Disebut juga sebagai yam besar, Dioscorea alata, yam tru dalam bahasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":92646,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12038,12057,12105,12065],"tags":[11957,11983,11982],"language":[2171],"location":[12340],"tag-bahasa":[11991,11990,11986],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3095],"type-english":[2428],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-92754","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agroforestri","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","category-makanan-diet","tag-managalas-plateau","tag-png","tag-yam","language-bahasa-indonesia","location-papua-new-guinea","tag-bahasa-dataran-tinggi-managalas","tag-bahasa-mangalas","tag-bahasa-png","type-bahasa-foto-esai","type-english-photo-essay"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"\u201cMereka tidak akan pernah hidup tanpa yam.\u201d Di Papua Nugini (PNG), yam merupakan sahabat purba. Manusia pertama yang tiba di Pulau Papua membawanya saat mereka bermigrasi dari Asia sekitar 50.000 tahun lalu, dan yam kemudian menjadi bagian dari budaya di sana sejak saat itu Disebut juga sebagai yam besar, Dioscorea alata, yam tru dalam bahasa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-01T06:20:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-04T09:11:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0152-scaled.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1708\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini\",\"datePublished\":\"2025-07-01T06:20:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T09:11:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2\"},\"wordCount\":1074,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/IMG_0152-scaled.jpeg\",\"keywords\":[\"Managalas Plateau\",\"PNG\",\"Yam\"],\"articleSection\":[\"agroforestri\",\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\",\"Makanan &amp; diet\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2025\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2\",\"name\":\"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/IMG_0152-scaled.jpeg\",\"datePublished\":\"2025-07-01T06:20:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T09:11:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/IMG_0152-scaled.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/IMG_0152-scaled.jpeg\",\"width\":2560,\"height\":1708},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92754\\\/yam-towers-managalass-part2-2#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini","og_description":"\u201cMereka tidak akan pernah hidup tanpa yam.\u201d Di Papua Nugini (PNG), yam merupakan sahabat purba. Manusia pertama yang tiba di Pulau Papua membawanya saat mereka bermigrasi dari Asia sekitar 50.000 tahun lalu, dan yam kemudian menjadi bagian dari budaya di sana sejak saat itu Disebut juga sebagai yam besar, Dioscorea alata, yam tru dalam bahasa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2025-07-01T06:20:13+00:00","article_modified_time":"2025-09-04T09:11:06+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1708,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0152-scaled.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini","datePublished":"2025-07-01T06:20:13+00:00","dateModified":"2025-09-04T09:11:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2"},"wordCount":1074,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0152-scaled.jpeg","keywords":["Managalas Plateau","PNG","Yam"],"articleSection":["agroforestri","Bentang alam","Hutan masyarakat","Makanan &amp; diet"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2025","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2","name":"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0152-scaled.jpeg","datePublished":"2025-07-01T06:20:13+00:00","dateModified":"2025-09-04T09:11:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0152-scaled.jpeg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0152-scaled.jpeg","width":2560,"height":1708},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Raksasa yang tumbuh: Bagaimana yam membentuk identitas, pengetahuan, dan kekuasaan di Papua Nugini"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92754\/yam-towers-managalass-part2-2#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG_0152-scaled.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92754","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92754"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92754\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":150981,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92754\/revisions\/150981"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92646"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92754"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=92754"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=92754"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=92754"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=92754"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=92754"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=92754"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=92754"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=92754"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=92754"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=92754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}