{"id":78651,"date":"2022-07-28T10:32:57","date_gmt":"2022-07-28T03:32:57","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=78651"},"modified":"2023-01-04T16:48:24","modified_gmt":"2023-01-04T09:48:24","slug":"para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi","title":{"rendered":"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi"},"content":{"rendered":"<p>Untuk mengantisipasi kelangkaan energi yang telah diproyeksikan karena pengurangan sumber energi berbasis fosil, Pemerintah Indonesia bergerak cepat untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi produksi biomassa untuk energi.<\/p>\n<p>Setelah penyusunan Rencana Umum Energi Nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menetapkan Kebijakan Energi Nasional yang bertujuan agar energi terbarukan memenuhi setidaknya 23 persen dari bauran energi nasional pada tahun 2025, dan setidaknya 31 persen pada tahun 2050.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengeluarkan keputusan untuk mempercepat penggunaan energi terbarukan dengan melakukan <em>co-firing<\/em> pembangkit listrik tenaga batu bara dengan biomassa; perusahaan listrik negara, PLN, mengamanatkan penyediaan bahan baku biomassa; dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan kategori yang disebut sebagai \u201cHutan Energi\u201d dan program perkebunan energi rotasi pendek untuk sejumlah spesies pohon, termasuk <em>Calliandra calothyrsus<\/em> (Meissn.).<\/p>\n<p>Beberapa pendekatan manajemen digunakan di seluruh dunia untuk jenis perkebunan ini, seperti \u201cperkebunan rotasi pendek\u201d untuk pemanenan dan penanaman kembali, \u201crotasi semak belukar\u201d untuk pemanenan dan produksi semak belukar*, dan \u201cpenanaman pohon rotasi pendek.\u201d Yang terakhir ini didasarkan pada siklus tebang habis, berkisar 1 hingga 15 tahun, menampilkan pohon-pohon yang tumbuh cepat dengan ukuran seragam dengan jarak kepadatan tinggi antara masing-masing pohon. Metode ini dianggap sebagai sistem yang ideal untuk pengelolaan biomassa karena tidak hanya menyediakan bahan baku yang teratur dan terbarukan, tetapi juga sejumlah besar layanan ekologis, termasuk penyerapan karbon.<\/p>\n\n<p>Untuk memastikan produktivitas maksimum, kepadatan jarak tanam yang optimal, waktu panen dan kualitas biomassa yang dihasilkan, perlu dipahami dengan baik karakteristik setiap jenis pohon. Informasi tentang faktor-faktor ini yang masih kurang dipahami untuk jenis kaliandra.<\/p>\n<p>Untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut, para peneliti bersama Puslitbang Kehutanan menanam kaliandra di lokasi penelitian seluas 1 hektar di Provinsi Jawa Barat. Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) dan Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon, dan Agroforestri mendukung pengembangan artikel yang diterbitkan.<\/p>\n<p>Lokasi penelitian dibagi menjadi empat plot dengan jarak tanam yang bervariasi antar individu pohon: 1\u2009\u00d7\u20091,5 m; 1,5\u2009\u00d7\u20091,5 m; 2\u2009\u00d7\u20091,5 m; dan 2\u2009\u00d7\u20092 m.<\/p>\n<p>Tim peneliti memantau pertumbuhan pada umur 12, 18, dan 24 bulan di setiap plot. Tiga puluh pohon dibiarkan tumbuh untuk mengamati tingkat pertumbuhannya, dan 10 pohon lainnya ditebang pada masing-masing umur setelah ditanam. Pohon-pohon ditebang pada ketinggian 50\u2009cm dari tanah dan tunggul dibiarkan tumbuh kembali. Setahun setelah penebangan, semak belukar yang dihasilkan diukur kemudian dipotong.<\/p>\n<p>Sebagai perbandingan, tim peneliti mengukur pertumbuhan, produktivitas, dan nilai kalori, yang terakhir menjadi faktor penting dalam menentukan kesesuaian untuk digunakan oleh pembangkit listrik.<\/p>\n<p>\u201cKami menemukan bahwa persaingan antar pohon sangat menentukan pertumbuhan dan produktivitas kayu primer,\u201d kata Enny Widyati, Peneliti Senior di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, sekaligus Penulis Utama laporan tim yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah, <em><a href=\"https:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/21580103.2022.2039305\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forest Science and Technology<\/a><\/em>, pada Februari 2022.<\/p>\n<p>Secara khusus, mereka menemukan bahwa plot dengan jarak terpadat memiliki kandungan terendah untuk hampir semua jenis nutrisi, yang menyebabkan batang berdiameter lebih lebih kecil dan produktivitas biomassa lebih rendah.<\/p>\n\n<p>Mereka juga menemukan bahwa produktivitas meningkat hingga 15 persen dengan dilakukan <em>coppicing<\/em>. Produktivitas kayu yang optimal berasal dari tegakan yang ditebang dengan jarak tanam 2\u2009\u00d7\u20092 m, dan dipanen pada umur 18 bulan.<\/p>\n<p>Ini menghasilkan jumlah rata-rata biomassa per pohon sebesar 7,2\u2009kg kayu primer dan 8,22\u2009kg kayu semak belukar.<\/p>\n<p>Kandungan lignin sekitar 22 persen dan nilai kalor sekitar 18.807\u2009kJ, yang sesuai dengan kebutuhan bahan baku untuk pembangkit listrik.<\/p>\n<p>Panen pada umur 24 bulan tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan pada produktivitas, kandungan lignin, maupun nilai kalori.<\/p>\n<p>Tim merekomendasikan bahwa untuk perkebunan energi kaliandra di masa depan, kepadatan 2.500 pohon per hektar dengan panen awal dilakukan pada 18 bulan adalah optimal. Pemanenan semak belukar berikutnya dapat dilakukan setiap 12 bulan, yaitu saat kualitas kayu paling mirip dengan kayu primer. Mereka juga merekomendasikan bahwa daun, cabang, dan batang yang dipotong harus dibiarkan di lokasi untuk mendukung pengembangan bahan organik tanah, yang memberikan nutrisi dan manfaat lain untuk pertumbuhan.<\/p>\n<p>\u201cImplikasinya menarik,\u201d kata Himlal Baral, Ilmuwan Senior CIFOR-ICRAF dan Penulis Studi ini, \u201cTerutama jika pohon kaliandra ditanam di lahan terdegradasi dan marginal.\u201d<\/p>\n<p>Sementara komitmen nasional dan global untuk restorasi lanskap hutan meningkat, keberhasilan sejauh ini dibatasi oleh kurangnya kasus bisnis yang solid atau kelayakan finansial.<\/p>\n<p>\u201cPerkebunan energi yang dikelola secara berkelanjutan bisa menjadi solusinya,\u201d kata Baral.<\/p>\n<p>* \u201c<em>Coppcing<\/em>\u201d <em>adalah praktik menebang batang pohon muda hingga mendekati permukaan tanah. Pohon kemudian menumbuhkan beberapa batang baru yang dapat dipanen, dan kemudian bertunas, suatu siklus yang dapat berlanjut selama masa hidup pohon tersebut. Hanya spesies tertentu yang cocok untuk metode ini.<\/em><\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk mengantisipasi kelangkaan energi yang telah diproyeksikan karena pengurangan sumber energi berbasis fosil, Pemerintah Indonesia bergerak cepat untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi produksi biomassa untuk energi. Setelah penyusunan Rencana Umum Energi Nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menetapkan Kebijakan Energi Nasional yang bertujuan agar energi terbarukan memenuhi setidaknya 23 persen dari bauran energi nasional pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":408,"featured_media":78659,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[6661,2491,2541,6663,11042,11041],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[2431],"type-francais":[],"coauthors":[10425],"class_list":["post-78651","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-bioenergi","tag-bahasa-biomassa","tag-bahasa-energi","tag-bahasa-energi-terbarukan","tag-bahasa-hutan-energi","tag-bahasa-kaliandra","type-bahasa-berita","type-english-news"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Untuk mengantisipasi kelangkaan energi yang telah diproyeksikan karena pengurangan sumber energi berbasis fosil, Pemerintah Indonesia bergerak cepat untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi produksi biomassa untuk energi. Setelah penyusunan Rencana Umum Energi Nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menetapkan Kebijakan Energi Nasional yang bertujuan agar energi terbarukan memenuhi setidaknya 23 persen dari bauran energi nasional pada [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-07-28T03:32:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-01-04T09:48:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/35064873633_4243384c3a_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Robert Finlayson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@hanoman01\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi\"},\"author\":{\"name\":\"Robert Finlayson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9f11b936fafb1447982781031ecff773\"},\"headline\":\"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi\",\"datePublished\":\"2022-07-28T03:32:57+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-04T09:48:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi\"},\"wordCount\":711,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/07\\\/35064873633_4243384c3a_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi\",\"name\":\"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/07\\\/35064873633_4243384c3a_k.jpg\",\"datePublished\":\"2022-07-28T03:32:57+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-04T09:48:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/07\\\/35064873633_4243384c3a_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/07\\\/35064873633_4243384c3a_k.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Uji coba tanaman bioenergi di Kalimantan Tengah 'Kaliandra,' atau Calliandra calothyrsus. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9f11b936fafb1447982781031ecff773\",\"name\":\"Robert Finlayson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g05d07a7f58f160478412f1c1b51abcf8\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Robert Finlayson\"},\"description\":\"Robert Finlayson is a senior associate fellow with CIFOR-ICRAF who joined in 2010 and has held various positions related to communication and liaison. He now specialises in project development, particularly for land restoration in Indonesia and other countries in Asia.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@hanoman01\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/rfinlayson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/78651\\\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi","og_description":"Untuk mengantisipasi kelangkaan energi yang telah diproyeksikan karena pengurangan sumber energi berbasis fosil, Pemerintah Indonesia bergerak cepat untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi produksi biomassa untuk energi. Setelah penyusunan Rencana Umum Energi Nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menetapkan Kebijakan Energi Nasional yang bertujuan agar energi terbarukan memenuhi setidaknya 23 persen dari bauran energi nasional pada [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-07-28T03:32:57+00:00","article_modified_time":"2023-01-04T09:48:24+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/35064873633_4243384c3a_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Robert Finlayson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@hanoman01","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi"},"author":{"name":"Robert Finlayson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9f11b936fafb1447982781031ecff773"},"headline":"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi","datePublished":"2022-07-28T03:32:57+00:00","dateModified":"2023-01-04T09:48:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi"},"wordCount":711,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/35064873633_4243384c3a_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi","name":"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/35064873633_4243384c3a_k.jpg","datePublished":"2022-07-28T03:32:57+00:00","dateModified":"2023-01-04T09:48:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/35064873633_4243384c3a_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/35064873633_4243384c3a_k.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Uji coba tanaman bioenergi di Kalimantan Tengah 'Kaliandra,' atau Calliandra calothyrsus. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Para Peneliti Mengisi Kesenjangan Pengetahuan tentang Menumbuhkan Biomassa untuk Energi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9f11b936fafb1447982781031ecff773","name":"Robert Finlayson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g05d07a7f58f160478412f1c1b51abcf8","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g","caption":"Robert Finlayson"},"description":"Robert Finlayson is a senior associate fellow with CIFOR-ICRAF who joined in 2010 and has held various positions related to communication and liaison. He now specialises in project development, particularly for land restoration in Indonesia and other countries in Asia.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@hanoman01"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/rfinlayson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/78651\/para-peneliti-mengisi-kesenjangan-pengetahuan-tentang-menumbuhkan-biomassa-untuk-energi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/35064873633_4243384c3a_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78651","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/408"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78651"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78651\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78657,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78651\/revisions\/78657"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78651"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78651"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78651"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=78651"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=78651"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=78651"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=78651"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=78651"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=78651"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=78651"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=78651"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=78651"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=78651"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}