{"id":81396,"date":"2023-02-17T10:04:15","date_gmt":"2023-02-17T03:04:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=81396"},"modified":"2023-02-17T10:04:15","modified_gmt":"2023-02-17T03:04:15","slug":"membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas","title":{"rendered":"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Indonesia adalah negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, dengan berbagai kekayaan keanekaragaman hayati. Kepulauan Nusantara <\/span><a href=\"https:\/\/www.cbd.int\/countries\/profile\/?country=id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">merupakan salah satu dari 17 negara mega-diversity,<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> dan rumah dari 2 dari 25 <em>hotspot<\/em> dunia. Namun, pada 2015, Indonesia mengalami <\/span><a href=\"https:\/\/www2.cifor.org\/press-releases\/carbon-emissions-2015-fires-southeast-asia-greatest-since-1997-new-study\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">kebakaran hutan yang terburuk dalam dua dekade terakhir.<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> Pada September dan Oktober 2015, emisi karbon yang disebabkan kebakaran hutan mencapai <\/span><a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/srep26886\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">11,3 juta ton per hari<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\"> \u2013 lebih tinggi dibandingkan emisi dari seluruh Uni Eropa pada periode yang sama, yaitu 8,9 juta ton setiap hari.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Menanggapi bencana tersebut \u2013 dan sebagai bagian dari upaya untuk merestorasi 14 juta hektare lahan terdegradasi, termasuk 2 juta hektare lahan lahan gambut \u2013 Pemerintah Korea dan Indonesia telah membuat proyek restorasi lahan gambut yang berfokus pada \u20183R\u2019: <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">rewetting <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(membasahi ulang), <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">revegetation <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(revegetasi) dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">revitalization <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(revitalisasi). Kegiatan tersebut meliputi membasahi ulang infrastruktur, melakukan revegetasi lebih dari 200 hektare dengan penanaman pohon dan revitalisasi lahan di 10 desa sekitar situs proyek, serta membangun pusat pendidikan lahan gambut kecil. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cKami percaya bahwa proyek restorasi lahan gambut akan membentuk ekosistem yang berkelanjutan dan memberikan dampak produktif untuk masyarakat, \u201c ujar Junkyu Cho, Co-Direktur <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Korea-Indonesia Forest Cooperation Center<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (<\/span><a href=\"https:\/\/kifcjakarta.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">KIFC<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">), dalam simposium yang diadakan untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman dari inisiatif restorasi lahan gambut di beberapa daerah di Indonesia, pada 7 Desember 2022 di kampus CIFOR, Bogor. Simposium Internasional tersebut bertujuan untuk memperluas jaringan peneliti yang terlibat dalam restorasi dan tata kelola lahan gambut. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n\n<p><span data-contrast=\"auto\">Tim peneliti, yang datang dari <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">National Institute of Forest Science (NIFoS) Korea<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Center for International Forestry Research and<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">World Agroforestry (<\/span><\/i><a href=\"http:\/\/www.cifor-icraf.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span data-contrast=\"none\">CIFOR-ICRAF<\/span><\/i><\/a><i><span data-contrast=\"auto\">),<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> akan membangun model untuk restorasi lahan gambut dan lahan terdegradasi lainnya di Indonesia dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara maksimal dan meningkatkan mata pencaharian lokal.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cKami berharap berbagai isu, seperti adaptasi perubahan iklim, solusis berbasis alam, dan bioekonomi akan dapat dieksplorasi sebagai bagian dari lahan gambut,\u201d jelas Hyungsoon Choi, Direktur <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">NIFoS Global Forestry Research Division<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Para peneliti juga membantu membangun reboisasi dan usaha berbasis masyarakat yang berkelanjutan, jelas Peneliti Senior CIFOR-ICRAF, Himlal Baral. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Pada saat simposium, Baral juga berbagi informasi mengenai proyek jangka panjang CIFOR-ICRAF <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Sustainable Community-based Reforestation and Enterprises <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(SCORE), yang berlangsung di periode yang sama dengan UN <\/span><a href=\"https:\/\/www.decadeonrestoration.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span data-contrast=\"none\">Decade on Ecosystem Restoration<\/span><\/i><\/a> <span data-contrast=\"auto\">dan memberikan peluang berharga untuk penelitian. Penelitian tersebut mencakup mengidentifikasi area untuk restorasi dan untuk menanam hasil hutan kayu dan non-kayu yang berkelanjutan. \u201cKami memulai dengan uji coba demonstrasi berskala kecil dan mendapatkan dampak jangka panjang,\u201d imbuhnya, menambahkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">smart agroforestry <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">merupakan salah satu opsi untuk restorasi. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Nisa Novita, dari LSM lokal Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), juga membagikan beberapa penelitiannya mengenai potensi mitigasi solusi iklim untuk Indonesia. Timnya menemukan bahwa Indonesia menawarkan peluangan yang sangat besar untuk berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim dengan meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon melalui perlindungan, peningkatan pengelolaan dan restorasi ekosistem lahan kering, lahan gambut dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">mangrove. \u201c<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Melindungi, mengelola dan memulihkan lahan basah Indonesia adalah kunci untuk mencapai target pengurangan emisi pada 2030,\u201d jelasnya. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Beberapa pembicara lain juga berbagi mengenai model restorasi yang hemat biaya. A-Ram Yang dari <em>Global Forestry Division<\/em> NIFoS bercerita mengenai kunjungannya ke lanskap gambut di Perigi, Sumatra Selatan pada September 2022. Sementara itu, tim dari Kookmin Universitas Korea berbagi mengenai pengalaman mereka dalam menilai jasa ekosistem di hutan Korea Utara, dengan tujuan untuk mempraktikannya di Indonesia. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Budi Leksono, Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (<\/span><a href=\"https:\/\/www.brin.go.id\/en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">BRIN<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">) berbicara mengenai potensi perbaikan genetik untuk mencapai tujuan restorasi. \u201cPenggunaan bibit unggul untuk hutan telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produk hutan,\u201d ujar beliau. \u201cSesuai dengan tujuan restorasi tumbuhan dan hutan Indonesia di lanskap hutan terdegradasi dalam skala besar, penggunaan bibit unggul harus diterapkan dalam program pemulihan lahan untuk meningkatkan nilai tambahan terhadap lahan dan akan memberikan dampak pada peningkatan ketahanan dan produktivitas ekologis.\u201d<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Senada, kolaborasi penelitian antara Ilmuwan CIFOR-ICRAF dan Universitas Sriwijaya (<\/span><a href=\"https:\/\/unsri.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span data-contrast=\"none\">UNSRI<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">) juga mengembangkan model restorasi bentang alam untuk diterapkan pada berbagai spesies bernilai ekonomi tinggi, termasuk jelutung<\/span><i><span data-contrast=\"auto\"> (Dyera costulata), <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">b<\/span>elangeran <i><span data-contrast=\"auto\">(Shorea balangeran),<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> nyamplung <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(Calophyllum inophyllum)<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan malapari <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(Pongamia pinnata)<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Agus Suwignyo, salah satu ilmuwan dalam proyek tersebut, menjelaskan, \u201cPenggunaan bibit unggul untuk pemulihan lahan akan memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat jika proses penanamannya sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan komunitas lokal.\u201d <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Petani yang berpartisipasi juga memilih spesies yang mereka inginkan, seperti nangka<\/span><i><span data-contrast=\"auto\"> (Artocarpus heterophyllus)<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, alpukat <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(Persea americana)<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, mangga <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(Mangifera indica),<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> nangkadak (persilangan nangka dan cempedak <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Artocarpus heterophillus<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Artocarpus integer<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">), sawo <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(Manilkara zapota<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">), jeruk (Citrus sp.),\u202fsirsak <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(Annona muricata)<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, rambutan (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Nephelium lappaceum)<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan sirih atau pinang (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Areca catechu).<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> Sejak 2018 hingga 2020, UNSRI telah membantu petani setempat untuk mengembangkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">agrosilvofishery <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">cerdas, meningkatkan budidaya padi, memperkenalkan jenis tanaman padi ekonomis lainnya, menanam pohon dan membudidayakan berbagai spesies ikan lokal. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Metode ini menunjukkan hasil yang positif. \u201cPada musim kemarau panjang 2018, lahan di sekeliling area dibakar oleh petani lain, tetapi plot demo kami tidak dibakar,\u201d ujar Suwignyo. \u201cTahun ini, kami memperluas area menjadi 10 hektare.\u201d Cerita ini senada dengan tema utama dalam simposium ini: pentingnya restorasi yang terencana dengan baik, multidisiplin dan berbasis bukti yang mengedepankan manusia dan alam. <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:259}\"> <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Penelitian ini didukung oleh <\/span><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/partners\/nifos\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span data-contrast=\"none\">National Institute of Fores Science, Republic of Korea;<\/span><\/i><\/a><i><span data-contrast=\"auto\"> Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Biotifor); Pusat Reboisasi Hutan Hujan Tropis Universitas Mulawarman; <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/umpr.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span data-contrast=\"none\">Universitas Muhammadiyah<\/span><\/i><\/a><i><span data-contrast=\"auto\"> Palangkaraya; Center of Excellence Riset Lahan Gambut di Universitas Sriwijaya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia adalah negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, dengan berbagai kekayaan keanekaragaman hayati. Kepulauan Nusantara merupakan salah satu dari 17 negara mega-diversity, dan rumah dari 2 dari 25 hotspot dunia. Namun, pada 2015, Indonesia mengalami kebakaran hutan yang terburuk dalam dua dekade terakhir. Pada September dan Oktober 2015, emisi karbon yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":81398,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[11224,10981,2622,2647],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7230],"class_list":["post-81396","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-agroforestry","tag-bahasa-agrosilvofishery","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-restorasi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia adalah negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, dengan berbagai kekayaan keanekaragaman hayati. Kepulauan Nusantara merupakan salah satu dari 17 negara mega-diversity, dan rumah dari 2 dari 25 hotspot dunia. Namun, pada 2015, Indonesia mengalami kebakaran hutan yang terburuk dalam dua dekade terakhir. Pada September dan Oktober 2015, emisi karbon yang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-02-17T03:04:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nabiha Shahab\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas\"},\"author\":{\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\"},\"headline\":\"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas\",\"datePublished\":\"2023-02-17T03:04:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas\"},\"wordCount\":853,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2023\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas\",\"name\":\"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg\",\"datePublished\":\"2023-02-17T03:04:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/02\\\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Ibu-ibu di Desa Perigi rutin memanen purun untuk membuat anyaman tikar. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\",\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nabiha Shahab\"},\"description\":\"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/nabiha-shahab\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/81396\\\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas","og_description":"Indonesia adalah negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, dengan berbagai kekayaan keanekaragaman hayati. Kepulauan Nusantara merupakan salah satu dari 17 negara mega-diversity, dan rumah dari 2 dari 25 hotspot dunia. Namun, pada 2015, Indonesia mengalami kebakaran hutan yang terburuk dalam dua dekade terakhir. Pada September dan Oktober 2015, emisi karbon yang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2023-02-17T03:04:15+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nabiha Shahab","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas"},"author":{"name":"Nabiha Shahab","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd"},"headline":"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas","datePublished":"2023-02-17T03:04:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas"},"wordCount":853,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2023","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas","name":"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg","datePublished":"2023-02-17T03:04:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Ibu-ibu di Desa Perigi rutin memanen purun untuk membuat anyaman tikar. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Membentuk Masa Depan Pengelolaan Lahan Gambut yang Berpusat pada Komunitas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd","name":"Nabiha Shahab","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nabiha Shahab"},"description":"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/nabiha-shahab"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/81396\/membentuk-masa-depan-pengelolaan-lahan-gambut-yang-berpusat-pada-komunitas#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/46952340352_65e772bcdd_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81396"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81396\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81402,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81396\/revisions\/81402"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81398"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81396"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=81396"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=81396"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=81396"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=81396"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=81396"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=81396"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=81396"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=81396"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=81396"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=81396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}