{"id":78932,"date":"2022-09-07T13:26:02","date_gmt":"2022-09-07T06:26:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=78932"},"modified":"2022-09-07T16:44:16","modified_gmt":"2022-09-07T09:44:16","slug":"menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20","title":{"rendered":"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20"},"content":{"rendered":"<p>Berbagai cara untuk membenahi jejak lingkungan dan ekuitabilitas perdagangan minyak sawit menjadi topik utama dialog kebijakan daring, pada 22 Maret 2022.<\/p>\n<p>Acara ini diselenggarakan oleh CIFOR-ICRAF sebagai bagian dari aktivitas GCRF TRADE Hub di Indonesia yang didanai oleh <a href=\"https:\/\/www.ukri.org\/news\/new-global-research-hubs-to-tackle-complex-development-challenges\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dana Riset Pusat Penelitian dan Inovasi Tantangan Global Inggris Raya<\/a> dan dipimpin oleh <a href=\"https:\/\/www.unep-wcmc.org\/featured-projects\/trade\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Pemantauan Konservasi Dunia Program Lingkungan PBB (UNEP-WCMC)<\/a>. Perwakilan dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil berkumpul untuk membahas sejumlah kelindan masalah terkait perdagangan minyak sawit, menjelang konferensi tingkat tinggi ke-17 untuk G20, sebuah forum kerja sama multilateral yang mewakili negara-negara maju dan berkembang.<\/p>\n<p>Indonesia menggelar Presidensi G20 2022 dan akan menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi tahunan pada akhir tahun ini dengan tema \u2018Recover Together, Recover Stronger\u2019. Tema ini membuka peluang krusial untuk bisa menetapkan agenda diskusi pemulihan dan transformasi ekonomi global \u2013 termasuk memimpin diskusi untuk memajukan perdagangan minyak kelapa sawit berkelanjutan dan berkeadilan yang akan membawa manfaat bagi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cIsu kelapa sawit sangat mempolarisasi,\u201d ujar Robert Nasi, Direktur Jenderal <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR) dan Direktur Pelaksana CIFOR-ICRAF, saat menjadi pembicara kunci. \u201cSituasi yang sedikit mirip seperti Dr Jekyll dan Mr Hyde [sebagaimana narasi yang sering digambarkan di media]. Namun pada dasarnya, kelapa sawit adalah tanaman yang sangat produktif, menghasilkan minyak berkualitas untuk industri dan bisnis; kelapa sawit sangat penting sebagai sumber mata pencaharian masyarakat lokal; dan sekaligus, sering dikaitkan dengan deforestasi tropis. Jadi, bagaimana kita bisa memperdagangkannya secara lebih berkelanjutan?\u201d<\/p>\n<p>Moderator diskusi, Sara Wayne, memfasilitasi \u2018gelar wicara\u2019 yang membedah isu ini, mengeksplorasi peluang, hambatan, dan kemajuan penerapan kesepakatan hijau global untuk perdagangan minyak sawit.<\/p>\n<p>Neil burgess, Kepala ilmuwan UNEP-WCMC dan investigator utama <a href=\"https:\/\/tradehub.earth\/?msclkid=cf0a83ccb0a011ec9c8dc9a26bb28ce2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">TRADE Hub<\/a>, menjelaskan bagaimana meningkatnya kesadaran mengenai deforestasi dan kaitannya dengan perubahan iklim yang mendorong tuntutan dari UE dan Inggris untuk rantai pasokan yang \u2018lebih hijau\u2019 dan bebas deforestasi. \u201cMasyarakat lebih terinformasi,\u201d katanya \u2013 \u201cada niat yang tulus yang datang tidak hanya dari pemerintah dunia, tetapi juga dari warganya.\u201d Namun, ia juga memperingatkan bahwa langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan ini dapat berdampak negatif kepada petani kecil yang saat ini diuntungkan dari produksi kelapa sawit dan mungkin tengah berjuang dalam meningkatkan peraturan dan kepatuhan.<\/p>\n<p>Ahmad Maryudi, Profesor di Fakultas Kehutanan <a href=\"https:\/\/www.ugm.ac.id\/en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Gadjah Mada<\/a>, memaparkan bagaimana inisiatif yang ada gagal untuk sepenuhnya memberantas deforestasi dari rantai pasokan minyak sawit, dan lembaga pemerintahan Uni Eropa memperketat regulasi terkait. \u201cMungkin ada masalah dengan penegakan hukum, kesenjangan dalam hal kesediaan negara [pengimpor] untuk mewujudkan  komoditas berkelanjutan, dan pemasok yang tidak benar-benar menjamin konservasi lingkungan,\u201d katanya. \u201cJadi kami ingin memiliki proses yang diterapkan di semua negara, besar, dan kecil.\u201d<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"738\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-738x415.jpg\" class=\"wp-image-78936\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-738x415.jpg 738w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-566x318.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-220x124.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-1536x863.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-610x343.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-672x378.jpg 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-365x205.jpg 365w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k-1100x618.jpg 1100w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/49753579291_8c838421a2_k.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 738px) 100vw, 738px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Potret lanskap perkebunan kelapa sawit di Desa Muara Kaman Ilir, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Foto oleh: <\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>Agam Fatchurrichman, Wakil Sekretaris GAPKI (<a href=\"https:\/\/gapki.id\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia<\/a>) kemudian berbicara mengenai dampak kesepakatan hijau bagi para pelaku bisnis kelapa sawit di tanah air, dan kebutuhan kompensasi biaya untuk melewati semua ini \u2013 terutama untuk pemain kecil. \u201cKita perlu bergerak melampaui kebijakan sepihak yang dapat menghambat pembangunan ekonomi kita,\u201d katanya. Ia juga menekankan pentingnya membangun kesepakatan tentang standar dan sistem sertifikasi berkelanjutan.<\/p>\n<p>Made Ali, Koordinator <a href=\"https:\/\/jikalahari.or.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau<\/a>), yang telah menangani isu legislasi selama 20 tahun dengan fokus khusus pada petani kecil yang memiliki lahan di bawah lima hektare \u2013 dan mereka lah yang menghadapi tantangan signifikan untuk terdaftar di bawah peraturan kesepakatan hijau. \u201cPara petani ini begitu sibuk bekerja di ladangnya, sehingga pemerintah perlu proaktif dalam berkontribusi untuk membangun korporasi berbasis masyarakat atau koperasi berbasis masyarakat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sesi kedua \u2018gelar wicara\u2019 membahas mengenai peluang yang melekat pada Presidensi G20 bagi Indonesia untuk memperkuat perdagangan minyak sawit berkelanjutan. \u201cIni merupakan kesempatan sangat penting, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat internasional. Karena saat ini kita berada di tahun kedua, hampir ketiga pandemi global, dan tantangan yang kita hadapi saat ini bersifat sistemik dan membumi,\u201d kata Shofwan Al Banna, asisten profesor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik <a href=\"https:\/\/www.ui.ac.id\/en\/homepage-international\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Indonesia<\/a>. Khusus dalam perdagangan kelapa sawit, \u201cTerdapat peluang besar bagi sejumlah negara yang paling terkait dalam isu ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk duduk dan berdiskusi bersama,\u201d katanya. \u201cIni akan menjadi wadah di mana kita bisa lebih mendorong praktik berkelanjutan.\u201d<\/p>\n<p>Peneliti CIFOR-ICRAF, Herry Purnomo menekankan perlunya \u201cmembedakan antara produksi minyak sawit yang baik [berkelanjutan] dan yang buruk [tidak berkelanjutan]\u2026 untuk kemudian memperkuat bagian yang baik sambil mengubah yang buruk.\u201d Bagian dari \u2018memperkuat yang baik\u2019, dalam pandangannya adalah menawarkan dukungan finansial dan teknis pada petani untuk menerapkan praktik pertanian yang baik.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"The Trade, Development and the Environment Hub (TRADE Hub)\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/kVJsEqWBy5A?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Terkait catatan tersebut, Bremen Yong Kin Kong, Direktur Berkelanjutan <a href=\"https:\/\/www.apicalgroup.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Grup Apical<\/a> \u2013salah satu eksportir minyak sawit terbesar di Indonesia \u2013 berbicara mengenai pemakaian dana hijau untuk mendorong transformasi rantai pasokan. Ia juga menyebutkan perlunya membangun kepercayaan dalam sektor ini melalui kolaborasi dengan beragam pelaku dalam mewujudkan tujuan lingkungan, ekonomi, dan mata pencaharian masyarakat. Mengingat isu berkelanjutan merupakan tanggung jawab bersama, penting bagi kita untuk memiliki pola pikir yang terbuka. Inklusivitas di antara semua pemangku kepentingan juga merupakan komponen kunci dalam forum diskusi mengenai kebijakan dan penetapan standar,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Al Banna, dari Universitas Indonesia, menyetujuinya, meskipun memberikan tambahan \u201cDalam menerapkan inklusivitas, kita perlu mengakui bahwa ya, kita memiliki perbedaan dan kita harus meletakkan perbedaan tersebut di atas meja \u2013 daripada mengkonsolidasi posisi kita sendiri dan mengubah negosiasi kita. Meja akan menjadi medan pertempuran, alih-alih forum untuk menemukan solusi.\u201d Ini mencakup negara produsen dan konsumen melampaui pertimbangan pemangku kepentingan domestik mereka sendiri dalam upaya diplomasi ekonomi, katanya.<\/p>\n<p>Beatriz Fernandez, Staf Manajemen Asosiasi Program <a href=\"https:\/\/www.unep.org\/explore-topics\/green-economy\/what-we-do\/environment-trade-hub\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Lingkungan dan Perdagangan di UNEP<\/a>, berbagi harapan dan ekspektasi bahwa dialog G20 \u201cMempertahankan dan memperkuat kepentingan sistem perdagangan multilateral dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial untuk melindungi lingkungan, tetapi juga bahwa perdagangan tersebut dapat berkontribusi untuk mengatasi isu lingkungan dan memajukan perdagangan minyak sawit berkelanjutan melalui kebijakan\u201d, dialog akan bersifat inklusif, kolaboratif dan membangun kepercayaan, serta dapat membantu menyediakan kondisi yang memungkinkan untuk negara berkembang menghadapi tantangan, pemulihan, dan berhasil.<\/p>\n<p>Al Banna berbagi sentimen ini dan berkontribusi untuk menyeru kepada semua pihak yang tertarik dan terlibat dalam transisi minyak sawit berkelanjutan. \u201cKita seharusnya tidak menunggu, kita seharusnya tidak berharap bahwa kita masih punya waktu. Mari bersama mendorong maju agenda ini.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbagai cara untuk membenahi jejak lingkungan dan ekuitabilitas perdagangan minyak sawit menjadi topik utama dialog kebijakan daring, pada 22 Maret 2022. Acara ini diselenggarakan oleh CIFOR-ICRAF sebagai bagian dari aktivitas GCRF TRADE Hub di Indonesia yang didanai oleh Dana Riset Pusat Penelitian dan Inovasi Tantangan Global Inggris Raya dan dipimpin oleh Pusat Pemantauan Konservasi Dunia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":78938,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[10896,7014,11074],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[2423],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-78932","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-g20","tag-bahasa-sawit","tag-bahasa-sawit-berkelanjutan","type-bahasa-liputan-acara","type-english-event-coverage"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20 - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berbagai cara untuk membenahi jejak lingkungan dan ekuitabilitas perdagangan minyak sawit menjadi topik utama dialog kebijakan daring, pada 22 Maret 2022. Acara ini diselenggarakan oleh CIFOR-ICRAF sebagai bagian dari aktivitas GCRF TRADE Hub di Indonesia yang didanai oleh Dana Riset Pusat Penelitian dan Inovasi Tantangan Global Inggris Raya dan dipimpin oleh Pusat Pemantauan Konservasi Dunia [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-07T06:26:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-09-07T09:44:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1152\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20\",\"datePublished\":\"2022-09-07T06:26:02+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-07T09:44:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20\"},\"wordCount\":1003,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20\",\"name\":\"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20 - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg\",\"datePublished\":\"2022-09-07T06:26:02+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-07T09:44:16+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1152,\"caption\":\"Potret udara sekat kanal lahan gambut di Dompas, Riau. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78932\\\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20 - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20","og_description":"Berbagai cara untuk membenahi jejak lingkungan dan ekuitabilitas perdagangan minyak sawit menjadi topik utama dialog kebijakan daring, pada 22 Maret 2022. Acara ini diselenggarakan oleh CIFOR-ICRAF sebagai bagian dari aktivitas GCRF TRADE Hub di Indonesia yang didanai oleh Dana Riset Pusat Penelitian dan Inovasi Tantangan Global Inggris Raya dan dipimpin oleh Pusat Pemantauan Konservasi Dunia [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-09-07T06:26:02+00:00","article_modified_time":"2022-09-07T09:44:16+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1152,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20","datePublished":"2022-09-07T06:26:02+00:00","dateModified":"2022-09-07T09:44:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20"},"wordCount":1003,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forests News"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20","name":"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20 - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg","datePublished":"2022-09-07T06:26:02+00:00","dateModified":"2022-09-07T09:44:16+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg","width":2048,"height":1152,"caption":"Potret udara sekat kanal lahan gambut di Dompas, Riau. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menempatkan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Agenda Pemulihan G20"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78932\/menempatkan-kelapa-sawit-berkelanjutan-dalam-agenda-pemulihan-g20#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/36414076080_1a8deb022e_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78932","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78932"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78932\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78953,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78932\/revisions\/78953"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78938"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78932"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78932"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78932"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=78932"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=78932"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=78932"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=78932"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=78932"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=78932"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=78932"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=78932"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=78932"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=78932"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}