{"id":90111,"date":"2024-11-01T15:03:04","date_gmt":"2024-11-01T08:03:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=90111"},"modified":"2025-09-04T14:45:17","modified_gmt":"2025-09-04T07:45:17","slug":"dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global","title":{"rendered":"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global"},"content":{"rendered":"<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Indonesia, rumah bagi hutan mangrove terbesar di dunia, akan memperkenalkan dokumen terobosan berupa manual pengukuran karbon biru nasional, beserta standar dan metodologi untuk sertifikasi proyek restorasi mangrove. Upaya ini, yang dipelopori oleh Pemerintah Indonesia, bertujuan untuk memanfaatkan potensi karbon biru yang sangat besar di negara ini dalam melawan perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p><strong>Pemimpin global dalam karbon biru<\/strong><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Untuk meningkatkan dan mengakselerasi aksi iklim terkait karbon biru mangrove di Indonesia\u2014negara dengan mangrove terkaya di dunia\u2014Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memprakarsai penyusunan dua dokumen: (i) Manual pengukuran karbon biru mangrove dan (ii) Standar dan metodologi untuk pengembangan dan sertifikasi proyek karbon biru mangrove. Upaya ini dilakukan bekerja sama dengan para peneliti dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF), yang menjadi bagian dari tim penyusun. Salah satu tahapan penyusunan dokumen tersebut adalah diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion\/FGD).<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_89964\" aria-describedby=\"caption-attachment-89964\" style=\"width: 267px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-89964 size-medium\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-267x400.jpg\" alt=\"\" width=\"267\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-267x400.jpg 267w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-277x415.jpg 277w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-768x1152.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-120x180.jpg 120w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-1024x1536.jpg 1024w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-1365x2048.jpg 1365w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-400x600.jpg 400w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-610x915.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-297x446.jpg 297w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-520x780.jpg 520w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0356-scaled.jpg 1707w\" sizes=\"auto, (max-width: 267px) 100vw, 267px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-89964\" class=\"wp-caption-text\">Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, memberikan arahan dalam penyusunan manual pengukuran karbon biru mangrove, beserta standar dan metodologi pengembangan dan sertifikasi proyek karbon biru mangrove. Foto oleh Gumilang Mula Putra Suhendar\/CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<p>Acara <em>FGD Pembahasan Manual Pengukuran Karbon Biru Mangrove untuk Mencapai FOLU Net Sink 2030<\/em>, yang diselenggarakan pada Oktober 2024, mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia yang akan berakhir masa jabatannya, Siti Nurbaya. Dalam sambutan pembukaan, Nurbaya mengakui kompleksitas dalam penyusunan dokumen manual dan standar ini, dengan menyebut tantangan dalam mengombinasikan kerangka kerja teoritis dengan data empiris dan pengalaman praktis untuk memastikan bahwa dokumen manual dan standar tersebut memungkinkan untuk diterapkan secara nasional.<\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">\u201cSaya mengapresiasi upaya kolaboratif lintas sektor dalam penyusunan Manual Pengukuran Karbon Biru Mangrove ini. Kegiatan ini, yang melibatkan kementerian, lembaga, mitra, dan para akademisi\u2014bersama Tim Kerja FOLU Net Sink 2030 Indonesia, IPB University, dan CIFOR-ICRAF\u2014telah memberikan landasan yang kokoh untuk memajukan pekerjaan kita dalam pengukuran karbon,\u201d kata Nurbaya. Ia berharap dokumen manual dan standar ini akan memberikan fondasi yang kokoh bagi tata kelola dan menjadi tolok ukur untuk standardisasi pelaksanaan proyek karbon biru mangrove di seluruh wilayah negeri ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Dengan hutan mangrove yang luas, Indonesia berada pada posisi unik untuk memainkan peran penting dalam upaya iklim global. Saat negara-negara di seluruh dunia berupaya memanfaatkan ekosistem karbon biru untuk memitigasi emisi karbon, negara ini siap memaksimalkan aset alamnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">\u201cSaya ingat Presiden Jokowi pernah menyatakan bahwa 80% potensi karbon biru negara kita kemungkinan besar berasal dari mangrove,\u201d ujar Ruandha Agung Sugardiman, Ketua Tim Kerja Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 Indonesia. Dalam sambutannya, Sugardiman menguraikan tujuan iklim Indonesia yang ambisius, dengan inisiatif FOLU NetSink 2030 bertujuan untuk memastikan serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya di negara ini akan melampaui emisinya pada tahun 2030.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_89965\" aria-describedby=\"caption-attachment-89965\" style=\"width: 566px\" class=\"wp-caption alignright\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-89965 size-medium\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-566x377.jpg\" alt=\"\" width=\"566\" height=\"377\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-800x533.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WCMC0448-1100x733.jpg 1100w\" sizes=\"auto, (max-width: 566px) 100vw, 566px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-89965\" class=\"wp-caption-text\">Ruandha Agung Sugardiman (kiri), Daniel Murdiyarso (tengah), dan Trialaksita Ardhani (kanan) memaparkan draf terbaru dokumen-dokumen yang mereka susun kepada para pemangku kepentingan dalam sebuah diskusi kelompok terpumpun pada 17 Oktober 2024. Foto oleh Gumilang Mula Putra Suhendar\/CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<p>Namun, terlepas dari potensi mangrovenya, pemerintah Indonesia saat ini belum memiliki data lengkap mengenai cadangan karbon biru yang terkandung dalam ekosistem tersebut. &#8220;Kami belum tahu secara pasti hutan mangrove mana yang menyimpan karbon paling banyak,&#8221; aku Sugardiman. &#8220;Jadi, manual ini penting untuk membuktikan kepada dunia bahwa karbon biru yang kami tawarkan itu nyata\u2014dan kami akan menyokongnya dengan peta yang terperinci.&#8221;<\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Metode yang terstandardisasi<\/span><\/b><\/p>\n<p>\u201cSelama diskusi, tim peneliti membagikan tiga hal untuk memajukan upaya karbon biru,\u201d kata Daniel Murdiyarso, Ilmuwan Utama CIFOR-ICRAF. \u201cPertama, draf manual pengukuran karbon biru mangrove, lalu draf standar dan metodologi untuk pengembangan dan sertifikasi proyek karbon biru di Indonesia. Terakhir, mereka meluncurkan <a href=\"https:\/\/restoremangrove.users.earthengine.app\/view\/i-mangrove\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">i-Mangrove<\/a>, platform daring inovatif yang mengumpulkan data tentang hilangnya mangrove dan peluang restorasinya.\u201d<\/p>\n<p>Manual baru ini bertujuan untuk menstandardisasi metode pengukuran karbon biru mangrove di Indonesia, dengan mengikuti pedoman Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Manual ini juga mengadopsi Guidelines Supplement for Wetlands, yang memastikan prinsip-prinsip transparansi, akurasi, kelengkapan, keterbandingan, dan konsistensi. Data dalam manual ini diambil dari berbagai sumber dokumen pemerintah, yang disesuaikan dengan faktor emisi Indonesia untuk mendukung target ambisius FOLU Net Sink 2030.<\/p>\n<figure id=\"attachment_89993\" aria-describedby=\"caption-attachment-89993\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-89993 size-medium\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/image002-300x400.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/image002-300x400.jpg 300w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/image002-311x415.jpg 311w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/image002-135x180.jpg 135w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/image002-450x600.jpg 450w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/image002-335x446.jpg 335w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/image002.jpg 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-89993\" class=\"wp-caption-text\">Tim peneliti CIFOR-ICRAF mengumpulkan sampel tanah untuk pengukuran cadangan karbon. Foto oleh Daniel Murdiyarso\/CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cKami tidak memasukkan serasah mangrove ke dalam perhitungan nekromassa karena sifatnya yang variatif dan interaksinya dengan pasang surut dan kepiting,\u201d kata Trialaksita Ardhani, Asisten Peneliti CIFOR-ICRAF yang turut berkontribusi dalam penyusunan manual ini. \u201cSelain itu, manual ini menekankan pentingnya pengambilan sampel tanah lebih dari 100 cm atau bisa mencapai 300 cm. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan memperoleh cadangan karbon tanah yang <em>underestimated<\/em>,\u201d lanjut Ardhani seraya menekankan pentingnya memperoleh data akurat untuk perhitungan karbon.<\/p>\n<p>\u201cUntuk perhitungan emisi karbon, bisa menggunakan metode stock-difference atau gain-loss, sebagaimana dipandu oleh IPCC, setelah data aktivitas diketahui,\u201d jelas Ardhani. \u201cKami juga memberikan contoh, termasuk cara menggunakan lembar kerja Microsoft Excel untuk membantu pengguna menghitung cadangan karbon dalam biomassa, nekromassa, dan tanah dengan mudah, yang pada akhirnya menghasilkan cadangan karbon ekosistem total.\u201d<\/p>\n<p>Murdiyarso juga menjelaskan isi draf Standar dan metodologi untuk pengembangan dan sertifikasi proyek mangrove karbon biru. Draf tersebut menyoroti tiga elemen utama: (i) keselarasan dengan peraturan Indonesia, termasuk Sistem Registri Nasional dan Sertifikasi Penurunan Emisi GRK Indonesia, (ii) metodologi untuk menghitung <em>baseline <\/em>emisi dan penurunan emisi, dan (iii) integrasi standar internasional ke dalam kerangka kerja Indonesia.<\/p>\n<div class=\"cfs_loop_body open\">\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Selain itu, CIFOR-ICRAF juga telah mengkaji tiga standar dan metodologi untuk sertifikasi proyek karbon internasional: Verified Carbon Standard (VSC), Plan Vivo (PV), dan Emissions Reduction Fund (ERF).<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">\u201cMasing-masing punya fokusnya sendiri: VCS berorientasi pada penggunaan lahan, PV berfokus pada keterlibatan masyarakat, dan ERF cenderung digerakkan oleh pemerintah, dengan menekankan pada masyarakat adat,\u201d urai Murdiyarso. \u201cJadi, kami membahas poin-poin penting yang ada dalam tiga metodologi ini dan mengusulkan cara untuk menyelaraskannya ke dalam sistem Indonesia.\u201d<\/span><\/p>\n<blockquote><p>\u201cSaya sangat yakin bahwa karbon biru mangrove merupakan salah satu solusi utama untuk perubahan iklim,\u201d kata Murdiyarso. \u201cYang membedakan mangrove dengan lahan gambut adalah fungsi uniknya bagi komunitas, menawarkan peluang besar untuk meningkatkan mata pencaharian mereka.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p><span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=YrwRwJO5Hl8' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Watch also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>The vital role of wetlands in promoting biodiversity and tackling climate change<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<p><strong>Alat untuk masa depan<\/strong><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Dalam acara diskusi kelompok terpumpun ini, Sigit Deni Sasmito, peneliti senior di TropWATER, James Cook University, Australia, mendemonstrasikan cara penggunaan i-Mangrove. \u201cPlatform ini membantu mengimplementasikan aksi iklim terkait karbon biru mangrove Indonesia,\u201d papar Sasmito. \u201cFitur utamanya adalah mengidentifikasi area-area yang berpotensi untuk restorasi mangrove dan memetakan hilangnya mangrove di Indonesia antara tahun 2001 dan 2022. Selain itu, aplikasi ini menyediakan informasi hidrogeomorfik untuk area yang terdampak.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Menteri Siti Nurbaya memuji upaya kolaboratif dalam pembuatan manual ini, yang ia harapkan akan menjadi pedoman dan rujukan berharga bagi para praktisi, peneliti, dan pembuat kebijakan.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 13.5pt; color: #333333;\">Murdiyarso berharap manual ini, serta dokumen dan perangkat terkaitnya, akan menjadi warisan bagi generasi masa depan Indonesia. \u201cHutan mangrove adalah kekayaan alam Indonesia, permata, dan jantung bangsa. Ekosistem ini adalah tulang punggung bagi jutaan orang, dengan masyarakat dan keanekaragaman hayati setempat bergantung pada sumber dayanya,\u201d kata Murdiyarso. \u201cJadi, saat kita bersusah payah mengaduk-aduk lumpur atau mengukur diameter pohon mangrove [untuk menghitung cadangan karbonnya], mari kita ingat wajah-wajah manusia yang bergantung pada ekosistem ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia, rumah bagi hutan mangrove terbesar di dunia, akan memperkenalkan dokumen terobosan berupa manual pengukuran karbon biru nasional, beserta standar dan metodologi untuk sertifikasi proyek restorasi mangrove. Upaya ini, yang dipelopori oleh Pemerintah Indonesia, bertujuan untuk memanfaatkan potensi karbon biru yang sangat besar di negara ini dalam melawan perubahan iklim. Pemimpin global dalam karbon biru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":528,"featured_media":90115,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105,12085,12052],"tags":[825,12385,1812,12388],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[7690,2596],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[2423],"type-francais":[],"coauthors":[11733],"class_list":["post-90111","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","category-mangrove","category-pengelolaan-restorasi-hutan","tag-blue-carbon","tag-mangrove","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-blue-carbon","tag-bahasa-mangrove","type-english-event-coverage"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia, rumah bagi hutan mangrove terbesar di dunia, akan memperkenalkan dokumen terobosan berupa manual pengukuran karbon biru nasional, beserta standar dan metodologi untuk sertifikasi proyek restorasi mangrove. Upaya ini, yang dipelopori oleh Pemerintah Indonesia, bertujuan untuk memanfaatkan potensi karbon biru yang sangat besar di negara ini dalam melawan perubahan iklim. Pemimpin global dalam karbon biru [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-11-01T08:03:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-04T07:45:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/a-scaled-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Utomo Priyambodo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global\"},\"author\":{\"name\":\"Utomo Priyambodo\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f78278e3578aaa843d2aa5110a5e502\"},\"headline\":\"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global\",\"datePublished\":\"2024-11-01T08:03:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T07:45:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global\"},\"wordCount\":1156,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/a-scaled-1.jpg\",\"keywords\":[\"blue carbon\",\"blue carbon\",\"mangrove\",\"mangrove\"],\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\",\"mangrove\",\"Pengelolaan &amp; restorasi hutan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2024\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global\",\"name\":\"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/a-scaled-1.jpg\",\"datePublished\":\"2024-11-01T08:03:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T07:45:17+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/a-scaled-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/a-scaled-1.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1920,\"caption\":\"Pengukuran fluks gas rumah kaca (GRK) di Cagar Alam Pulau Dua, Banten, Indonesia. Foto oleh Phidju Sagala\\\/CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f78278e3578aaa843d2aa5110a5e502\",\"name\":\"Utomo Priyambodo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/47ca8ccff6f469919bf4cc8e211600d9e5ba1db4c4e46fc4991870e4e10b7f17?s=96&d=mm&r=g33a74087224cfa88df8875a0c3e7afbb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/47ca8ccff6f469919bf4cc8e211600d9e5ba1db4c4e46fc4991870e4e10b7f17?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/47ca8ccff6f469919bf4cc8e211600d9e5ba1db4c4e46fc4991870e4e10b7f17?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Utomo Priyambodo\"},\"description\":\"A science journalist and popular science writer based in Depok, Indonesia. A storyteller trying to encourage scientific temper among common people.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/utomo\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/90111\\\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global","og_description":"Indonesia, rumah bagi hutan mangrove terbesar di dunia, akan memperkenalkan dokumen terobosan berupa manual pengukuran karbon biru nasional, beserta standar dan metodologi untuk sertifikasi proyek restorasi mangrove. Upaya ini, yang dipelopori oleh Pemerintah Indonesia, bertujuan untuk memanfaatkan potensi karbon biru yang sangat besar di negara ini dalam melawan perubahan iklim. Pemimpin global dalam karbon biru [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2024-11-01T08:03:04+00:00","article_modified_time":"2025-09-04T07:45:17+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1920,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/a-scaled-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Utomo Priyambodo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global"},"author":{"name":"Utomo Priyambodo","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f78278e3578aaa843d2aa5110a5e502"},"headline":"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global","datePublished":"2024-11-01T08:03:04+00:00","dateModified":"2025-09-04T07:45:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global"},"wordCount":1156,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/a-scaled-1.jpg","keywords":["blue carbon","blue carbon","mangrove","mangrove"],"articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat","mangrove","Pengelolaan &amp; restorasi hutan"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2024","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global","name":"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/a-scaled-1.jpg","datePublished":"2024-11-01T08:03:04+00:00","dateModified":"2025-09-04T07:45:17+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/a-scaled-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/a-scaled-1.jpg","width":2560,"height":1920,"caption":"Pengukuran fluks gas rumah kaca (GRK) di Cagar Alam Pulau Dua, Banten, Indonesia. Foto oleh Phidju Sagala\/CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Terobosan penting untuk aksi iklim: Dokumen manual mangrove Indonesia menetapkan standar global"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f78278e3578aaa843d2aa5110a5e502","name":"Utomo Priyambodo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/47ca8ccff6f469919bf4cc8e211600d9e5ba1db4c4e46fc4991870e4e10b7f17?s=96&d=mm&r=g33a74087224cfa88df8875a0c3e7afbb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/47ca8ccff6f469919bf4cc8e211600d9e5ba1db4c4e46fc4991870e4e10b7f17?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/47ca8ccff6f469919bf4cc8e211600d9e5ba1db4c4e46fc4991870e4e10b7f17?s=96&d=mm&r=g","caption":"Utomo Priyambodo"},"description":"A science journalist and popular science writer based in Depok, Indonesia. A storyteller trying to encourage scientific temper among common people.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/utomo"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/90111\/dokumen-manual-mangrove-indonesia-menetapkan-standar-global#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/a-scaled-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90111","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/528"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90111"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90111\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":90117,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90111\/revisions\/90117"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/90115"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90111"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=90111"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=90111"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=90111"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=90111"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=90111"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=90111"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=90111"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=90111"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=90111"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=90111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}