{"id":84464,"date":"2023-10-06T14:20:56","date_gmt":"2023-10-06T07:20:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=84464"},"modified":"2025-08-04T07:49:20","modified_gmt":"2025-08-04T00:49:20","slug":"cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana","title":{"rendered":"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Di Ghana Timur, seorang petani mangga, Abraham Akornor \u2013 Ketua Kelompok Klo Mango Association yang beranggotakan 50 orang \u2013 berbagi tentang tantangan perdagangan yang dialaminya kepada para peneliti pada pelatihan proyek Green Finance for Sustainable Landscapes (GF4SL). Akhir-akhir ini, harga demikian rendah sehingga para petani enggan menjual buah hasil kebunnya. Namun, secara kolektif mereka memproduksi lebih dari 1.000 ton buah sesuai musimnya \u2013 banyal buah mangga yang terbuang jika mereka tak bisa menemukan pemanfaatan lainnya untuk buah tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Akornor baru-baru ini mengikuti sebuah pelatihan untuk mengetahui cara mengeringkan mangga dan membuatnya menjadi selai, dan sekarang mereka telah memproduksinya dalam skala kecil. \u201cTapi saya butuh mengembangkan itu,\u201d katanya. \u201cJika kita bisa, saya bisa menolong banyak petani dengan membeli mangga mereka dan memprosesnya,\u201d katanya. Pendanaan untuk suatu inisiatif semacam itu amat sulit didapatkan. \u201cBiasanya saya bekerja dengan bank desa,\u201d katanya, \u201cNamun salah satu tantangannya\u2026 adalah karena kami petani, produksi kami bersifat musiman, dan bank memiliki cara berbisnis yang berbeda \u2013 kami harus menaruh uang secara regular, dan cara itu tidak sesuai untuk kami.\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Di daerah dekat lahan Akornor, terdapa lahan seluas 9,3 hektare yang menghasilkan beragam ternak dan tanaman termasuk babi, mangga, bebek, entok, dan kelinci. Setelah mendapatkan pinjaman awal, bisnis tersebut sekarang bisa mendanai sendiri, dengan pendapatan yang teratur dari ternak babi yang membantu biaya operasional peternakan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Manajer peternakan yang juga turut memiliki peternakan, David Ati akan meningkatkan perusaaannya, namun tidak dana yang dimiliki tidak mampu menutup kebutuhan itu. \u201cSaya mengikuti beberapa program dan lokakarya, namun itu tidak cukup efektif untuk bisa mendapatkan pendanaan dari suatu lembaga,\u201d ujarnya. \u201cSedikit sulit dan membuat stres kadang-kadang\u2026 jadi kami cenderung untuk tetap mempertahankan skala kecil dari pada mengembangkannya agar kami terhindar dari stres. Namun kami tetap mencari pendanaan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tantangan seperti itulah yang coba dijawab oleh proyek GF4SL yang dibuat oleh Collaborative Partnership on Forests dan Centre for International Forestry Research dan World Agroforestry Center (CIFOR-ICRAF) yang ada di bawah Program Lingkungan PBB (UNEP) melalui Land Finance Hub. Inisiatif tersebut meningkatkan pengakuan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang kehutanan dan pertanian yang dapat menghubungkannya dengan pendanaan berkelanjutan dan investasi, sebagai salah satu cara untuk mendukung transisi yang dibutuhkan untuk beralih ke model produksi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi deforestasi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada 2 Agustus 2023, pelatihan di Accra diadakan untuk berbagi peluang yang disediakan oleh Hub bersama UMKM setempat, dan membantu pihak-pihak yang tertarik untuk bergabung dan membuat profil usaha pada platform yang disediakan. Acara tersebut juga menampilkan isu Kesetaraan Gender dan Inklusivisme Sosial yang dibawakan oleh Emily Gallagher, Ilmuwan CIFOR-ICRAF yang ada dalam tim peneliti Sustainable Value Chains and Investments (Rantai Nilai dan Investasi Berkelanjutan).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cPada saat ketertarikan komunitas bisnis dan investasi semakin meningkat terhadap investasi yang bertanggung jawab di bidang usaa pertanian dan sektor kehutanan, penting bagi mereka untuk melihat secara keseluruhan jaringan nilai mereka dan memastikan bahwa hal itu dipraktikkan secara utuh mulai dari produsen skala kecil dalam rantai nilai,\u201d ujar Gallagher.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cLokakarya ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep ini kepada UMKM, agar mereka tak hanya belajar bahasa investor namun juga bagaimana untuk meyakinkan bahwa mereka sendiri inklusif dalam budaya bisnis dan ekosistem bisnis mereka dan bagaimana mereka merancang rantai nilai mereka,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Salah satu peserta, Danlette Elorm Ouashigah mewakili pertanian yang dikelola pelajar di Volta Region di Ghana, yang memberikan pelatihan kepada orang muda dalam hal praktik bisnis pertanian. Selama lokakarya, dia terinspirasi untuk mendaftarkan organisasinya ke Hub. \u201cKami telah mampu membuat suatu profil bisnis, menampilkan apa yang sedang kami kerjakan,\u201d ujarya. \u201cDan menyediakan platform bagi kami untuk berinteraksi dengan para pemangku kepentingan lainnya serta pelaku bisnis lainnya dan mencari tahu bagaimana mengumpulkan dana untuk bisnis kami.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peserta lainnya, Benjamin Oska, yang bekerja untuk perusahaan kakao perintis, Yayra Glover yang telah mendirikan pabrik pemrosesan coklat primer organik yang pertama di seluruh Afrika-sebuah Gerakan yang memungkinkan pelibatan petani secara komersial di luar musim coklat. \u201cMenarik untuk belajar tentang platform ini untuk menghubungkan perusahaan-perusahaan seperti saya sendiri dan para pendukung dana untuk meningkatkan proyek,\u201d ujar Oska. \u201cMenurut saya itu bisa menjadi titik sentral yang baik untuk menyatukan berbagai mitra lanskap dan menciptakan pendapatan yang berkelanjutan.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seorang peserta, Stephen Ashia dan Yakubu Minezemah, keduanya anggota dari ABOCFA, koperasi cokelat satu-satunya yang bersertifikasi <em>fairtrade <\/em>organik, yang beranggotakan 1.058 petani dan mengekspor produknya secara internasional. Ashia mengatakan, bahwa pelatihan tersebut \u201ctelah membuka pemahaman kami akan aspek pendanaan\u201d dan mereka termotivasi untuk mencari pendanaan guna meningkatkan praktik yang mereka lakukan dan \u201cmenolong para petani untuk meningkatkan kehidupan mereka.\u201d<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peneliti CIFOR-ICRAF, Dyah Puspitaloka, yang terlibat dalam lokakarya tersebut, mengatakan bahwa  sampai saat ini, tantangan bagi UMKM di Afrika dan seluruh dunia adalah bagaimana menguasai teknologi digital, menarik pendanaan dan mengakses perangkat yang relevan. Untuk itu, lokakarya tersebut berusaha mendukung UMKM Afrika untuk mengembangkan profil bisnis yang berdampak dan memperkuat kapasitas, dengan tujuan untuk meningkatkan pengakuan pada usaha mereka dan kapasitas mereka di panggung pendanaan hijau internasional. \u201cLand Finance Hub adalah alat untuk meningkatkan pemahaman tentang pendanaan UMKM, dan membangun kapasitas mereka dalam menarik dana,\u201d ujar David Andrew Wardell, Peneliti Kepala CIFOR-ICRAF yang mengkoordinasikan proyek GF4SL.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Ghana Timur, seorang petani mangga, Abraham Akornor \u2013 Ketua Kelompok Klo Mango Association yang beranggotakan 50 orang \u2013 berbagi tentang tantangan perdagangan yang dialaminya kepada para peneliti pada pelatihan proyek Green Finance for Sustainable Landscapes (GF4SL). Akhir-akhir ini, harga demikian rendah sehingga para petani enggan menjual buah hasil kebunnya. Namun, secara kolektif mereka memproduksi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":84468,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[11409,11177,7446,2480],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-84464","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-agoroforestri","tag-bahasa-land-finance-hub","tag-bahasa-pangan","tag-bahasa-pertanian","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di Ghana Timur, seorang petani mangga, Abraham Akornor \u2013 Ketua Kelompok Klo Mango Association yang beranggotakan 50 orang \u2013 berbagi tentang tantangan perdagangan yang dialaminya kepada para peneliti pada pelatihan proyek Green Finance for Sustainable Landscapes (GF4SL). Akhir-akhir ini, harga demikian rendah sehingga para petani enggan menjual buah hasil kebunnya. Namun, secara kolektif mereka memproduksi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-06T07:20:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T00:49:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana\",\"datePublished\":\"2023-10-06T07:20:56+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana\"},\"wordCount\":831,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana\",\"name\":\"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2023-10-06T07:20:56+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:20+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707,\"caption\":\"Abraham Akorner, seorang petani mangga di kebunnya di Ghana Timur. Foto oleh: Dyah Puspitaloka\\\/CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/84464\\\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana","og_description":"Di Ghana Timur, seorang petani mangga, Abraham Akornor \u2013 Ketua Kelompok Klo Mango Association yang beranggotakan 50 orang \u2013 berbagi tentang tantangan perdagangan yang dialaminya kepada para peneliti pada pelatihan proyek Green Finance for Sustainable Landscapes (GF4SL). Akhir-akhir ini, harga demikian rendah sehingga para petani enggan menjual buah hasil kebunnya. Namun, secara kolektif mereka memproduksi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-10-06T07:20:56+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T00:49:20+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana","datePublished":"2023-10-06T07:20:56+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana"},"wordCount":831,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg","articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana","name":"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg","datePublished":"2023-10-06T07:20:56+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:20+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg","width":2560,"height":1707,"caption":"Abraham Akorner, seorang petani mangga di kebunnya di Ghana Timur. Foto oleh: Dyah Puspitaloka\/CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cokelat, Mangga, dan Ternak: Mempercepat Pendanaan Hijau di Ghana"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/84464\/cokelat-mangga-dan-ternak-mempercepat-pendanaan-hijau-di-ghana#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/53165860638_1cf8de12f6_o-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84464"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84464\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84470,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84464\/revisions\/84470"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84468"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84464"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=84464"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=84464"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=84464"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=84464"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=84464"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=84464"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=84464"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=84464"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=84464"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=84464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}