{"id":81549,"date":"2023-02-24T23:22:25","date_gmt":"2023-02-24T16:22:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=81549"},"modified":"2023-02-24T23:22:25","modified_gmt":"2023-02-24T16:22:25","slug":"menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru","title":{"rendered":"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Peru telah mengakui peran Masyarakat Adat Amazon dalam memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan dari salah satu bioma yang paling beragam di dunia dan mewujudkan rencana iklim serta konservasinya. Namun, pengelolaan <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/69289\/resource-rights-deserve-more-attention-in-community-forest-management-report-finds?fnl=\"><span data-contrast=\"none\">hutan berbasis masyarakat (<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">PHBM) menemui kendala dalam memenuhi janjinya akan perbaikan lingkungan dan mata pencahariannya. Di Peru, seperti di banyak negara hutan tropis lainnya, masyarakat sering melanggar peraturan kehutanan dan terjerumus ke dalam sektor informal yang didominasi oleh hubungan komersial yang tidak merata dan praktik yang tidak berkelanjutan. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Berbagai upaya untuk mendukung PHBM telah dilakukan, tetapi kurangnya koordinasi dan kesinambungan antar program menghambat kemajuan. Selain itu, aktor-aktor yang terlibat seperti pembuat kebijakan nasional, LSM, aktivis hak-hak adat, dan donor juga memiliki pandangan berbeda mengenai PHBM dan peran mereka dalam mendukungnya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cPada dasarnya, para pemangku kepentingan setuju bahwa pengelolaan hutan berbasis masyarakat adalah hal yang baik, tapi pandangan mereka yang berbeda mengenai implementasinya menjadi hambatan,\u201d kata Antropolog Sosial Peru, Juan Pablo Sarmiento Barletti. \u201cMemahami berbagai perspektif dan mengidentifikasi poin-poin kesepakatan sangat penting untuk menciptakan PHBM yang bekerja untuk masyarakat dan hutan.\u201d<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/8727\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">Studi terbaru <\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">Center for International Forestry Research dan World Agroforestry <\/span><a href=\"http:\/\/www.cifor-icraf.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">(CIFOR-ICRAF)<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> yang dipimpin oleh Sarmiento Barletti menggunakan proses sistematis yang dikenal sebagai Q-Methodology untuk mengidentifikasi sudut pandang yang berbeda di antara para aktor, menyoroti perbedaan pendapat dan \u2013 yang paling penting \u2013 menemukan konsensus. Metode ini berupaya memberi mereka dasar yang kuat untuk mengembangkan dan menerapkan strategi PHBM yang lebih efektif.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n\n<h3><strong>Lebih dari sekadar fokus grup<\/strong><\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Q-Methodology mengkombinasikan analisis statistik dan wawancara kualitatif untuk menghilangkan bias bawah sadar peserta dan mengklarifikasi berbagai perspektif tentang topik tertentu. Berdasarkan <\/span><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/8186\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">penerapan pendekatan sebelumnya<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> di Peru, tim peneliti bekerja dengan sampel pemimpin masyarakat adat, pembuat kebijakan, pekerja LSM, profesor universitas, mahasiswa kehutanan tahun terakhir, dan perwakilan organisasi donor.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Para ilmuwan memulai dengan mengidentifikasi lima pendekatan hipotesis untuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam literatur khusus dan membuat 40 pernyataan yang mewakili berbagai pandangan. Mereka kemudian meminta peserta menilai pernyataan berdasarkan seberapa kuat mereka setuju atau tidak setuju. Terakhir, para aktor diwawancarai untuk memahami alasan di balik pilihan jawaban mereka. Analisis statistik berikutnya mengungkapkan bahwa ada empat pandangan utama PHBM.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ilmuwan Senior CIFOR-ICRAF, Peter Cronkleton mengemukakan pentingnya menggunakan proses yang sistematis: \u201cDalam diskusi kelompok tentang topik <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">multi-faceted<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, individu mungkin berpikir bahwa pihak lain memiliki pengertian dan referensi yang sama dengan mereka, dan mungkin tidak sadar bahwa ada pemahaman yang berbeda untuk topik yang sama, \u201dkatanya. \u201cPendekatan yang kami gunakan membantu menuangkan persepsi individu ke dalam kata-kata dan memungkinkan untuk membandingkannya dan mengidentifikasi kesamaan atau perbedaan.\u201d <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Q-Methodology juga membantu individu untuk memikirkan hal-hal yang mungkin tidak terlintas dalam pikiran mereka sebelumnya dan memaksa mereka untuk memilih prioritas.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n\n<h3><strong>Prioritas bersama<\/strong><\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Proses ini mengungkap persepsi peserta mengenai PHBM yang terbagi dalam empat kategori, antara menyeimbangkan konservasi dengan dukungan untuk hak-hak masyarakat; mendorong pengembangan kapasitas dan usaha; menjadi pendekatan teknis untuk melindungi hutan di wilayah Masyarakat Adat; atau diarahkan untuk mendukung otonomi masyarakat adat akar rumput.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Analisis yang sama mengidentifikasi beberapa poin konsensus di kelompok tersebut. Salah satunya kesepakatan mereka bahwa PHBM harus mendukung kesetaraan hak-hak masyarakat dan tujuan konservasi dan keuntungan tidak boleh menjadi indikator utama keberhasilan.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Mereka juga sepakat bahwa Masyarakat Adat membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kapasitas mereka\u2014terutama untuk menghentikan perusahaan penebangan mengambil keuntungan dan meninggalkan mereka dengan dampak hukum dan lingkungan dari ekstraksi kayu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cKonsensus ini dapat menjadi titik tolak untuk mengembangkan strategi guna mengatasi tantangan yang menyebabkan penebangan liar dan hubungan ekstraktif yang tidak setara,\u201d menurut studi tersebut. \u201cTentunya hasil studi akan menargetkan kembali peran pemerintah dalam mendukung Masyarakat Adat untuk mengembangkan mata pencaharian yang bermartabat dan berkelanjutan dari hutan mereka melalui pengembangan kapasitas dan kerangka peraturan yang mendukung.\u201d<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Prioritas bersama yang diidentifikasi oleh penelitian dapat bertindak sebagai agenda awal untuk kolaborasi di antara para pelaku yang mempromosikan PHBM di Peru, dan menjadi dasar untuk reformasi peraturan, catat para peneliti.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n\n<h3><strong>Perbedaan pandangan<\/strong><\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Studi ini mengidentifikasi titik temu, serta menunjukkan dengan tepat perbedaan pendapat utama antar kelompok yang juga perlu dipahami\u2013 misalnya tentang peran pemerintah sebagai wasit dalam transaksi komersial dan dalam pemberian izin industri ekstraktif di wilayah yang dikelola oleh masyarakat.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Poin ketidaksepakatan lainnya termasuk pentingnya rencana teknis dan hak masyarakat, promosi perusahaan komunal, legitimasi norma dan sanksi yang ada, dan penggunaan alat berat.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Walaupun ada beberapa sudut pandang yang melihat hutan komunitas sebagai hal teknis, perspektif lain lebih menekankan pada praktik Masyarakat Adat dalam pengelolaan lingkungan. Pada saat bersamaan, ada juga perbedaan pendapat antara mendukung hak Masyarakat Adat untuk menentukan nasib sendiri dengan kebutuhan akan penegakan hukum lingkungan dan pengawasan pemerintah atas penjualan kayu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cPemerintah perlu menyadari bahwa ada sedikit konsensus tentang masalah ini, yang dapat memperburuk konflik di masa depan,\u201d kata penulis, yang mendorong dialog untuk mencegah perselisihan dan menciptakan <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/79522\/integrating-local-knowledge-into-policy-is-vital-to-sustainable-livelihoods?fnl=\"><span data-contrast=\"none\">kebijakan yang lebih adil.<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Menurut peneliti, Q-Methodology dapat memfasilitasi dialog hutan komunitas dan inisiatif lain dengan<\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/78350\/can-multi-stakeholder-platforms-and-partnerships-live-up-to-their-promise?fnl=\"><span data-contrast=\"none\"> berbagai pemangku kepentingan, <\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">perbedaan pendapat, dan tujuan. Dan jika ada perbedaan pandangan untuk isu apapun, metodologi ini dapat  menempatkan urutan analitis dalam cara individu memandang masalah dan mengedepankan prioritas bersama, membantu menyelesaikan diskusi yang rumit keluar dari kebiasaan dan ke jalur kebijakan.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><i><span data-contrast=\"auto\">Studi ini merupakan bagian dari Program Penelitian CGIAR tentang Kebijakan, Kelembagaan dan Pasar yang dipimpin oleh International Food Policy Research Institute  (IFPRI). Studi ini juga didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD).<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peru telah mengakui peran Masyarakat Adat Amazon dalam memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan dari salah satu bioma yang paling beragam di dunia dan mewujudkan rencana iklim serta konservasinya. Namun, pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) menemui kendala dalam memenuhi janjinya akan perbaikan lingkungan dan mata pencahariannya. Di Peru, seperti di banyak negara hutan tropis lainnya, masyarakat sering [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":265,"featured_media":81551,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[11236,7703,2575,11237],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7135],"class_list":["post-81549","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-hutan-berbasis-masyarakat","tag-bahasa-hutan-masyarakat","tag-bahasa-masyarakat-adat","tag-bahasa-q-methodology","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Peru telah mengakui peran Masyarakat Adat Amazon dalam memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan dari salah satu bioma yang paling beragam di dunia dan mewujudkan rencana iklim serta konservasinya. Namun, pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) menemui kendala dalam memenuhi janjinya akan perbaikan lingkungan dan mata pencahariannya. Di Peru, seperti di banyak negara hutan tropis lainnya, masyarakat sering [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-02-24T16:22:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1360\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Gloria Pallares\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru\"},\"author\":{\"name\":\"Gloria Pallares\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99\"},\"headline\":\"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru\",\"datePublished\":\"2023-02-24T16:22:25+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru\"},\"wordCount\":872,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru\",\"name\":\"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg\",\"datePublished\":\"2023-02-24T16:22:25+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1360,\"caption\":\"Vue a\u00e9rienne de la for\u00eat amazonienne, pr\u00e8s de Manaus, la capitale de l'\u00c9tat br\u00e9silien d'Amazonas. Br\u00e9sil. Photo de Neil Palmer\\\/CIAT.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99\",\"name\":\"Gloria Pallares\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=ga8d208240b0c91fd63e9432e9acfbb23\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gloria Pallares\"},\"description\":\"Gloria Pallares is a journalist reporting on global development and the environment from Africa, Asia and Latin America. Her work has appeared in a range of publications, including El Pais, CNN and Forbes. As part of her scientific background, Gloria conducted research on agroforestry and land use in Kenya in collaboration with CGIAR. She holds a bachelor's of science in journalism, a master's of science in biology from the Swedish University of Agricultural Sciences and a second bachelor's of science in biotechnology.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/gloria-pallares\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81549\\\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru","og_description":"Peru telah mengakui peran Masyarakat Adat Amazon dalam memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan dari salah satu bioma yang paling beragam di dunia dan mewujudkan rencana iklim serta konservasinya. Namun, pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) menemui kendala dalam memenuhi janjinya akan perbaikan lingkungan dan mata pencahariannya. Di Peru, seperti di banyak negara hutan tropis lainnya, masyarakat sering [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-02-24T16:22:25+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1360,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Gloria Pallares","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru"},"author":{"name":"Gloria Pallares","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99"},"headline":"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru","datePublished":"2023-02-24T16:22:25+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru"},"wordCount":872,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru","name":"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg","datePublished":"2023-02-24T16:22:25+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg","width":2048,"height":1360,"caption":"Vue a\u00e9rienne de la for\u00eat amazonienne, pr\u00e8s de Manaus, la capitale de l'\u00c9tat br\u00e9silien d'Amazonas. Br\u00e9sil. Photo de Neil Palmer\/CIAT."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menemukan Konsensus dalam Pengelolaan Hutan berbasis Masyarakat di Peru"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99","name":"Gloria Pallares","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=ga8d208240b0c91fd63e9432e9acfbb23","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gloria Pallares"},"description":"Gloria Pallares is a journalist reporting on global development and the environment from Africa, Asia and Latin America. Her work has appeared in a range of publications, including El Pais, CNN and Forbes. As part of her scientific background, Gloria conducted research on agroforestry and land use in Kenya in collaboration with CGIAR. She holds a bachelor's of science in journalism, a master's of science in biology from the Swedish University of Agricultural Sciences and a second bachelor's of science in biotechnology.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/gloria-pallares"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81549\/menemukan-konsensus-dalam-pengelolaan-hutan-berbasis-masyarakat-di-peru#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/35743388862_346be3ef8e_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81549","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/265"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81549"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81549\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81554,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81549\/revisions\/81554"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81549"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81549"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81549"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=81549"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=81549"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=81549"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=81549"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=81549"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=81549"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=81549"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=81549"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=81549"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=81549"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}