{"id":89998,"date":"2024-10-25T16:47:49","date_gmt":"2024-10-25T09:47:49","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=89998"},"modified":"2025-09-04T14:45:17","modified_gmt":"2025-09-04T07:45:17","slug":"pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam","title":{"rendered":"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.5281\/zenodo.3237392\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">3,2 miliar orang terdampak oleh degradasi lahan.<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/linkinghub.elsevier.com\/retrieve\/pii\/S2542519624000421\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Lintasan pertumbuhan ekonomi menghadirkan risiko yang lebih besar dengan mengancam kestabilan komponen global<\/a>\u2014yakni, biosfer, iklim, kriosfer, serta siklus nutrisi dan air\u2014dengan populasi penduduk yang tinggal di wilayah historis yang terpinggirkan (misalnya, bekas koloni), terutama masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, berada dalam risiko yang sangat tinggi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/publications.iom.int\/books\/africa-migration-report-second-edition\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Konflik dan kekerasan tetap menjadi pendorong utama perpindahan dan migrasi di sub-Sahara Afrika<\/a> pada tahun 2022, diperburuk oleh meningkatnya guncangan dan bahaya iklim. Di situasi rentan\u2014baik yang disebabkan oleh konflik, bencana lingkungan, maupun tantangan tata kelola\u2014keputusan yang dibuat masyarakat saat ini tentang sumber daya alam, seperti pohon, turut membentuk ketahanan mereka di masa depan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S1877343513001255?via%3Dihub\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Bukti ilmiah sangat jelas<\/a>: pohon dan hutan berkontribusi pada ketahanan masyarakat.<\/p>\n<p>Pohon dan hutan menyediakan layanan ekosistem bagi masyarakat, baik di tingkat lahan maupun bentang alam. Mereka juga berkontribusi langsung pada fungsi ekologis tanah dan mengurangi dampak kegagalan panen selama kekeringan. Namun, meskipun bukti ini tidak diragukan, jalur untuk mewujudkan manfaat tersebut di konteks rentan jauh lebih kompleks daripada sekadar membangun kapasitas masyarakat dalam menanam pohon. Kesenjangan pengetahuan dan implementasi dalam strategi ketahanan berbasis pohon bukan terletak pada aspek teknis, melainkan pada dinamika sosialnya.<\/p>\n<p>Sebagai bagian dari konferensi tahunan interdisipliner tentang penelitian di bidang pertanian tropis dan subtropis, pengelolaan sumber daya alam, dan pembangunan pedesaan (Tropentag) yang diadakan pada bulan September tahun ini, panel <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/pt-br\/event\/tropentag-2024\/75010\/trees-people-and-choices-in-fragile-situations\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pohon, Masyarakat, dan Pilihan di Situasi Rentan<\/a> mempertemukan para ahli untuk membahas kompleksitas dalam mengintegrasikan solusi berbasis pohon ke dalam upaya pembangunan dan kemanusiaan, khususnya di konteks yang rentan.<\/p>\n<p>\u201cTantangannya adalah merancang dan menerapkan program kemanusiaan dan pembangunan yang menghasilkan bentang alam pertanian yang memanfaatkan layanan ekosistem dari pohon, agroforestri, dan integrasi tanaman-ternak,\u201d jelas Immaculate Edel, manajer proyek sistem pangan dan gizi di Center for International Forestry Research dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), saat membuka panel. \u201cKeberhasilan program restorasi sering kali bergantung pada pilihan masyarakat.\u201d<\/p>\n<p><strong>Meninjau Ulang Strategi Ketahanan<\/strong><\/p>\n<p>Di situasi rentan, di mana konflik, tekanan lingkungan, dan ketidakpastian mendominasi, penelitian tentang aspirasi masyarakat menyediakan sudut pandang penting untuk memahami kebutuhan dan harapan mereka akan masa depan. Namun, \u201cdalam kondisi seperti ini, kerentanan cenderung mempersempit ruang lingkup aspirasi, bergeser dari visi jangka panjang tentang stabilitas dan ketahanan ke kebutuhan mendesak saat ini,\u201d ujar Kai Mausch, ekonom senior CIFOR-ICRAF. \u201cDi wilayah kering, siklus ini tampak jelas: pohon ditebang untuk kayu, bahan bakar, dan arang, yang memicu hilangnya ekologi secara beruntun\u2014tanah terdegradasi, produktivitas menurun, dan kemiskinan serta konflik yang terus meningkat.\u201d<\/p>\n<figure id=\"attachment_89983\" aria-describedby=\"caption-attachment-89983\" style=\"width: 399px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-89983\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-566x377.jpg\" alt=\"\" width=\"399\" height=\"265\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-800x533.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/51663863448_230fd085b3_o-1100x733.jpg 1100w\" sizes=\"auto, (max-width: 399px) 100vw, 399px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-89983\" class=\"wp-caption-text\">Anggota komunitas menyiram tanaman di Zombe, Kabupaten Kitui &#8211; Kenya. Foto oleh Axel Fassio\/CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<p>Memahami bagaimana masyarakat mengelola lahan mereka, khususnya terkait daerah aliran sungai dan lahan pertanian, sangatlah penting. Tidak cukup hanya mempertimbangkan petak lahan secara terpisah; keputusan-keputusan tersebut harus dilihat sebagai bagian dari sistem ekologi yang lebih besar dan saling terkait. Ini memerlukan desain program berlapis yang dapat beradaptasi dan meningkat dari tingkat individu hingga keseluruhan bentang alam.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak bisa membangun ketahanan hanya dengan bekerja pada tingkat rumah tangga saja,\u201d kata Alex Aweiti, pemimpin agroekologi di CIFOR-ICRAF, menekankan perlunya riset dan diskusi pertanian untuk mengalihkan fokus dari intervensi di tingkat lahan menuju pendekatan yang lebih luas dan terpadu.<\/p>\n<p>Meminta masyarakat untuk menginvestasikan waktu dan usaha dalam kegiatan restorasi, seperti menanam dan mengelola jenis pohon tertentu, membutuhkan keyakinan dan kepercayaan bahwa mereka dan keluarga mereka akan mendapatkan manfaat di masa depan.<\/p>\n<p>Program restorasi harus dimulai dengan membangun kembali kepercayaan ini dan berinvestasi dalam pendekatan bentang alam yang memfasilitasi komunikasi, didasarkan pada pemahaman bersama dari berbagai aktor, negosiasi, serta perencanaan masa depan dan pengambilan keputusan manajemen sumber daya secara bersama. \u201cKarena itu, kita memerlukan program restorasi yang berorientasi pada tujuan,\u201d tegas Michael Hauser, ilmuwan sistem di Universitas BOKU dan rekan senior di CIFOR-ICRAF. \u201cRestorasi harus melampaui sekadar mengukur dampak seperti jumlah pohon yang ditanam atau hektar lahan yang dipulihkan.\u201d<\/p>\n<p>Mengadopsi solusi berbasis alam dan praktik pertanian ekologis bukanlah proses sederhana dan linear di mana seorang petani mempelajari dan menerapkan teknik baru. Sebaliknya, \u201ckeputusan sering kali melibatkan negosiasi dan kolaborasi di dalam rumah tangga,\u201d kata Mary Crossland, ilmuwan sistem penghidupan di CIFOR-ICRAF. \u201cDi banyak tempat, perempuan memiliki pengaruh terbatas dalam pengambilan keputusan tersebut dan sering kali kurang memiliki kuasa dalam berbagai konteks. Memahami dan menangani dinamika pengambilan keputusan di dalam rumah tangga sangatlah penting.\u201d<\/p>\n<p>Dengan beralih dari upaya yang responsif gender ke pendekatan yang transformatif gender, praktisi pembangunan dapat mengatasi akar penyebab ketidaksetaraan yang lebih mendalam, yang pada akhirnya menghasilkan program praktik pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan. <span class=\"label\"><div class='short-link'>\n\t\t\t<a class='GTMshortLink' href='https:\/\/www.cifor-icraf.org\/understanding-aspirations-timeline\/' target='_blank'>\n\t\t\t\t<span class='short-link__box'><span>Read also<\/span><\/span>\n\t\t\t\t<span class='short-link__desc'>Understanding the aspirations of rural households: A timeline<\/span>\n\t\t\t<\/a>\n\t\t<\/div><\/span><\/p>\n<div class=\"cfs_loop_body open\"><\/div>\n<figure id=\"attachment_89985\" aria-describedby=\"caption-attachment-89985\" style=\"width: 400px\" class=\"wp-caption alignright\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-89985\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-566x377.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"267\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-800x533.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/53717945954_3fda92ec06_o-1100x733.jpg 1100w\" sizes=\"auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-89985\" class=\"wp-caption-text\">Seorang petani dan keluarganya mencoba memulihkan lahan mereka melalui praktik agroforestri. Foto oleh Kelvin Trautman\/CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Menjembatani Kesenjangan Pengetahuan untuk Ketahanan<\/strong><\/p>\n<p>Mengintegrasikan aspirasi lokal, penelitian yang berfokus pada pengambilan keputusan, dan prinsip agroekologi muncul sebagai komponen kunci dalam membangun strategi ketahanan yang efektif di wilayah yang rentan. Dengan menangani kompleksitas pengambilan keputusan di berbagai tingkat, para panelis menyoroti potensi solusi berbasis pohon untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan. Memahami proses pengambilan keputusan di balik desain, implementasi, dan, pada akhirnya, adopsi program akan sangat penting.<\/p>\n<p>Panel diakhiri dengan diskusi tentang kesenjangan pengetahuan yang mendesak dan masa depan penelitian dalam strategi ketahanan berbasis pohon. Para pembicara menekankan perlunya lebih banyak bukti tentang bagaimana berbagai aktor\u2014pemerintah, masyarakat, dan individu\u2014mengambil keputusan di situasi rentan dan bagaimana keputusan ini mempengaruhi keberhasilan solusi berbasis alam. Integrasi aspirasi, penelitian yang berfokus pada keputusan, dan prinsip agroekologi muncul sebagai komponen kunci dalam mengembangkan strategi ketahanan yang efektif di konteks yang rentan.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi kompleksitas pengambilan keputusan di berbagai tingkat, panel mengidentifikasi perlunya lebih banyak penelitian dan program transdisipliner, yang secara eksplisit mengintegrasikan tiga belas prinsip agroekologi ke dalam bantuan kemanusiaan. Kemitraan antara para ahli teknis, pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat sangat penting untuk berhasil menerapkan inisiatif pembangunan ketahanan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>3,2 miliar orang terdampak oleh degradasi lahan. Lintasan pertumbuhan ekonomi menghadirkan risiko yang lebih besar dengan mengancam kestabilan komponen global\u2014yakni, biosfer, iklim, kriosfer, serta siklus nutrisi dan air\u2014dengan populasi penduduk yang tinggal di wilayah historis yang terpinggirkan (misalnya, bekas koloni), terutama masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, berada dalam risiko yang sangat tinggi. Konflik dan kekerasan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":117,"featured_media":90002,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12114,12105,12052],"tags":[437,12396],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[2481],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[2431],"type-francais":[],"coauthors":[1298],"class_list":["post-89998","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-forests-news-id","category-hutan-masyarakat","category-pengelolaan-restorasi-hutan","tag-agroforestry","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-agroforestri","type-english-news"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"3,2 miliar orang terdampak oleh degradasi lahan. Lintasan pertumbuhan ekonomi menghadirkan risiko yang lebih besar dengan mengancam kestabilan komponen global\u2014yakni, biosfer, iklim, kriosfer, serta siklus nutrisi dan air\u2014dengan populasi penduduk yang tinggal di wilayah historis yang terpinggirkan (misalnya, bekas koloni), terutama masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, berada dalam risiko yang sangat tinggi. Konflik dan kekerasan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-10-25T09:47:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-04T07:45:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Anja Gassner\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam\"},\"author\":{\"name\":\"Anja Gassner\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e\"},\"headline\":\"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam\",\"datePublished\":\"2024-10-25T09:47:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T07:45:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam\"},\"wordCount\":961,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/10\\\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg\",\"keywords\":[\"agroforestry\",\"agroforestry\"],\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Forests News\",\"Hutan masyarakat\",\"Pengelolaan &amp; restorasi hutan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2024\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam\",\"name\":\"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/10\\\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg\",\"datePublished\":\"2024-10-25T09:47:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-04T07:45:17+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/10\\\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/10\\\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707,\"caption\":\"Lanskap lahan kering dekat Kitui, Kabupaten Kitui \u2013 Kenya. Foto oleh Axel Fassio\\\/CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e\",\"name\":\"Anja Gassner\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=gbeeceef57e6cf13a6f1ace0726fc8a41\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Anja Gassner\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/anja-gassner\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89998\\\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam","og_description":"3,2 miliar orang terdampak oleh degradasi lahan. Lintasan pertumbuhan ekonomi menghadirkan risiko yang lebih besar dengan mengancam kestabilan komponen global\u2014yakni, biosfer, iklim, kriosfer, serta siklus nutrisi dan air\u2014dengan populasi penduduk yang tinggal di wilayah historis yang terpinggirkan (misalnya, bekas koloni), terutama masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, berada dalam risiko yang sangat tinggi. Konflik dan kekerasan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2024-10-25T09:47:49+00:00","article_modified_time":"2025-09-04T07:45:17+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Anja Gassner","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam"},"author":{"name":"Anja Gassner","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e"},"headline":"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam","datePublished":"2024-10-25T09:47:49+00:00","dateModified":"2025-09-04T07:45:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam"},"wordCount":961,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg","keywords":["agroforestry","agroforestry"],"articleSection":["Bentang alam","Forests News","Hutan masyarakat","Pengelolaan &amp; restorasi hutan"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2024","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam","name":"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg","datePublished":"2024-10-25T09:47:49+00:00","dateModified":"2025-09-04T07:45:17+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg","width":2560,"height":1707,"caption":"Lanskap lahan kering dekat Kitui, Kabupaten Kitui \u2013 Kenya. Foto oleh Axel Fassio\/CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pohon dan Hutan: Kontribusi terhadap Ketahanan Masyarakat di Situasi Rentan Alam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e","name":"Anja Gassner","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=gbeeceef57e6cf13a6f1ace0726fc8a41","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g","caption":"Anja Gassner"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/anja-gassner"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89998\/pohon-masyarakat-di-situasi-rentan-alam#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/51662825332_5e13706e99_o-scaled-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89998","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/117"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89998"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89998\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":90000,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89998\/revisions\/90000"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/90002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89998"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89998"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89998"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=89998"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=89998"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=89998"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=89998"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=89998"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=89998"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=89998"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=89998"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=89998"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=89998"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}