{"id":76312,"date":"2022-03-09T12:00:30","date_gmt":"2022-03-09T05:00:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=76312"},"modified":"2022-03-09T12:00:30","modified_gmt":"2022-03-09T05:00:30","slug":"teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan","title":{"rendered":"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan"},"content":{"rendered":"<p>Penelitian menunjukkan bahwa hutan dan lanskap yang sehat tidak hanya penting untuk kesejahteraan jangka panjang planet ini, tetapi juga untuk kesehatan umat manusia. Hal ini karena kontribusinya terhadap banyak sekali barang dan jasa ekosistem yang mereka sediakan, dengan manfaat yang jauh melampaui arena lokal.<\/p>\n<p>Namun, dengan sebagian besar lanskap dunia yang rusak, terdegradasi, atau menurun karena peningkatan populasi dan terkait permintaan akan pangan pertanian, energi, dan barang biologis, inisiatif untuk memulihkannya menjadi sangat penting, sebuah fakta yang disoroti oleh <a href=\"https:\/\/www.decadeonrestoration.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dekade PBB tentang Restorasi Ekosistem<\/a> 2021\u20132030.<\/p>\n<p>Bukan rahasia lagi bahwa restorasi merupakan upaya yang tidak murah. Hal ini membutuhkan pengetahuan mendalam tentang faktor biofisik dan sosial ekonomi yang menyebabkan degradasi sejak awal, serta insentif yang paling cocok untuk membalikkannya.<\/p>\n<p>Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF), dengan dukungan serta kolaborasi bersama Institut Nasional Ilmu Hutan (NIFoS) Republik Korea, dan mitra lokal, telah melakukan berbagai kegiatan penelitian untuk mengatasi tantangan tersebut.<\/p>\n<p>Upaya ini termasuk proyek jangka panjang, <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/project\/PMO-2311\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Reforestasi dan Usaha Berbasis Masyarakat Berkelanjutan<\/a> (SCORE), yang berjalan pada periode yang sama dengan Dekade Restorasi Ekosistem PBB. Pada bulan Desember tahun lalu, Seminar Bilateral SCORE telah dilaksanakan.<\/p>\n\n<p>Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta meningkatkan skala dan model restorasi lahan yang sesuai secara lokal, dengan menjadikan berbagai jenis lahan terdegradasi di Indonesia sebagai lokasi penelitian.<\/p>\n<p>\u201cMenyusul penyelidikan yang dilakukan pada proyek sebelumnya yang didukung oleh NIFoS, setelah kurang dari satu tahun beroperasi, tim peneliti telah menyampaikan informasi awal tentang teknologi pertanian dan kehutanan tertentu yang cocok untuk berbagai kondisi lingkungan dan sosial ekonomi di Indonesia, dengan penerapannya secara global,\u201d kata Himlal Baral, Manajer Proyek dan Ilmuwan Restorasi Hutan dan Lanskap Senior di CIFOR-ICRAF.<\/p>\n<p>Misalnya, Sukartiningsih, Direktur Pusat Studi Reboisasi Hutan Hujan Tropis <a href=\"https:\/\/unmul.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Mulawarman<\/a> di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, melaporkan bahwa melalui penelitian yang mereka lakukan dikonfirmasi bahwa nyamplung \u2014 yang dikenal juga sebagai tamanu (<em>Calophyllum inophyllum<\/em> Linn.) \u2014 merupakan jenis pohon multiguna yang mampu beradaptasi dengan baik pada lahan terdegradasi.<\/p>\n<p>Jenis ini dapat berbunga dengan cepat dan berbuah kurang dari tiga tahun setelah penanaman, serta dapat menyediakan banyak produk seperti madu, biofuel, dan minyak untuk perawatan kulit dan rambut.<\/p>\n<p>Sejauh mana jenis ini menjadi penyerap karbon kemudian diukur oleh Tyas Mutiara Basuki bersama tim dari Pusat Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, serta Novi Wahyuni \u200b\u200bdan peneliti lain dari CIFOR-ICRAF. Hasil dari pengukuran ini akan membantu memperkirakan potensi penyerapan karbon dari Nyamplung.<\/p>\n<p>Spesies serupa, seperti <em>Pongamia pinnata <\/em>(sinonim termasuk <em>Millettia pinnata<\/em> dan \u201cmalapari\u201d), telah diuji pada berbagai jenis lahan gambut dan tanah mineral terdegradasi oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Budi Leksono, Peneliti Senior Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, yang berbasis di Provinsi Yogyakarta.<\/p>\n\n<p>Pongamia ditemukan tumbuh dengan baik di gambut \u201ctopogenous\u201d, yaitu lahan gambut yang mengalami penurunan curah hujan yang mengakibatkan tingkat kelembaban yang lebih rendah, meskipun ada variasi yang tinggi dalam tingkat pertumbuhan dan kandungan minyak biji tergantung pada \u201cinduknya\u201d, hal ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut.<\/p>\n<p>\u201cPohon yang tumbuh dengan baik di lahan gambut menawarkan potensi restorasi karena gambut merupakan ekosistem unik yang memiliki sifat tergenang air,\u201d kata Baral. \u201cTim peneliti telah mengubah genangan air dan jenis pohon ramah gambut menjadi mitra dalam restorasi melalui uji coba yang kami sebut sistem \u2018agrosilvofishery\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Para peneliti juga menemukan bahwa sistem tersebut tidak hanya memulihkan lahan gambut, tetapi juga meningkatkan produksi pangan dan jasa ekosistem.<\/p>\n<p>\u201cPekerjaan kami menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode selain membakar saat menyiapkan lahan untuk menanam padi yang dikombinasikan dengan pengelolaan air yang tepat dapat meningkatkan produksi padi secara dramatis, dari 1,18 menjadi 3,69 ton per hektare per tahun, sekaligus menghasilkan ikan dan menyerap karbon,\u201d kata Rujito Suwignyo, Direktur Pusat Unggulan Penelitian Lahan Gambut dan Guru Besar <a href=\"https:\/\/unsri.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Sriwijaya<\/a>, Provinsi Sumatra Selatan.<\/p>\n<p>Sistem tersebut memberikan potensi budidaya ikan untuk meningkatkan produktivitas pangan dari lahan gambut yang terdegradasi, tambah Muhammad Amin, peneliti dari pusat yang sama.<\/p>\n<p>Spesies ikan asli gambut, seperti ikan betik, ikan tambakan, dan ikan kepala ular merupakan jenis ikan yang paling banyak dijual di pasar lokal, tetapi jenis-jenis membutuhkan waktu satu tahun sebelum dapat dipanen. Di sisi lain, spesies non-asli seperti ikan lele hanya membutuhkan waktu tiga bulan sebelum panen tetapi membutuhkan persiapan dan pemeliharaan yang intensif.<\/p>\n\n<p>Gambut tidak hanya tergenang air, tetapi juga terdiri dari bahan organik yang sulit terurai, tidak seperti tanah mineral. Ketika lahan gambut dikeringkan untuk budi daya, gambut akan mengering dan rentan terbakar, yang dapat menyebabkan kebakaran hebat, dan dapat menghilangkan banyak fauna gambut.<\/p>\n<p>Seongmin Shin, Peneliti di CIFOR-ICRAF, telah mempelajari sifat-sifat gambut. Karyanya mengungkap bahwa ada beberapa ordo fauna seperti hymenoptera, yang beradaptasi dengan baik pada lahan gambut yang pernah terbakar.<\/p>\n<p>Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menetapkan dasar keanekaragaman fauna di berbagai lahan gambut; lebih memahami dampak kebakaran pada komunitas meso dan makro fauna di dalam tanah; dan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlunya menghindari penggunaan api dalam penyiapan lahan.<\/p>\n<p><em>Proyek Reboisasi dan Usaha Berbasis Masyarakat Berkelanjutan bertujuan untuk mencapai tujuan iklim dan mata pencaharian melalui restorasi lanskap hutan yang sesuai secara lokal. Riset ini merupakan kelanjutan dari proyek Manfaat Sosial Ekonomi dan Lingkungan dari Produksi Bioenergi di Lahan Terdegradasi di Indonesia.<\/em><\/p>\n<p><strong>Penelitian ini didukung oleh <\/strong><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/partners\/nifos\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><strong>Institut Nasional Ilmu Hutan, Republik Korea;<\/strong><\/a> <a href=\"http:\/\/www.biotifor.or.id\/content-889-centre-for-forest-biotecnology-and-tree-improvement-cfbti-at-glance.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><strong>Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan<\/strong><\/a><strong>,<\/strong><strong> Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia; Pusat Reboisasi Hutan Hujan Tropis, Universitas Mulawarman; Universitas Muhammadiyah Palangkaraya; Pusat Unggulan Penelitian Lahan Gambut,<\/strong> <strong>Universitas Sriwijaya.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penelitian menunjukkan bahwa hutan dan lanskap yang sehat tidak hanya penting untuk kesejahteraan jangka panjang planet ini, tetapi juga untuk kesehatan umat manusia. Hal ini karena kontribusinya terhadap banyak sekali barang dan jasa ekosistem yang mereka sediakan, dengan manfaat yang jauh melampaui arena lokal. Namun, dengan sebagian besar lanskap dunia yang rusak, terdegradasi, atau menurun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":408,"featured_media":76317,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[6661,2622,10169],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[10425],"class_list":["post-76312","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-bioenergi","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-restorasi-lahan","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Penelitian menunjukkan bahwa hutan dan lanskap yang sehat tidak hanya penting untuk kesejahteraan jangka panjang planet ini, tetapi juga untuk kesehatan umat manusia. Hal ini karena kontribusinya terhadap banyak sekali barang dan jasa ekosistem yang mereka sediakan, dengan manfaat yang jauh melampaui arena lokal. Namun, dengan sebagian besar lanskap dunia yang rusak, terdegradasi, atau menurun [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-03-09T05:00:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/36811390855_52057b6dbd_k-623x415.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"623\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"415\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Robert Finlayson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@hanoman01\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan\"},\"author\":{\"name\":\"Robert Finlayson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9f11b936fafb1447982781031ecff773\"},\"headline\":\"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan\",\"datePublished\":\"2022-03-09T05:00:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan\"},\"wordCount\":893,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan\",\"name\":\"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg\",\"datePublished\":\"2022-03-09T05:00:30+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg\",\"width\":2047,\"height\":1364,\"caption\":\"Hutan gambut di Desa Parupuk, Katingan. Kalimantan Tengah. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9f11b936fafb1447982781031ecff773\",\"name\":\"Robert Finlayson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g05d07a7f58f160478412f1c1b51abcf8\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Robert Finlayson\"},\"description\":\"Robert Finlayson is a senior associate fellow with CIFOR-ICRAF who joined in 2010 and has held various positions related to communication and liaison. He now specialises in project development, particularly for land restoration in Indonesia and other countries in Asia.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@hanoman01\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/rfinlayson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/76312\\\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan","og_description":"Penelitian menunjukkan bahwa hutan dan lanskap yang sehat tidak hanya penting untuk kesejahteraan jangka panjang planet ini, tetapi juga untuk kesehatan umat manusia. Hal ini karena kontribusinya terhadap banyak sekali barang dan jasa ekosistem yang mereka sediakan, dengan manfaat yang jauh melampaui arena lokal. Namun, dengan sebagian besar lanskap dunia yang rusak, terdegradasi, atau menurun [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-03-09T05:00:30+00:00","og_image":[{"width":623,"height":415,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/36811390855_52057b6dbd_k-623x415.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Robert Finlayson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@hanoman01","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan"},"author":{"name":"Robert Finlayson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9f11b936fafb1447982781031ecff773"},"headline":"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan","datePublished":"2022-03-09T05:00:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan"},"wordCount":893,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#respond"]}],"copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan","name":"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg","datePublished":"2022-03-09T05:00:30+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg","width":2047,"height":1364,"caption":"Hutan gambut di Desa Parupuk, Katingan. Kalimantan Tengah. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Teknologi Baru Membuka Jalan bagi Upaya Restorasi Lahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9f11b936fafb1447982781031ecff773","name":"Robert Finlayson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g05d07a7f58f160478412f1c1b51abcf8","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g","caption":"Robert Finlayson"},"description":"Robert Finlayson is a senior associate fellow with CIFOR-ICRAF who joined in 2010 and has held various positions related to communication and liaison. He now specialises in project development, particularly for land restoration in Indonesia and other countries in Asia.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@hanoman01"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/rfinlayson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/76312\/teknologi-baru-membuka-jalan-bagi-upaya-restorasi-lahan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/36811390855_52057b6dbd_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76312","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/408"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76312"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76312\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":76315,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76312\/revisions\/76315"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76312"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=76312"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=76312"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=76312"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=76312"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=76312"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=76312"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=76312"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=76312"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=76312"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=76312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}