{"id":75837,"date":"2022-01-12T11:39:25","date_gmt":"2022-01-12T04:39:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=75837"},"modified":"2022-09-28T10:27:58","modified_gmt":"2022-09-28T03:27:58","slug":"buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif","title":{"rendered":"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan  Kolaboratif Adaptif"},"content":{"rendered":"<p>Triskelion merupakan simbol kuno berbentuk tiga spiral. Bentuk triadiknya memiliki berbagai arti untuk beragam budaya yang direpresentasikannya selama bertahun-tahun.<\/p>\n<p>Bagi tiga ilmuwan penulis buku terbaru berjudul <em><a href=\"https:\/\/www.taylorfrancis.com\/books\/oa-edit\/10.4324\/9781003197256\/adaptive-collaborative-management-forest-landscapes-carol-pierce-colfer-ravi-prabhu-anne-larson?context=ubx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Adaptive Collaborative Management in Forest Landscapes: Villagers, Bureaucrats and Civil Society<\/a> <\/em>(Routledge, 2022),  symbol ini menggambarkan bersatunya visi berbeda namun sejalan dan menjadi panduan prinsip-prinsip strategis Manajemen Adaptif Kolaboratif (ACM) dalam pengelolaan bentang alam dan sumber daya hutan.<\/p>\n<p>Carol J. Pierce Colfer, Ravi Prabhu dan Anne M. Larson &#8212; peneliti di Pusat Penelitian Kehutanan dan Wanatani Internasional &#8212; menyamakan ACM dengan spiral peningkatan dan pemberdayaan ketika  orang dapat dilihat dan diperlakukan &#8212; serta memandang diri mereka sendiri &#8212; sebagai wali antargenerasi dari semua yang dihasilkan tanah .<\/p>\n<p>\u201cTriskelion mewakili putaran meluas dan meninggi, pembelajaran kolaboratif terstruktur, dengan peningkatan hasil untuk manusia dan lingkungannya,\u201d kata Prabhu. \u201cKonsep dasar ACM ini telah berkembang selama tiga dekade dan secara perlahan mempengaruhi aparatur yang mengelola bentang alam hutan.\u201d<\/p>\n<p>Visi ini tidak selalu menjadi prinsip pemandu dalam pengembangan dan pengelolaan bentang alam.<\/p>\n<p>Colfer, Prabhu dan Larson mengembangkan dan menyempurnakan metode ini selama 30 tahun terakhir.  Kini mereka berbagi prinsip-prinsip yang telah berhasil dijalankan bersama masyarakat dan pemangku kepentingan hutan lain. Melalui penyempurnaan sikap lama, mereka memperkenalkan cara baru dalam memandang timbal-balik hutan agar mengarah pada perubahan persepsi dan perilaku secara keseluruhan, dimulai dengan opsi solusi menang-menang.<\/p>\n\n<p>Ide yang mereka rintis telah diadopsi dan disintesis ke dalam pendekatan utama. Menggabungkan pembelajaran dan kolaborasi dengan masyarakat lokal dan lainnya, menggunakan studi rinci mengenai bentang alam hutan dan masyarakat sebagai komponen utama.<\/p>\n<p>Melalui anekdot dan bukti, mereka menunjukkan keadaan di mana masyarakat tidak lagi kembali ke praktik pra-proyek, menggambarkan bagaimana tujuan untuk memastikan perubahan dapat bertahan dan berkelanjutan bisa menjadi norma. Sebelumnya, seusai peneliti memperkenalkan proyek yang dirancang untuk memperkenalkan cara baru agroforestri, masyarakat sering meninggalkannya saat proyek berakhir.<\/p>\n<p>Sekarang, jelas tercermin dalam upaya Larson dan timnya, ACM telah menjadi umum digunakan. Buku ini memberikan anekdot dan bukti masyarakat tidak lagi menghentikan praktik baru, melainkan mempertahankan ide dan pendekatan baru \u2013 di mana mereka sebagai inti proses &#8212;  dalam pengelolaan bentang alam.<\/p>\n<p>Namun, seperti dijelaskan dalam buku, pendekatan ini tidak menawarkan solusi kilat, atau menyelesaikan semua masalah.<\/p>\n<p>\u201cBuku ini bukan resep singkat untuk manajemen adaptif kolaboratif, dan jika itu dilakukan, niatnya akan gagal,\u201d tulis Jeff Sayer, profesor di Universitas British Columbia Kanada yang menjabat sebagai Direktur Jenderal CIFOR pertama dari 1993 hingga 2001, dalam kata pengantarnya.<\/p>\n<p>\u201cJarang ada cara sederhana yang dapat menyelesaikan konflik hutan,\u201d katanya. \u201cBuku ini memungkinkan kita untuk memetik manfaat dari pembelajaran panjang para ilmuwan berprestasi yang telah mempelajari masalah ini bersama dengan aktor lokal dan global.\u201d<\/p>\n\n<p>Berbagai proposal program pengelolaan hutan &#8212; termasuk inisiatif sejuta pohon, restorasi bentang hutan, komitmen nol deforestasi, solusi berbasis alam dan REDD+ (Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi hutan) &#8212; seringkali didasarkan pada strategi atas-ke-bawah yang mengabaikan kebutuhan komunitas lokal &#8212; sehingga malah merugikan.<\/p>\n<p>Dalam skenario ini, masyarakat lokal semata dipertimbangkan, atau kelompok yang harus \u201cdilindungi\u201d, atau mungkin diyakinkan untuk mengubah praktik mereka, daripada dilihat sebagai mitra setara dalam perubahan, ujar Larson.<\/p>\n<p>Seiring meningkatnya tekanan ketahanan pangan akibat perubahan iklim dan dampaknya terhadap lingkungan alam terhadap pengelola lahan, ACM menawarkan peluang keterlibatan penuh para pemangku kepentingan dalam mencari solusi, tulis dalam buku.<\/p>\n<p>\u201cManajemen Adaptif Kolaboratif adalah pendekatan yang memprioritaskan hak dan peran masyarakat di samping kebutuhan untuk mengatasi krisis iklim, lingkungan, dan keadilan,\u201d kata Colfer.<\/p>\n<p>ACM efektif dalam skala besar karena kapasitasnya untuk memasukkan konteks \u2013 termasuk budaya dan realitas ekologis &#8212;  dalam distribusi kekuasaan dan otoritas di berbagai tingkat yurisdiksi.<\/p>\n<p>Sejak awal, buku ini sangat fokus pada pemerataan. Berbagai ide dikembangkan para peneliti muncul ketika mereka bekerja di pedesaan, di mana masyarakat seharusnya memiliki kekuasaan mengambil keputusan secara mandiri. Akan tetapi, faktanya, mayarakat kurang memiliki kendali atas wilayahnya, khususnya hutan \u2014 dengan alasan sejarah, ras, politik dan ekonomi.<\/p>\n\n<p>Rintisan awal dari Colfer dan Prabhu dari masa awal ACM didasarkan pada keyakinan bahwa masyarakat lokal yang paling mengetahui konteksnya, harus dapat mendapatkan manfaat sebanyak orang luar, dan dapat membuat rencana dan tindakan lebih sesuai dan berkelanjutan secara lokal. Membangun pembelajaran sosial ke dalam proses dapat membantu mereka belajar dari pengalaman mereka sendiri, beradaptasi dengan perubahan dan meningkatkan kekuatan mereka.<\/p>\n<p>Pendekatan ini mendefinisikan ulang gagasan tentang &#8220;partisipasi&#8221; dalam pengelolaan sumber daya menjadi &#8220;pengambilan keputusan lokal.&#8221;<\/p>\n<p>Keterlibatan Larson dengan ACM dimulai melalui fokus pada dinamika kekuasaan, bekerja dengan komunitas adat. Ia bekerja dengan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/62347\/esther-mwangi-researcher-on-gender-and-forest-property-rights-dies-at-53?fnl=en\">ilmuwan utama CIFOR Esther Mwangi (1965-2019)<\/a> untuk menjawab dinamika gender dalam konteks dominasi laki-laki, memanfaatkan literatur feminis dan gender, serta memikirkan cara baru menangani masalah gender.<\/p>\n<p>\u201cIndikasi paling jelas dari kesuksesan hasil yang dilaporkan adalah pergeseran peran gender,\u201d kata Larson. \u201cKetika pergeseran ini terjadi dalam konteks di mana mereka secara langsung terkait dengan hasil pemanfaatan sumber daya, muncul pula manfaat ekonomi yang positif.\u201d<\/p>\n<p>Colfer, yang mempelajari kehidupan perempuan selama empat dekade, <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/67062\/men-in-forests-new-book-shatters-stereotypes?fnl=en\">menuliskan karya terbarunya tentang gender<\/a> dalam buku <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/7725\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Masculinities in Forests: Representations of Diversity<\/em><\/a>  (Routledge 2020).<\/p>\n<p>Sementara Prabhu yang tidak secara khusus membahas masalah gender dalam karyanya, mengadopsi minatnya dalam masalah keadilan setelah beberapa pengalaman memunculkan benih keraguan tentang sejauh mana hutan sebenarnya menjadi tempat yang maskulin sebagaimana dijejalkan pada rimbawan.<\/p>\n\n<p>\u201cDalam beberapa tahun terakhir, dia menyadari (sebagaimana pandangan sebagaian orang) mengenai pandangan toksik maskulinitas harus dijawab dalam tekanan persaingan atas kolaborasi, tindakan individual dibanding kolektif, dan pemeliharaan berbagai masalah yang kita hadapi saat ini,\u201d kata Colfer.<\/p>\n<p>Kini, lembaga kehutanan mulai bergeser dari pandangan tradisional tentang pengelolaan hutan yang hanya fokus pada produksi, dengan merangkul pendekatan yang memperlebar peluang lahirnya sistem tata kelola yang akan lebih mendukung dan mempertahankan ragam manfaat bagi masyarakat dari hutan secara lebih adil.<\/p>\n<p>Menerapkan ACM dapat membentuk ulang lembaga kehutanan pemerintah dan lembaga internasional dalam mendukung mereka dalam mengatasi perubahan tekanan dan peluang, serta membantu pencapaian kemitraan dan kolaborasi yang penting untuk hasil hutan yang optimal.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada jawaban tunggal yang &#8216;benar&#8217; atas timbal balik hutan; pengelolaan hutan selalu ditantang oleh kebutuhan untuk terus beradaptasi dengan perubahan tekanan dan tuntutan, serta oleh kebutuhan untuk memastikan kolaborasi di berbagai aktor yang mengklaim atas lahan hutan,\u201d kata Colfer. Ia menambahkan bahwa volume\u2014 yang pertama dari dua ini \u2014 menyajikan satu dekade pembelajaran dan pengalaman praktis di berbagai situasi.<\/p>\n<p>Konsep ACM membantu mewujudkan kemitraan dan kolaborasi yang penting dalam mencapai hasil hutan yang optimal dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB. Secara khusus, SDG16 dirancang untuk \u201cmempromosikan masyarakat damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses keadilan bagi semua dan membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan.\u201d<\/p>\n\n<p>Di dalam buku, para peneliti menjelaskan bagaimana institusi dan praktisi biasanya dibatasi oleh model sejarah pengelolaan hutan yang dapat mengganggu praktik berkeadilan dan efektif di tingkat lokal. Sebuah publikasi terbuka, memberi alat yang praktis dan selalu tersedia untuk menjawah \u201ctradisionalisme\u201d kelembagaan, birokrasi dan komunitas.<\/p>\n<p>Target global dalam tujuan perubahan iklim, keanekaragaman hayati, penggurunan, dan tujuan lain yang didukung oleh hutan hanya akan tercapai jika pengelolaan hutan lebih baik disesuaikan dengan konteks lokal yang didasari kolaborasi pemangku kepentingan.<\/p>\n<p>Edisi ini merinci studi kasus dan berbagai contoh, termasuk memprioritaskan suara wanita, cendekiawan, dan praktisi yang seringkali kurang terwakili dari Global Selatan.<\/p>\n<p>\u201cKami memberikan contoh nyata tentang bagaimana ACM dapat berfungsi untuk meningkatkan pembangunan secara berkelanjutan, melalui para praktisinya dan jauh melampaui tempat mereka awalnya bekerja,\u201d kata Colfer.<\/p>\n<style>@media only screen and (max-device-width: 1680px) {.post-title {margin-top: -80px; }}\t<\/style>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Triskelion merupakan simbol kuno berbentuk tiga spiral. Bentuk triadiknya memiliki berbagai arti untuk beragam budaya yang direpresentasikannya selama bertahun-tahun. Bagi tiga ilmuwan penulis buku terbaru berjudul Adaptive Collaborative Management in Forest Landscapes: Villagers, Bureaucrats and Civil Society (Routledge, 2022), symbol ini menggambarkan bersatunya visi berbeda namun sejalan dan menjadi panduan prinsip-prinsip strategis Manajemen Adaptif Kolaboratif [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":91,"featured_media":75839,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090,13,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[2560,2516,2670,2819],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[989],"class_list":["post-75837","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","category-governance","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-jender","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-kepemilikan-dan-hak-atas-lahan","tag-bahasa-redd","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Triskelion merupakan simbol kuno berbentuk tiga spiral. Bentuk triadiknya memiliki berbagai arti untuk beragam budaya yang direpresentasikannya selama bertahun-tahun. Bagi tiga ilmuwan penulis buku terbaru berjudul Adaptive Collaborative Management in Forest Landscapes: Villagers, Bureaucrats and Civil Society (Routledge, 2022), symbol ini menggambarkan bersatunya visi berbeda namun sejalan dan menjadi panduan prinsip-prinsip strategis Manajemen Adaptif Kolaboratif [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-01-12T04:39:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-09-28T03:27:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Julie Mollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jmollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif\"},\"author\":{\"name\":\"Julie Mollins\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\"},\"headline\":\"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif\",\"datePublished\":\"2022-01-12T04:39:25+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-28T03:27:58+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif\"},\"wordCount\":1198,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Governance\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif\",\"name\":\"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg\",\"datePublished\":\"2022-01-12T04:39:25+00:00\",\"dateModified\":\"2022-09-28T03:27:58+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg\",\"width\":799,\"height\":533,\"caption\":\"Petani perempuan berpartisipasi dalam riset Aksi Partisipatif untuk Pencegahan Kebakaran dan Restorasi Gambut Berbasis Masyarakat.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\",\"name\":\"Julie Mollins\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Julie Mollins\"},\"description\":\"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.linkedin.com\\\/in\\\/juliemollins\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/jmollins\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jmollins\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75837\\\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif","og_description":"Triskelion merupakan simbol kuno berbentuk tiga spiral. Bentuk triadiknya memiliki berbagai arti untuk beragam budaya yang direpresentasikannya selama bertahun-tahun. Bagi tiga ilmuwan penulis buku terbaru berjudul Adaptive Collaborative Management in Forest Landscapes: Villagers, Bureaucrats and Civil Society (Routledge, 2022), symbol ini menggambarkan bersatunya visi berbeda namun sejalan dan menjadi panduan prinsip-prinsip strategis Manajemen Adaptif Kolaboratif [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-01-12T04:39:25+00:00","article_modified_time":"2022-09-28T03:27:58+00:00","og_image":[{"width":799,"height":533,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Julie Mollins","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jmollins","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif"},"author":{"name":"Julie Mollins","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467"},"headline":"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif","datePublished":"2022-01-12T04:39:25+00:00","dateModified":"2022-09-28T03:27:58+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif"},"wordCount":1198,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg","articleSection":["Forests News","Governance","REDD+"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif","name":"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg","datePublished":"2022-01-12T04:39:25+00:00","dateModified":"2022-09-28T03:27:58+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg","width":799,"height":533,"caption":"Petani perempuan berpartisipasi dalam riset Aksi Partisipatif untuk Pencegahan Kebakaran dan Restorasi Gambut Berbasis Masyarakat."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Buku Baru Pendekatan Terbaik untuk Manajemen Hutan Kolaboratif Adaptif"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467","name":"Julie Mollins","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","caption":"Julie Mollins"},"description":"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.","sameAs":["https:\/\/www.linkedin.com\/in\/juliemollins\/","https:\/\/x.com\/jmollins"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jmollins"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75837\/buku-baru-pendekatan-terbaik-untuk-manajemen-hutan-kolaboratif-adaptif#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/32903514227_ee25de8ba0_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75837","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/91"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75837"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75837\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79236,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75837\/revisions\/79236"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75837"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75837"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75837"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=75837"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=75837"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=75837"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=75837"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=75837"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=75837"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=75837"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=75837"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=75837"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=75837"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}