{"id":85064,"date":"2023-11-28T16:25:44","date_gmt":"2023-11-28T09:25:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=85064"},"modified":"2025-08-04T07:49:20","modified_gmt":"2025-08-04T00:49:20","slug":"bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami","title":{"rendered":"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Di daerah hutan hujan di wilayah utara Peru, praktik modern pertanian cerdas iklim tidak terdeteksi. Banyak di wilayah tersebut menanam cokelat dan kopi yang bernilai tinggi di bawah pepohonan, yang memberi keteduhan, mengatur iklim, menyuburkan tanah, dan menyediakan sumber pendapatan yang beragam. Praktik tersebut, telah dipraktikkan bergenerasi, menghasilkan biji berkualitas tinggi dengan tambahan zat penyubur yang lebih sedikit dibandingkan dengan perkebunan konvensional yang menerima sinar matahari secara penuh.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan mempertahankan sebuah ekosistem yang lebih dekat ke sebuah hutan, pendekatan ini cenderung untuk menangkap lebih banyak karbon dioksida di pepohonannya, tanaman, dan tanah daripada perkebunan konvensional, menawarkan sebuah boon penting untuk mitigasi perubahan iklim. Namun di Peru, upaya para petani Peru tidak terintegrasi ke dalam inventori gas rumah kaca (GRK).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengapa? Ada beberapa alasan. Sebagian besar negara menggunakan penginderaan jauh sebagai titik awal untuk melacak dan memantau penggunaan lahan, namun tidak 100 persen efektif, dan tidak berhasil sama sekali. \u201cJika ada pepohonan yang rapat, dan pengambilan gambar yang terlalu rendah resolusinya, itu menyulitkan kita untuk membedakan bermacam jenis agroforestri yang rapat pohonnya dari tutupan hutan,\u2019 ujar Marta Suber, Ilmuwan dari Center for International Forestry Research and World Agroforestry (<a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIFOR-ICRAF<\/a>) yang terlibat dalam <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41558-023-01810-5.epdf?sharing_token=E9x2RzFx5_-XrhDOTckD69RgN0jAjWel9jnR3ZoTv0MSh6RaK_AldItNmOd3v9fG5M5EkK3BLiUrrMhRGEH0CVP-bTMqLHmTwkaOwGtfNpXKdzvKH5Jtji5tfhdKffDPj8ZRLKTCHfO5-SRs9EdisxQtq41Aji6hF99Zck1Cbek%3D\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kajian sains terbaru<\/a>, yang menjabarkan beberapa kesenjangan utama dalam riset dan aksi pada agroforestri global untuk mitigasi iklim. \u201cMeskipun seperangkat praktik manajemen berlangsung di seluruh Amazon yang lembab, kita masih kekurangan perangkat untuk mengidentifikasinya dan dari jarak jauh menghitung kandungan karbon di dalamnya.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peru amat luas-sekitar lima kali ukuran UK-dan wilayah Amazon amat sedikit penghuninya. Kapasitas institusi di sana juga terbatas untuk menjalankan pengukuran dan pemantauan serta pelaporan aktivitas pertanian. Sehingga, pergi ke lapangan untuk mendata dan memantau petani satu per satu saat ini tidak dimungkinkan dan praktik manajemen mereka pun kurang. Sensus pertanian nasional yang terakhir adalah pada 2012, sehingga tidak ada gambaran baru tentang sektor pertanian dan praktik-praktiknya serta kecenderungannya; bahkan tak banyak yang bisa dikatakan soal berapa orang yang mempraktikkan agroforestri \u2013 atau dampaknya terhadap keanekaragaman hayati dan mitigasi iklim. Meskipun demikian, potensi agroforestri untuk perubahan iklim adalah inti dari tiga langkah mitigasi dalam <em>Peru\u2019s Nationally Determined Contributions<\/em> (Kontribusi National yang Dimaksudkan oleh Peru) dalam <em>Paris Agreement on Climate Change<\/em> (Kesepakatan Paris pada Perubahan Iklim). Hal ini menunjukkan pengakuan secara politik akan relevansi dan tujuannya untuk mendukung  lebih banyak petani untuk melakukan pendekatan ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Situasi negeri ini sudah umum. Secara global, agroforestri memiliki potensi mitigasi yang masih \u2013 mencapai 0,3 petagrams karbon per tahun, yang membuatnya menjadi peluang terbesar pertanian sebagai solusi iklim yang alamiah. Akan tetapi pada tinjauan akhir-akhir ini, yang dipimpin organisasi nirlaba The Nature Conservancy (TNC), menyimpulkan bahwa dibutuhkan riset yang luas dan menyeluruh serta pemantauan untuk mengintegrasikannya secara efektif ke dalam sistem pertanian bumi dan membuatnya berhasil sesuai potensinya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang ditekankan oleh para penulis mitra, kekuatan agroforestri terdapat pada sifatnya yang multi fungsi, keberagaman, dan fleksibilitas, artinya sistem tersebut bisa diadaptasi untuk menyesuaikan dengan lanskap lokal dan kepentingan lokal-namun ada tantangan yang harus dihadapi. Berbagai macam praktik agroforestri sudah ada, dan dibutuhkan pengetahuan lebih banyak lagi terkait potensi mitigasi karbon dalam setiap praktik tersebut, sementara kemajuan perlu dilacak dengan lebih efektif. Dari tinjauan yang dilakukan ditemukan kurangnya pengetahuan tentang di mana praktik agroforestri itu dilakukan, dan di seluruh dunia, terdapat penyerapan dan tingkat ketertarikan yang tidak seimbang dalam pendekatan. Para petani di Belahan Bumi Utara kurang tertarik, secara umum, dalam mengintegrasikan praktik-praktik tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengisi kesenjangan pengetahuan dan implementasi, ujar Suber, \u201ctidak hanya satu jenis aksi saja: banyak jenisnya. Dan itu harus dilakukan pada saat yang bersamaan, secara terkoordinasi.\u201d Dia menunjuk perlu ada pendekatan dengan membuat program, di sana entitas dan institusi nasional memberikan dukungan kepada institusi regional dan lokal untuk melakukan riset dan pemantauan, menilai dan mengatasi hambatan, dan bekerja dalam kondisi yang mendukung untuk membantu para petani mengadopsi agroforestri secara efektif.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cSalah satu kesenjangan besar yang dihadapi di Peru sebagai contoh, bahwa di sana bantuan teknis amat terbatas mengenai bagaimana mengelola suatu sistem agroforestri, dan apa yang berdasarkan pengetahuan teknis tidak diadaptasi ke konteks implementasi,\u201d ujar Suber. \u201cOrang mengkombinasikan tanaman pangan dengan beragam spesies tanaman karena dorongan kebutuhan mendesak yang tidak harus sejalan dengan perencanaan jangka panjang. Selain itu, belum banyak pengetahuan tentang tanaman pangan dan pengelolaan yang dibutuhkan untuk menjamin produk dan produktivitas berkualitas tinggi, juga tentang apa yang bakal menyusul saat dilakukan pengelolaan yang berlangsung menerus untuk membangun suatu operasi yang bisa memberikan keuntungan dalam jangka panjang.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengintegrasikan dan melacak agroforestri secara efektif membutuhkan investasi jangka panjang dari para donator dan pendiri kelompok, ujar Suber. \u201cIni bagus, untuk membuat terobosan setiap beberapa tahun sekali pada beragam topik dan mengubah target ke depan pada isu yang lebih kompleks, namun Anda tidak bisa hanya mempertimbangkan apa yang Anda lewatkan akan otomatis ditangani oleh yang lain,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara yang menerapkan, butuh sumber daya dan kapasitas untuk bekerja di semua tingkatan pemerintahan terkait pemantauan, pelaporan, dan verifikasi (MRV) agroforestri. \u201cAnda harus yakin bahwa para petani tidak tergantung pada dana proyek atau penasihat teknis,\u201d ujar Suber. \u201cMereka benar-benar membutuhkan perangkat untuk menjadi pendorong mereka sendiri dalam penerapan agroforestri. Dan ini merupakan proyek sepanjang hidup,\u201d tambahnya. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di daerah hutan hujan di wilayah utara Peru, praktik modern pertanian cerdas iklim tidak terdeteksi. Banyak di wilayah tersebut menanam cokelat dan kopi yang bernilai tinggi di bawah pepohonan, yang memberi keteduhan, mengatur iklim, menyuburkan tanah, dan menyediakan sumber pendapatan yang beragam. Praktik tersebut, telah dipraktikkan bergenerasi, menghasilkan biji berkualitas tinggi dengan tambahan zat penyubur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":85066,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[2481,2550,7446],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-85064","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-agroforestri","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-pangan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di daerah hutan hujan di wilayah utara Peru, praktik modern pertanian cerdas iklim tidak terdeteksi. Banyak di wilayah tersebut menanam cokelat dan kopi yang bernilai tinggi di bawah pepohonan, yang memberi keteduhan, mengatur iklim, menyuburkan tanah, dan menyediakan sumber pendapatan yang beragam. Praktik tersebut, telah dipraktikkan bergenerasi, menghasilkan biji berkualitas tinggi dengan tambahan zat penyubur [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-11-28T09:25:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T00:49:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/pexels-pixabay-50707-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1330\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami\",\"datePublished\":\"2023-11-28T09:25:44+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami\"},\"wordCount\":838,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/pexels-pixabay-50707-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami\",\"name\":\"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/pexels-pixabay-50707-1.jpg\",\"datePublished\":\"2023-11-28T09:25:44+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:20+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/pexels-pixabay-50707-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/pexels-pixabay-50707-1.jpg\",\"width\":2000,\"height\":1330,\"caption\":\"Seorang petani Peru memegang buah kakao. Foto oleh: PEXELS\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/85064\\\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami","og_description":"Di daerah hutan hujan di wilayah utara Peru, praktik modern pertanian cerdas iklim tidak terdeteksi. Banyak di wilayah tersebut menanam cokelat dan kopi yang bernilai tinggi di bawah pepohonan, yang memberi keteduhan, mengatur iklim, menyuburkan tanah, dan menyediakan sumber pendapatan yang beragam. Praktik tersebut, telah dipraktikkan bergenerasi, menghasilkan biji berkualitas tinggi dengan tambahan zat penyubur [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-11-28T09:25:44+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T00:49:20+00:00","og_image":[{"width":2000,"height":1330,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/pexels-pixabay-50707-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami","datePublished":"2023-11-28T09:25:44+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami"},"wordCount":838,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/pexels-pixabay-50707-1.jpg","articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami","name":"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/pexels-pixabay-50707-1.jpg","datePublished":"2023-11-28T09:25:44+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:20+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/pexels-pixabay-50707-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/pexels-pixabay-50707-1.jpg","width":2000,"height":1330,"caption":"Seorang petani Peru memegang buah kakao. Foto oleh: PEXELS"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Agroforestri sebagai Solusi Iklim Alami"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/85064\/bagaimana-memanfaatkan-potensi-besar-agroforestri-sebagai-solusi-iklim-alami#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/pexels-pixabay-50707-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85064"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85064\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85067,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85064\/revisions\/85067"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85066"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85064"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=85064"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=85064"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=85064"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=85064"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=85064"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=85064"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=85064"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=85064"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=85064"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=85064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}