{"id":75786,"date":"2022-01-04T13:25:34","date_gmt":"2022-01-04T06:25:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=75786"},"modified":"2022-01-04T13:25:34","modified_gmt":"2022-01-04T06:25:34","slug":"meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia","title":{"rendered":"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Pak Ongko adalah seorang petani dan nelayan berusia 77 tahun. Dulu ia hidup dari ikan Butini (<em>Glossogobius matanensis<\/em>) dan udang air tawar yang bertebaran di Danau Matano \u2013 danau teknonik purba, terpencil di sudut timur Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.<\/p>\n<p>Namun spesies itu menghilang dalam 10 tahun terakhir dikarenakan polusi dari pemukiman dan tambang nikel; penangkapan ikan berlebihan; dan inkursi spesies invasif \u2013 yang tidak bisa dikonsumsi \u2013 seperti ikan sapu (<em>Pterygoplichthys pardalis<\/em>), yang melahap alga dan telur ikan lainnya.<\/p>\n<p>Hidup dari menjaring ikan sudah tidak mungkin lagi bagi orang-orang seperti Pak Ongko, sehingga banyak yang kemudian beralih pada bertani dan mengumpulkan hasil hutan hujan tropis pegunungan yang mengelilingi danau. Namun, tanpa pengelolaan yang berhati-hati, ekosistem ini juga menghadapi ancaman terdegradasi dan tidak produktif.<\/p>\n<p>Pada akhir 2020 \u2013 sebagai bagian dari upaya besar untuk menyokong penghidupan melalui reformasi tenurial \u2013 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendorong masyarakat petani-nelayan untuk bergabung dalam kelompok peternak lebah sebagai bagian dari program wanatani. Mereka menyiapkan 90 sarang lebah, didampingi kelompok swadaya masyarakat, yang memberikan pelatihan usaha dan produksi madu.<\/p>\n<p>Setahun kemudian, jumlah sarang lebah meningkat jadi 120, dan peternak baru seperti Pak Ongko, kini memproduksi dan menjual madu lokal yang lezat. Mengingat lebah membutuhkan tanaman dan pohon lokal berbunga, usaha ini menjadi pendorong kuat bagi masyarakat untuk menjaga hutan. Tekanan perikanan di Danau Matano teralihkan, sebagaimana harapan pemerintah agar danau memiliki peluang untuk regenerasi alami.<\/p>\n\n<p>Kisah yang dipaparkan oleh seorang peserta dalam bimbingan teknis \u201cPenguatan kapasitas birokrat pelaksana dalam Pembangunan Kehutanan\u201d, Oktober 2021, ini membahas potensi rehabilitasi lahan, perhutanan sosial, dan manajemen hutan secara luas, dalam menyediakan penghidupan berkelanjutan sambil memperkuat perlindungan atas sumber daya hutan.<\/p>\n<p>\u201cKami berharap, kisah seperti ini tersebar lebih luas dan lebih sering \u2013 hingga para staf di berbagai tingkat memiliki kapasitas untuk mewujudkannya,\u201d kata Tuti Herawati, Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang menyelenggarakan lokakarya ini.<\/p>\n<p><strong>Reformasi tenurial hutan di Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Sejak 2016, pemerintah Indonesia telah mengalokasikan 12,7 juta hektare hutan untuk dikelola masyarakat dalam berbagai skema perhutanan sosial. Reformasi ini merupakan salah satu program prioritas nasional untuk mengentaskan kemiskinan dengan memberi akses legal pada masyarakat untuk mendapatkan sumber daya hutan bagi penghidupan.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR) melakukan riset untuk lebih memahami hambatan proses impelementasi. Ditemukan sejumlah faktor, yaitu kerangka regulasi, tantangan administratif, kekuatan pasar, keterbatasan anggaran, masalah koordinasi, dan beragam atribut masyarakat.<\/p>\n<p>Temuan ini merupakan hasil dari <a href=\"https:\/\/www2.cifor.org\/gcs-tenure\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi Komparatif Tenurial Global<\/a> selama 2014-2019, yang menelaah perkembangan reformasi tenurial di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Indonesia merupakan salah satu lokasi riset, selain lima negara lain \u2013 Peru, Uganda, Kenya, Nepal dan Republik Demokratik Kongo.<\/p>\n\n<p><strong>Membumikan mimpi <\/strong><\/p>\n<p>Salah satu fokus <em>GCS Tenure<\/em> adalah meningkatkan kapasitas aparat sipil negara dalam mengimplementasikan program reformasi tenurial hutan di enam negara. Dengan tujuan ini, CIFOR menyusun survei pelaku untuk secara sistematis mendokumentasikan kondisi dan tantangan yang dihadapi lembaga pemerintah dalam mengimplementasikan reformasi. Perangkat ini telah diterapkan di lima kajian di Indonesia sejak 2017.<\/p>\n<p>Dalam konteks Indonesia, kesenjangan dan tantangan yang terungkap dari survei melatarbelakangi pelaksanaan bimbingan teknis di bulan Oktober.<\/p>\n<p>Bimbingan teknis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas birokrat dalam mengimplementasikan program pembangunan kehutanan di lapangan; memperkenalkan survei pelaku; dan mengidentifikasi tantangan dan hambatan yang dihadapi peserta dalam pelaksanaan manajemen hutan. Kegiatan ini dihadiri lebih dari seratus peserta, dari Kesatuan Pemangku Hutan, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan, serta Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan, serta lembaga lain.<\/p>\n<p>Bimbingan teknis ini diselenggarakan secara daring, melalui tiga pertemuan via Zoom, ditambah penugasan dan proses mentoring untuk mengisi jeda pertemuan kedua dan ketiga. Kegiatan dirancang menggunakan model partisipatif yang secara aktif melibatkan peserta dalam diskusi pleno dan kelompok kerja. Materi pelatihan disampaikan melalui beragam metode, seperti presentasi PowerPoints, curah pendapat, dan video, serta sisa waktu dihabiskan untuk diskusi.<\/p>\n\n<p>Para peserta mendiskusikan sejumlah topik terkait kebijakan dan regulasi kehutanan, termasuk regulasi perhutanan sosial terbaru, pengelolaan dan perencanaan daerah aliran sungai, rehabilitasi mangrove, produksi sumber bibit, serta konservasi air dan tanah. Seluruh program pembangunan kehutanan dilakukan dengan memasukkan partisipasi masyarakat dan hak tenurial, yang terus diperkuat oleh pemerintah melalui sejumlah regulasi setelah penerbitan undang undang cipta kerja 2020.<\/p>\n<p>Sebagian sesi lokakarya juga digunakan untuk memahami teori dan praktik bercerita mengenai implementasi program pembangunan hutan.<\/p>\n<p>\u201cSeringkali, orang dalam posisi ini tahu apa yang terjadi, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan informasi itu pada publik,\u201d kata peneliti CIFOR, Nining Liswanti.<\/p>\n<p>Peserta diberikan tugas untuk mengembangkan sendiri cerita mengenai pengalaman lapangan saat melakukan pekerjaan mereka, yang mereka selesaikan di rumah dalam dua pekan, dan menerima bantuan asistensi jika diperlukan.<\/p>\n<p>Selanjutnya, pada 29 Oktober, dilakukan pertemuan daring yang ketiga untuk berbagi cerita. Sejumlah situasi, tantangan dan keberhasilan dipaparkan \u2013 dari juara kompetisi durian di Kalimantan Selatan hingga usaha minyak kayu putih di Jawa Timur.<\/p>\n<p>\u201cBagian dari pelatihan ini membantu menuliskan cerita secara lebih baik dan juga membantu kita belajar bagaimana mereka menjalankan program kehutanan- dan bagaimana mereka menghadapi hambatan dan tantangan di sepanjang jalannya,\u201d kata Liswanti.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pak Ongko adalah seorang petani dan nelayan berusia 77 tahun. Dulu ia hidup dari ikan Butini (Glossogobius matanensis) dan udang air tawar yang bertebaran di Danau Matano \u2013 danau teknonik purba, terpencil di sudut timur Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Namun spesies itu menghilang dalam 10 tahun terakhir dikarenakan polusi dari pemukiman dan tambang nikel; penangkapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":75788,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090,13,95,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[7241,2670,5224,6521],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-75786","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","category-governance","category-human-wellbeing","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-gcs-tenurial","tag-bahasa-kepemilikan-dan-hak-atas-lahan","tag-bahasa-perhutanan-sosial","tag-bahasa-tenurial","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pak Ongko adalah seorang petani dan nelayan berusia 77 tahun. Dulu ia hidup dari ikan Butini (Glossogobius matanensis) dan udang air tawar yang bertebaran di Danau Matano \u2013 danau teknonik purba, terpencil di sudut timur Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Namun spesies itu menghilang dalam 10 tahun terakhir dikarenakan polusi dari pemukiman dan tambang nikel; penangkapan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-01-04T06:25:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/35061289113_d2cec67092_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia\",\"datePublished\":\"2022-01-04T06:25:34+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia\"},\"wordCount\":806,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/35061289113_d2cec67092_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2022\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia\",\"name\":\"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/35061289113_d2cec67092_c.jpg\",\"datePublished\":\"2022-01-04T06:25:34+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/35061289113_d2cec67092_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/01\\\/35061289113_d2cec67092_c.jpg\",\"width\":799,\"height\":533,\"caption\":\"Bentang alam pertanian di Bantaeng, Sulawesi Selatan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75786\\\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia","og_description":"Pak Ongko adalah seorang petani dan nelayan berusia 77 tahun. Dulu ia hidup dari ikan Butini (Glossogobius matanensis) dan udang air tawar yang bertebaran di Danau Matano \u2013 danau teknonik purba, terpencil di sudut timur Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Namun spesies itu menghilang dalam 10 tahun terakhir dikarenakan polusi dari pemukiman dan tambang nikel; penangkapan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2022-01-04T06:25:34+00:00","og_image":[{"width":799,"height":533,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/35061289113_d2cec67092_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia","datePublished":"2022-01-04T06:25:34+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia"},"wordCount":806,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/35061289113_d2cec67092_c.jpg","articleSection":["Forests News","Governance","Human well-being","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2022","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia","name":"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/35061289113_d2cec67092_c.jpg","datePublished":"2022-01-04T06:25:34+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/35061289113_d2cec67092_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/35061289113_d2cec67092_c.jpg","width":799,"height":533,"caption":"Bentang alam pertanian di Bantaeng, Sulawesi Selatan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan di Sektor Kehutanan Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75786\/meningkatkan-kapasitas-kepemimpinan-di-sektor-kehutanan-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/35061289113_d2cec67092_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75786","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75786"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75786\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":75793,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75786\/revisions\/75793"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75788"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75786"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75786"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75786"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=75786"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=75786"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=75786"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=75786"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=75786"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=75786"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=75786"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=75786"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=75786"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=75786"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}