{"id":84747,"date":"2023-10-16T18:06:39","date_gmt":"2023-10-16T11:06:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=84747"},"modified":"2025-08-04T07:49:20","modified_gmt":"2025-08-04T00:49:20","slug":"akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi","title":{"rendered":"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.cbd.int\/article\/draft-1-global-biodiversity-framework\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GBF)<\/a> Kunming-Montreal menjadi panduan dalam menjaga dan melindungi alam di seluruh dunia \u2013 dan pentingnya untuk kehidupan manusia \u2013 hingga 2030. Kerangka ini diadopsi pada Desember 2022 ketika Konferensi biodiversitas COP15 dari Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) berlangsung. Untuk membantu mencapai tujuan tersebut <em>Subsidiary Body on Scientific, Technical and Technological Advice (SBSTTA<\/em>), badan penasihat ilmiah antarpemerintah yang bersifat terbuka, memberikan saran kepada COP CBD. Pekan ini, SBSTTA mengumpulkan para ahli keanekaragaman hayati, praktisi, pemerintah, dan masyarakat sipil untuk memfasilitasi pelaksanaan kerangka kerja tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam GBF baru ini, untuk pertama kalinya CBD mengakui pentingnya kontribusi lahan yang dikelola terhadap konservasi dan restorasi keanekaragaman hayati. Tujuan A dari Kerangka Kerja ini mendorong 196 pihak yang terlibat dalam konvensi untuk menyediakan dukungan lingkungan dalam menjaga, meningkatkan, dan mengembalikan integritas, konektivitas, dan ketahanan dari semua ekosistem, termasuk daerah pertanian dan perkotaan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pencapaian bersejarah ini merupakan hasil kontribusi langsung <em>Proyek Trees on Farms for Biodiversity<\/em> (IKI-TonF) yang didanai oleh Inisiatif Iklim Internasional Jerman <em>(German International Climate Initiative, IKI), <\/em>yang dilaksanakan antara tahun 2018 dan 2021 di tingkat global dan di lima negara &#8211; <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35205\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Honduras<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35207\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Peru,<\/a> <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35209\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Uganda,<\/a><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35208\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Rwanda, <\/a>dan <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/9002\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Indonesia.<\/a> Proyek ini berkontribusi langsung pada pengembangan GBF dengan secara aktif mendorong keterlibatan SBSTTA dan Kelompok Kerja Terbuka GBF Pasca-2020, melalui kerja sama erat dengan penasihat teknis dan titik fokus CBD di kelima negara tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan <a href=\"https:\/\/www.weforum.org\/agenda\/2019\/12\/agriculture-habitable-land\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">lebih dari 40%<\/a> dari permukaan lahan yang dapat dihuni di dunia digunakan untuk produksi pangan, pertanian memiliki dampak besar pada keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan kesejahteraan manusia. CBD, yang dalam sejarah berfokus pada kawasan lindung, secara tradisi melihat pertanian sebagai salah satu ancaman besar terhadap keanekaragaman hayati. Namun, bagi kehidupan manusia di mana kesejahteraan 8 miliar orang bergantung pada keanekaragaman hayati alam dan pertanian, tujuan CBD untuk &#8216;hidup berdampingan dengan alam&#8217; hanya dapat tercapai jika kementerian pertanian dan lingkungan beserta lembaga-lembaga mereka bekerja sama melakukan upaya besar untuk mencegah krisis yang mengancam keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">GBF baru ini merupakan kunci peluang politik untuk menjembatani kesenjangan antara lembaga pemerintah dan membantu dalam melaksanakan agenda bersama terkait produksi pangan, kesejahteraan manusia, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Pengakuan akan pentingnya ekosistem pertanian dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati &#8211; dan bahwa cara kita menggunakan dan mengelola lahan pertanian memiliki pengaruh &#8211; untuk pertama kalinya dalam sejarah, memberikan insentif bagi pemerintah untuk melindungi atau mengembalikan lanskap pertanian yang kompleks dan beragam dengan tumbuhan dan menghentikan transformasi menjadi lanskap monokultur berskala besar. Inisiatif ini juga mengakui peran petani, termasuk petani dari kalangan masyarakat adat, sebagai penjaga lahan dan peran penting mereka dalam melestarikan keanekaragaman hayati alam dan pertanian. Strategi keanekaragaman hayati nasional (NBSAPs) yang mengikuti GBF terbaru, juga perlu menekankan peran lanskap pertanian beragam, serta peran hutan dan pohon, dan harus memberikan mandat dan peran bagi kementerian pertanian dan petani sebagai mitra dalam pelestarian keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, ketika SBSTTA telah menentukan arah untuk membantu pelaksanaan kerangka kerja, perhatian baru atas lanskap-lanskap tersebut dan keanekaragaman hayati merupakan titik perubahan signifikan dalam perjalanan menuju masa depan yang harmonis.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Publikasi:<\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35205\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Realizing the potential of Trees on Farms for biodiversity and livelihoods<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/9002\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Mainstreaming biodiversity and livelihood through Trees on Farms and agroforestry in Indonesia<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35207\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Generating capacity, commitment, and consensus to support Trees on Farms for Biodiversity<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35208\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Rooting deeply Trees on Farms into Rwanda\u2019s local, national, and global agenda<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/35209\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">From the Woods to Action: TonF now at the forefront in Uganda\u2019s restoration agenda<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p>Cerita terkait:<\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/80115\/will-biodiversity-talks-bridge-governmental-divide?fnl=\"><span style=\"font-weight: 400;\">Analysis: Will biodiversity talks bridge governmental divide?<\/span><\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/news.globallandscapesforum.org\/54159\/whats-on-the-horizon-for-the-upcoming-post-2020-biodiversity-framework\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"font-weight: 400;\">Feature: Whats on the horizon for the upcoming post 2020 biodiversity framework<\/span><\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/news.globallandscapesforum.org\/54353\/the-missing-piece-of-new-biodiversity-goals-agricultural-landscapes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"font-weight: 400;\">Feature: The missing piece of new biodiversity goals-agricultural landscapes<\/span><\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/blog\/2022\/12\/01\/are-trees-farms-biodiversity-blind-spot\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"font-weight: 400;\">Are trees on farms a biodiversity blind spot?<\/span><\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GBF) Kunming-Montreal menjadi panduan dalam menjaga dan melindungi alam di seluruh dunia \u2013 dan pentingnya untuk kehidupan manusia \u2013 hingga 2030. Kerangka ini diadopsi pada Desember 2022 ketika Konferensi biodiversitas COP15 dari Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) berlangsung. Untuk membantu mencapai tujuan tersebut Subsidiary Body on Scientific, Technical [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":117,"featured_media":84751,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[7563,2489],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1298],"class_list":["post-84747","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-biodiversitas","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","type-bahasa-analisis"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GBF) Kunming-Montreal menjadi panduan dalam menjaga dan melindungi alam di seluruh dunia \u2013 dan pentingnya untuk kehidupan manusia \u2013 hingga 2030. Kerangka ini diadopsi pada Desember 2022 ketika Konferensi biodiversitas COP15 dari Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) berlangsung. Untuk membantu mencapai tujuan tersebut Subsidiary Body on Scientific, Technical [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-16T11:06:39+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T00:49:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Anja Gassner\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi\"},\"author\":{\"name\":\"Anja Gassner\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e\"},\"headline\":\"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi\",\"datePublished\":\"2023-10-16T11:06:39+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi\"},\"wordCount\":594,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi\",\"name\":\"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg\",\"datePublished\":\"2023-10-16T11:06:39+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:20+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Tegakan bambu di Yangambi \u2013 RDK. Foto oleh: Axel Fassio\\\/CIFOR-ICRAF.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e\",\"name\":\"Anja Gassner\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=gbeeceef57e6cf13a6f1ace0726fc8a41\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Anja Gassner\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/anja-gassner\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84747\\\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi","og_description":"Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GBF) Kunming-Montreal menjadi panduan dalam menjaga dan melindungi alam di seluruh dunia \u2013 dan pentingnya untuk kehidupan manusia \u2013 hingga 2030. Kerangka ini diadopsi pada Desember 2022 ketika Konferensi biodiversitas COP15 dari Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) berlangsung. Untuk membantu mencapai tujuan tersebut Subsidiary Body on Scientific, Technical [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-10-16T11:06:39+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T00:49:20+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Anja Gassner","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi"},"author":{"name":"Anja Gassner","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e"},"headline":"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi","datePublished":"2023-10-16T11:06:39+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi"},"wordCount":594,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg","articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi","name":"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg","datePublished":"2023-10-16T11:06:39+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:20+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Tegakan bambu di Yangambi \u2013 RDK. Foto oleh: Axel Fassio\/CIFOR-ICRAF."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Akhirnya Keanekaragaman Hayati Pertanian Masuk dalam Agenda Konservasi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/72c82df6fb1378a30835b1b5c2e5c81e","name":"Anja Gassner","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=gbeeceef57e6cf13a6f1ace0726fc8a41","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ccc457a3838082f0f7ee0e04f8b7331b666915541b00a275975ba4932c298a64?s=96&d=mm&r=g","caption":"Anja Gassner"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/anja-gassner"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84747\/akhirnya-keanekaragaman-hayati-pertanian-masuk-dalam-agenda-konservasi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/52224312440_98e6fd844e_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/117"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84747"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84747\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84750,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84747\/revisions\/84750"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84747"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=84747"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=84747"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=84747"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=84747"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=84747"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=84747"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=84747"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=84747"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=84747"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=84747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}