{"id":91871,"date":"2025-04-04T01:42:01","date_gmt":"2025-04-03T18:42:01","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=91871"},"modified":"2025-08-04T08:10:38","modified_gmt":"2025-08-04T01:10:38","slug":"konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini","title":{"rendered":"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini"},"content":{"rendered":"<p><strong>Apa yang membuat suatu daerah menjadi sebuah tempat?<\/strong><\/p>\n<p>Saat kita memberi nama pada suatu negara, bioregion, atau fitur geografis, kita cenderung membayangkannya sebagai sebuah &#8216;tempat&#8217; tersendiri. Namun, kenyataannya adalah bahwa lokasi di mana tempat-tempat itu berawal dan berakhir merupakan keputusan budaya, bervariasi tergantung pada siapa yang memanfaatkannya, dan hampir selalu menjadi bahan perdebatan.<\/p>\n<p>Kawasan Konservasi Managalas (MCA) membentang seluas 214.696 hektare di dataran tinggi berupa hutan dan padang rumput, di sisi utara jajaran pegunungan yang membentang di Pulau Papua. Kawasan ini dibagi secara geografis menjadi 11 zona dan dideklarasikan pada 2017 setelah proses pelibatan selama tiga dekade yang dipimpin oleh LSM Partners With Melanesians (PWM) yang berbasis di Port Moresby dengan pendanaan dari Rainforest Foundation Norway (RFN): sebuah pencapaian yang mengesankan untuk konservasi di negara yang sulit mendapatkan kesepakatan masyarakat atas penggunaan lahan berpenduduk yang begitu luas (<em>lihat grafik di halaman 16 <\/em><a href=\"https:\/\/pngbiodiversity.org\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/2021_PA-Forum_Summary_compressed.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>laporan forum keanekaragaman hayati ini<\/em><\/a>).<\/p>\n<p>Hanya 4% daratan Papua Nugini dan kurang dari 1% wilayah lautnya yang saat ini ditetapkan sebagai kawasan lindung: sebagaimana dicatat oleh spesialis Fiona Leverington selama forum tersebut, \u201cDeklarasi kawasan lindung berjalan sangat lambat, dengan hanya satu kawasan lindung besar [yaitu MCA] yang ditetapkan sejak 2010. Hal ini jauh dari target Konvensi Keanekaragaman Hayati (Aichi) yaitu 17% wilayah daratan dan 10% wilayah laut pada 2020, yang menjadi komitmen Papua Nugini (PNG).\u201d<span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.forestsnews.org\/91334\/aligning-to-target-2-champions-for-effective-restoration?fnl=en' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Champions for effective ecosystem restoration: Reflections and insights from four countries<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<p>Kunci untuk menciptakan MCA adalah \u2018pembuatan\u2019 identitas bersama pada skala zona dan dataran tinggi, yang memaksa orang-orang untuk membuat keputusan kolektif lintas batas sosiologis yang kompleks. Unit dasar organisasi sosial di PNG adalah klan dan klan yang berbeda sering kali memiliki budaya dan kepercayaan yang berbeda, berbicara dalam bahasa yang berbeda, dan mungkin memiliki sejarah persaingan dan perselisihan yang panjang. Dengan demikian, menyatukan orang-orang dari seluruh Dataran Tinggi Managalas untuk menyetujui batas-batas yang jelas untuk pembangunan\u2013seperti tidak mengizinkan penebangan, penambangan, atau pertanian skala besar\u2014merupakan gagasan baru, tetapi merupakan gagasan yang mendasar bagi jalan yang ditempuh.<\/p>\n<p>\u201cCara-cara tradisional dalam mengorganisasikan masyarakat tidak punya kapasitas inheren untuk mengorganisasikan masyarakat dengan wilayah yang lebih luas,\u201d kata Rune Paulsen, koordinator pendanaan utama RFN untuk pelibatan di Managalas pada 1998-2022. \u201cDan hal ini jelas dibutuhkan. Orang-orang ini hidup di alam di mana musuh berada di sisi lain bukit. Dan jika Anda berurusan dengan perusahaan penebangan dan perusahaan pertambangan, orang-orang di seberang bukit bukanlah masalahnya: masalahnya adalah orang-orang tidak bersatu dalam pikiran sehat terhadap pembangunan ini.\u201d<\/p>\n<p><strong>Kekuatan jumlah<\/strong><\/p>\n<p>Membangun rasa persatuan seperti itu memerlukan peningkatan kemampuan masyarakat untuk berkomunikasi dan membangun konsensus. PWM berupaya membantu membangunnya dengan sejumlah cara, termasuk dengan menciptakan struktur zona dan memfasilitasi diskusi di tingkat desa dan klan, kemudian di tingkat zona melalui organisasi berbasis masyarakat (CBO) dan akhirnya di tingkat lintas dataran tinggi, dalam bentuk &#8216;forum gabungan&#8217; tahunan. &#8220;Mendapatkan konsensus masyarakat tidaklah mudah, terutama jika itu adalah wilayah yang luas dengan banyak orang,&#8221; kata Vincent Manukayasi, anggota staf perintis PWM dan konsultan untuk Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF). \u201cSupaya itu tercapai, masyarakat perlu memahami konsepnya sebelum mereka menyepakatinya.&#8221;<\/p>\n<p>Program pembangunan konsensus dimulai pada 1996-7 di bagian timur Dataran Tinggi Managalas. \u201cKami harus menghabiskan waktu di satu tempat untuk membangun berbagai hal dengan benar, dan membuat orang-orang menyadari pekerjaan kami sebelum pindah ke tempat lain,\u201d jelas Manukayasi. \u201cHanya Zona 1 dan 2 yang terlibat pada tahap awal, dan secara bertahap zona-zona lain ikut bergabung dengan proyek ini.\u201d Namun, pilihan itu memengaruhi dinamika yang sedang berlangsung dari upaya-upaya di seluruh dataran tinggi tersebut. \u201cOrang-orang dari Barat selalu mengklaim bahwa proyek itu dimulai oleh mereka, sehingga itu adalah proyek mereka,\u201d kata Edwin Noaka, staf PWM yang paling lama bertugas, yang tinggal di sebuah desa dekat perbatasan MCA: hingga hari ini, banyak orang yang tinggal di bagian timur Dataran Tinggi Managalas mengatakan kepentingan mereka tidak cukup dipertimbangkan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_91766\" aria-describedby=\"caption-attachment-91766\" style=\"width: 566px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-91766\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-566x377.jpg\" alt=\"\" width=\"566\" height=\"377\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-800x533.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267949925_d74ed3076d_3k-1100x733.jpg 1100w\" sizes=\"auto, (max-width: 566px) 100vw, 566px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-91766\" class=\"wp-caption-text\">Sekelompok pemuda Managalas memegang tebu. Foto oleh Dean Arek \/ CIFOR-ICRAF.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pelibatan kelompok-kelompok marginal dalam setiap komunitas\u2014seperti perempuan dan anak muda\u2014merupakan pertimbangan utama lainnya untuk proses membangun konsensus. Untuk itu, PWM memperkenalkan program pemberdayaan gender dan berupaya melibatkan sebanyak mungkin kaum muda dalam pekerjaan ini. \u201cUpaya konservasi ini akan mati sejak dahulu, dan kemungkinan besar pada tahap awalnya, jika program-program pendukung ini tidak dijalankan,\u201d kata Jacinta Gure, direktur eksekutif sementara PWM, yang telah bergabung dengan organisasi tersebut sejak 2006. \u201cMereka semua berperan aktif dalam memastikan partisipasi semua sektor dan orang-orang di komunitas, dan bahwa ada manfaat nyata bagi komunitas atas partisipasi mereka.\u201d<\/p>\n<p><span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.forestsnews.org\/87779\/the-bumpy-road-to-community-conservation-in-papua-new-guinea?fnl=' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>The bumpy road to community conservation in Papua New Guinea<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<p>Mungkin rintangan terberat adalah pertentangan dari seorang pemimpin masyarakat dari satu zona, yang tidak setuju dengan viabilitas proyek MCA dan menolak proposal tersebut selama beberapa tahun. Politik internal yang berasal dari sejarah masyarakat Managalas yang mendalam dan kompleks sebelum intervensi juga menimbulkan tantangan bagi konsensus dan pengesahan, seperti individu-individu yang menolak untuk setuju dengan orang-orang lain karena percekcokan masa lalu, dan perselisihan tentang kepemilikan tanah dan batas-batas. Besarnya dan kompleksnya perselisihan masyarakat yang mendalam ini sulit dipahami oleh orang luar.<\/p>\n<p>Mengingat tantangan-tantangan ini, kesepakatan akhir mengenai MCA merupakan momen yang penting. \u201cManagalas adalah kawasan konservasi yang sangat besar, dan PWM mampu memperoleh konsensus dari kawasan yang sangat besar tersebut\u2014bekerja sama dengan semua masyarakat melalui forum-forum gabungan tempat masyarakat mengemukakan masalah-masalah dan mengidentifikasi solusi melalui kemitraan dengan para pemangku kepentingan lainnya\u2014merupakan kisah yang positif,\u201d kata Zola Sangga, mantan anggota dewan PWM.<\/p>\n<p>Seperti yang disampaikan Reckson Kajiaki, manajer CBO Zona 8, kekuatan kolektif yang lebih besar telah membuktikan kemampuannya untuk memengaruhi pengambilan keputusan tentang praktik penggunaan lahan yang merusak dan ekstraktif. \u201cAda perusahaan penebangan yang ingin masuk ke sini, tepat di belakang Zona Lima,\u201d katanya. \u201cDan satu kelompok orang setuju agar mereka datang ke area tersebut dan menebang, tetapi kemudian kami berkata \u2018tidak, Anda hanya kelompok kecil di sana dan kelompok yang lebih besar berkata tidak\u2019\u201d. Proyek tersebut tidak dilanjutkan. <span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.forestsnews.org\/90538\/playing-it-out-why-theatre-matters-for-conservation-on-the-managalas-plateau?fnl=' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Playing it out: Why theatre matters for conservation on the Managalas Plateau<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<p><strong>Berbagi hasil<\/strong><\/p>\n<p>Proses MCA telah menimbulkan dilema pembagian manfaat di antara suku-suku di Dataran Tinggi Managalas, yang heterogen dalam hal ukuran tanah, akses ke sumber daya alam, aksesibilitas, dan layanan dasar. &#8220;Kami ingin melihat bahwa untuk segala bentuk pembangunan, setiap zona harus berbagi layanan yang tersedia,&#8221; kata Malchus Kajia, ketua LSM lokal Managalas Conservation Foundation (MCF) dan pendukung MCA sejak awal.<\/p>\n<blockquote><p><strong>\u201cApa pun yang datang harus diterima oleh kami semua. Kami ingin melihat kami semua bertumbuh, sehingga tidak ada yang miskin, tidak ada yang kaya, kami semua bekerja sama untuk menerima pelayanan.\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p>Namun, masyarakat di daerah yang lebih terpencil di Dataran Tinggi Managalas\u2014dan mereka yang baru-baru ini bergabung dengan proyek tersebut\u2014merasa, dan sering kali terus merasa, dikecualikan dari manfaat yang dibawa oleh proyek tersebut. Hal ini tidak mengherankan, karena jauh lebih sulit, mahal, dan memakan waktu bagi mitra yang bepergian masuk dan keluar dataran tinggi itu untuk menjangkau mereka atau mendukung pengiriman barang mereka ke pasar, dibandingkan dengan zona yang dekat dengan jalan raya dan landasan udara. Namun, tantangannya tetap ada. &#8220;Itulah salah satu persoalan terbesar,&#8221; kata Kajiaki. &#8220;Mereka merasa tersisih, benar-benar tersisih.&#8221;<\/p>\n<figure id=\"attachment_91767\" aria-describedby=\"caption-attachment-91767\" style=\"width: 850px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-91767\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-566x318.jpg\" alt=\"\" width=\"850\" height=\"478\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-566x318.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-738x415.jpg 738w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-220x124.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-1536x863.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-2048x1151.jpg 2048w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-800x450.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-610x343.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-672x378.jpg 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-365x205.jpg 365w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54267770304_ec72314805_3k-1100x618.jpg 1100w\" sizes=\"auto, (max-width: 850px) 100vw, 850px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-91767\" class=\"wp-caption-text\">Pemandangan udara Desa Serefuna di Kawasan Konservasi Managalas. Foto oleh Dean Arek \/ CIFOR-ICRAF.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Meski masyarakat terus belajar membuat keputusan secara efektif di tingkat yang lebih luas ini, loyalitas klan dan kekerabatan tetap menonjol. Sebagai contoh, penjelasan pemimpin masyarakat Lancelot Piritano tentang mengapa ia memutuskan untuk menandatangani nota kesepahaman untuk kawasan konservasi tersebut pada 2010 meski ia bersikap ambivalen terhadap proyek tersebut pada saat itu. \u201c[Sepupu saya] datang dan meminta saya untuk menandatangani nota kesepahaman, tetapi saya menolaknya empat kali,\u201d katanya. \u201cDan, pada kali kelima, ia mendekati saya dengan cara seperti sepupu, dan karena itu, saya menandatangani nota kesepahaman tersebut. Jadi saya seharusnya tidak menandatangani, tetapi karena dia, saya menandatanganinya.\u201d<\/p>\n<p>Kisahnya menyoroti sifat variatif dan relasional dari proses pembangunan konsensus di Managalas dan, bahkan, di seluruh PNG. Membangun konsensus tentu saja merupakan proses yang tidak sempurna dan berkelanjutan yang membutuhkan pemikiran kritis dan keterlibatan yang cermat di setiap langkah. Para mitra konservasi harus menyadari dampak dari menciptakan entitas dan skala pengambilan keputusan baru untuk tujuan pengelolaan berkelanjutan dan harus berusaha untuk bekerja di dalam dan di samping dinamika sosial dan budaya yang ada sebagaimana yang mereka jalani juga. Pekerjaan ini membutuhkan waktu\u2014dan, dengan demikian, membutuhkan pendanaan jangka panjang dan fleksibel. \u201cJenis konsensus konservasi ini tidak dapat dicapai dalam jangka waktu proyek tiga hingga lima tahun yang tipikal,\u201d kata Will Unsworth, seorang ilmuwan kehutanan di CIFOR-ICRAF yang memimpin proyek MCA yang didanai Uni Eropa itu. \u201cTanpa komitmen jangka panjang RFN, hal ini tidak akan pernah tercapai.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr \/>\n<p><em>Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan hubungi William Unsworth (CIFOR-ICRAF): <\/em><a href=\"mailto:w.unsworth@cifor-icraf.org\"><em>w.unsworth@cifor-icraf.org<\/em><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa yang membuat suatu daerah menjadi sebuah tempat? Saat kita memberi nama pada suatu negara, bioregion, atau fitur geografis, kita cenderung membayangkannya sebagai sebuah &#8216;tempat&#8217; tersendiri. Namun, kenyataannya adalah bahwa lokasi di mana tempat-tempat itu berawal dan berakhir merupakan keputusan budaya, bervariasi tergantung pada siapa yang memanfaatkannya, dan hampir selalu menjadi bahan perdebatan. Kawasan Konservasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":91872,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12038,12057,12114,12105],"tags":[47],"language":[2171],"location":[12340],"tag-bahasa":[2520,2741],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[2431],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-91871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agroforestri","category-bentang-alam","category-forests-news-id","category-hutan-masyarakat","tag-conservation","language-bahasa-indonesia","location-papua-new-guinea","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-papua-nugini","type-bahasa-berita","type-english-news"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Apa yang membuat suatu daerah menjadi sebuah tempat? Saat kita memberi nama pada suatu negara, bioregion, atau fitur geografis, kita cenderung membayangkannya sebagai sebuah &#8216;tempat&#8217; tersendiri. Namun, kenyataannya adalah bahwa lokasi di mana tempat-tempat itu berawal dan berakhir merupakan keputusan budaya, bervariasi tergantung pada siapa yang memanfaatkannya, dan hampir selalu menjadi bahan perdebatan. Kawasan Konservasi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-04-03T18:42:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T01:10:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1439\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini\",\"datePublished\":\"2025-04-03T18:42:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T01:10:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini\"},\"wordCount\":1404,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg\",\"keywords\":[\"conservation\"],\"articleSection\":[\"agroforestri\",\"Bentang alam\",\"Forests News\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2025\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini\",\"name\":\"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-04-03T18:42:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T01:10:38+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1439,\"caption\":\"Pemandangan udara Desa Serefuna di Kawasan Konservasi Managalas. Foto oleh Dean Arek \\\/ CIFOR-ICRAF.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/91871\\\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini","og_description":"Apa yang membuat suatu daerah menjadi sebuah tempat? Saat kita memberi nama pada suatu negara, bioregion, atau fitur geografis, kita cenderung membayangkannya sebagai sebuah &#8216;tempat&#8217; tersendiri. Namun, kenyataannya adalah bahwa lokasi di mana tempat-tempat itu berawal dan berakhir merupakan keputusan budaya, bervariasi tergantung pada siapa yang memanfaatkannya, dan hampir selalu menjadi bahan perdebatan. Kawasan Konservasi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2025-04-03T18:42:01+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T01:10:38+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1439,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini","datePublished":"2025-04-03T18:42:01+00:00","dateModified":"2025-08-04T01:10:38+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini"},"wordCount":1404,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg","keywords":["conservation"],"articleSection":["agroforestri","Bentang alam","Forests News","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2025","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini","name":"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg","datePublished":"2025-04-03T18:42:01+00:00","dateModified":"2025-08-04T01:10:38+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg","width":2560,"height":1439,"caption":"Pemandangan udara Desa Serefuna di Kawasan Konservasi Managalas. Foto oleh Dean Arek \/ CIFOR-ICRAF."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Membentuk Managalas: Konsensus konservasi di dataran tinggi Papua Nugini"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/91871\/konservasi-dataran-tinggi-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/54266640802_e6797597bd_o-scaled-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91871"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91871\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":91873,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91871\/revisions\/91873"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91871"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=91871"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=91871"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=91871"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=91871"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=91871"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=91871"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=91871"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=91871"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=91871"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=91871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}