{"id":83507,"date":"2023-07-10T09:42:53","date_gmt":"2023-07-10T02:42:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=83507"},"modified":"2025-08-04T07:49:23","modified_gmt":"2025-08-04T00:49:23","slug":"kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal","title":{"rendered":"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Sejak didirikan, mekanisme Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC-<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">the United Nations Framework Convention on Climate Change<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) mendapat banyak kritik karena potensi dampaknya terhadap hak-hak dan prioritas Masyarakat Adat (MA, IPs-<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Indigenous Peoples<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) dan komunitas lokal (KL, LCs-<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">local communities<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">). Untuk menjawab permasalahan tersebut, pada Pertemuan para Pihak ke-16 (COP 16) di Cancun, Meksiko disepakati tujuh prinsip jaring pengaman.  <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Jaring pengaman Cancun bertujuan untuk memitigasi potensi dampak di lapangan, namun selain itu juga untuk meningkatkan dampak positif dari intervensi REDD+. Sebagai bagian dari Studi Perbandingan Global untuk REDD+ (<\/span><a href=\"http:\/\/www.cifor-icraf.org\/gcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">CIFOR&#8217;s Global Comparative Study on REDD+<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">)<\/span> <span data-contrast=\"auto\">kami meneliti rancangan dan implementasi jaring pengaman yang ada, dengan fokus pada potensi yang mendukung hak-hak MA dan KL.<\/span><span data-contrast=\"auto\"> <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Menurut panduan UNFCCC, negara-negara anggota dapat menginterpretasikannya berdasarkan prioritas-prioritas peraturan nasional dan kebijakan mereka untuk memutuskan. Misalnya, apa yang mereka anggap sebagai \u201cpenghormatan\u201d atau \u201cpartisipasi\u201d. Baik rancangan maupun pengoperasian jaring pengaman tersebut amat beragam di setiap negara. Keberagaman ini didasarkan pada perbedaan interpretasi secara legal, ketaatan pada kesepakatan internasional terkait MA dan KL, dan prioritas politik dan ekonomi masing-masing. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dalam konteks dan tingkat kepentingan MA dan KL untuk mencapai tujuan iklim dan keanekaragaman hayati (kehati) global, amat perlu dilakukan penelitian mengenai negara-negara dan implementasi jaring pengaman. Kami baru saja menerbitkan selebaran berisi Analisa tingkat dukungan terhadap hak-hak MA dan KL yang terdapat pada kerangka hukum dan kebijakan di Indonesia, Peru, dan Republik Demokratik Kongo.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Analisa yang dilakukan bertujuan untuk memahami apakah jaring pengaman bisa menjamin inisiatif-inisiatif dilakukan dengan mematok tujuan yang lebih tinggi dari sekedar \u201ctidak membahayakan\u201d dan sebaliknya dirancang untuk \u201cmelakukan dengan cara lebih baik\u201d dengan mendukung pengakuan serta penghormatan pada MA dan KL.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Kami membandingkan dan melakukan sintesa hasil-hasil yang dipublikasikan dalam selebaran tersebut untuk tiap negara-tiga dari empat negara dengan tutupan hutan tropis tertinggi-untuk menjadi pembelajaran tentang pendekatan REDD+ yang bermanfaat bagi hutan dan kaum perempuan serta kaum laki-laki penjaga hutan. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">Tantangan untuk \u201cmelakukan dengan cara yang lebih baik\u201d<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dari hasil penelitian terungkap bahwa dibutuhkan upaya lebih untuk \u201cmelakukan dengan cara yang lebih baik\u201d yaitu dengan mempercepat perubahan positif pada dua hal yaitu kesejahteraan komunitas yang hidupnya bergantung dari hasil hutan dan dalam relasi antara negara sebagai pelaksana tugas dan komunitas-komunitas sebagai pemegang hak. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Di Indonesia, meskipun terdapat kemajuan signifikan dalam pengembangan perangkat guna mendukung implementasi REDD+ termasuk adanya Jaring Pengaman Sistem Informasi, namun penting untuk dicermati bagaimana kerangka kerja terkait hak-hak komunitas diterjemahkan dalam praktik, dan bagaimana hal itu bisa menjawab tantangan dari aspek politik serta kepentingan berbagai pihak terhadap hutan dan pemanfaatan lahan. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Di Peru, pengakuan MA secara legal didasarkan pada berbagai norma hukum; meski demikian, pengakuan hak-hak atas lahan dan sumber daya hanya diberikan sebagian. Hal ini menumbuhkan rasa tidak aman dalam konteks tekanan berat terhadap lahan mereka. Negara tersebut baru-baru ini mengeluarkan Modul Informasi Jaring Pengaman, namun Peru masih perlu mengembangkan peta jalan untuk mengintegrasikan kontribusi dan berbagai pandangan dari organisasi-organisasi perwakilan MA. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Di Republik Demokratik Kongo, diterbitkannya <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">the Law on the Promotion and Protection of the Rights of the Indigenous Peoples<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> untuk peningkatan dan perlindungan atas hak-hak MA dan berlangsungnya proses reformasi lahan (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">land reform<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) telah membawa kemajuan signifikan pada hak-hak atas tanah. Namun demikian, reformasi ini perlu dilengkapi dan diintegrasikan ke dalam sistem hukum. Sebagai tambahan, implementasi dan pemantauan jaring pengaman REDD+ sebagai  garis besar dari Kontribusi yang Ditetapkan secara National (NDC-<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Nationally Determined Contribution<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">)<\/span> <span data-contrast=\"auto\">harus melibatkan perempuan dan pria dari MA dan KL, mengakui dan menghormati hak-hak, pengetahuan, dan partisipasi mereka.<\/span><\/p>\n\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">Pembelajaran<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Pendekatan-pendekatan jaring pengaman REDD+ nasional di ketiga negara ini masih dalam tahap percontohan, dan masih bisa membuat reformasi-reformasi untuk mendukung perluasan dan perlindungan yang efektif terhadap hal-hak MA dan KL.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Analisa perbandingan yang kami lakukan menawarkan tiga pembelajaran untuk maju guna mencapai tujuan:<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<ul>\n<li data-leveltext=\"\uf0b7\" data-font=\"Symbol\" data-listid=\"4\" data-list-defn-props=\"{&quot;335552541&quot;:1,&quot;335559684&quot;:-2,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559991&quot;:360,&quot;469769226&quot;:&quot;Symbol&quot;,&quot;469769242&quot;:[8226],&quot;469777803&quot;:&quot;left&quot;,&quot;469777804&quot;:&quot;\uf0b7&quot;,&quot;469777815&quot;:&quot;hybridMultilevel&quot;}\" aria-setsize=\"-1\" data-aria-posinset=\"1\" data-aria-level=\"1\"><span data-contrast=\"auto\">Butuh diskusi lebih dalam di UNFCCC untuk menetapkan apakah jaring pengaman harus memenuhi ketetapam minimum \u201ctidak membahayakan\u201d-yang berimplikasi memperpanjang <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">status quo<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (sebab negara-negara ini tidak harus mengubah peraturan hukum-hukum mereka, sementara mereka menginterpretasikan jaring pengaman ini sesuai kerangka hukum mereka)-, sebaliknya, mendukung jalur transformatif dengan \u201cmelakukan dengan cara yang lebih baik\u201d. Hal ini membutuhkan penjabaran ambisi yang lebih jelas dan transparan dan penyediaan panduan yang lebih jelas dan transparan dan menyediakan panduan yang jelas serta syarat-syarat yang lebih ketat untuk mengarahkan negara-negara pengimplementasi REDD+.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li data-leveltext=\"\uf0b7\" data-font=\"Symbol\" data-listid=\"4\" data-list-defn-props=\"{&quot;335552541&quot;:1,&quot;335559684&quot;:-2,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559991&quot;:360,&quot;469769226&quot;:&quot;Symbol&quot;,&quot;469769242&quot;:[8226],&quot;469777803&quot;:&quot;left&quot;,&quot;469777804&quot;:&quot;\uf0b7&quot;,&quot;469777815&quot;:&quot;hybridMultilevel&quot;}\" aria-setsize=\"-1\" data-aria-posinset=\"2\" data-aria-level=\"1\"><span data-contrast=\"auto\">Kemajuan menuju \u201cmelakukan dengan lebih baik\u201d membutuhkan upaya lebih besar, dimulai dengan menegaskan kembali bahwa negara-negara REDD+ adalah sebagai pelaksana tugas dan komunitas yang bergantung pada hutan sebagai pemegang hak-hak, memastikan kapasitas dan mekanisme agar pelaksana tugas akuntabel, juga melakukan mekanisme secara transparan dan ketat untuk memantau jaring pengaman dan distribusi pembayaran berbasis hasil yang adil.<\/span><\/li>\n<li data-leveltext=\"\uf0b7\" data-font=\"Symbol\" data-listid=\"4\" data-list-defn-props=\"{&quot;335552541&quot;:1,&quot;335559684&quot;:-2,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559991&quot;:360,&quot;469769226&quot;:&quot;Symbol&quot;,&quot;469769242&quot;:[8226],&quot;469777803&quot;:&quot;left&quot;,&quot;469777804&quot;:&quot;\uf0b7&quot;,&quot;469777815&quot;:&quot;hybridMultilevel&quot;}\" aria-setsize=\"-1\" data-aria-posinset=\"2\" data-aria-level=\"1\"><span data-contrast=\"auto\">Kepatuhan negara REDD+ pada jaring pengaman harus didukung dengan pemantauan yang independent untuk memastikan bahwa jaring pengaman bukan hanya menjadi formalitas, namun terlebih diimplementasikan-pada setidaknya-untuk melindungi dan menghormati hak-hak MA dan KL.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dengan adanya pengakuan terhadap peran pria dan wanita MA dan KL di negara-negara Selatan sebagai penjaga hutan di mana REDD+ diimplementasikan, maka pendekatan jaring pengaman adalah bahwa dukungan pada pengakuan dan penghormatan hak-hak mereka akan berlangsung secara transformatif dalam pengertian keadilan, dan akan selalu mendukung pencapaian tujuan-tujuan REDD+.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih lanjut tentang topik ini silakan menghubungi Juan Pablo Sarmiento Barletti pada <a href=\"mailto:j.sarmiento@cifor-icraf.org\">j.sarmiento@cifor-icraf.org<\/a> atau Tamara Lasheras pada <a href=\"mailto:t.lasheras@cifor-icraf.org\">t.lasheras@cifor-icraf.org<\/a>. <\/strong><\/p>\n<p><i><span data-contrast=\"auto\">Penelitian ini adalah bagian dari  <\/span><\/i><i><span data-contrast=\"auto\">Global Comparative Study on REDD+ (<\/span><\/i><a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/gcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span data-contrast=\"none\">www.cifor.org\/gcs<\/span><\/i><\/a><i><span data-contrast=\"auto\">)<\/span><\/i> <span data-contrast=\"auto\">CIFOR<\/span><i><span data-contrast=\"none\">. <\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">Mitra-mitra pendanaan yang mendukung penelitian ini di antaranya adalah <\/span><i><span data-contrast=\"none\">the Norwegian Agency for Development Cooperation (Norad)<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">, <\/span><i><span data-contrast=\"none\">International Climate Initiative (IKI) of the German Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation and Nuclear Safety (BMU), <\/span><\/i><i><span data-contrast=\"auto\"> United States Agency for International Development (USAID), <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">dan<\/span><i><span data-contrast=\"none\"> CGIAR Research Program on Forests, Trees and Agroforestry (CRP-FTA), <\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">dengan dukungan finansial dari donor-donor pendukung <\/span><i><span data-contrast=\"none\">CGIAR Fund.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak didirikan, mekanisme Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC-the United Nations Framework Convention on Climate Change) untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) mendapat banyak kritik karena potensi dampaknya terhadap hak-hak dan prioritas Masyarakat Adat (MA, IPs-Indigenous Peoples) dan komunitas lokal (KL, LCs-local communities). Untuk menjawab permasalahan tersebut, pada Pertemuan para [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":274,"featured_media":83522,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[7301,2819],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7287,11294],"class_list":["post-83507","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-gcs-redd","tag-bahasa-redd","type-bahasa-analisis"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sejak didirikan, mekanisme Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC-the United Nations Framework Convention on Climate Change) untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) mendapat banyak kritik karena potensi dampaknya terhadap hak-hak dan prioritas Masyarakat Adat (MA, IPs-Indigenous Peoples) dan komunitas lokal (KL, LCs-local communities). Untuk menjawab permasalahan tersebut, pada Pertemuan para [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-10T02:42:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T00:49:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/41859944151_729bc06103_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Juan Pablo Sarmiento Barletti, Tamara Lasheras de la Riva\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@JuanPaSarmiento\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal\"},\"author\":{\"name\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/334a988086fa80032093f624c06c25da\"},\"headline\":\"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal\",\"datePublished\":\"2023-07-10T02:42:53+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:23+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal\"},\"wordCount\":962,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/41859944151_729bc06103_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal\",\"name\":\"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/41859944151_729bc06103_k.jpg\",\"datePublished\":\"2023-07-10T02:42:53+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:23+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/41859944151_729bc06103_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/41859944151_729bc06103_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Masyarakat Cashiboya di Loreto, Peru. Foto oleh: Marlon del Aguila Guerrero\\\/CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/334a988086fa80032093f624c06c25da\",\"name\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=gf87ddf800bb7833bb14950d78d9c8dd2\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti\"},\"description\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti (MA, MRes, PhD) carries out mixed-methods research on multiple aspects of the impact of natural resource extraction on forest-dependent communities, and of the participation of the latter in different related decision-making spaces. After lecturing in Social Anthropology at the universities of Durham and St Andrews in the United Kingdom between 2011-2016, Juan Pablo is now part of CIFOR's Global Comparative Study of REDD+ (seconded from the Pontificia Universidad Catolica del Peru). Based in the Lima hub, he coordinates multi-sited research on multi-stakeholder initiatives around land use and land use change in Brazil, Ethiopia, Indonesia, and Peru. The project examines the potential role of these initiatives in transforming BAU decision-making practices in order to create more equitable outcomes for forest-dependent communities. As part of his wider work, Juan Pablo is also interested in exploring the real and potential transgressions of indigenous rights throughout REDD+ readiness and implementation phases around the world, and the potential application of this framework as a pro-rights tool that enables environmental justice for indigenous communities. Juan Pablo has carried out more than 40 months of ethnographic research with indigenous Amazonian communities since 2007, during which he has collaborated and carried out action research with indigenous organizations on their life plans, approaches to well-being, and resource management practices. He is an Honorary Research Fellow at both the Department of Anthropology at Durham University and the Centre for Amerindian, Latin American and Caribbean Studies at the University of St Andrews.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/JuanPaSarmiento\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/juanp\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/83507\\\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal","og_description":"Sejak didirikan, mekanisme Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC-the United Nations Framework Convention on Climate Change) untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) mendapat banyak kritik karena potensi dampaknya terhadap hak-hak dan prioritas Masyarakat Adat (MA, IPs-Indigenous Peoples) dan komunitas lokal (KL, LCs-local communities). Untuk menjawab permasalahan tersebut, pada Pertemuan para [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-07-10T02:42:53+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T00:49:23+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/41859944151_729bc06103_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Juan Pablo Sarmiento Barletti, Tamara Lasheras de la Riva","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@JuanPaSarmiento","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal"},"author":{"name":"Juan Pablo Sarmiento Barletti","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/334a988086fa80032093f624c06c25da"},"headline":"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal","datePublished":"2023-07-10T02:42:53+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:23+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal"},"wordCount":962,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/41859944151_729bc06103_k.jpg","articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal","name":"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/41859944151_729bc06103_k.jpg","datePublished":"2023-07-10T02:42:53+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:23+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/41859944151_729bc06103_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/41859944151_729bc06103_k.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Masyarakat Cashiboya di Loreto, Peru. Foto oleh: Marlon del Aguila Guerrero\/CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kerangka Pengaman REDD+: Butuh Upaya Lebih Besar untuk Menjaga Hak-Hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/334a988086fa80032093f624c06c25da","name":"Juan Pablo Sarmiento Barletti","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=gf87ddf800bb7833bb14950d78d9c8dd2","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"Juan Pablo Sarmiento Barletti"},"description":"Juan Pablo Sarmiento Barletti (MA, MRes, PhD) carries out mixed-methods research on multiple aspects of the impact of natural resource extraction on forest-dependent communities, and of the participation of the latter in different related decision-making spaces. After lecturing in Social Anthropology at the universities of Durham and St Andrews in the United Kingdom between 2011-2016, Juan Pablo is now part of CIFOR's Global Comparative Study of REDD+ (seconded from the Pontificia Universidad Catolica del Peru). Based in the Lima hub, he coordinates multi-sited research on multi-stakeholder initiatives around land use and land use change in Brazil, Ethiopia, Indonesia, and Peru. The project examines the potential role of these initiatives in transforming BAU decision-making practices in order to create more equitable outcomes for forest-dependent communities. As part of his wider work, Juan Pablo is also interested in exploring the real and potential transgressions of indigenous rights throughout REDD+ readiness and implementation phases around the world, and the potential application of this framework as a pro-rights tool that enables environmental justice for indigenous communities. Juan Pablo has carried out more than 40 months of ethnographic research with indigenous Amazonian communities since 2007, during which he has collaborated and carried out action research with indigenous organizations on their life plans, approaches to well-being, and resource management practices. He is an Honorary Research Fellow at both the Department of Anthropology at Durham University and the Centre for Amerindian, Latin American and Caribbean Studies at the University of St Andrews.","sameAs":["https:\/\/x.com\/JuanPaSarmiento"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/juanp"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/83507\/kerangka-pengaman-redd-butuh-upaya-lebih-besar-untuk-menjaga-hak-hak-masyarakat-adat-dan-komunitas-lokal#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/41859944151_729bc06103_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83507","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/274"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83507"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":83527,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83507\/revisions\/83527"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83507"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=83507"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=83507"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=83507"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=83507"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=83507"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=83507"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=83507"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=83507"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=83507"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=83507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}