{"id":78912,"date":"2022-09-05T10:37:23","date_gmt":"2022-09-05T03:37:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=78912"},"modified":"2022-09-05T10:51:44","modified_gmt":"2022-09-05T03:51:44","slug":"air-hijau-dan-sungai-yang-melayang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang","title":{"rendered":"Air Hijau dan Sungai yang Melayang"},"content":{"rendered":"<p>Pemberitaan mengenai air muncul hampir setiap hari. Saat ini, banyak <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/78622\/global-aridity-index-and-potential-evapotranspiration-database-updated?fnl=\">sungai-sungai di Bumi yang mulai mengering<\/a> dan kita juga mulai terbiasa melihat foto-foto perubahan lanskap akibat kebakaran hutan yang disebabkan kekeringan atau banjir besar yang terjadi sekali dalam satu abad.<\/p>\n<p>Sementara itu, jumlah populasi Bumi yang mengalami <a href=\"https:\/\/www.fao.org\/newsroom\/detail\/un-report-global-hunger-SOFI-2022-FAO\/en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kelaparan dan menderita<\/a> malnutrisi terus bertambah menjadi 828 juta jiwa &#8211; naik 150 juta jiwa sejak pandemi COVID-19. Banyak orang yang mengalami kesulitan untuk memberi makan keluarga mereka dari tanah yang sudah mengering dan terkuras atau terendam akibat hujan lebat atau pasang air laut.<\/p>\n<p>Mereka yang hidup mengandalkan curah hujan untuk menghasilkan makanan menjadi kelompok yang rentan. Di Afrika, lebih dari <a href=\"https:\/\/siwi.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Unlocking-the-potential-of-rainfed-agriculture-2018-FINAL.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">95 persen produksi pangan dihasilkan pertanian tadah hujan<\/a>, tetapi hanya 5 persen investasi air pertanian publik yang mendukung sistem pertanian ini.<\/p>\n<p>Tapi solusi dari masalah ini mungkin berada tepat di atas kepala kita.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini, sebagian besar negara di sub-Sahara Afrika hanya menggunakan 5 persen dari potensi air hujan mereka,\u201d kata Maimbo Malesu yang mengepalai Unit Pengelolaan Air di <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIFOR-ICRAF<\/a> (Center for International Forestry Research dan World Agroforestry) dan kantor Zambia. \u201cMengikutsertakan air hijau dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan ekosistem.\u201d<\/p>\n<h3>Warna-warni air<\/h3>\n<p>Di daerah tropis, air berasal dari dua sumber utama: \u2018sungai yang melayang\u2019 atau <em>flying river <\/em>yang merupakan aliran kelembaban atmosfer (&#8216;air pelangi&#8217;) yang menghasilkan tutupan awan dan hujan, dan \u2018menara air\u2019 &#8211; daerah aliran sungai yang lebih tinggi yang menghasilkan sungai (\u2018air biru\u2019), yang turun ke daerah hilir yang lebih kering. Sungai mengumpulkan sekitar sepertiga dari total curah hujan di atas daratan.<\/p>\n<p>Pohon dan tanaman lain menggunakan dua pertiga lainnya sebagai &#8216;air hijau&#8217; melalui evapotranspirasi. Perubahan tutupan lahan antara hutan, padang rumput, dan tanaman terbuka memengaruhi kemampuan tanah untuk menyerap air, serta kemampuan vegetasi untuk menggunakannya dan mendaur ulang ke atmosfer. Sebagai contoh, pohon yang berakar dalam menarik air dari lapisan tanah yang dalam, dan mengeluarkannya ke lapisan tanah atas, yang akhirnya digunakan tanaman. \u201cPada dasarnya, tanpa adanya pohon, air akan terbuang sia-sia, karena pohonlah yang membantu mencegah erosi tanah,\u201d jelas Malesu. \u201cPohon dalam sistem pertanian \u2013 seperti dalam agroforestri \u2013 mengelola air dengan lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan nilai air. Tapi air hijau ini diabaikan dalam perencanaan hidrologi.\u201d<\/p>\n<p>Ilmuwan CIFOR-ICRAF, Aster Gebrekirstos Afwork menyampaikan pendapat serupa. \u201cPeran pohon dalam memodifikasi iklim mikro dan meso serta dalam siklus hidrologi sama sekali diabaikan dalam wacana perubahan iklim global,\u201d katanya. Komunitas Abraha We Atsbeha di Tigray, dengan siapa dia melakukan penelitian menggambarkan manfaat ekosistem dari restorasi lanskap sebagai &#8216;bank air&#8217;, di mana waktu dan tenaga yang diinvestasikan dalam memulihkan lahan terdegradasi di hulu mengisi ulang air tanah yang memasok &#8216;mesin ATM &#8216; ke hilir,&#8221; katanya. \u201cIni karena jumlah sumur dangkal meningkat secara signifikan sebagai akibat dari naiknya permukaan air dan infiltrasi lanskap selama musim hujan. Akibatnya, petani dapat dengan mudah mengembangkan sumur dan memeriksa bendungan untuk menanam sayuran dan pohon buah-buahan melalui praktik irigasi skala kecil, yang memungkinkan mereka untuk bercocok tanam dua kali di luar musim\u201d<\/p>\n<p>Memanfaatkan air hijau dapat menjadi langkah yang krusial. \u201cDengan perkiraan USD250-500 per hektare, berinvestasi dalam pengelolaan air hijau di pertanian kecil tadah hujan adalah cara yang hemat biaya dan berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas, dengan manfaat tambahan,\u201d kata Catherine Muthuri, Country Director CIFOR-ICRAF untuk Kenya, Penyelenggara Regional untuk Afrika Timur, dan salah satu pemimpin Platform Kemitraan Transformatif (<em>Transformative Partnership Platform) <\/em>untuk mengoptimalkan air hujan di pertanian tadah hujan.<\/p>\n<p>Inisiatif <a href=\"https:\/\/siwi.org\/transforming-investment-in-africas-rainfed-agriculture-tiara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Transformasi Investasi dalam <\/a><a href=\"https:\/\/siwi.org\/transforming-investment-in-africas-rainfed-agriculture-tiara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pertanian Tadah Hujan Afrika <\/a>(Transforming Investments in African Rained Agriculture, TIARA), yang dipimpin oleh <em>Stockholm International Water Institute (SIWI)<\/em>, <em>Global Green Growth Institute<\/em> (GGGI), dan CIFOR-ICRAF, bertujuan untuk membantu meningkatkan ketahanan pangan dan air serta membangun iklim ketahanan di masyarakat pedesaan dengan menarik perhatian \u2013 dan investasi dalam \u2013 peningkatan pertanian tadah hujan di Afrika. TIARA akan menjadi fokus <a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/session-detail\/transforming-investment-in-africa-rainfed-agriculture-for-the-zambezi-watercourse\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sesi <\/a>CIFOR-ICRAF pada acara <a href=\"https:\/\/www.worldwaterweek.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">World Water Week<\/a> yang diadakan secara daring dan juga luring di Stockholm, Swedia, pada 23 Agustus hingga 1 September 2022.<\/p>\n<p>TIARA telah menjajaki potensi air hijau di cekungan Zambezi melalui berbagai dialog pemangku kepentingan dan memberikan analisis tentang masalah dan hambatan utama. Pengalaman dan pelajaran yang dipetik akan menginformasikan pengembangan program TIARA di seluruh Afrika yang akan disesuaikan dengan keadaan lokal. Program ini akan memberikan kemitraan nasional dan regional dengan pemerintah, organisasi daerah aliran sungai, dan komunitas ekonomi regional, untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi peningkatan pertanian tadah hujan di Afrika.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"832\" height=\"404\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda-832x404.webp\" class=\"wp-image-78916\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda-832x404.webp 832w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda-566x275.webp 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda-768x372.webp 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda-220x107.webp 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda-610x296.webp 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda-672x326.webp 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Lake-Karago-in-Rwanda.webp 1000w\" sizes=\"auto, (max-width: 832px) 100vw, 832px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Danau Karago di Rwanda setelah upaya rehabilitasi melalui intervensi agroforestri di bawah \u2018Proyek Riset Pohon untuk Ketahanan Pangan\u2019 yang didanai ACIAR. Foto oleh: Anne Kuria<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<h3>Garda terdepan<\/h3>\n<p>Petani kecil yang mempraktikkan pertanian tadah hujan berada di garda terdepan sistem pengelolaan air. Biasanya, mereka hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak mempunyai  dukungan dan pelatihan tentang cara menggunakan sumber daya air yang langka secara berkelanjutan. Tetapi mereka berhasil meningkatkan hasil dengan menangkap air hujan dan menyimpannya di dalam zona akar tanaman mereka, bersama dengan pendekatan sederhana lainnya untuk meningkatkan kelembaban tanah dan air hijau, dan mengurangi kehilangan air dan nutrisi tanah.<\/p>\n<p>Pertanian tadah hujan yang ditingkatkan adalah istilah umum yang menggabungkan berbagai pendekatan yang selaras dengan pertanian regeneratif, pemanenan air hujan dan pertanian konservasi. \u201cInti dari peningkatan pertanian tadah hujan adalah kebutuhan untuk meningkatkan ketersediaan dan meningkatkan pengelolaan air hijau,\u201d kata Muthuri. \u201cBanyak dari pendekatannya dibangun di atas praktik atau pengetahuan tradisional dan dapat diimplementasikan dengan biaya rendah. Hal ini, ditambah dengan pencocokan spesies pohon dan opsi pengelolaan dengan konteks yang sesuai, menghasilkan penggunaan air yang efisien di mana setiap tetes diperhitungkan, yang mengarah pada peningkatan hasil panen, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, kesetaraan gender, peningkatan mata pencaharian, manfaat sosial, dan peningkatan ketahanan iklim.\u201d<\/p>\n<p>Untuk memanen air hujan, petani dapat membangun<em> za\u00ef pit<\/em> (baskom tanam kecil) dan parit berbentuk &#8216;setengah bulan&#8217;, atau membuat pematang tanah atau rerumputan yang mengarahkan limpasan ke tanaman \u2013 sebuah pendekatan yang disebut pertanian kontur. Mereka juga dapat meminimalkan pengolahan tanah, dan menggunakan tanaman penutup tanah dan mulsa untuk membatasi jumlah tanah dan air yang hilang melalui penguapan, erosi percikan hujan, dan limpasan. Pendekatan lain termasuk pemanenan air dan konservasi di kolam pertanian, bendungan pasir, dan tangki untuk menyediakan sumber irigasi selama musim kemarau. Air tanah dapat diisi ulang menggunakan parit dan lubang perkolasi, dan pupuk organik dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan dan struktur tanah.<\/p>\n<p>Berinvestasi dalam pertanian tadah hujan yang ditingkatkan dan air hijau tidak bertujuan untuk menggantikan irigasi atau solusi lain: tujuan utamanya adalah untuk menyediakan keamanan dasar air. \u201cLangkah pertama dalam membangun mata pencaharian yang berkelanjutan adalah memastikan bahwa, paling tidak, petani tidak jatuh di bawah titik subsisten,\u201d kata Muthuri. \u201cMengamankan air hijau harus dilihat sebagai bagian dari pendekatan terpadu yang lebih luas dalam pengelolaan air.\u201d<\/p>\n<h3>Di lapangan<\/h3>\n<p>Di Kenya, 80 persen lahan masuk dalam kategori gersang atau semi-kering \u2013 sebagian besar lahan kini sedang terdegradasi dengan cepat. Dalam konteks itu, <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/project\/kenya-rangelands-ecosystem-services-productivity-programme\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Kenya Rangelands Ecosystem Services Productivity Programme<\/em><\/a> dari CIFOR-ICRAF bertujuan untuk meningkatkan penghidupan dan bentang alam melalu peningkatan produktivitas jasa ekosistem yang disediakan oleh padang penggembalaan untuk makanan, pakan, dan keamanan manusia dan satwa liar di kabupaten Segitiga Amaya di Laikipia, Samburu, Isiolo, dan Baringo. Selain mempromosikan usaha dan investasi berbasis pohon, membangun pembibitan pohon masyarakat, dan mengidentifikasi cara menggunakan agroforestri untuk mitigasi dan adaptasi iklim, proyek ini juga meliputi komponen desain dan pemasangan sistem pemanenan air hujan dan banjir untuk mendukung pertumbuhan pohon dan meningkatkan padang rumput di lahan pertanian dan padang rumput. \u201cPotensi air hujan Kenya lebih dari 350 miliar meter kubik,\u201d kata Malesu. \u201cJika ditampung dan dikelola, airnya cukup untuk menghidupi 233 juta orang atau hampir empat kali lipat populasi negara pada 2022.<\/p>\n<p>Akses yang aman terhadap air sangat penting di Kenya sehingga diidentifikasi sebagai <a href=\"https:\/\/worldagroforestry.org\/publication\/trends-analysis-forest-and-landscape-restoration-kenya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">5 indikator teratas<\/a> untuk pemantauan restorasi lahan melalui keterlibatan di 47 kabupaten di negara itu, sebagai bagian dari <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/project\/promoting-nature-based-solutions-land-restoration-while-strengthening-national-monitoring\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">proyek <\/a>CIFOR-ICRAF yang didanai Inggris tentang solusi berbasis alam untuk restorasi.<\/p>\n<p>Penilaian terhadap sumber daya lahan dan air di lima titik panas tadah hujan yang dilakukan baru-baru ini di lima titik di Zambia, Zimbabwe, Malawi, dan Mozambik mengungkapkan bahwa hampir semua lokasi memiliki periode kesesuaian tadah hujan selama 1-3 bulan \u2013 kecuali daerah perbatasan Danau Malawi dengan Tanzania, yang memiliki masa kesesuaian 4-6 bulan. Namun, potensi panen limpasan sangat rendah (kecuali di Danau Malawi). Risiko erosi tanah juga paling besar di lahan pertanian. Jadi, untuk meningkatkan pertanian tadah hujan, ada kebutuhan untuk memantau dengan tepat awal dan akhir hujan, meningkatkan teknik pemanenan air di tempat, dan mempromosikan pertanian konservasi secara umum.<\/p>\n<p id=\"yui_3_16_0_1_1661244198004_2126\"><figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"622\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-622x415.jpg\" class=\"wp-image-78918\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-622x415.jpg 622w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-566x378.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-768x513.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-220x147.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-900x600.jpg 900w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-1536x1025.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-668x446.jpg 668w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k-1100x734.jpg 1100w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/41881272151_b80e0abf87_k.jpg 2047w\" sizes=\"auto, (max-width: 622px) 100vw, 622px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pemanenan Teh Mekanis di Perkebunan Teh Finlays, Koricho, Afrika. Foto oleh: Patrick Sheperd\/CIFOR<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure><\/p>\n<h3>Harapan muncul<\/h3>\n<p>Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso, Jawa Timur, Indonesia, tim peneliti telah bekerja selama beberapa tahun untuk menemukan cara mengembangkan kapasitas DAS untuk meningkatkan infiltrasi air dan mengatur asupan air untuk penggunaan pertanian. Pengelolaan DAS dan sumber daya air terpadu ini bertujuan untuk <a href=\"http:\/\/cifor.org\/research-staff\/813\/daniel-murdiyarso\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mengembalikan aliran air<\/a> ke Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia.<\/p>\n<p>Tahap pertama dari inisiatif <a href=\"https:\/\/www.worldagroforestry.org\/sites\/agroforestry\/files\/2020-04\/Project%20Brochure_0.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Gerakan Rejoso Kita<\/a> membuktikan konsep bahwa pemulihan dan pemeliharaan fungsi DAS dapat dicapai dengan menciptakan skema investasi bersama berbasis kinerja yang mendorong petani kecil di hulu dan tengah untuk mempraktikkan agroforestri dan pertanian konservasi. 94 petani dengan total area sawah seluas 44,3 hektar telah mempraktikkan budidaya padi berkelanjutan secara individu. Dengan memperkenalkan tanam serempak (tanam kolektif dengan kalender tanam yang selaras dalam satu blok), program ini melibatkan 184 petani dengan total luas tanah 65,1 hektare.<\/p>\n<p>\u201cData kami menunjukkan bahwa budidaya padi berkelanjutan dapat menghasilkan biji padi 32% lebih banyak, dan meningkatkan efisiensi air sebanyak 15% dibandingkan praktik konvensional,\u201d kata Ni&#8217;matul Khasanah, Pemodel Ekologi di CIFOR-ICRAF Indonesia. \u201cSistem ini memberikan petani keuntungan bersih sebanyak 123% dan mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 36%. Namun, untuk mewujudkan <em>win-win opportunity,  <\/em>diperlukan teknik pengeboran sumur yang baik untuk mengontrol penggunaan air dengan lebih baik, dan melakukan perubahan aturan izin resmi untuk pengeboran \u2013 hal ini merupakan tantangan nyata untuk integrasi kebijakan.\u201d<\/p>\n<p>Inisiatif ini juga mengeksplorasi mekanisme finansial inovatif yang mendorong komunitas petani untuk mengorganisir diri mereka untuk mendapatkan modal, dan bekerja dengan platform dan forum multipihak di berbagai yurisdiksi untuk pengelolaan DAS yang lebih baik. Dalam enam tahun program penelitian berbasis tindakan tersebut, percontohan oleh Rejoso Kita di bagian hulu, tengah, dan hilir DAS menggunakan pendekatan lanskap untuk merancang pembayaran jasa ekosistem (PES).<\/p>\n<p>\u201cPercontohan PES di Rejoso melibatkan 174 petani di tujuh desa dengan total luas tanah 106,6 hektare yang mendapatkan perjanjian kontrak berbasis kinerja dengan perusahaan air minum nasional Danone,\u201d kata Beria Leimona, Ahli Senior Tata Kelola Lanskap di CIFOR-ICRAF. \u201cKetika direplikasi, skema PES dapat meningkatkan infiltrasi sebesar 0,5\u20131% dan mengurangi limpasan permukaan sebesar 1,5\u20132% dari curah hujan tahunan dengan memelihara 300\u2013500 pohon per hektare; efek ini sederhana dalam mengisi ulang air tanah, tetapi melengkapi penggunaan air tanah yang lebih efisien di hilir.\u201d<\/p>\n<h3>Mencari air untuk pepohonan<\/h3>\n<p>Sebagian besar dari perkiraan empat miliar orang yang kekurangan akses air bersih tinggal di daerah dengan <a href=\"https:\/\/www.iufro.org\/publications\/series\/world-series\/article\/2018\/07\/10\/world-series-vol-38-forest-and-water-on-a-changing-planet-vulnerability-adaptation-and-governan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tutupan hutan yang rendah. <\/a>Pohon mengambil air dari bawah tanah dan perlahan-lahan melepaskannya melalui daunnya; mereka juga &#8216;menangkap&#8217; hujan lebat dan  memperlambat limpasan; menstabilkan tepian sungai; dan <a href=\"https:\/\/pub.epsilon.slu.se\/16518\/1\/van_%20noordwijk_%20m_et_al_191216.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menciptakan iklim mikro <\/a>untuk tanaman dan keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p>\u201cHutan dan pepohonan telah dikaitkan dengan curah hujan setidaknya sejak zaman Yunani kuno, tetapi baru belakangan ini mekanismenya diklarifikasi,\u201d kata Meine van Noordwijk, Anggota Ilmu Pengetahuan Terkemuka di CIFOR-ICRAF, yang baru-baru ini ikut menulis makalah yang mempertanyakan metrik &#8216;jejak air&#8217; yang umum digunakan dan menyarankan daur ulang curah hujan sebagai alternatif. \u201cDi luar kompetisi air biru versus air hijau yang memperingatkan kita untuk menanam pohon lebat di daerah kering, spektrum warna \u2013 biru, hijau, abu-abu dan pelangi \u2013 perlu dipahami dalam mengelola air mengingat semua ini berhubungan dengan<em> Sustainable Development Goals<\/em> atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.\u201d Sederhananya, menanam pohon yang tepat di tempat yang tepat, merupakan cara paling efektif untuk mendapatkan nilai maksimum dari air hujan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemberitaan mengenai air muncul hampir setiap hari. Saat ini, banyak sungai-sungai di Bumi yang mulai mengering dan kita juga mulai terbiasa melihat foto-foto perubahan lanskap akibat kebakaran hutan yang disebabkan kekeringan atau banjir besar yang terjadi sekali dalam satu abad. Sementara itu, jumlah populasi Bumi yang mengalami kelaparan dan menderita malnutrisi terus bertambah menjadi 828 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":205,"featured_media":78914,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[1793,514],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[2431],"type-francais":[],"coauthors":[5290],"class_list":["post-78912","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","tag-kenya","tag-smallholders","language-bahasa-indonesia","type-bahasa-berita","type-english-news"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Air Hijau dan Sungai yang Melayang - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Air Hijau dan Sungai yang Melayang\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pemberitaan mengenai air muncul hampir setiap hari. Saat ini, banyak sungai-sungai di Bumi yang mulai mengering dan kita juga mulai terbiasa melihat foto-foto perubahan lanskap akibat kebakaran hutan yang disebabkan kekeringan atau banjir besar yang terjadi sekali dalam satu abad. Sementara itu, jumlah populasi Bumi yang mengalami kelaparan dan menderita malnutrisi terus bertambah menjadi 828 [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-05T03:37:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-09-05T03:51:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/MvN-copy.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"900\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Erin O&#039;Connell\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang\"},\"author\":{\"name\":\"Erin O'Connell\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26\"},\"headline\":\"Air Hijau dan Sungai yang Melayang\",\"datePublished\":\"2022-09-05T03:37:23+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-05T03:51:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang\"},\"wordCount\":1871,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/MvN-copy.webp\",\"keywords\":[\"Kenya\",\"smallholders\"],\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang\",\"name\":\"Air Hijau dan Sungai yang Melayang - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/MvN-copy.webp\",\"datePublished\":\"2022-09-05T03:37:23+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-05T03:51:44+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/MvN-copy.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/09\\\/MvN-copy.webp\",\"width\":900,\"height\":600,\"caption\":\"Mata Air Umbulan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia, merupakan sumber mata air penting untuk pertanian dan kebutuhan rumah tangga masyarakat di DAS Rejoso. Foto oleh: Aunul Fauzi\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Air Hijau dan Sungai yang Melayang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26\",\"name\":\"Erin O'Connell\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=gfad45f168c9f21c9e4b1750c8aa9b8af\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Erin O'Connell\"},\"description\":\"Erin O\u2019Connell is a science writer based in Montreal.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/erin\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78912\\\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Air Hijau dan Sungai yang Melayang - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Air Hijau dan Sungai yang Melayang","og_description":"Pemberitaan mengenai air muncul hampir setiap hari. Saat ini, banyak sungai-sungai di Bumi yang mulai mengering dan kita juga mulai terbiasa melihat foto-foto perubahan lanskap akibat kebakaran hutan yang disebabkan kekeringan atau banjir besar yang terjadi sekali dalam satu abad. Sementara itu, jumlah populasi Bumi yang mengalami kelaparan dan menderita malnutrisi terus bertambah menjadi 828 [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-09-05T03:37:23+00:00","article_modified_time":"2022-09-05T03:51:44+00:00","og_image":[{"width":900,"height":600,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/MvN-copy.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Erin O'Connell","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang"},"author":{"name":"Erin O'Connell","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26"},"headline":"Air Hijau dan Sungai yang Melayang","datePublished":"2022-09-05T03:37:23+00:00","dateModified":"2022-09-05T03:51:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang"},"wordCount":1871,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/MvN-copy.webp","keywords":["Kenya","smallholders"],"articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang","name":"Air Hijau dan Sungai yang Melayang - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/MvN-copy.webp","datePublished":"2022-09-05T03:37:23+00:00","dateModified":"2022-09-05T03:51:44+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/MvN-copy.webp","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/MvN-copy.webp","width":900,"height":600,"caption":"Mata Air Umbulan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia, merupakan sumber mata air penting untuk pertanian dan kebutuhan rumah tangga masyarakat di DAS Rejoso. Foto oleh: Aunul Fauzi"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Air Hijau dan Sungai yang Melayang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26","name":"Erin O'Connell","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=gfad45f168c9f21c9e4b1750c8aa9b8af","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g","caption":"Erin O'Connell"},"description":"Erin O\u2019Connell is a science writer based in Montreal.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/erin"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78912\/air-hijau-dan-sungai-yang-melayang#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/MvN-copy.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78912","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/205"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78912"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78912\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78922,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78912\/revisions\/78922"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78912"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78912"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78912"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=78912"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=78912"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=78912"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=78912"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=78912"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=78912"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=78912"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=78912"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=78912"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=78912"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}