{"id":82269,"date":"2023-04-03T16:31:22","date_gmt":"2023-04-03T09:31:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=82269"},"modified":"2023-05-16T12:23:01","modified_gmt":"2023-05-16T05:23:01","slug":"menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd","title":{"rendered":"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+"},"content":{"rendered":"<p>Para pejabat pembuat kebijakan pemerintah semakin menyadari pentingnya membuat kebijakan publik berdasarkan bukti ilmiah. Namun, informasi tersebut seringkali hanya dimuat dalam jurnal ilmiah-jurnal ilmiah spesifik yang belum tentu mereka baca.<em> <\/em><\/p>\n<p>Agar informasi tersebut lebih mudah diakses dan bermanfaat, beberapa ilmuwan CIFOR-ICRAF di Peru, negara dengan hutan terluas kedua di Amerika Selatan, berupaya menjembatani kesenjangan tersebut.<\/p>\n<p>Kelompok Penasihat Kebijakan pada Studi Perbandingan Global REDD+ CIFOR-ICRAF (<em>CIFOR-ICRAF Global Comparative Study on REDD+ <\/em><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/8277\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Policy Advisory Group<\/em><\/a>) mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, dan para pemangku kepentingan REDD+ yang terkait untuk bersama-sama mendiskusikan berbagai penelitian yang sedan dilakukan, terutama yang berkaitan dengan pengurangan emisi gas rumah kaa dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+).<\/p>\n<p>Pertemuan dilakukan tiga kali pada tahun 2022-melibatkan 25 peneliti dari 30 peneliti, pejabat pemerintah, perwakilan dari organisasi-organisasi masyarakat adat\/penduduk asli, anggota lembaga non-pemerintah dan para akademisi. Mereka dipertemukan dalam Dialog Sains-Kebijakan untuk mendengarkan dan mendiskusikan presentasi tentang proyek-proyek penelitian. Beberapa sesi direncanakan diadakan tahun ini.<\/p>\n<p>Hasil penelitian berupa semacam <em>peer-review <\/em>selama penelitian masih berproses.<\/p>\n<p>Peneliti CIFOR-ICRAF Juan Pablo Sarmiento Barletti mengatakan, \u201cTujuannya adalah untuk menyajikan penelitian kami kepada para pengguna potensial hasil penelitian kami.\u201d Juan adalah salah satu koordinator dialog tersebut. \u201cPada saat para peneliti duduk bersama dengan para pembuat kebijakan untuk membicarakan bukan sekedar hasil akhir kami, namun penelitian yang masih dalam proses, kami mengundang mereka untuk memberikan validasi dan berkolaborasi untuk membuat penelitian tersebut semakin relevan dengan konteks mereka, ada dua hal yang bisa dicapai: sebuah percakapan dan proses berbagi pengetahuan, dan para pembuat kebijakan menjadi lebih tertarik karena mereka juga mengetahui perkembangannya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dia menambahkan, \u201cHal itu menghasilkan suatu rasa kepemilikan karena mereka berpartisipasi pada saat penelitian masih dilakukan. Dengan demikian, kemungkinannya menjadi lebih besar bahwa mereka akan menggunakan informasi dari penelitian tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Menurut Pablo Pe\u00f1a, proses belajar tersebut berlaku dua arah. Pe\u00f1a adalah salah satu koordinator dari Kelompok Penasihat Kebijakan yang juga bertindak selaku perantara dengan <em>the Pontifical Catholic University of Peru<\/em> di Lima. Universitas tersebut menjadi mitra utama untuk implementasi proyek tersebut di Peru.<\/p>\n<p>Dalam berbagai pertemuan tersebut, para pembuat kebijakan mempelajari penelitian-penelitian yang dapat membantu mereka merancang kebijakan berbasis iptek, sementara para peneliti mendapat wawasan baru.<\/p>\n<p>\u201cPara peneliti tidak selalu memiliki pandangan yang terlalu jelas,\u201d ujar Pe\u00f1a. \u201cMereka mungkin tidak memiliki smua informasi, atau ada hal-hal yang tidak mereka ketahui secara pasti, jadi mereka menyajikan proses penelitian mereka, dan terbuka untuk saran-saran, rekomendasi dan kritik dari para pembuat kebijakan. Dengan cara tersebut, penelitian mereka meningkat.\u201d<\/p>\n<p>Dalam pertemuan tersebut juga disajikan perspektif internasional dari penelitian-penelitian di 22 negara yang menjadi bagian dari  Studi Perbandingan Global REDD+ (<a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/gcs\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Global Comparative Study on REDD+<\/em><\/a>). Namun, mereka juga berpijak pada isu-isu penting tertentu di Peru. Dalam pertemuan tanggal 6 Desember di Lima didiskusikan tipe-tipe deforestasi yang khas di berbagai negara tropis. Di sana juga dilakukan evaluasi terhadap dampak proyek konservasi di Peru, dan kajian mendalam tentang proyek-proyek khusus REDD+ di Brasil yang membahas mesin penuai kacang di wilayah Madre de Dios, di wilayah Brasil bagian tenggara.<\/p>\n<div class=\"wp-block-group is-content-justification-center is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-23441af8 wp-block-group-is-layout-flex\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"566\" height=\"400\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_121713_edited.webp\" class=\"wp-image-82274\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_121713_edited.webp 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_121713_edited-220x155.webp 220w\" sizes=\"auto, (max-width: 566px) 100vw, 566px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Sesi ketiga dari diskusi kelompok penasehat Peru tentang REDD+. Foto oleh: Yoly Gutierrez\/CIFOR-ICRAF <a href=\"\"><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"566\" height=\"400\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_Honeyview_20221205_124533_edited-2.webp\" class=\"wp-image-82275\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_Honeyview_20221205_124533_edited-2.webp 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_Honeyview_20221205_124533_edited-2-220x155.webp 220w\" sizes=\"auto, (max-width: 566px) 100vw, 566px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Sesi keempat dari kelompok penasehat Peru tentang REDD+. Foto oleh: Yoly Gutierrez\/CIFOR-ICRAF <a href=\"\"><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Julia Naime, Doktor Peneliti CIFOR-ICRAF di Norwegian University of Life Sciences di Aas, Norwegia, yang juga berbicara tentang tipe-tipe deforestasi pada dialog Sains-Kebijakan sebelumnya, mengemukakan beberapa komentar dari sesi tersebut saat memberikan presentasi dalam pertemuan lanjutan di bulan Desember.<\/p>\n<p>\u201cMasukan dari para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan tingkat lokal amat membantu kami untuk memahami apa yang mereka pandang sebagai potensi terbaik penerapan tipe-tipe deforestasi: mengidentfikasi pola umum pemanfaatan lahan dan membandingkan dampak kebijakan di berbagai lokasi yang berbeda,\u201d ujar Naime. \u201cDiskusi itu juga membantu kami untuk mengkomunikasikan hasil penelitian kami: dari penamaan setiap tipe hingga bagaimana kami harus mengomunikasikan cara mengkonstruksikannya dan berapa tipe yang bermanfaat untuk diterapkan,\u201d ujar Naime.<\/p>\n<p>Setelah diskusi tersebut, Naime dan koleganya memodifikasi terminologi yang mereka gunakan. Semula mereka menggunakan kata \u201c<em>frontier<\/em>\u201d yang digunakan untuk  mengacu pada wilayah-wilayah dengan tingkat deforestasi yang tinggi, yang kemudian mereka ubah menjadi \u201c<em>deforestation fronts<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Rudy Valdivia adalah salah satu peserta yang mengakui kemanfaatan dari pengenala tipe-tipe tersebut, yaitu untuk mengidentifikasi pola-pola perubahan fungsi lahan. Valdivia adalah koordinator Program Nasional Konservasi Hutan Peru untuk Mitigasi Perubahan Iklim. Menurut dia, presentasi Naime membantunya untuk memiliki cara berpikir yang berbeda tentang konteks deforestasi yang terjadi.<\/p>\n<p>Dia juga tertarik pada penelitian yang dipresentasikan oleh Renzo Giudice, peneliti senior pada Pusat Pengembangan Penelitian di University of Bonn di Jerman yang mengkaji tentang evaluasi dampak program-program konservasi di Peru, termasuk evaluasi yang dilakukan di bawah pengawasan Valvidiva. Dia memasukkan beberapa rekomendasi yang muncul dari penelitian tersebut ke dalam evaluasi program di masa mendatang.<\/p>\n<p>Dialog Sains-Kebijakan, menurut Validiva, merupakan \u201cruang di mana kita bisa mendengar persepsi orang lain tentang bagaimana sebuah masalah terjadi. Kadang-kadang Anda tenggelam dalam pekerjaan harian, dari hari ke hari, sehingga Anda hanya fokus pada persepsi Anda sendiri. Akan sangat membantu jika memiliki ruang di mana Anda bisa mendengar pandangan dari pihak lain.\u201d<\/p>\n<p>Bagi Sarmiento Barletti dan Pe\u00f1a, duanya ada dua kunci sukses untuk suatu kelompok yaitu: luasnya perspektif dan keterbukaan terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kritik di antara orang-orang yang biasanya tidak saling berbicara.<\/p>\n<p>Dialog tersebut juga menjadi tempat netral untuk melakukan diskusi mengenai program-program REDD+, yang bisa berkembang menjadi sangat kontroversial. Organisasi-organisasi masyarakat adat\/penduduk asli di Peru selama ini mengkritik keras mekanisme REDD+, karena mereka melihat itu sebaga salah satu bentuk penyingkiran dan komersialisasi alam. Sarmiento Barletti mengatakan, \u201cNamun mereka berpartisipasi dalam dialog karena mereka berkolaborasi dengan para peneliti dan dapat menggunakan bukti-bukti dari kerja penelitian kami ke dalam pekerjaan mereka dalam mewakili komunitas.\u201d<\/p>\n<p>Sarmiento Barletti dan Pe\u00f1a punya beberapa tips bagi mereka yang ingin memulai kelompok advokasi sejenis. Karena, bagi peneliti individu, pemerintah resmi atau anggota dari organisasi nirlaba untuk membentuk  grup semacam itu, maka mereka menyarankan untuk bermitra dengan suatu pusat riset atau seseorang dari suatu organisasi nirlaba atau lembaga pemerintah untuk mendapatkan kontak-kontak dengan orang yang bekerja di bidang tersebut.<\/p>\n<p>Agar suatu kelompok tetap bisa dikelola dengan baik dan memastikan ada cakupan  perspektif, mereka merekomendasikan ada partisipasi dengan undangan untuk memastikan bahwa beragam sektor dan organisasi terwakili.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"832\" height=\"394\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-832x394.webp\" class=\"wp-image-82277\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-832x394.webp 832w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-566x268.webp 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-768x364.webp 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-220x104.webp 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-800x379.webp 800w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-610x289.webp 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited-672x318.webp 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Honeyview_20220922_092940_edited.webp 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 832px) 100vw, 832px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Juan Pablo Sarmiento Barletti membuka pertemuan ketiga yang diadakan pada tahun 2022.<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>Dalam pertemuan-pertemuan resmi, para peneliti membagikan tulisan ilmiah dan membuat lokakarya dan pertemuan dalam kelompok-kelompok kecil. Menurut mereka, salah satu tantangan adalah bagaimana menemukan cara yang efektif untuk mengkomunikasikan hasil penelitian kepada pihak-pihak yang tidak memiliki spesialisasi. Para ilmuwan yang terlibat dalam pertemuan teresbut telah mempublikasikan hasil penelitian mereka sebagai ringkasan kebijakan dan blog-blog agar hasil penelitian tersebut lebih mudah diakses agar bisa menjadi contoh.<\/p>\n<p>Sarmiento Barletti mengatakan, \u201clibatkan pelaku-pelaku yang Anda tidak biasa berkerja sama. Anda perlu berpikir tentang mereka yang terdampak oleh pekerjaan Anda \u2013 Masyarakat Adat, sebagai contoh, dalam kasus REDD+, dan libatkan mereka jika Anda ingin mendapatkan perspektif yang jujur.\u201d<\/p>\n<p>Pe\u00f1a menambahkan, \u201cPenting untuk memiliki ruang seperti ini, di mana orang dapat berdiskusi secara bebas dan terbuka, tanpa harus ada agenda khusus, hanya untuk mendengarkan satu sama lain dan berbicara tentang bukti-bukti baru serta tentang bagaimana memanfaatkannya atau meningkatkannya. Sulit mengukur ini. Namun, dengan adanya orang-orang menarik yang berbicara tentang hal-hal menarik yang dapat direfleksikan dalam sebuah kebijakan sebagai buah kerja platform ini,  sungguh bermanfaat.\u201d<\/p>\n<p><strong>Pertemuan selanjutnya telah diadakan pada 30 Maret di Iquitos, Loreto, <\/strong>di mana organisasi lokal dan internasional menginformasikan tentang kasus lahan gambut Amazon yang harus diperhitungkan sebagai bagian dari rujukan emisi gas rumah kaca nasional, the Forest National Reference Levels yang akan mempresentasikan hasil penelitian terakhir dan membicarakan peluang-peluang untuk masuk ke dalam kebijakan.<\/p>\n<p>______<\/p>\n<p>Untuk informasi lebih lanjut topik ini, silakan menghubungi Juan Pablo Sarmiento Barletti di <a href=\"mailto:J.Sarmiento@cifor-icraf.org\">J.Sarmiento@cifor-icraf.org<\/a><\/p>\n<p>______<\/p>\n<p>Proyek ini dibuat sebagai bagian dari <em>the Center for International Forestry Research\u2019s Global Comparative Study on REDD+ (<\/em><a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/gcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>www.cifor.org\/gcs<\/em><\/a><em>). Mitra-mitra pendanaan yang telah mendukung penelitian ini di antaranya adalah the Norwegian Agency for Development Cooperation (Norad, Grant No. QZA-21\/0124), International Climate Initiative (IKI) of the German Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation and Nuclear Safety (BMU, Grant No. 20_III_108), and CGIAR Research Program on Forests, Trees and Agroforestry (CRP-FTA) dengan dukungan finansial dari CGIAR Fund Donors.<\/em><\/p>\n<p>______<\/p>\n<p><strong>Bacaan lebih lanjut:<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/gcs\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Global Comparative Study on REDD+<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/8277\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">GCS REDD+ Policy Advisory Group brochure<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para pejabat pembuat kebijakan pemerintah semakin menyadari pentingnya membuat kebijakan publik berdasarkan bukti ilmiah. Namun, informasi tersebut seringkali hanya dimuat dalam jurnal ilmiah-jurnal ilmiah spesifik yang belum tentu mereka baca. Agar informasi tersebut lebih mudah diakses dan bermanfaat, beberapa ilmuwan CIFOR-ICRAF di Peru, negara dengan hutan terluas kedua di Amerika Selatan, berupaya menjembatani kesenjangan tersebut. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":84,"featured_media":82273,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[7301,2819],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[831],"class_list":["post-82269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-gcs-redd","tag-bahasa-redd","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+ - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Para pejabat pembuat kebijakan pemerintah semakin menyadari pentingnya membuat kebijakan publik berdasarkan bukti ilmiah. Namun, informasi tersebut seringkali hanya dimuat dalam jurnal ilmiah-jurnal ilmiah spesifik yang belum tentu mereka baca. Agar informasi tersebut lebih mudah diakses dan bermanfaat, beberapa ilmuwan CIFOR-ICRAF di Peru, negara dengan hutan terluas kedua di Amerika Selatan, berupaya menjembatani kesenjangan tersebut. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-04-03T09:31:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-05-16T05:23:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1441\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Barbara Fraser\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@barbara_fraser\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd\"},\"author\":{\"name\":\"Barbara Fraser\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\"},\"headline\":\"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+\",\"datePublished\":\"2023-04-03T09:31:22+00:00\",\"dateModified\":\"2023-05-16T05:23:01+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd\"},\"wordCount\":1334,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/04\\\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd\",\"name\":\"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+ - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/04\\\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg\",\"datePublished\":\"2023-04-03T09:31:22+00:00\",\"dateModified\":\"2023-05-16T05:23:01+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/04\\\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/04\\\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1441,\"caption\":\"Sesi diskusi baru-baru ini dari pertemuan kebijakan sains di Lima, Peru. Foto oleh: Yoly Gutierrez\\\/CIFOR-ICRAF\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\",\"name\":\"Barbara Fraser\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Barbara Fraser\"},\"description\":\"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@barbara_fraser\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/barbara-fraser\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/82269\\\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+ - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+","og_description":"Para pejabat pembuat kebijakan pemerintah semakin menyadari pentingnya membuat kebijakan publik berdasarkan bukti ilmiah. Namun, informasi tersebut seringkali hanya dimuat dalam jurnal ilmiah-jurnal ilmiah spesifik yang belum tentu mereka baca. Agar informasi tersebut lebih mudah diakses dan bermanfaat, beberapa ilmuwan CIFOR-ICRAF di Peru, negara dengan hutan terluas kedua di Amerika Selatan, berupaya menjembatani kesenjangan tersebut. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-04-03T09:31:22+00:00","article_modified_time":"2023-05-16T05:23:01+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1441,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Barbara Fraser","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@barbara_fraser","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd"},"author":{"name":"Barbara Fraser","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f"},"headline":"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+","datePublished":"2023-04-03T09:31:22+00:00","dateModified":"2023-05-16T05:23:01+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd"},"wordCount":1334,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd","name":"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+ - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg","datePublished":"2023-04-03T09:31:22+00:00","dateModified":"2023-05-16T05:23:01+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg","width":2560,"height":1441,"caption":"Sesi diskusi baru-baru ini dari pertemuan kebijakan sains di Lima, Peru. Foto oleh: Yoly Gutierrez\/CIFOR-ICRAF"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menerapkan Sains dalam Kebijakan Publik pada REDD+"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f","name":"Barbara Fraser","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","caption":"Barbara Fraser"},"description":"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@barbara_fraser"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/barbara-fraser"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/82269\/menerapkan-sains-dalam-kebijakan-publik-pada-redd#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/20220922_100734_edited-scaled-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/84"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82269"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82279,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82269\/revisions\/82279"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82269"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=82269"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=82269"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=82269"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=82269"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=82269"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=82269"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=82269"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=82269"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=82269"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=82269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}