{"id":79793,"date":"2022-11-09T07:05:57","date_gmt":"2022-11-09T00:05:57","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=79793"},"modified":"2022-11-09T07:05:57","modified_gmt":"2022-11-09T00:05:57","slug":"pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh","title":{"rendered":"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh"},"content":{"rendered":"<p>Di Kenya, forum multipemangku kepentingan (MFS) yang mendorong transformasi ekologi pertanian meningkat seiring dengan meluasnya kepentingan atas pemanfaatan lahan, perubahan pemanfaatan lahan, dan sektor kehutanan di seluruh dunia.<\/p>\n<p>Tujuan forum ini adalah untuk menjembatani pembuat keputusan politik dan ekonomi, ilmuwan, pengusaha dan petani, memberi ruang bertukar pengalaman dan informasi. Mereka juga mendorong agroekologi sebagai jalan yang menjanjikan menuju sistem yang adil dan positif bagi alam, meningkatkan <a href=\"https:\/\/www.agroecology-pool.org\/climatechangereport\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">resiliensi<\/a> dengan memperkuat capaian ekologis dan sosial.<\/p>\n<p>Akan tetapi, seperti yang telah ditunjukkan oleh penelitian dari the Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) tentang MSF, hanya mengajak orang duduk satu meja saja tidak cukup dalam memastikan bahwa proses ini akan berhasil.<\/p>\n<p>Koordinasi dan kolaborasi mensyaratkan pemikiran strategis dan refleksi tentang bagaimana cara terbaik untuk mencapai konsensus antar pelaku yang sering memiliki pertentangan kepentingan, perbedaan kapasitas dan tidak meratanya akses terhadap sumberdaya.<\/p>\n<p>Menyadari tantangan ini, <a href=\"https:\/\/www.biovision.ch\/en\/home\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Yayasan Biovision <\/a>dan organisasi mitra menyokong berbagai <a href=\"https:\/\/www2.cifor.org\/gcs\/modules\/multilevel-governance\/multi-stakeholder-forums\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">wahana multipemangku kepentingan<\/a> pada tingkat nasional dan daerah di Kenya, termasuk <a href=\"https:\/\/csa-msp.kilimo.go.ke\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Wahana Multipemangku Kepentingan Pertanian Cerdas Iklim <\/a>(CSA MSP) dan <a href=\"https:\/\/www.biovision.ch\/en\/news\/forumforagroecologyinkenya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Lintas Sektor Keanekaragaman Hayati dan Agroekologi <\/a>(ISFAA).<\/p>\n\n\n<p>Sebagai bagian dari upaya ini, <a href=\"https:\/\/www.pelum.net\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">PELUM Kenya<\/a>, didukung Yayasan Biovision, menyelenggarakan lokakarya di Nairobi dengan mengundang kelompok MSF bidang agroekologi untuk berbagi pengalaman, tantangan, pembelajaran, dan kemajuan. Lokakarya ini dirancang juga untuk berdiskusi bagaimana meningkatkan sinergi dan mengatasi kurangnya interaksi antar wahana, forum, dan inisiatif berbeda.<\/p>\n<p>MSF memiliki tujuan bersama memperkuat koordinasi dan kolaborasi antar para pemangku kepentingan dan mendorong praktik pertanian berkelanjutan untuk sistem pangan yang tangguh.<\/p>\n<p>\u201cSetiap orang memiliki visi agroekologi, kita perlu menyelaraskan dan bekerja sama untuk menciptakan manfaat terbaik untuk manusia dan planet,&#8221; kata Rosinha Mbenya dari PELUM Kenya.<\/p>\n\n\n<p><strong>Bagaimana hasilnya?<\/strong><\/p>\n<p>Lokakarya mengimplementasikan metode pembelajaran refleksif dan adaptif \u201cBagaimana hasilnya?\u201d, sebuah alat pemantauan untuk mendukung kesetaraan dalam MSF yang dikembangkan oleh ilmuwan CIFOR-ICRAF<\/p>\n<p>Perangkat pembelajaran adaptif dan refleksif dirancang bersama peserta dan pengurus MSF di Indonesia dan Peru untuk merefleksikan proses, kemajuan, dan prioritas forum. Tersedia dalam bahasa Inggris, Prancis, Indonesia, dan Spanyol, perangkat ini lebih dari sekadar melakukan pemeringkatan berdasar serangkaian indikator.<\/p>\n<p>Perangkat ini memancing refleksi kelompok dari peserta dan pengurus MSF untuk menyadari dan merefleksikan berbagai tantangan, seraya mendukung pembelajaran sosial dalam merancang strategi untuk mencapai tujuan secara adil dan efektif.  Dalam prosesnya, kelompok belajar secara kolektif dari pekerjaan sebelumnya, menimbang jalan dan rintangan untuk maju serta secara kolektif merencanakan bagaimana mencapai tujuan masa datang.<\/p>\n<p>Perangkat ini dirancang melalui serangkaian penyataan &#8211; tentang partisipasi, gender, komunikasi, inklusivitas, dan tema lainnya &#8211; yang dinilai oleh peserta dan mendiskusikan sejumlah refleksi.<\/p>\n<p>Sejak versi pertama, perangkat ini sudah disesuaikan untuk mendorong proses partisipatif dalam konteks berbeda, sebagai contoh, dalam kolaborasi dengan lembaga pengelola Kawasan Lindung Peru dan Organisasi Nasional Perempuan Adat Peru.<\/p>\n<p>Untuk lokakarya Ini, Yayasan Biovision Foundation, CIFOR-ICRAF, dan PELUM Kenya berkolaborasi untuk mengadaptasi pernyataan dan pertanyaan refleksi yang paling relevan dari perangkat ini dengan kebutuhan serta prioritas dari peserta MSF. Pernyataan dibuat menjadi pertanyaan untuk memicu diskusi, sebagai contoh:<\/p>\n<ol>\n<li>Apa dampak inisiatif agroekologis kita?<\/li>\n<li>Sumberdaya dan kapasitas apa yang dibutuhkan untuk mendukung pekerjaan kita?<\/li>\n<li>Apakah kita mengkomunikasikan pekerjaan kita secara efektif dengan para petani dan organisasi masyarakat?<\/li>\n<li>Seberapa baik MSF terlibat dengan lembaga lain yang memiliki perbedaan tujuan?<\/li>\n<li>Seberapa baik kita menyertakan perempuan, pemuda, dan komunitas dalam MSF kita?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Peserta dibagi menjadi empat kelompok yang terdiri dari lima sampai tujuh anggota untuk mendiskusikan semua pertanyaan.<\/p>\n<p>Kelompok yang ada berisi kombinasi organisasi pemerintah dan masyarakat sipil peserta lokakarya serta keseimbangan peserta laki-laki dan perempuan. Mereka mempresentasikan poin-poin utama diskusi kepada kelompok lain, dilanjutkan dengan diskusi pleno, para peserta membandingkan pengalaman dan saling belajar.<\/p>\n<figure id=\"attachment_76830\" aria-describedby=\"caption-attachment-76830\" style=\"width: 533px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-76830\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-533x400.jpg\" alt=\"\" width=\"533\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-2048x1536.jpg 2048w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-610x458.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-400x300.jpg 400w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-595x446.jpg 595w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/KenyaWS49828-1040x780.jpg 1040w\" sizes=\"auto, (max-width: 533px) 100vw, 533px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-76830\" class=\"wp-caption-text\">Lokakarya di Kenya. Foto oleh: Biovision\/Tanja Carrillo<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Kolaborasi agroekologi di Kenya<\/strong><\/p>\n<p>Meskipun peserta mendiskusikan aspek pertanian berkelanjutan yang berbeda, tiga masalah utama yang akan mendukung peran MSF dalam agroforestri mencuat.<\/p>\n<p>Pertama, menjamin pendanaan yang memadai merupakan prioritas utama bagi semua forum untuk mewujudkan rencana kerja dan menyatukan pemangku kepentingan lain. Para peserta setuju, pendanaan seharusnya tidak hanya datang dari donatur tapi juga termasuk dukungan keuangan dari pemerintah untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang dari wahana mereka. Lebih lanjut, mereka juga setuju bahwa dibutuhkan peningkatan <a href=\"https:\/\/www.agroecology-pool.org\/moneyflowsreport\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">investasi riset<\/a> yang menghasilkan dan mengkombinasikan bukti ilmiah spesifik manfaat agroekologi dengan pengetahuan tradisional dan adat.<\/p>\n<p>Kedua, peserta setuju bahwa upaya komunikasi perlu diarahkan pada audiens mereka &#8211; seperti para petani atau pembuat kebijakan &#8211; untuk meningkatkan efektivitas advokasi. Mereka setuju, untuk berkolaborasi mewujudkan transformasi agroekologi, berbagai inisiatif berbeda perlu menyelaraskan pesan dan menciptakan narasi yang serupa.<\/p>\n<p>Ketiga, para peserta menyadari bahwa pemuda, perempuan, dan disabilitas perlu diikutsertakan secara aktif dalam MSF.<\/p>\n<p>\u201cApa yang menonjol bagi saya adalah komitmen para mitra untuk secara sengaja melibatkan lebih banyak pemuda dan perempuan dalam agroekologi serta dalam diskusi dan aktivitas MSF,\u201d kata Hannah Kigamba dari inisiatif kepemudaan YALTA, merefleksikan lokakarya tersebut. \u201cIni akan memfasilitasi inklusivitas dan memadukan suara pemuda dan perempuan dalam rencana agroekologi lintas tingkat. Seruan kepada perempuan dan pemuda \u2013 kita perlu mengambil agroekologi sebagai peluang tidak hanya untuk transformasi sistem pangan yang berkelanjutan tapi juga pemberdayaan ekonomi.\u201d<\/p>\n<p>Setelah menerapkan metode \u201cBagaimana hasilnya?\u201d diskusi kelompok yang dilakukan selama lokakarya disintesiskan menjadi rencana kerja kolektif dengan usulan konkret seperti pembuatan penerbitan triwulan agroekologi, seluruh organisasi dapat berkontribusi dan berbagi informasi mengenai kerja mereka. Dirancang pula inklusi terencana dalam forum kelompok pemangku kepentingan \u2013 dengan melibatkan sektor swasta dan penggembala \u2013 serta keterlibatan lebih aktif perempuan dan pemuda.<\/p>\n<p>Terkait koordinasi, para peserta setuju bahwa pertukaran semacam ini perlu dilakukan secara rutin untuk meningkatkan sinergi antar inisiatif dan wahana agroekologi berbeda.<\/p>\n<p>Terakhir, para peserta setuju perlunya pengembangan strategi nasional yang menyediakan kerangka kerja bersama untuk agroekologi di Kenya.<\/p>\n<p><em>Lokakarya diselenggarakan pada 1-4 Maret 2022.<\/em><\/p>\n<p><strong>Penelitian ini merupakan bagian dari <\/strong><a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/gcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi Komparatif Global mengenai REDD+<\/a><strong> CIFOR. Mitra pendanaan yang telah mendukung penelitian ini adalah Badan Kerjasama Pembangunan Norwegia (Norad, Hibah No. QZA-21\/0124), Inisiatif Iklim Internasional (IKI) Kementerian Lingkungan, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir Jerman (BMU, Hibah No. 20_III_108), dan Program Penelitian Hutan, Pohon, dan Agroforestri CGIAR (CRPFTA) dengan dukungan keuangan dari Dana Bantuan CGIAR. Lokakarya ini diselenggarakan bersama Yayasan Biovision Bidang Pengembangan Ekologi dan PELUM Kenya, dengan bantuan keuangan dari Yayasan IKEA dan Badan Pembangunan dan Kerjasama Swiss. Tim Kebijakan dan Advokasi Biovision menggabungkan keahlian tematik agroekologi dengan pengalaman dalam advokasi dan dialog kebijakan untuk terlibat dengan pengambil keputusan di tingkat nasional dan internasional seputar topik pertanian berkelanjutan dan transformasi sistem pangan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi <\/strong><a href=\"https:\/\/www.biovision.ch\/en\/about-us\/how-we-work\/political-dialogue-and-advocacy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kotak Info Agroekologi<\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Kenya, forum multipemangku kepentingan (MFS) yang mendorong transformasi ekologi pertanian meningkat seiring dengan meluasnya kepentingan atas pemanfaatan lahan, perubahan pemanfaatan lahan, dan sektor kehutanan di seluruh dunia. Tujuan forum ini adalah untuk menjembatani pembuat keputusan politik dan ekonomi, ilmuwan, pengusaha dan petani, memberi ruang bertukar pengalaman dan informasi. Mereka juga mendorong agroekologi sebagai jalan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":274,"featured_media":79795,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090,173,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[7342,11107,11124,2819],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[2424],"type-francais":[],"coauthors":[7287,10906],"class_list":["post-79793","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","category-gender-justice-tenure","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-agroekologi","tag-bahasa-forum-multipemangku-kepentingan","tag-bahasa-gcsredd","tag-bahasa-redd","type-bahasa-analisis","type-english-analysis-opinion"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di Kenya, forum multipemangku kepentingan (MFS) yang mendorong transformasi ekologi pertanian meningkat seiring dengan meluasnya kepentingan atas pemanfaatan lahan, perubahan pemanfaatan lahan, dan sektor kehutanan di seluruh dunia. Tujuan forum ini adalah untuk menjembatani pembuat keputusan politik dan ekonomi, ilmuwan, pengusaha dan petani, memberi ruang bertukar pengalaman dan informasi. Mereka juga mendorong agroekologi sebagai jalan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-11-09T00:05:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/KenyaWS19932.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2450\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1837\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Juan Pablo Sarmiento Barletti, Tanja Carrillo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@JuanPaSarmiento\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh\"},\"author\":{\"name\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/334a988086fa80032093f624c06c25da\"},\"headline\":\"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh\",\"datePublished\":\"2022-11-09T00:05:57+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh\"},\"wordCount\":1070,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/11\\\/KenyaWS19932.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh\",\"name\":\"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/11\\\/KenyaWS19932.jpg\",\"datePublished\":\"2022-11-09T00:05:57+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/11\\\/KenyaWS19932.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/11\\\/KenyaWS19932.jpg\",\"width\":2450,\"height\":1837,\"caption\":\"Lokakarya di Kenya. Foto oleh: Tanja Carrillo\\\/Biovision\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/334a988086fa80032093f624c06c25da\",\"name\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=gf87ddf800bb7833bb14950d78d9c8dd2\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti\"},\"description\":\"Juan Pablo Sarmiento Barletti (MA, MRes, PhD) carries out mixed-methods research on multiple aspects of the impact of natural resource extraction on forest-dependent communities, and of the participation of the latter in different related decision-making spaces. After lecturing in Social Anthropology at the universities of Durham and St Andrews in the United Kingdom between 2011-2016, Juan Pablo is now part of CIFOR's Global Comparative Study of REDD+ (seconded from the Pontificia Universidad Catolica del Peru). Based in the Lima hub, he coordinates multi-sited research on multi-stakeholder initiatives around land use and land use change in Brazil, Ethiopia, Indonesia, and Peru. The project examines the potential role of these initiatives in transforming BAU decision-making practices in order to create more equitable outcomes for forest-dependent communities. As part of his wider work, Juan Pablo is also interested in exploring the real and potential transgressions of indigenous rights throughout REDD+ readiness and implementation phases around the world, and the potential application of this framework as a pro-rights tool that enables environmental justice for indigenous communities. Juan Pablo has carried out more than 40 months of ethnographic research with indigenous Amazonian communities since 2007, during which he has collaborated and carried out action research with indigenous organizations on their life plans, approaches to well-being, and resource management practices. He is an Honorary Research Fellow at both the Department of Anthropology at Durham University and the Centre for Amerindian, Latin American and Caribbean Studies at the University of St Andrews.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/JuanPaSarmiento\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/juanp\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/79793\\\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh","og_description":"Di Kenya, forum multipemangku kepentingan (MFS) yang mendorong transformasi ekologi pertanian meningkat seiring dengan meluasnya kepentingan atas pemanfaatan lahan, perubahan pemanfaatan lahan, dan sektor kehutanan di seluruh dunia. Tujuan forum ini adalah untuk menjembatani pembuat keputusan politik dan ekonomi, ilmuwan, pengusaha dan petani, memberi ruang bertukar pengalaman dan informasi. Mereka juga mendorong agroekologi sebagai jalan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-11-09T00:05:57+00:00","og_image":[{"width":2450,"height":1837,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/KenyaWS19932.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Juan Pablo Sarmiento Barletti, Tanja Carrillo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@JuanPaSarmiento","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh"},"author":{"name":"Juan Pablo Sarmiento Barletti","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/334a988086fa80032093f624c06c25da"},"headline":"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh","datePublished":"2022-11-09T00:05:57+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh"},"wordCount":1070,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/KenyaWS19932.jpg","articleSection":["Forests News","Gender, justice &amp; tenure","REDD+"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh","name":"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/KenyaWS19932.jpg","datePublished":"2022-11-09T00:05:57+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/KenyaWS19932.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/KenyaWS19932.jpg","width":2450,"height":1837,"caption":"Lokakarya di Kenya. Foto oleh: Tanja Carrillo\/Biovision"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pembelajaran Adaptif dan Refleksif untuk Forum Multipemangku Kepentingan yang Lebih Tangguh"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/334a988086fa80032093f624c06c25da","name":"Juan Pablo Sarmiento Barletti","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=gf87ddf800bb7833bb14950d78d9c8dd2","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b84900868f7c4339db8f452a92fd24c97cb1f5824f64882014b38db94838e7dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"Juan Pablo Sarmiento Barletti"},"description":"Juan Pablo Sarmiento Barletti (MA, MRes, PhD) carries out mixed-methods research on multiple aspects of the impact of natural resource extraction on forest-dependent communities, and of the participation of the latter in different related decision-making spaces. After lecturing in Social Anthropology at the universities of Durham and St Andrews in the United Kingdom between 2011-2016, Juan Pablo is now part of CIFOR's Global Comparative Study of REDD+ (seconded from the Pontificia Universidad Catolica del Peru). Based in the Lima hub, he coordinates multi-sited research on multi-stakeholder initiatives around land use and land use change in Brazil, Ethiopia, Indonesia, and Peru. The project examines the potential role of these initiatives in transforming BAU decision-making practices in order to create more equitable outcomes for forest-dependent communities. As part of his wider work, Juan Pablo is also interested in exploring the real and potential transgressions of indigenous rights throughout REDD+ readiness and implementation phases around the world, and the potential application of this framework as a pro-rights tool that enables environmental justice for indigenous communities. Juan Pablo has carried out more than 40 months of ethnographic research with indigenous Amazonian communities since 2007, during which he has collaborated and carried out action research with indigenous organizations on their life plans, approaches to well-being, and resource management practices. He is an Honorary Research Fellow at both the Department of Anthropology at Durham University and the Centre for Amerindian, Latin American and Caribbean Studies at the University of St Andrews.","sameAs":["https:\/\/x.com\/JuanPaSarmiento"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/juanp"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/79793\/pembelajaran-adaptif-dan-refleksif-untuk-forum-multipemangku-kepentingan-yang-lebih-tangguh#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/KenyaWS19932.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/274"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79793"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79793\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79797,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79793\/revisions\/79797"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79795"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79793"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=79793"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=79793"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=79793"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=79793"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=79793"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=79793"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=79793"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=79793"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=79793"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=79793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}