{"id":89548,"date":"2024-09-16T22:00:13","date_gmt":"2024-09-16T15:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=89548"},"modified":"2025-08-04T07:49:13","modified_gmt":"2025-08-04T00:49:13","slug":"hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat","title":{"rendered":"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat"},"content":{"rendered":"<p>Jika Anda tertarik pada isu-isu lingkungan global, mungkin Anda pernah mendengar klaim bahwa &#8220;wilayah Masyarakat Adat menyimpan 80% keanekaragaman hayati di bumi ini.&#8221; Angka ini sering muncul dalam artikel akademis, forum global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia, serta dokumen advokasi, menjadikannya bagian dari berbagai diskusi publik seolah-olah merupakan fakta yang tak terbantahkan.<\/p>\n<p>Namun, komentar terbaru di jurnal Nature mengungkapkan bahwa klaim tersebut tidak didukung oleh penelitian dan kemungkinan besar berasal dari kesalahan kutip. Para penulis, yang merupakan tim multidisiplin dari Institut Ilmu Lingkungan dan Teknologi di Universitas Aut\u00f2noma de Barcelona (ICTA-UAB), bersama dengan kelompok peneliti, praktisi, dan perwakilan Masyarakat Adat, menegaskan bahwa temuan ini tidak mengurangi pentingnya isu yang sering diangkat oleh angka tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Memang ada &#8216;banyak bukti yang menunjukkan bahwa Masyarakat Adat dan wilayah mereka sangat penting bagi keanekaragaman hayati dunia, sehingga penggunaan statistik yang tidak didukung seperti angka &#8216;80%&#8217; menjadi tidak perlu,'&#8221; kata \u00c1lvaro Fern\u00e1ndez-Llamazares, seorang ilmuwan di ICTA-UAB dan salah satu penulis artikel tersebut, dalam rilis pers.<\/p>\n<p>Contoh bukti tersebut mencakup fakta bahwa Masyarakat Adat mengelola atau memiliki hak atas sekitar seperempat permukaan tanah di Bumi, yang mencakup 37% dari sisa lahan alami di seluruh dunia dan sepertiga dari bentang alam hutan yang utuh di planet ini. Penurunan dan degradasi keanekaragaman hayati juga kurang parah di wilayah Masyarakat Adat dibandingkan dengan ekosistem serupa di tempat lain, bahkan di daerah yang mengalami konflik bersenjata. Wilayah Masyarakat Adat cenderung kurang berkembang untuk pertanian intensif dibandingkan dengan area lainnya dan memiliki lebih sedikit batasan penebangan lahan. Selain itu, lebih dari 2.500 spesies mamalia memiliki lebih dari 10% jangkauan mereka di wilayah Masyarakat Adat, mewakili sekitar 60% dari semua mamalia terestrial dengan data habitat yang dapat diandalkan.<\/p>\n<p>Penting untuk dicatat bahwa tidak ada angka di atas yang menyebutkan persentase keanekaragaman hayati global. Seperti yang dijelaskan oleh para penulis, keanekaragaman hayati pada dasarnya tidak dapat diukur atau dipetakan. Keanekaragaman hayati &#8220;mencakup jauh lebih banyak daripada sekadar jumlah spesies dan ekosistem, melibatkan pemahaman tentang keterkaitan kompleks antara manusia dan alam non-manusia,&#8221; tulis mereka.<\/p>\n<p>Joji Cari\u00f1o, salah satu penulis dan penasihat kebijakan senior di Forest Peoples Programme, mengungkapkan dalam siaran pers, \u201cKeterikatan semacam itu mungkin sangat sulit untuk dijelaskan dan dihitung, terutama dalam kaitannya dengan tanah adat.\u201d Dia menambahkan, \u201cKeanekaragaman hayati dan budaya di tanah leluhur dan perairan Masyarakat Adat telah berkembang bersama dari waktu ke waktu, didasari oleh hubungan hidup yang saling menguntungkan, kekerabatan, dan hubungan sakral.\u201d<\/p>\n\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_box related_promo_cbdcop16-id'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_fullwidth'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='bg_sevent_box'><img src='https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/IMG-20241004-WA0072.jpg'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent'>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_left'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text_heading'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/id\/event\/cifor-icraf-at-uncbd-cop16\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span class=\"sevent_main_heading\">CIFOR-ICRAF di UNCBD COP16<\/span><\/a><\/div>\r\n<div><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/id\/event\/cifor-icraf-at-uncbd-cop16\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mendukung keanekaragaman hayati: Mendanai hutan dan pohon\r\n<span class=\"sevent_sub_desc\">21 Oktober - 1 November 2024<\/span>\r\n<\/a><\/div>\r\n<div><\/div>\r\n<div><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/id\/event\/cifor-icraf-at-uncbd-cop16\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span class=\"sevent_view_link\">Lihat detail acara di sini<\/span><\/a><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t<style>\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .bg_sevent_box {\n\t\t\t\t\t\tposition: absolute;\n\t\t\t\t\t\ttop: 0;\n\t\t\t\t\t\theight: 230px;\n\t\t\t\t\t\tleft: -315px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .bg_sevent_box img{ height:100%; }\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent {\n\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0 auto;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 24px;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: bold;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: \"PT Serif\", serif;\n\t\t\t\t\t\tline-height: 30px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id a .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tcolor:#444;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_view_link{\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_aprs_logo{\n\t\t\t\t\t\tmargin-top: 16px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_sub_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 18px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t\tpadding-top:10px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_sub_desc{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 15px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_left{\n\t\t\t\t\t\tpadding-top: 35px;\n\t\t\t\t\t\tpadding-left: 35px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_right{\n\t\t\t\t\t\twidth:80%;\n\t\t\t\t\t\tpadding:20px 25px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\tbackground-color: #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-left: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-right: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tpadding:0px 0px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .bg_sevent_box {\r\n    height: 175px;\r\n    left: -210px;\r\n     width:auto;\r\n}\r\n\r\n\r\n.related_promo_cbdcop16-id .sevent_right{padding: 7px 25px;}\r\n.related_promo_cbdcop16-id .sevent_sub_heading{padding-top:5px;}\r\n.related_promo_cbdcop16-id .bg_sevent_box img {\r\n    \/* height: 100%; *\/ \r\n      height:160px;\r\n}\n\t\t\t\t\t@media all and (max-width: 767px){\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\t\tborder-left: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t\tborder-right: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_right {\n\t\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.sevent_main_heading br{\n\t\t\t\t\t\t\tdisplay:none;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_cbdcop16-id .sevent_aprs_logo img{\n\t\t\t\t\t\t\tmax-width:100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t<\/style>\n<figure id=\"attachment_89553\" aria-describedby=\"caption-attachment-89553\" style=\"width: 830px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-89553\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-566x378.jpg\" alt=\"\" width=\"830\" height=\"554\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-566x378.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-622x415.jpg 622w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36277407615_57cee3cd18_c.jpg 799w\" sizes=\"auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-89553\" class=\"wp-caption-text\">Seorang pria Timor Barat dengan tekstil tenun tradisional di kamp pemburu madu. Foto oleh Nanang Sujana\/CIFOR<\/figcaption><\/figure>\n<p>Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) mendefinisikan keanekaragaman hayati sebagai \u201cvariabilitas di antara organisme hidup dari semua sumber, termasuk ekosistem dan kompleks ekologi yang menjadi bagiannya,\u201d serta \u201ckeanekaragaman di dalam spesies, antar spesies, dan antar ekosistem.\u201d Para penulis menyatakan bahwa \u201ckompleksitas semacam itu tidak dapat dihitung, sehingga tidak mungkin ada inventarisasi komprehensif tentang unsur-unsur yang membentuk keanekaragaman hayati yang dapat dilakukan, atau jika dilakukan, akan memiliki makna.\u201d<\/p>\n<p>Angka 80% ini juga mengimplikasikan bahwa \u201ckarakterisasi keanekaragaman hayati harus sudah lengkap, baik secara global maupun di wilayah masyarakat adat,\u201d tulis mereka.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun demikian,\u201d tambah mereka, \u201cbagi para pemegang pengetahuan adat dan akademisi yang telah mengembangkan argumen tentang pentingnya konservasi global melalui tata kelola masyarakat adat, penelitian untuk mengkarakterisasi pola keanekaragaman hayati di wilayah masyarakat adat baru saja dimulai.\u201d<\/p>\n<p>Jadi, dari mana asal angka 80% ini, dan bagaimana angka ini dapat lolos dari begitu banyak peninjau sejawat dan pemeriksa fakta? \u201cIni sedikit misteri,\u201d kata Julia Fa, salah satu penulis dan profesor keanekaragaman hayati serta pembangunan manusia di Universitas Manchester Metropolitan, juga peneliti senior di Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF). \u201cSaya pikir angka ini telah disalahartikan.\u201d<\/p>\n<p>Angka tersebut pertama kali muncul dalam literatur akademis pada awal tahun 2000-an melalui klaim tanpa kutipan dalam laporan PBB dan Bank Dunia. Klaim ini mungkin merujuk secara tidak akurat pada berbagai studi lain yang diterbitkan pada waktu itu, yang menyebutkan angka &#8216;80%&#8217; yang berbeda, seperti pernyataan dalam edisi tahun 2000 dari Encyclopedia of Biodiversity yang menyebutkan bahwa \u201champir 80% dari ekoregion darat dihuni oleh satu atau lebih masyarakat adat.\u201d Meskipun asal usul kesalahpahaman ini masih belum jelas, angka tersebut tampaknya sering diulang di berbagai lingkaran terkemuka, sehingga dianggap sebagai kebenaran yang terpercaya.<\/p>\n<p>Fa mengakui sensitivitas politik dari artikel ini, mengingat popularitas angka tersebut sebagai pendukung argumen untuk hak-hak wilayah masyarakat adat. Proses konsultasi yang panjang dan lambat dengan berbagai masyarakat adat dan advokat lingkungan diperlukan untuk memastikan bahwa penerbitan artikel semacam itu tidak merusak apa yang telah mereka lakukan dan ingin lakukan.<\/p>\n<p>\u201cItu adalah dilema bagi kami,\u201d kata Fa. \u201cKami ingin setia pada data, tetapi pada saat yang sama, kami tahu bahwa ini mungkin merugikan advokasi untuk tanah dan masyarakat adat, yang tidak ingin kami lakukan.\u201d<\/p>\n<p>Namun, konsultasi tersebut mengungkapkan bahwa banyak advokat merasa tidak nyaman dengan angka tersebut dan menghindari mengutipnya. Tim ini akhirnya memutuskan bahwa perlu membahas masalah ini, karena pengulangan angka dengan dasar ilmiah yang meragukan dapat lebih merusak hak-hak masyarakat adat di masa depan.<\/p>\n<p>\u201cKami menginginkan pendekatan yang halus namun adil dalam menilai sains,\u201d kata Fa. \u201cKita tidak bisa hanya mengikuti populisme atau slogan. Kita harus setia pada apa yang dikatakan oleh data.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika Anda tertarik pada isu-isu lingkungan global, mungkin Anda pernah mendengar klaim bahwa &#8220;wilayah Masyarakat Adat menyimpan 80% keanekaragaman hayati di bumi ini.&#8221; Angka ini sering muncul dalam artikel akademis, forum global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia, serta dokumen advokasi, menjadikannya bagian dari berbagai diskusi publik seolah-olah merupakan fakta yang tak terbantahkan. Namun, komentar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":89551,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12114,12105],"tags":[4968,12528],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-89548","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-forests-news-id","category-hutan-masyarakat","tag-indigeneous-people","language-bahasa-indonesia"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jika Anda tertarik pada isu-isu lingkungan global, mungkin Anda pernah mendengar klaim bahwa &#8220;wilayah Masyarakat Adat menyimpan 80% keanekaragaman hayati di bumi ini.&#8221; Angka ini sering muncul dalam artikel akademis, forum global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia, serta dokumen advokasi, menjadikannya bagian dari berbagai diskusi publik seolah-olah merupakan fakta yang tak terbantahkan. Namun, komentar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-16T15:00:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T00:49:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36237733866_875753194f_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1152\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Forests News staff\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat\",\"datePublished\":\"2024-09-16T15:00:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat\"},\"wordCount\":859,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/36237733866_875753194f_k.jpg\",\"keywords\":[\"indigeneous people\",\"indigeneous people\"],\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Forests News\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat\",\"name\":\"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/36237733866_875753194f_k.jpg\",\"datePublished\":\"2024-09-16T15:00:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:13+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/36237733866_875753194f_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/36237733866_875753194f_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1152,\"caption\":\"Yoseph Taklale adalah anggota komunitas Soe Mutis yang mempraktikkan panen madu liar secara tradisional. Dia memegang Eucalyptus urophylla yang bunganya merupakan sumber makanan lebah. Mutis, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Foto oleh Aris Sanjaya\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/89548\\\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat","og_description":"Jika Anda tertarik pada isu-isu lingkungan global, mungkin Anda pernah mendengar klaim bahwa &#8220;wilayah Masyarakat Adat menyimpan 80% keanekaragaman hayati di bumi ini.&#8221; Angka ini sering muncul dalam artikel akademis, forum global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia, serta dokumen advokasi, menjadikannya bagian dari berbagai diskusi publik seolah-olah merupakan fakta yang tak terbantahkan. Namun, komentar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2024-09-16T15:00:13+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T00:49:13+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1152,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36237733866_875753194f_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Forests News staff","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat","datePublished":"2024-09-16T15:00:13+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat"},"wordCount":859,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36237733866_875753194f_k.jpg","keywords":["indigeneous people","indigeneous people"],"articleSection":["Bentang alam","Forests News","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat","name":"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36237733866_875753194f_k.jpg","datePublished":"2024-09-16T15:00:13+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:13+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36237733866_875753194f_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36237733866_875753194f_k.jpg","width":2048,"height":1152,"caption":"Yoseph Taklale adalah anggota komunitas Soe Mutis yang mempraktikkan panen madu liar secara tradisional. Dia memegang Eucalyptus urophylla yang bunganya merupakan sumber makanan lebah. Mutis, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Foto oleh Aris Sanjaya\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bijak Menggunakan Angka 80% untuk Mengukur Keanekaragaman Hayati di Wilayah Masyarakat Adat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/89548\/hentikan-penggunaan-angka-80-untuk-mengukur-keanekaragaman-hayati-di-wilayah-masyarakat-adat#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/36237733866_875753194f_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89548","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89548"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89548\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89680,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89548\/revisions\/89680"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89548"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89548"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89548"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=89548"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=89548"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=89548"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=89548"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=89548"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=89548"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=89548"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=89548"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=89548"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=89548"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}