{"id":82941,"date":"2023-05-29T15:04:31","date_gmt":"2023-05-29T08:04:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=82941"},"modified":"2025-08-04T07:49:23","modified_gmt":"2025-08-04T00:49:23","slug":"penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional","title":{"rendered":"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/www.unep.org\/news-and-stories\/story\/air-pollution-wildfires-expected-surge-world-warms\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Polusi udara<\/a> akibat kebakaran lahan gambut dan hutan melintasi batas negara, memberikan dampak negatif kepada ekosistem, kesehatan manusia, dan aktivitas ekonomi. Bencana ini juga memberikan dampak ekosistem yang menghilangkan pendapatan serta <a href=\"https:\/\/www.hsph.harvard.edu\/news\/hsph-in-the-news\/southeast-asia-fires-linked-to-100000-deaths\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">membahayakan kesehatan masyarakat setempat. <\/a><\/p>\n<p>Perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan memperburuk polusi udara dan kemungkinan meningkatkan jumlah kebakaran hutan di seluruh dunia <a href=\"https:\/\/www.unep.org\/news-and-stories\/press-release\/number-wildfires-rise-50-2100-and-governments-are-not-prepared\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">hingga 50%<\/a> pada akhir abad ini, menurut Program Lingkungan PBB.<\/p>\n<p>Pada 30 Maret 2023, lebih dari 70 perwakilan dari badan penanggulangan kebakaran regional, organisasi pemantau, universitas, sektor swasta, dan <a href=\"https:\/\/hazeportal.asean.org\/partners\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>ASEAN Peatland Partners <\/em><\/a>menghadiri lokakarya tentang pemetaan dan memperkirakan area yang terbakar di Asia Tenggara yang diadakan di Century Park Hotel di Jakarta, sebagai langkah menuju pengembangan pedoman umum untuk Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Lokakarya ini merupakan bagian dari program <em>Measurable Action for Haze-Free Sustainable Land Management in Southeast Asia (<\/em><a href=\"https:\/\/hazeportal.asean.org\/programmes\/mahfsa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>MAHFSA<\/em><\/a><em>)<\/em>, inisiatif bersama <em>Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)<\/em> dan <em>International Fund for Agricultural Development(IFAD)<\/em> yang berlangsung selama lima tahun. MAHFSA dijalankan secara kolaboratif oleh Sekretariat ASEAN, <em>Global Environment Centre (GEC)<\/em>, dan <em>Center for International Forestry Research<\/em> dan <em>World Agroforestry<\/em> (CIFOR-ICRAF).<\/p>\n<p>Lokakarya tersebut, yang diselenggarakan bersama dengan CIFOR-ICRAF, dilaksanakan secara <em>hybrid, <\/em>dengan partisipasi luring serta daring.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"623\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-623x415.jpg\" class=\"wp-image-82949\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-800x533.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-610x406.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-670x446.jpg 670w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/MAHFSA-workshop.jpg 937w\" sizes=\"auto, (max-width: 623px) 100vw, 623px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Peserta Lokakarya Pemetaan dan Estimasi Area Terbakar di Asia Tenggara, Hotel Century Park, Jakarta, 30 Maret 2023.<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>\u201cPemetaan dan memperkirakan area yang terbakar memberikan informasi penting untuk meningkatkan manajemen kebakaran, untuk memetakan risiko kebakaran hutan dan area antarmuka perkotaan, serta menilai jenis bahan bakar yang berbeda dan berubah, tingkatan bahaya kebakaran, indeks keparahan kebakaran, dan partisi musiman di seluruh lanskap untuk pemetaan bahaya kebakaran, \u201dkata Vong Sok, Kepala Divisi Lingkungan di Sekretariat ASEAN dalam pidato pembukaannya.<\/p>\n<p><strong>Emisi karbon <\/strong><\/p>\n<p>Kawasan ASEAN, yang <a href=\"https:\/\/asean.org\/member-states\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meliputi 10 negara anggota<\/a>, mengalami kebakaran hutan di berbagai lanskap. Dalam beberapa dekade terakhir, pembakaran vegetasi dan gambut untuk membuka lahan pertanian telah menyebabkan kebakaran besar yang mengeluarkan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/42098\/on-land-and-in-space-understanding-the-impacts-of-fires?fnl=en\">karbondioksida dalam jumlah besar<\/a> dan mengganggu upaya global mengurangi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Sekitar <a href=\"https:\/\/www.nasa.gov\/centers\/langley\/news\/factsheets\/biomass.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">90% <\/a>kebakaran hutan ini bersifat antropogenik, menghancurkan hutan dan lahan gambut yang menyimpan karbon, mengatur iklim, memasok air, mendukung keanekaragaman hayati, dan meningkatkan mata pencaharian.<\/p>\n<p>Untuk merestorasi lahan dan mengurangi jumlah bencana kebakaran di masa mendatang, otoritas nasional perlu mengetahui dengan tepat ke mana mereka harus memfokuskan sumber daya, area pembakaran ilegal terjadi, dan bagaimana menghilangkan potensi <em>hotspot <\/em>atau titik panas yang mungkin muncul.<\/p>\n<p><strong>Pedoman ASEAN<\/strong><\/p>\n<p>Konsep untuk pedoman dan lokakarya muncul pada 2021, ketika kegiatan inventarisasi untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam produk pengetahuan tentang asap kebakaran dan lahan gambut di kawasan ASEAN mengungkapkan kurangnya informasi dan metodologi untuk memperkirakan dan memetakan area yang terbakar, menurut <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/research-staff\/5035\/michael-allen-brady\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Michael Brady<\/a>, Ilmuwan CIFOR-ICRAF yang ikut mengelola Program MAHFSA.<\/p>\n<p>Di banyak daerah, titik panas menjadi pengganti dari daerah yang terbakar,\u201d kata Brady. \u201cMemetakan area yang terbakar menggunakan<em> hotspot<\/em> bukanlah pendekatan terbaik. Kami perlu memetakan area terbakar yang sebenarnya pada fase pasca-kebakaran untuk menghasilkan hasil yang akurat dan untuk mengetahui jenis tutupan lahan apa yang telah terbakar.\u201d<\/p>\n<p>Tim MAHFSA bertujuan untuk mengembangkan metodologi dan pendekatan operasional yang dikembangkan di Indonesia di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Organisasi Penelitian untuk Penerbangan dan Antariksa (ORPA-BRIN), Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memetakan area yang terbakar setiap tahun, menggunakan <a href=\"https:\/\/landsat.visibleearth.nasa.gov\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Landsat<\/a> dan citra satelit lainnya.<\/p>\n<p>Menurut peserta dari KLHK, Indonesia telah belajar mengenai kebakaran hutan dan lahan dari pengalaman sebelumnya. Bantuan teknis, seperti lokakarya ini, dan dukungan dari mitra dan pemangku kepentingan terkait penting untuk menangani kebakaran tersebut. Berjejaring sangat penting agar praktik terbaik, pengalaman, dan pelajaran yang dipetik dapat dibagikan secara rutin.<\/p>\n<figure id=\"attachment_82396\" aria-describedby=\"caption-attachment-82396\" style=\"width: 668px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-82396 size-large\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-668x415.jpg\" alt=\"\" width=\"668\" height=\"415\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-668x415.jpg 668w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-566x352.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-768x477.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-220x137.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-800x497.jpg 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-610x379.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia-672x418.jpg 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Map-validate-burned-area-indonesia.jpg 993w\" sizes=\"auto, (max-width: 668px) 100vw, 668px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82396\" class=\"wp-caption-text\">Pemetaan dan validasi area terbakar di Indonesia menggunakan citra satelit dan ground truthing. Sumber: KLHK 2021<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong><em>Hotspot<\/em><\/strong><strong> dan <em>blindspot<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Citra satelit dan teknologi penginderaan jauh memberikan dukungan penting bagi badan meteorologi di negara-negara seperti <a href=\"https:\/\/fire.gistda.or.th\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Thailand<\/a>, Filipina, Malaysia, dan Indonesia,  karena teknologi ini memungkinkan mereka untuk mempublikasikan informasi <a href=\"https:\/\/www.met.gov.my\/en\/iklim\/fdrs-malaysia\/#:~:text=The%20FDRS%20is%20a%20system,life%2C%20property%20and%20the%20environment.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tingkat bahaya kebakaran<\/a> dan mengoperasikan sistem <a href=\"https:\/\/en.antaranews.com\/news\/273936\/eighty-one-hot-spots-detected-in-indonesia-ministry\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">deteksi titik panas<\/a>.<\/p>\n<p>ASEAN juga menggunakan satelit geostasioner dan satelit yang mengorbit kutub untuk citra kepulan asap, kabut asap, dan sisa luka terbakar yang hampir <em>real-time<\/em>, memberikan negara-negara anggota sebuah sistem peringatan dini dan peringatan tentang kabut lintas batas, ujar <a href=\"https:\/\/community.wmo.int\/en\/contacts\/mr-gavin-yeap\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Gavin Yeap<\/a> dari <em>ASEAN Specialised Meteorological Centre<\/em> (<a href=\"http:\/\/asmc.asean.org\/home\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">ASMC)<\/a>.<\/p>\n<p>Namun, pendeteksian titik panas hanya berguna sampai batas tertentu, karena tutupan awan dan keterbatasan teknologi satelit dapat membuat laporan jumlah kebakaran aktif tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan, menurut peserta lokakarya.<\/p>\n<p>Hal ini menyebabkan betapa pentingnya kemampuan untuk memetakan dan memperkirakan area yang terbakar setiap tahun secara akurat.  Dengan data andal yang dapat diverifikasi oleh pemeriksaan lapangan, pengelola kebakaran dapat mengembangkan alat untuk mengidentifikasi wilayah dengan risiko kebakaran hutan yang tinggi.<\/p>\n<p><strong>Memimpin tanggung jawab<\/strong><\/p>\n<p>Lokakarya tersebut mengungkapkan pendekatan tambal sulam untuk pemetaan dan mengestimasi area yang terbakar di seluruh wilayah. Sebagian besar anggota mengatakan pentingnya untuk melakukan lebih banyak pelatihan dan kolaborasi untuk menutup kesenjangan pengetahuan dan teknologi mereka. Pembicara termasuk Yoeung Visal dari Kementerian Lingkungan Hidup Kamboja, Nguyen Thanh dari Departemen Perlindungan Hutan Vietnam, dan Surassawadee Phoompanich dari Geo-Informatics and Space Technology Development Agency (<a href=\"https:\/\/www.gistda.or.th\/home.php?lang=EN\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">GISTDA<\/a>) Thailand.<\/p>\n<p>Indonesia selangkah lebih maju dalam pendekatan pemetaan dan tampil sebagai pelopor di negara-negara ASEAN (Gambar 1).<\/p>\n<figure id=\"attachment_82367\" aria-describedby=\"caption-attachment-82367\" style=\"width: 549px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-82367 size-full\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig2.png\" alt=\"\" width=\"549\" height=\"213\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig2.png 549w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig2-220x85.png 220w\" sizes=\"auto, (max-width: 549px) 100vw, 549px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82367\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Pendekatan pemetaan bulanan area terbakar di Indonesia.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Beberapa peserta menyampaikan bahwa evolusi kegiatan pemetaan area terbakar di Indonesia yang dilakukan sejak 2015, ketika Indonesia memulai inventarisasi sumber daya hutan tahunan. Hasilnya, dengan menggunakan citra satelit Landsat dan <a href=\"https:\/\/sentinel.esa.int\/web\/sentinel\/missions\/sentinel-2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sentinel-2,<\/a> yang kini digunakan untuk perhitungan emisi gas rumah kaca, peta risiko kebakaran dan referensi spasial untuk menentukan lokasi patroli pemadam kebakaran preventif. Saat ini ada sekitar 4.000 desa rawan kebakaran di Indonesia yang telah dipetakan.<\/p>\n<p>Indonesia juga menyediakan <a href=\"https:\/\/sipongi.menlhk.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sistem informasi publik<\/a> untuk <em>hotspot,<\/em> pemeriksaan lapangan, dan data lainnya, sambil menawarkan sistem peringatan kebakaran hutan terintegrasi dan interaktif yang disebut SPARTAN. Indonesia mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dengan <a href=\"https:\/\/rfmrc-sea.org\/ipb-university-launching-system-monitoring-and-reporting-technology-for-fire-prevention-patrol-smart-patrol-information-system-sipp-karhutla\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SIPP Karhutla<\/a>, sistem berbasis komputer yang dikembangkan untuk mengelola data dan informasi kegiatan patroli. Hampir 2.000 pemadam kebakaran nasional (<a href=\"https:\/\/en.antaranews.com\/news\/128832\/manggala-agni-continues-fire-fighting-efforts-in-kampar-peatland\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Manggala Agni<\/a>) berada di lapangan untuk melakukan verifikasi dan pemeriksaan lapangan.<\/p>\n<p>Informasi area yang terbakar juga digunakan untuk tujuan penegakan hukum, memberikan bukti dalam kasus pengadilan yang menuntut pelaku pembakaran untuk membuka lahan.<\/p>\n<p>\u201cPara hakim dilatih untuk menggunakan informasi ini \u2013 saya tahu karena mereka datang ke laboratorium saya untuk melihat bagaimana semuanya bekerja,\u201d kata <a href=\"https:\/\/ipb.ac.id\/lecturer\/index\/2019\/11\/prof-dr-bambang-hero-saharjo-m-agr\/18\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Bambang Hero Saharjo<\/a>, Direktur Eksekutif Pusat Sumber Daya Manajemen Kebakaran Regional \u2013 Asia Tenggara. \u201cKetika mereka melihat data satelit, tidak ada perdebatan karena Anda bisa melihat dari mana api berasal. Saat memutuskan hukuman, semuanya didasarkan pada bukti ilmiah.\u201d<\/p>\n<p>Selama satu dekade terakhir, Malaysia juga telah membuat kemajuan dalam mengoperasikan <a href=\"https:\/\/forfis.mysa.gov.my\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sistem informasi kebakaran hutan <\/a>untuk memantau titik panas dan area yang terbakar sejak 2011. Kebakaran merupakan ancaman utama bagi hutan rawa gambut tropis di Malaysia, khususnya<a href=\"https:\/\/www.gec.org.my\/index.cfm?&amp;menuid=458&amp;parentid=92\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"> Hutan Rawa Gambut Pahang Tenggara<\/a>. Saat ini, Malaysia menggunakan satelit <a href=\"https:\/\/www.ospo.noaa.gov\/Operations\/SNPP\/status.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SNPP<\/a> dan NOAA-20 untuk mendeteksi titik panas dengan resolusi tinggi 375 meter.<\/p>\n<p><strong>Kebakaran tersembunyi <\/strong><\/p>\n<p>Namun demikian, produk standar yang tersedia saat ini perlu dipahami dengan lebih baik untuk menginterpretasikan dampak kebakaran secara akurat, menurut <a href=\"https:\/\/www.umces.edu\/mark-cochrane\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Mark Cochrane<\/a>, Ilmuwan Senior di Pusat Ilmu Lingkungan Universitas Maryland. Karena tantangan dari celah orbit, asap, awan, geometri sensor, dan keterbatasan algoritme, sensor optik pada satelit seperti MODIS dan VIIRS gagal mengumpulkan data di wilayah ekuator hingga dua hari per minggu.<\/p>\n<p>\u201cSaat Anda tidak melihat api, bukan berarti tidak ada kebakaran,\u201d kata Cochrane. \u201cItu bisa berarti Anda tidak mendapatkan gambar hari itu (Gambar 2). Kami menyebutnya produk harian, tetapi di wilayah khatulistiwa, ini adalah produk harian semu.\u201d<\/p>\n<figure id=\"attachment_82368\" aria-describedby=\"caption-attachment-82368\" style=\"width: 507px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-82368 size-full\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig3.png\" alt=\"\" width=\"507\" height=\"255\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig3.png 507w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig3-220x111.png 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig3-260x130.png 260w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/MAHFSA-fig3-480x240.png 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 507px) 100vw, 507px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82368\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Kesenjangan di wilayah ekuator \u2013 antara 1 dan 2 hari seminggu tidak akan ada data yang dikumpulkan di wilayah ekuator.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Ada juga area dengan kebakaran kecil atau kebakaran besar  di lahan gambut yang tidak cukup panas \u2013 atau tidak ada cukup area yang terbakar \u2013 untuk melepaskan energi yang cukup untuk diambil oleh sensor. Cochrane menunjukkan bagaimana pendeteksian VIIRS di Asia Tenggara selama lima hari berturut-turut berfluktuasi dari nol menjadi 117 kebakaran, menyoroti perlunya pemetaan area yang terbakar.<\/p>\n<p>Semua sesi lokakarya memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan pendapat mereka melalui SLIDO, masukan ini akan membantu pembuatan pedoman yang diusulkan.<\/p>\n<p>Peserta lokakarya sepakat untuk membentuk kelompok penyusun yang terdiri dari KLHK Indonesia dan ORPA-BRIN, <em>Ministry of Agriculture and Rural Development of Vietnam <\/em>(<a href=\"https:\/\/www.mard.gov.vn\/en\/Pages\/default.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">MARD<\/a>) dan <em>Ministry of Natural Resources and Environment of the Lao People\u2019s Democratic Republic<\/em> (MONRE). Program MAHFSA dan CIFOR-ICRAF akan memainkan peran koordinasi, dan Sekretariat ASEAN akan memberikan panduan.<\/p>\n<p>Draf pedoman diharapkan akan selesai pada bulan Desember tahun ini, menurut peserta lokakarya.<\/p>\n<p>_____<\/p>\n<p>Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Ahmad Dermawan (a.dermawan@cifor-icraf.org).<\/p>\n<p>_____<\/p>\n<p>Program \u201c<em>Measurable Action for Haze-Free Sustainable Land Management in Southeast Asia\u201d <\/em>atau MAHFSA adalah inisiatif bersama lima tahun antara ASEAN dan <em>International Fund for Agricultural Development<\/em> (IFAD) untuk mendukung upaya pengurangan polusi asap lintas batas dan dampaknya di Asia Tenggara. MAHFSA dilaksanakan secara kolaboratif oleh Sekretariat ASEAN,<em> Global Environment Centre<\/em>(GEC), dan <em>Center for International Forestry Research<\/em> (CIFOR).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Polusi udara akibat kebakaran lahan gambut dan hutan melintasi batas negara, memberikan dampak negatif kepada ekosistem, kesehatan manusia, dan aktivitas ekonomi. Bencana ini juga memberikan dampak ekosistem yang menghilangkan pendapatan serta membahayakan kesehatan masyarakat setempat. Perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan memperburuk polusi udara dan kemungkinan meningkatkan jumlah kebakaran hutan di seluruh dunia hingga 50% [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":364,"featured_media":82943,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12057,12105],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[2622,11293,11200,2645],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[9822],"class_list":["post-82941","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bentang-alam","category-hutan-masyarakat","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-mahfsa","tag-bahasa-pencegahan-kebakaran-hutan","tag-bahasa-penginderaan-jauh","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Polusi udara akibat kebakaran lahan gambut dan hutan melintasi batas negara, memberikan dampak negatif kepada ekosistem, kesehatan manusia, dan aktivitas ekonomi. Bencana ini juga memberikan dampak ekosistem yang menghilangkan pendapatan serta membahayakan kesehatan masyarakat setempat. Perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan memperburuk polusi udara dan kemungkinan meningkatkan jumlah kebakaran hutan di seluruh dunia hingga 50% [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-05-29T08:04:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-04T00:49:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/36706429796_883cd22f69_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1360\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"David Henry\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional\"},\"author\":{\"name\":\"David Henry\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18\"},\"headline\":\"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional\",\"datePublished\":\"2023-05-29T08:04:31+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:23+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional\"},\"wordCount\":1442,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/36706429796_883cd22f69_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Bentang alam\",\"Hutan masyarakat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional\",\"name\":\"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/36706429796_883cd22f69_k.jpg\",\"datePublished\":\"2023-05-29T08:04:31+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-04T00:49:23+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/36706429796_883cd22f69_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/36706429796_883cd22f69_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1360,\"caption\":\"Memilih arah yang benar. Foto oleh: Marco Simola\\\/CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18\",\"name\":\"David Henry\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g495ca2761fca34dfb5a2f6b5d002bf4a\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"David Henry\"},\"description\":\"David Henry is a freelance writer who focuses on issues relating to climate change, food security and sustainable development.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/davidhenry\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82941\\\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional","og_description":"Polusi udara akibat kebakaran lahan gambut dan hutan melintasi batas negara, memberikan dampak negatif kepada ekosistem, kesehatan manusia, dan aktivitas ekonomi. Bencana ini juga memberikan dampak ekosistem yang menghilangkan pendapatan serta membahayakan kesehatan masyarakat setempat. Perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan memperburuk polusi udara dan kemungkinan meningkatkan jumlah kebakaran hutan di seluruh dunia hingga 50% [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-05-29T08:04:31+00:00","article_modified_time":"2025-08-04T00:49:23+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1360,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/36706429796_883cd22f69_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"David Henry","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional"},"author":{"name":"David Henry","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18"},"headline":"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional","datePublished":"2023-05-29T08:04:31+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:23+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional"},"wordCount":1442,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/36706429796_883cd22f69_k.jpg","articleSection":["Bentang alam","Hutan masyarakat"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional","name":"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/36706429796_883cd22f69_k.jpg","datePublished":"2023-05-29T08:04:31+00:00","dateModified":"2025-08-04T00:49:23+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/36706429796_883cd22f69_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/36706429796_883cd22f69_k.jpg","width":2048,"height":1360,"caption":"Memilih arah yang benar. Foto oleh: Marco Simola\/CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penurunan Kebakaran Hutan di Asia Tenggara Bergantung pada Pendekatan Pencegahan Regional"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18","name":"David Henry","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g495ca2761fca34dfb5a2f6b5d002bf4a","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g","caption":"David Henry"},"description":"David Henry is a freelance writer who focuses on issues relating to climate change, food security and sustainable development.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/davidhenry"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82941\/penurunan-kebakaran-hutan-di-asia-tenggara-bergantung-pada-pendekatan-pencegahan-regional#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/36706429796_883cd22f69_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/364"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82941"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82941\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82951,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82941\/revisions\/82951"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82941"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=82941"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=82941"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=82941"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=82941"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=82941"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=82941"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=82941"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=82941"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=82941"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=82941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}