{"id":92015,"date":"2025-04-18T02:05:17","date_gmt":"2025-04-17T19:05:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=92015"},"modified":"2025-08-04T08:17:55","modified_gmt":"2025-08-04T01:17:55","slug":"penggurunan-meluas-perempuan-melawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan","title":{"rendered":"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik."},"content":{"rendered":"<p>Wilayah Sahel \u2014 sabuk rapuh yang membentang melintasi Afrika \u2014 merupakan salah satu ekosistem paling rentan di dunia. Wilayah ini terus berada dalam kondisi genting karena menghadapi krisis lingkungan yang semakin parah, di mana perubahan iklim mempercepat proses penggurunan, deforestasi, dan degradasi lahan.Dampak ini telah mengubah hidup jutaan orang, dan perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak, padahal mereka memegang peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi di kawasan tersebut.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi tantangan yang terus berlanjut ini, inisiatif <em>Great Green Wall (GGW)<\/em> semakin mendapat perhatian dan dukungan. Diluncurkan pada tahun 2007, upaya yang dipimpin oleh negara-negara Afrika ini bertujuan untuk memulihkan 100 juta hektar lahan terdegradasi dengan menanam \u2018dinding\u2019 pohon sepanjang sekitar 8.000 kilometer di wilayah Sahel, dari Senegal hingga Djibouti. Proyek ini dirancang untuk mengatasi degradasi lahan sekaligus menjawab isu-isu yang lebih luas seperti ketahanan pangan, konflik, dan perpindahan penduduk akibat perubahan iklim.<\/p>\n<p>Diskusi yang terus berlangsung yang difasilitasi oleh Centre for International Forestry Research dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) serta Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), yang didukung oleh Uni Eropa melalui program <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/k4ggwa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Knowledge for Great Green Wall Action (K4GGWA)<\/a>, telah menegaskan kembali peran penting perempuan dalam mencapai tujuan inisiatif ini.<\/p>\n<p>\u201cPerempuan sangat penting untuk memastikan bahwa GGW berkembang secara berkelanjutan,\u201d kata Emem Umoh, pendiri dan CEO dari Women in Nature Conservation Organisation (WINCO) di Nigeria. \u201cIni adalah contoh konkret bagaimana umat manusia dan alam bekerja sama untuk menciptakan warisan yang luar biasa bagi generasi mendatang.\u201d<\/p>\n<p>Perempuan mencakup lebih dari setengah dari 502 juta orang yang tinggal di 11 negara anggota GGW. Angka ini menunjukkan kehadiran yang besar sekaligus kesempatan penting untuk memastikan bahwa upaya lingkungan memperhatikan kebutuhan dan kontribusi perempuan.<\/p>\n<p>Niclas Gottmann, pejabat terkait kebijakan untuk lahan dan lingkungan di Komisi Eropa, menekankan pentingnya mengintegrasikan gender dalam semua aspek inisiatif ini. \u201cGreat Green Wall tidak akan berhasil tanpa kesetaraan gender sebagai inti dari intervensi kita,\u201d katanya, sambil menunjukkan inovasi luar biasa dan kepemimpinan yang sudah ditunjukkan oleh perempuan. <span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.forestsnews.org\/88425\/african-youth-unite-to-regreen-the-sahel?fnl=' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>African youth unite to regreen the Sahel<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<h3><strong>Tindakan kecil, berdampak besar<\/strong><\/h3>\n<p>Di seluruh Sahel, perempuan mengambil langkah-langkah konkret untuk membantu memulihkan lahan dan membangun komunitas yang tangguh. Di Nigeria, Umoh mendirikan taman biologis di komunitasnya di mana WINCO telah menanam lebih dari 500.000 bibit tanaman asli untuk tujuan restorasi dan mata pencaharian. Dia juga mendirikan Forum Konservasi Komunitas Perempuan Ikot Akpabin (IkaWIC), platform konservasi pertama yang dipimpin perempuan pribumi di Nigeria.<\/p>\n<p>&#8220;Perempuan adalah bagian yang tangguh dan kuat dalam konservasi alam,&#8221; katanya, sambil menambahkan bahwa ia berkomitmen untuk melatih perempuan lain dalam pertanian ramah iklim dan kegiatan yang bisa meningkatkan pendapatan seperti budidaya nangka<\/p>\n<p>Di Niger, Hadizatou Hamidou, presiden Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) Jupem-Aimane, memimpin upaya pemulihan tanah dan telah membantu mendirikan kebun pasar yang dikelola oleh dan untuk perempuan.<\/p>\n<p>Di Burkina Faso, perusahaan yang dipimpin perempuan, BIOPROTECT, memproduksi biopestisida dan peningkat tanah organik dari sisa-sisa ternak dan bahan alami lainnya untuk menggantikan pupuk kimia. Sejak diluncurkan pada 2011, perusahaan ini telah mendaur ulang lebih dari 15.000 ton limbah hewan.<\/p>\n<p>\u201cJika kita tidak mengambil tindakan, limbah ini bisa sangat berbahaya bagi alam,\u201d kata Martine Bonkoungou Sawadogo, Direktur Pengadaan BIOPROTECT. \u201cKami menggunakan kompos ini untuk menanam pohon.\u201d<br \/>\n<span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.forestsnews.org\/91134\/the-urgent-case-for-native-trees?fnl=' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>The urgent case for native trees<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<p>Untuk memperkuat upaya mereka, perempuan di seluruh wilayah ini saling terhubung melalui inisiatif seperti Women Green Platform, yang didirikan oleh Ke\u00efta A\u00efda M\u2019Bo, presiden ENERGIA yang berbasis di Mali dan mantan Menteri Lingkungan Hidup. Platform ini menyediakan berbagai sarana bagi perempuan untuk berinteraksi, berbagi pengetahuan, dan memperjuangkan hak mereka dalam kerangka inisiatif Great Green Wall (GGW).<\/p>\n<p>\u201cPlatform ini memberi akses perempuan untuk bersuara di forum-forum di mana mereka seringkali dikesampingkan,\u201d kata M\u2019Bo. \u201cIni adalah fondasi bagi pemberdayaan ekonomi, sosial, dan politik perempuan di kawasan ini.\u201d<\/p>\n<p>Platform ini juga mendorong penguatan kapasitas, dialog kebijakan, dan pertukaran informasi di bidang-bidang seperti pengelolaan lahan, keanekaragaman hayati, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.<\/p>\n<h3><strong>Tantangan yang terus berlanjut, harapan yang tetap hidup<\/strong><\/h3>\n<p>Meskipun semangat terus tumbuh, tantangan besar masih tetap  menghantui. Perempuan masih menghadapi hambatan dalam mengakses pembiayaan iklim, pelatihan, dan ruang pengambilan keputusan. Masih terdapat kesenjangan dalam menyelaraskan kebijakan gender nasional dengan strategi GGW, dan pengetahuan lokal sering kali belum diakui sepenuhnya.<\/p>\n<p>\u201cPerempuan harus diberi pelatihan untuk merancang inisiatif-inisiatif yang inovatif dan mengakses pembiayaan secara langsung,\u201d kata M\u2019Bo. \u201cMelewati faktor-faktor penghambat adalah kunci untuk mempercepat dampak.\u201d<\/p>\n<p>Ia mendorong adanya data yang lebih baik mengenai mekanisme pendanaan serta pendekatan yang lebih terstruktur untuk memperluas proyek-proyek yang telah berhasil, seperti Women Green Platform.<\/p>\n<p>Hadizatou Hamidou juga menekankan pentingnya investasi dalam rehabilitasi lahan, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan ramah lingkungan yang mendukung keberlanjutan serta kohesi sosial. \u201cMenggabungkan pengetahuan tradisional dengan inovasi sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem,\u201d ujarnya. \u201cMisalnya, petani kini menggunakan lubang za\u00ef dan bentuk setengah lingkaran untuk menanam tanaman sambil mengisi kembali air tanah.\u201d<\/p>\n<p>Para peserta terus menyerukan pemetaan jaringan perempuan, memperluas praktik restorasi lahan yang efektif, dan mendorong kemauan politik untuk mengintegrasikan perspektif perempuan dalam seluruh upaya Great Green Wall (GGW).<\/p>\n<p>Seperti yang disampaikan oleh Kessen Fatoumata Tall dari Asosiasi Mauritanienne pour l\u2019Environnement (AME \u2013 Mauritania untuk Linkungan Hidup) dan penulis bersama film pemenang penghargaan Timbuktu: \u201cOrang-orang sedang menunggu untuk mengetahui nasib mereka.\u201d<\/p>\n<p>Semakin lama, perempuanlah yang membantu membentuk masa depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wilayah Sahel \u2014 sabuk rapuh yang membentang melintasi Afrika \u2014 merupakan salah satu ekosistem paling rentan di dunia. Wilayah ini terus berada dalam kondisi genting karena menghadapi krisis lingkungan yang semakin parah, di mana perubahan iklim mempercepat proses penggurunan, deforestasi, dan degradasi lahan.Dampak ini telah mengubah hidup jutaan orang, dan perempuan menjadi salah satu kelompok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":470,"featured_media":92016,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105,12046],"tags":[6949,10952,1554],"language":[2171],"location":[12245],"tag-bahasa":[11947,11946],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[11146],"class_list":["post-92015","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","category-keadilan-gender-dan-tenur","tag-gender-and-landscapes","tag-great-green-wall","tag-reforestation","language-bahasa-indonesia","location-africa","tag-bahasa-great-green-wall","tag-bahasa-reforestation","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik. - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik.\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Wilayah Sahel \u2014 sabuk rapuh yang membentang melintasi Afrika \u2014 merupakan salah satu ekosistem paling rentan di dunia. Wilayah ini terus berada dalam kondisi genting karena menghadapi krisis lingkungan yang semakin parah, di mana perubahan iklim mempercepat proses penggurunan, deforestasi, dan degradasi lahan.Dampak ini telah mengubah hidup jutaan orang, dan perempuan menjadi salah satu kelompok [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-04-17T19:05:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T01:17:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/35898272123_f291ece377_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2047\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1278\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Amindeh Blaise\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan\"},\"author\":{\"name\":\"Amindeh Blaise\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/126ea055449c3ebcaf7ab797ffaef46e\"},\"headline\":\"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik.\",\"datePublished\":\"2025-04-17T19:05:17+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T01:17:55+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan\"},\"wordCount\":848,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/35898272123_f291ece377_k.jpg\",\"keywords\":[\"gender and landscapes\",\"Great Green Wall\",\"reforestation\"],\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\",\"keadilan, gender dan tenur\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2025\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan\",\"name\":\"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik. - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/35898272123_f291ece377_k.jpg\",\"datePublished\":\"2025-04-17T19:05:17+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T01:17:55+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/35898272123_f291ece377_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/35898272123_f291ece377_k.jpg\",\"width\":2047,\"height\":1278,\"caption\":\"Sahel, yang membentang seluas 5,4 juta km\u00b2, adalah zona transisi dengan vegetasi yang jarang antara gurun kering dan hutan tropis di Afrika. Foto oleh Daniel Tiveau \\\/ CIFOR-ICRAF.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/126ea055449c3ebcaf7ab797ffaef46e\",\"name\":\"Amindeh Blaise\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a9aad6d6c4e5fc4f4fb8b351fd5daf102c38ffd9c82875832d926d537545527d?s=96&d=mm&r=g93675512966ae1075a85b9eeced94771\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a9aad6d6c4e5fc4f4fb8b351fd5daf102c38ffd9c82875832d926d537545527d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a9aad6d6c4e5fc4f4fb8b351fd5daf102c38ffd9c82875832d926d537545527d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Amindeh Blaise\"},\"description\":\"Amindeh Blaise Atabong was born in Batouri, a town close to the lush bushlands within the species-rich Congo Basin. He grew up in Cameroon within this ecosystem and has since 2013 worked as a freelance journalist with a bias for environment and conservation reporting. Amindeh has written for respectable local, regional and international news outlets, amongst them Reuters, Mongabay, The Times UK, African Arguments and Equal Times. He has won many awards for his work including an African Climate Change and Environment Reporting (ACCER) Award by Pan-African Climate Justice Alliance (PACJA). Since 2020, he has been serving as editorial consultant for the Center for International Forestry Research (CIFOR).\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/amindeh\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/92015\\\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik. - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik.","og_description":"Wilayah Sahel \u2014 sabuk rapuh yang membentang melintasi Afrika \u2014 merupakan salah satu ekosistem paling rentan di dunia. Wilayah ini terus berada dalam kondisi genting karena menghadapi krisis lingkungan yang semakin parah, di mana perubahan iklim mempercepat proses penggurunan, deforestasi, dan degradasi lahan.Dampak ini telah mengubah hidup jutaan orang, dan perempuan menjadi salah satu kelompok [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2025-04-17T19:05:17+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T01:17:55+00:00","og_image":[{"width":2047,"height":1278,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/35898272123_f291ece377_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Amindeh Blaise","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan"},"author":{"name":"Amindeh Blaise","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/126ea055449c3ebcaf7ab797ffaef46e"},"headline":"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik.","datePublished":"2025-04-17T19:05:17+00:00","dateModified":"2025-08-04T01:17:55+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan"},"wordCount":848,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/35898272123_f291ece377_k.jpg","keywords":["gender and landscapes","Great Green Wall","reforestation"],"articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat","keadilan, gender dan tenur"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2025","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan","name":"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik. - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/35898272123_f291ece377_k.jpg","datePublished":"2025-04-17T19:05:17+00:00","dateModified":"2025-08-04T01:17:55+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/35898272123_f291ece377_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/35898272123_f291ece377_k.jpg","width":2047,"height":1278,"caption":"Sahel, yang membentang seluas 5,4 juta km\u00b2, adalah zona transisi dengan vegetasi yang jarang antara gurun kering dan hutan tropis di Afrika. Foto oleh Daniel Tiveau \/ CIFOR-ICRAF."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketika penggurunan semakin meluas, perempuan melawan balik."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/126ea055449c3ebcaf7ab797ffaef46e","name":"Amindeh Blaise","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a9aad6d6c4e5fc4f4fb8b351fd5daf102c38ffd9c82875832d926d537545527d?s=96&d=mm&r=g93675512966ae1075a85b9eeced94771","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a9aad6d6c4e5fc4f4fb8b351fd5daf102c38ffd9c82875832d926d537545527d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a9aad6d6c4e5fc4f4fb8b351fd5daf102c38ffd9c82875832d926d537545527d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Amindeh Blaise"},"description":"Amindeh Blaise Atabong was born in Batouri, a town close to the lush bushlands within the species-rich Congo Basin. He grew up in Cameroon within this ecosystem and has since 2013 worked as a freelance journalist with a bias for environment and conservation reporting. Amindeh has written for respectable local, regional and international news outlets, amongst them Reuters, Mongabay, The Times UK, African Arguments and Equal Times. He has won many awards for his work including an African Climate Change and Environment Reporting (ACCER) Award by Pan-African Climate Justice Alliance (PACJA). Since 2020, he has been serving as editorial consultant for the Center for International Forestry Research (CIFOR).","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/amindeh"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/92015\/penggurunan-meluas-perempuan-melawan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/35898272123_f291ece377_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92015","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/470"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92015"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92015\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92017,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92015\/revisions\/92017"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92015"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92015"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92015"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=92015"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=92015"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=92015"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=92015"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=92015"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=92015"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=92015"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=92015"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=92015"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=92015"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}