{"id":80313,"date":"2022-12-15T16:06:29","date_gmt":"2022-12-15T09:06:29","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=80313"},"modified":"2023-01-03T15:20:34","modified_gmt":"2023-01-03T08:20:34","slug":"keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi","title":{"rendered":"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi"},"content":{"rendered":"<p>Seiring dengan berlangsungnya Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) ke-15 di Montreal, kita menunggu apa yang akan disepakati berbagai negara terkait target perlindungan alam.<\/p>\n<p>Sementara, sejumlah spesies menghilang setiap hari dalam peristiwa kepunahan massal dunia keenam akibat manusia. Bumi yang telah lima kali mengalami hal ini sebelumnya tampaknya akan selamat. Di sisi lain, manusia, bisa kikis akibat satu kelalaian: ketidakmampuan kita merespon ancaman masa depan, misalnya, pandemi global atau krisis finansial.<\/p>\n<p>Dekade ini harus menjadi momen menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati. Hal ini tidak terjadi pada 2010 sebagaimana direncanakan, dan 2020 berlalu tanpa tercapainya satu pun Target Aichi.<\/p>\n<p>Dan 2030? Rancangan pertama <a href=\"https:\/\/www.cbd.int\/article\/draft-1-global-biodiversity-framework\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Pasca-2020<\/a> cukup menjanjikan karena didasari bukti ilmiah kuat. Di dalamnya meliputi tujuan meningkatkan integritas seluruh ekosistem, menurunkan laju kepunahan sepuluh kali lipat, dan menjaga keragaman genetik. Selain itu, juga menekankan perlunya valuasi kontribusi alam pada manusia, menjamin akses setara dan adil terhadap sumber daya genetik, dan menutupi kekurangan dana tahunan sebesar <a href=\"https:\/\/www.nature.org\/en-us\/what-we-do\/our-insights\/perspectives\/closing-nature-funding-gap-global-biodiversity-finance\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">700 miliar dolar AS <\/a>serta mengatur ulang subsidi yang merugikan lingkungan.<\/p>\n<p>Meski dikembangkan selama dua tahun dan disempurnakan melalui negosiasi daring pada 2021, rancangan kerangka kerja ini perlu disepakati oleh 196 pihak yang berkonvensi di Montreal pekan ini. Kini, setelah lebih separuh jalan, negosiasi sepertinya kembali <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/environment\/2022\/dec\/13\/cop15-half-time-report-china-prompts-fears-of-new-copenhagen-moment\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">ke awal <\/a>\u2013 dengan sebagian besar kerja keras ditinggalkan untuk menit terakhir.<\/p>\n<p>Bendera merah dikibarkan. Target \u201830 oleh 30\u2019 untuk melindungi 30% tanah dan laut pada tujuh tahun ke depan mendapat perhatian besar media, dan kita sepenuhnya mendukung upaya untuk mencapai target ini, jika dilakukan dengan cara relevan dan inklusif lokal. Meskipun begitu fokus utama target ini adalah kawasan lindung atau \u2018Area Penggunaan Lahan Lain Berbasis Konservasi (OECMs)\u2019. Jika tidak berhati-hati, langkah ini berisiko mengulang <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/79830\/oecms-an-opportunity-to-turn-coercive-conservation-upside-down?fnl=en\">sejarah pemaksaan <\/a>inisiatif konservasi terhadap masyarakat adat dan lokal.<\/p>\n<p>Penekanan berlebihan pada kawasan lindung bisa mengarah pada <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/80115\/will-biodiversity-talks-bridge-governmental-divide?fnl=en\">eksklusi pertanian<\/a> dan kebutuhan mendesak untuk mengembangkan keragaman hayati, sistem pangan inklusif dan resilien. <a href=\"https:\/\/www.cbd.int\/doc\/c\/dfeb\/e742\/b936c09eae9dd558c1310b5b\/wg2020-05-02-en.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Rancangan terbaru <\/a>kesepakatan kerangka kerja yang dirilis bulan lalu merujuk pada pertanian untuk produksi pangan, mengabaikan <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/blog\/2022\/12\/01\/are-trees-farms-biodiversity-blind-spot\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mosaik bentang alam<\/a> tanaman dan pepohonan yang dapat menghubungkan habitat alam dan memelihara jasa lingkungan.<\/p>\n<p>Kedaulatan atas <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/blog\/2022\/11\/23\/bringing-biodiversitys-benefits-home\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kode genetik digital <\/a>adalah poin pelik lain, khususnya bagi negara-negara Afrika yang khawatir kehilangan akses atas harta karun alaminya akibat pembajakan hayati. Atau kesepakatan bisa dilemahkan akibat <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/d41586-022-04154-w\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dilusi<\/a>, meskipun sudah mendapatkan informasi dari bukti aktual.<\/p>\n<p>Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan World Agroforestry (<a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIFOR-ICRAF<\/a>) menyumbangkan basis bukti keanekaragaman hayati dalam bentang alam alami atau terkelola di lebih dari 92 negara, sejalan dengan 70 tahun pengalaman di lapangan. Bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kehutanan, serta sejumlah mitra internasional, nasional dan lokal, kami melakukan ko-kreasi solusi sesuai kebutuhan lokal melalui kemitraan yang dalam beberapa kasus berlangsung <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/yangambi-engagement-landscape\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">selama beberapa dekade<\/a>.<\/p>\n<p>Hutan, pohon dan wanatani memiliki daya mentransformasi bentang alam, penghidupan, masyarakat, dan ekonomi. Riset kami menjawab seluruh tiga Konvensi Rio \u2013 keanekaragaman hayati, iklim, dan desertifikasi \u2013 serta membangun sinergi yang dapat mengatasi kelindan tantangan global saat ini, termasuk kehilangan keanekaragaman hayati dan deforestasi, krisis iklim, sistem, rantai nilai pangan tidak berkelanjutan, dan ketidaksetaraan.<\/p>\n<p>Sejak <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/2642\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">2008<\/a>, kami bekerja dengan Sekretariat CBD di sejumlah isu, termasuk <a href=\"https:\/\/www.cbd.int\/doc\/meetings\/ecr\/cbwecr-2014-04\/other\/cbwecr-2014-04-presentation-day2-05-en.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pendekatan bentang alam<\/a>, kebutuhan keragaman hayati, <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/7790\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sistem pangan<\/a> aman dan resilien, serta <a href=\"https:\/\/www2.cifor.org\/cifor-at-cbd-cop13\/#new_tab\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">hutan dan pertanian<\/a>, selain itu kami juga menghasilkan laporan teknis untuk mendukung implementasi panduan untuk sektor <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/7046\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">daging hewan liar berkelanjutan<\/a> yang didukung oleh negara anggota CBD pada Desember 2017.<\/p>\n<p>Menjelajah seluruh dimensi Kerangka Kerja baru, kerja kami bertujuan mengurangi ancaman terhadap keanekaragaman hayati dengan menekankan pada potensi <a href=\"https:\/\/worldagroforestry.org\/project\/harnessing-potential-trees-farms-meeting-national-and-global-biodiversity-targets\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pohon di pertanian<\/a> agar keanekaragaman hayati dan kesejahteraan manusia mampu mendorong kemampuan negara dalam mencapai Target 7 Aichi (mengelola kawasan pertanian secara berkelanjutan), mendorong pendekatan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/80021\/new-transitons-program-tackles-three-roadblocks-to-scale-up-agroecology?fnl=en\">agroekologis<\/a>, kebutuhan untuk membalikkan <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/blog\/2022\/11\/17\/reversing-tree-diversity-decline-why-we-need-all-species-weve-got\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penurunan keragaman spesies pohon<\/a>, dan peran sejati &#8212; <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/25264\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">agroforestri<\/a> dalam merestorasi ekosistem pertanian maupun kehutanan. Riset kami telah berkontribusi meningkatkan <a href=\"https:\/\/worldagroforestry.org\/project\/provision-adequate-tree-seed-portfolio-ethiopia-patspo-ii-phase-2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kualitas benih pohon<\/a> secara fisik dan genetik untuk restorasi di Ethiopia dan menemukan jalan bagi bioekonomi resilien melalui pemanfaatan berkelanjutan produk hutan <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/gml\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kayu dan bukan kayu<\/a>.<\/p>\n<p>Keanekaragaman hayati bawah permukaan merupakan salah satu fokus riset utama. Kami menjadi salah satu Ketua Koalisi Aksi 4 Kesehatan Tanah (<a href=\"https:\/\/www.coalitionforsoilhealth.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CA4SH<\/a>). Kami juga meneliti ekosistem pegunungan seperti pada <a href=\"https:\/\/www2.cifor.org\/water-towers\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menara air<\/a> Afrika Timur dan melalui inisiatif <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/event\/the-third-mountain-futures-conference\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Masa Depan Gunung<\/a>, selain juga mengeksplorasi cara membangun perdagangan global berkelanjutan, misalnya minyak sawit, kopi, dan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/76439\/palm-oil-coffee-and-songbirds-toward-sustainable-trade-in-indonesia?fnl=\">burung kicau <\/a>di Indonesia.<\/p>\n<p>Banyak riset kami terfokus dalam memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan berkelanjutan dan bagi manfaat, misalnya mendetailkan bagaimana memelihara <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/79379\/how-to-preserve-forest-biodiversity-without-losing-livelihoods?fnl=en\">keanekaragaman hayati hutan<\/a> tanpa kehilangan penghidupan, dan penelitian kami mengenai pemanfaatan lahan hutan berkelanjutan dan berkeadilan, sebagai bagian dari Studi Komparatif Global <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/gcs\/research-themes\/multilevel-governance\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">REDD+<\/a>.<\/p>\n<p>Riset inovatif kami juga mendemonstrasikan bagaimana pohon dan hutan berkontribusi pada <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/8598\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sistem pangan global<\/a>, serta telah lama kami menyoroti urgensi <a href=\"https:\/\/www.swm-programme.info\/homepage\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">manajemen satwa liar berkelanjutan<\/a>, yang menunjukkan mengapa menghapus <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/73827\/when-taking-meat-off-the-menu-is-not-an-option-fighting-malnutrition-in-congo-basin-forests?fnl=en\">daging liar<\/a> dari menu bukan pilihan bagi banyak orang.<\/p>\n<p>Menyadari ketidakadilan yang memengaruhi perempuan, masyarakat adat, dan kelompok marginal lain menjadi basis riset kami dari awal. Dalam rangka mendukung finalisasi <a href=\"https:\/\/www.cbd.int\/gender\/action-plan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Rencana Aksi Gender CBD<\/a>, para pakar dari Program Riset Hutan, Pepohonan dan Agroforestri CGIAR (FTA) bekerja sama dengan Sekretariat CBD, menyusun materi untuk mendukung <a href=\"https:\/\/www.foreststreesagroforestry.org\/news-article\/toward-a-gender-responsive-post-2020-global-biodiversity-framework\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Responsif Gender Pasca-2020<\/a>. Kami bekerja erat dengan <a href=\"https:\/\/www.iisd.org\/articles\/deep-dive\/indigenous-peoples-defending-environment-all#:~:text=Indigenous%20lands%20make%20up%20around,effective%20stewards%20of%20the%20environment.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Masyarakat Adat <\/a>\u2013 yang secara efektif menjaga lahan dengan fakta bahwa lahan yang mereka kuasai mencakup 80% keanekaragaman hayati tersisa di dunia, pada hanya 20% wilayah bumi. Salah satu contoh terbaru adalah <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/knowledge\/publication\/8385\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">peta interaktif <\/a>manajemen hutan masyarakat oleh Masyarakat Adat Amazon Peru.<\/p>\n<p>Agar bermanfaat dan berdaya guna, riset perlu dipaketkan menjadi alat bagi praktisi dan pengambil kebijakan. CIFOR-ICRAF merupakan pusat keeunggulan global, <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/research\/theme\/soil-and-land-health\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kesehatan tanah <\/a>dan restorasi lahan, dengan keunggulan laboratorium <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/research\/theme\/soil-and-land-health\/living-soils-laboratory\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tanah hidup<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/sd\/tree-diversity\/genetic-resources-unit-gru\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sumber daya genetik pohon<\/a>, serta beragam perangkat seperti <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/tree-knowledge\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Wahana Pengetahuan Pohon Global<\/a>, <a href=\"https:\/\/www2.cifor.org\/bushmeat\/resources\/bushmeat-data-map\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Peta Data Daging Satwa Liar<\/a>, dan <a href=\"http:\/\/landscapeportal.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Portal Bentang Alam<\/a>. Terakhir, dikembangkan oleh Afrika untuk masyarakat Afrika, <a href=\"https:\/\/africanorphancrops.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Konsorsium Tanaman Afrika Belum Termanfaatkan<\/a> menyusun sekuens genome 101 tanaman pangan tradisional Afrika untuk memfasilitasi peningkatan genetik dan menurunkan angka stunting akibat malnutrisi \u2013 salah satu isu sentral riset <a href=\"https:\/\/www.wildmeat.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">daging satwa liar <\/a>kami.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"623\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-623x415.jpg\" class=\"wp-image-80318\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k-1100x733.jpg 1100w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/52434716671_3aceb60a9f_k.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 623px) 100vw, 623px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Palem Aguaje. Foto oleh: <\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>Jadi, baik di hutan, lahan pertanian, lahan basah atau kering, kami bekerja untuk melindungi keanekaragaman hayati dan integritas ekosistem bagi kebaikan keanekaragaman hayati dan manusia. Keanekaragaman hayati bukanlah sekadar opsi \u2018baik untuk dimiliki\u2019 \u2013 tetapi sangat penting bagi keberlangsungan kita, sebagaimana ditunjukkan dalam estimasi kelompok asuransi Swiss Re, bahwa <a href=\"https:\/\/www.swissre.com\/media\/press-release\/nr-20200923-biodiversity-and-ecosystems-services.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">55% GDP global <\/a>bergantung pada ekosistem sehat dan sangat berfungsi.<\/p>\n<p>Meskipun begitu, sebagaimana baru dirilis dalam Status Pembiayaan Alam 2022 dari Program Lingkungan PBB (UNEP), dunia menghabiskan <a href=\"https:\/\/www.unep.org\/resources\/report\/state-finance-nature-2022\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tiga kali lipat<\/a> \u201caliran finansial negatif alam\u201d dibanding perlindungan lingkungan. Namun, ditulis bahwa kehilangan keanekaragaman hayati bisa diredam, jika aliran dana pada Solusi Berbasis-Alam digandakan; yang sekaligus secara signifikan menurunkan emisi gas rumah kaca dan merestorasi hampir 1 miliar hektare lahan terdegradasi.<\/p>\n<p>Memprioritaskan alam pada sektor swasta melalui kebijakan positif-alam dapat menarik lebih dari 10 triliun dolar AS dalam valuasi nilai bisnis baru per tahun dan menciptakan <a href=\"https:\/\/www.weforum.org\/press\/2020\/07\/395-million-new-jobs-by-2030-if-businesses-prioritize-nature-says-world-economic-forum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">395 juta lapangan kerja pada 2030<\/a>, menurut Forum Ekonomi Dunia. Temuan dari studi 2020 menyatakan bahwa <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41586-020-2784-9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">60% kepunahan spesies <\/a>dapat dihindari dengan merestorasi hanya 15% lahan terdegradasi, seraya lebih jauh mengurangi konversi ekosistem alami. Dalam kondisi 1 juta spesies terancam dan potensi <a href=\"https:\/\/www.un.org\/sustainabledevelopment\/blog\/2019\/05\/nature-decline-unprecedented-report\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kehilangan 30\u201350% dari seluruh spesies pada 2050<\/a>, ini jadi berita gembira.<\/p>\n<p>Sayangnya, keanekaragaman hayati tidak cocok untuk masuk neraca keuangan. Meski benar bahwa sejumlah spesies terancam dapat dipulihkan, belum ada \u2018timbal balik keanekaragaman hayati\u2019. Menyelamatkan spesies kura-kura di satu bagian dunia tidak bisa mengganti kehilangan penghidupan, pangan, kesehatan, atau manfaat kultural bagi masyarakat yang bergantung pada sebuah ekosistem, seperti hutan Amazon, yang runtuh akibat kehilangan spesies kunci secara cepat. Kepunahan itu permanen, ekosistem itu kompleks, dan kita mendekati sejumlah <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/76603\/planet-earth-is-not-a-delicately-balanced-benign-being-but-forests-and-trees-can-help?fnl=en\">titik kritis<\/a> yang akan mengubah bumi yang kita tinggali menjadi tidak ramah.<\/p>\n<p>Menarik kembali momentum dari arah jalan buntu ini memerlukan perubahan titik kritis kultural, perubahan cara pandang kita pada alam sebagai sumber produk konsumsi untuk pertumbuhan ekonomi menjadi penyedia jasa berlimpah \u2013 tapi tidak tak habis, baik dalam bentuk pangan, air bersih dan udara, obat-obatan, rekreasi atau berkah spiritual. Mengembangkan <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/blog\/2022\/11\/22\/cop-27-silent-cry-stewardship-earth\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">budaya pemelihara<\/a> merupakan langkah pertama mentransformasi ekonomi dan masyarakat kita dalam mendukung keanekaragaman hayati, alih-alih memusnahkan.<\/p>\n<p>Bagaimana kita mencapainya? Dengan mengatasi ketidakmampuan kita untuk melihat realitas ancaman masa depan, dan mengembangkan \u2018kecerdasan pandangan\u2019 yang tidak hanya akan melindungi spesies terancam punah dan keruntuhan ekosistem, tetapi juga menjamin kehidupan masa depan yang baik bagi anak dan cucu.<\/p>\n<p>Rabun jauh bukan satu-satunya titik lemah yang dapat mengarah pada kejatuhan kemanusiaan; <em>groupthink<\/em> juga menjadi masalah. Menulis ulang <a href=\"https:\/\/royalsocietypublishing.org\/doi\/10.1098\/rspb.2012.2845\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">artikel 2013 <\/a>dari Ehrlich dan Ehrlich mengenai potensi keruntuhan peradaban global, semua bangsa harus mau melakukan apa pun untuk mengatasi krisis global, tanpa menunggu yang lain bertindak.<\/p>\n<p>Ilmu pengetahuan tidak pernah lebih terang, atau terkomunikasi dengan jelas seperti saat ini. Apa yang diperlukan alam adalah kepemimpinan sejati.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seiring dengan berlangsungnya Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) ke-15 di Montreal, kita menunggu apa yang akan disepakati berbagai negara terkait target perlindungan alam. Sementara, sejumlah spesies menghilang setiap hari dalam peristiwa kepunahan massal dunia keenam akibat manusia. Bumi yang telah lima kali mengalami hal ini sebelumnya tampaknya akan selamat. Di sisi lain, manusia, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":80322,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[2481,7563,11168,2449,2489],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[2967,8518],"type-english":[2421],"type-francais":[],"coauthors":[851,10715],"class_list":["post-80313","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-agroforestri","tag-bahasa-biodiversitas","tag-bahasa-cbd","tag-bahasa-cop15","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","type-bahasa-kolom-dirjen","type-bahasa-opini","type-english-dgs-column"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Seiring dengan berlangsungnya Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) ke-15 di Montreal, kita menunggu apa yang akan disepakati berbagai negara terkait target perlindungan alam. Sementara, sejumlah spesies menghilang setiap hari dalam peristiwa kepunahan massal dunia keenam akibat manusia. Bumi yang telah lima kali mengalami hal ini sebelumnya tampaknya akan selamat. Di sisi lain, manusia, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-12-15T09:06:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-01-03T08:20:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/king-fisher.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1336\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Robert Nasi, Ravi Prabhu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ForestsMatter\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi\"},\"author\":{\"name\":\"Robert Nasi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58ef8ca2976e9106e5f2b475fa2d792a\"},\"headline\":\"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi\",\"datePublished\":\"2022-12-15T09:06:29+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-03T08:20:34+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi\"},\"wordCount\":1389,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/12\\\/king-fisher.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi\",\"name\":\"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/12\\\/king-fisher.jpg\",\"datePublished\":\"2022-12-15T09:06:29+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-03T08:20:34+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/12\\\/king-fisher.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/12\\\/king-fisher.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1336,\"caption\":\"Burung Cekakak di Bogor, Indonesia. Foto oleh: Yadi Setiadi\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58ef8ca2976e9106e5f2b475fa2d792a\",\"name\":\"Robert Nasi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/df8ec9057c701cd3756a9fa0d460707dbcd38d70d25c156fe3d186e6b00df730?s=96&d=mm&r=gf75da1fa86a2513af11bbcaa1bfb434d\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/df8ec9057c701cd3756a9fa0d460707dbcd38d70d25c156fe3d186e6b00df730?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/df8ec9057c701cd3756a9fa0d460707dbcd38d70d25c156fe3d186e6b00df730?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Robert Nasi\"},\"description\":\"Robert Nasi was born in 1959 in Nice, France. He graduated as a forest engineer from the French National Forestry School and achieved a PhD in the field of ecology from the University of Paris Sud \u2013 Orsay. Since 1982, he has been living and travelling extensively in Africa, Asia and the Pacific, undertaking research activities in the fields of ecology and management of tropical forests. He joined CIFOR in August 1999 and held several research and management positions in the organization (principal scientist, biodiversity program leader, program director). He is director general of CIFOR and managing director of World Agroforestry (ICRAF).\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@ForestsMatter\"],\"jobTitle\":\"Director General, CIFOR and Director of Science, Landscape Alliance\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/robert-nasi\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/80313\\\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi","og_description":"Seiring dengan berlangsungnya Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) ke-15 di Montreal, kita menunggu apa yang akan disepakati berbagai negara terkait target perlindungan alam. Sementara, sejumlah spesies menghilang setiap hari dalam peristiwa kepunahan massal dunia keenam akibat manusia. Bumi yang telah lima kali mengalami hal ini sebelumnya tampaknya akan selamat. Di sisi lain, manusia, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-12-15T09:06:29+00:00","article_modified_time":"2023-01-03T08:20:34+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1336,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/king-fisher.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Robert Nasi, Ravi Prabhu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ForestsMatter","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi"},"author":{"name":"Robert Nasi","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58ef8ca2976e9106e5f2b475fa2d792a"},"headline":"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi","datePublished":"2022-12-15T09:06:29+00:00","dateModified":"2023-01-03T08:20:34+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi"},"wordCount":1389,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/king-fisher.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi","name":"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/king-fisher.jpg","datePublished":"2022-12-15T09:06:29+00:00","dateModified":"2023-01-03T08:20:34+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/king-fisher.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/king-fisher.jpg","width":1920,"height":1336,"caption":"Burung Cekakak di Bogor, Indonesia. Foto oleh: Yadi Setiadi"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Keanekaragaman Hayati Tidak Bisa Menunggu Satu Dekade Lagi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58ef8ca2976e9106e5f2b475fa2d792a","name":"Robert Nasi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/df8ec9057c701cd3756a9fa0d460707dbcd38d70d25c156fe3d186e6b00df730?s=96&d=mm&r=gf75da1fa86a2513af11bbcaa1bfb434d","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/df8ec9057c701cd3756a9fa0d460707dbcd38d70d25c156fe3d186e6b00df730?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/df8ec9057c701cd3756a9fa0d460707dbcd38d70d25c156fe3d186e6b00df730?s=96&d=mm&r=g","caption":"Robert Nasi"},"description":"Robert Nasi was born in 1959 in Nice, France. He graduated as a forest engineer from the French National Forestry School and achieved a PhD in the field of ecology from the University of Paris Sud \u2013 Orsay. Since 1982, he has been living and travelling extensively in Africa, Asia and the Pacific, undertaking research activities in the fields of ecology and management of tropical forests. He joined CIFOR in August 1999 and held several research and management positions in the organization (principal scientist, biodiversity program leader, program director). He is director general of CIFOR and managing director of World Agroforestry (ICRAF).","sameAs":["https:\/\/x.com\/@ForestsMatter"],"jobTitle":"Director General, CIFOR and Director of Science, Landscape Alliance","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/robert-nasi"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/80313\/keanekaragaman-hayati-tidak-bisa-menunggu-satu-dekade-lagi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/king-fisher.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80313","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80313"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80313\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":80315,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80313\/revisions\/80315"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80313"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=80313"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=80313"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=80313"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=80313"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=80313"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=80313"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=80313"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=80313"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=80313"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=80313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}