{"id":87694,"date":"2024-05-27T10:44:01","date_gmt":"2024-05-27T03:44:01","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=87694"},"modified":"2025-08-04T07:49:15","modified_gmt":"2025-08-04T00:49:15","slug":"dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia","title":{"rendered":"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Analisis perubahan penggunaan lahan terbaru menunjukkan prospek yang menjanjikan untuk sektor kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia, dengan penekanan akan pentingnya praktik tanpa-deforestasi, perdagangan dan tata kelola yang kuat, serta perilaku konsumen ramah lingkungan dalam mengarahkan industri menuju keberlanjutan. Terlepas adanya kemajuan yang signifikan, tantangan terus hadir karena masih sebagian kecil minyak kelapa sawit yang dapat menembus pasar \u2018hijau\u2019, membuktikan adanya ketidakselarasan dengan inisiatif global atas perdagangan ramah lingkungan.<\/p>\n<p>Penelitian ini merupakan bagian dari <em>Trade, Development, and the Environment Hub <\/em>(<a href=\"http:\/\/tradehub.earth\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">TRADE Hub<\/a>)\u2014sebuah konsorsium penelitian global yang dipimpin oleh <em>UN Environment Program World Conservation Monitoring Centre<\/em> (<a href=\"https:\/\/www.unep-wcmc.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">UNEP WCMC<\/a>) dan didukung oleh <em>UK Research and Innovation Global Challenges Research Fund<\/em> (<a href=\"https:\/\/www.ukri.org\/what-we-do\/browse-our-areas-of-investment-and-support\/global-challenges-research-fund\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">GCRF UKRI<\/a>). Dimulai pada 2019, konsorsium ini berupaya memberikan terobosan dalam perdagangan komoditas utama pertanian dan produk satwa liar melalui praktik berkelanjutan.<\/p>\n<p>Proyek ini akan segera berakhir. Pada 19 Maret 2024, sekitar 200 peserta yang meliputi peneliti, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lainnya menghadiri acara penutupan TRADE Hub. Di Indonesia, konsorsium TRADE Hub meliputi perjalanan transformatif selama lima tahun yang bertujuan untuk menghadapi tantangan kompleks dalam perdagangan minyak kelapa sawit, kopi, dan satwa liar berkelanjutan. Di bawah ini, kami memaparkan temuan-temuan utama dari penelitian TRADE Hub pada dua sektor tersebut: kelapa sawit dan <em>songbird<\/em> atau burung kicau.<\/p>\n<p><strong>Menuju kelapa sawit berkelanjutan<\/strong><\/p>\n<p>Proyek riset TRADE Hub mengeksplorasi metode untuk menjadikan minyak kelapa sawit Indonesia lebih berkelanjutan melalui simulasi sistem rantai nilai dan konsultasi pemangku kepentingan yang komprehensif dengan lebih dari 600 peserta dari 270 institusi. \u201cUntuk benar-benar bergerak menuju perdagangan minyak kelapa sawit berkelanjutan, kita harus menerapkan prinsip-prinsip utama yang memenuhi kebutuhan inti industri dan pemangku kepentingannya,\u201d papar pemimpin studi Herry Purnomo, Ilmuwan Senior dan <em>Country Director <\/em>untuk Indonesia di <em>Center for International Forestry Research<\/em> dan <em>World Agroforestry<\/em> (<a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIFOR-ICRAF<\/a>).<\/p>\n<p>\u201cKita perlu memupuk forum dan kolaborasi multipihak yang lebih kuat,\u201d lanjutnya. \u201cDi lapangan, hal ini berarti konsumen harus memberikan insentif bagi produsen untuk mendukung keberlanjutan. Petani kecil harus menerapkan praktik berkelanjutan dan meningkatkan model bisnis mereka dengan dukungan yang memadai.\u201d Untuk mendukung transformasi ini, Herry memaparkan pentingnya kerangka akuntabilitas yang harmonis dan skema insentif yang adil.<\/p>\n<p><strong>Pembelajaran untuk perdagangan berkelanjutan<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/publications\/pdf_files\/articles\/AOkarda2201.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi<\/a> TRADE Hub lainnya, yang dipimpin oleh ilmuwan CIFOR-ICRAF, Beni Okarda, menampilkan temuan penting mengenai perdagangan burung kicau<em> <\/em>di Indonesia, yang  menunjukkan adanya pergeseran signifikan ke pasar <em>online<\/em> dan potensi pemelajaran mesin untuk memantau perdagangan ini.<\/p>\n<p>Di Indonesia, burung kicau<em> <\/em>bukan hanya sekadar hewan peliharaan tetapi merupakan bagian penting dari praktik budaya, khususnya di Pulau Jawa. Namun, perdagangan ini mengancaman keanekaragaman hayati dan berkontribusi terhadap penurunan populasi burung kicau<em> <\/em>liar. Dari 2007-2018, jumlah pemelihara burung kicau<em> <\/em>di Pulau Jawa meningkat lebih dari dua kali lipat, dari <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S2351989422002827\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">14,2 persen menjadi 31,9 persen<\/a>, sebagian besar didorong oleh popularitas kontes burung kicau.<\/p>\n<p>Jika sebelumnya penelitian dilakukan di dalam lingkungan pasar tradisional atau <em>offline<\/em> di kota-kota besar, kini para peneliti beralih mempelajari perdagangan <em>online <\/em>yang sedang berkembang. Oleh karenanya, penelitian TRADE Hub menganalisa 371.301 iklan online yang tentang burung kicau, yang menampilkan 247 spesies dari 49 famili, dengan 80 persen di antaranya merupakan spesies asli Indonesia, dan enam persen dianggap &#8216;terancam&#8217;. Pulau Jawa muncul sebagai pusat pasar burung kicau<em> online<\/em>, dengan tampilan 91 persen iklan. Sebagian besar penjual teridentifikasi sebagai penggemar dan peternak, dan sebagian kecil merupakan pedagang profesional. Sebagian besar burung yang diiklankan berhubungan dengan kontes, dan sebagian besar (79 persen) burung asli yang diiklankan berasal dari penangkaran.<\/p>\n<p>Melihat pentingnya perdagangan burung kicau<em>, <\/em>baik secara ekonomi maupun budaya, Okarda mengatakan bahwa tidak mungkin untuk menghentikan perdagangan ini sepenuhnya; sebaliknya, ia menggarisbawahi perlunya platform pemantauan yang kuat dan efektif untuk memastikan perdagangan dapat berlanjut secara berkelanjutan. Studi ini menyoroti efektivitas pemelajaran mesin dalam mengungkap pola perdagangan<em> online,<\/em> dan menunjukkan bahwa pemantauan digital dapat melengkapi metode tradisional. Dengan meningkatnya penggunaan pemelajaran mesin dan <em>big data, <\/em>ada harapan untuk mencapai keseimbangan antara praktik budaya dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia, yang berpotensi menjadi tolak ukur dalam pemantauan perdagangan satwa liar di seluruh dunia.<\/p>\n<p><strong>Menengok ke belakang, memandang ke depan: Kemenangan dalam pemberdayaan dan keberlanjutan masyarakat<\/strong><\/p>\n<p>Secara keseluruhan, TRADE Hub global di Indonesia menghasilkan serangkaian temuan ilmiah, mulai dari inisiatif perdagangan ramah lingkungan yang memberikan manfaat bagi lanskap hutan dan masyarakat hingga pedoman teknis dan perangkat digital untuk menyebarkan pengetahuan.<\/p>\n<p>Dida Gardera dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menyoroti peran penting minyak kelapa sawit dan kopi dalam perekonomian negara, serta menekankan pentingnya praktik berkelanjutan di tengah meningkatnya tantangan lingkungan dan perdagangan. \u201cTRADE Hub merupakan bukti komitmen Indonesia dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Upaya CIFOR untuk memfasilitasi petani kecil kelapa sawit mandiri dan program kerja sama <em>Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia<\/em> dengan petani kopi di Lampung menyoroti komitmen TRADE Hub terhadap penelitian tindakan. Sementara itu, mitra akademis seperti Universitas Indonesia dan IPB University berkontribusi melalui studi mengenai pembiayaan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas komunitas sains, yang menggambarkan pendekatan multi-sisi untuk mengatasi tantangan lingkungan dan perdagangan.<\/p>\n<p>Tindakan di lapangan, seperti dukungan terhadap produksi kopi bebas deforestasi dan pemantauan <em>online <\/em>terhadap perdagangan burung kicau<em>,<\/em> menunjukkan pendekatan komprehensif terhadap konservasi lingkungan. Inisiatif-inisiatif ini mengatasi tantangan ekologi yang mendesak dan memberdayakan masyarakat lokal untuk mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan.<\/p>\n<p>Seiring dengan berakhirnya proyek TRADE Hub di Indonesia, warisannya bertahan, dalam bentuk pengetahuan yang dibagikan, praktik yang dibangun, dan kemitraan yang terbentuk. Rogier Klaver, yang memimpin unit manajemen proyek CIFOR-ICRAF, menekankan peran proyek TRADE Hub dalam mendorong integrasi yang lebih dalam antara kehutanan dan agroforestri, yang menandakan visi yang lebih luas dalam menghubungkan ekosistem, ekonomi, dan komunitas melalui pepohonan. \u201cTRADE Hub telah meningkatkan pemahaman kita mengenai perdagangan berkelanjutan dan membuka jalan bagi inovasi masa depan dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan sosial-ekonomi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Mewakili UNEP-WCMC, Neil Burgess memuji pencapaian TRADE Hub di Indonesia, mulai dari peningkatan kapasitas ilmiah hingga memengaruhi kebijakan dan meningkatkan mata pencaharian. \u201cDampak proyek ini melampaui jangka waktu yang telah ditetapkan, sehingga menjadi preseden bagi penelitian dan pengambilan kebijakan di masa depan dalam perdagangan berkelanjutan.\u201d<\/p>\n<p><strong>Ucapan terima kasih<\/strong><\/p>\n<p><em>Hasil penelitian ini didanai oleh UK Research and Innovation Global Challenges Research Fund (UKRI GCRF) di bawah proyek Trade, Development, and the Environment Hub.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisis perubahan penggunaan lahan terbaru menunjukkan prospek yang menjanjikan untuk sektor kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia, dengan penekanan akan pentingnya praktik tanpa-deforestasi, perdagangan dan tata kelola yang kuat, serta perilaku konsumen ramah lingkungan dalam mengarahkan industri menuju keberlanjutan. Terlepas adanya kemajuan yang signifikan, tantangan terus hadir karena masih sebagian kecil minyak kelapa sawit yang dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":87727,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105],"tags":[10909,10907,10908,11652,11648],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[10872,2616,2514,7014,10695],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7230],"class_list":["post-87694","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","tag-burung-kicau","tag-kelapa-sawit","tag-kopi","tag-perdagangan-komoditas","tag-trade-hub","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-burung-kicau","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-kopi","tag-bahasa-sawit","tag-bahasa-trade-hub","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Analisis perubahan penggunaan lahan terbaru menunjukkan prospek yang menjanjikan untuk sektor kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia, dengan penekanan akan pentingnya praktik tanpa-deforestasi, perdagangan dan tata kelola yang kuat, serta perilaku konsumen ramah lingkungan dalam mengarahkan industri menuju keberlanjutan. Terlepas adanya kemajuan yang signifikan, tantangan terus hadir karena masih sebagian kecil minyak kelapa sawit yang dapat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-05-27T03:44:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T00:49:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nabiha Shahab\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\"},\"headline\":\"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia\",\"datePublished\":\"2024-05-27T03:44:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia\"},\"wordCount\":984,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png\",\"keywords\":[\"burung kicau\",\"kelapa sawit\",\"kopi\",\"perdagangan komoditas\",\"trade hub\"],\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2024\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia\",\"name\":\"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png\",\"datePublished\":\"2024-05-27T03:44:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png\",\"width\":1200,\"height\":600,\"caption\":\"Potret kebun kelapa sawit, burung kicau, dan kopi. Foto oleh: CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\",\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nabiha Shahab\"},\"description\":\"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/nabiha-shahab\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/87694\\\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia","og_description":"Analisis perubahan penggunaan lahan terbaru menunjukkan prospek yang menjanjikan untuk sektor kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia, dengan penekanan akan pentingnya praktik tanpa-deforestasi, perdagangan dan tata kelola yang kuat, serta perilaku konsumen ramah lingkungan dalam mengarahkan industri menuju keberlanjutan. Terlepas adanya kemajuan yang signifikan, tantangan terus hadir karena masih sebagian kecil minyak kelapa sawit yang dapat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2024-05-27T03:44:01+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T00:49:15+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":600,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png","type":"image\/png"}],"author":"Nabiha Shahab","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia"},"author":{"name":"Nabiha Shahab","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd"},"headline":"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia","datePublished":"2024-05-27T03:44:01+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia"},"wordCount":984,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png","keywords":["burung kicau","kelapa sawit","kopi","perdagangan komoditas","trade hub"],"articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2024","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia","name":"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png","datePublished":"2024-05-27T03:44:01+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png","width":1200,"height":600,"caption":"Potret kebun kelapa sawit, burung kicau, dan kopi. Foto oleh: CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dari Burung Kicau hingga Kopi: Memajukan Perdagangan Berkelanjutan di Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd","name":"Nabiha Shahab","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nabiha Shahab"},"description":"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/nabiha-shahab"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/87694\/dari-burung-kicau-hingga-kopi-memajukan-perdagangan-berkelanjutan-di-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/Socmed-card-_1080x1080-Tradehub-closing4-e1715746512508.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87694"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87694\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":87698,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87694\/revisions\/87698"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87694"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=87694"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=87694"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=87694"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=87694"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=87694"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=87694"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=87694"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=87694"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=87694"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=87694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}