{"id":75598,"date":"2021-12-14T13:54:09","date_gmt":"2021-12-14T06:54:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=75598"},"modified":"2021-12-14T13:54:09","modified_gmt":"2021-12-14T06:54:09","slug":"menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan","title":{"rendered":"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p>Budi daya dan perdagangan komoditas sambil melindungi dan mengelola hutan serta ekosistem alam lain secara berkelanjutan dari ekspansi pertanian menjadi krusial dalam mencapai target pembangunan dan iklim secara nasional maupun internasional.<\/p>\n<p>Meski mempertinggi risiko lingkungan, komoditas pertanian juga meningkatkan penghidupan atas kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan pangan.<\/p>\n<p>Hal tersebut menjadi topik utama pertemuan iklim COP26 di Glasgow bulan lalu, ketika 25 pemimpin negara \u2013 termasuk Indonesia \u2013 menandatangani <a href=\"https:\/\/ukcop26.org\/forests-agriculture-and-commodity-trade-a-roadmap-for-action\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pernyataan bersama<\/a> yang menegaskan komitmen pada Dialog Hutan, Pertanian dan Komoditas, membangun perdagangan dan pasar, mendukung petani, keterperiksaan dan transparansi, serta riset, pengembangan dan inovasi sebagai fokus utama.<\/p>\n<p>Paralel dengan COP26, sebuah <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCE068tr2ukude_Hg4OUxNMg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">gelar wicara yang dimoderatori oleh Niken Sakuntaladewi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia membahas topik terkait di Paviliun Indonesia<\/a>. Gelar wicara ini mengupas aspek kompleksitas perdagangan komoditas pertanian.<\/p>\n<p>Di Indonesia, <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/tradehub\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Trade, Development and Environment Hub<\/a> (TRADE Hub) yang mengkhususkan diri pada dua komoditas \u2014 minyak kelapa sawit dan kopi \u2014 bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kehutanan dan Wanatani Internasional (CIFOR-ICRAF), <a href=\"https:\/\/indonesia.wcs.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Perhimpunan Konservasi Alam<\/a>,  <a href=\"https:\/\/rccc.ui.ac.id\/rccc\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Perubahan Iklim<\/a>, <a href=\"https:\/\/ipb.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Institut Pertanian Bogor<\/a> (IPB), dan <a href=\"https:\/\/www.unila.ac.id\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Lampung<\/a>.<\/p>\n\n<p>Neil Burgess, Ketua Ilmuwan <a href=\"https:\/\/www.unep-wcmc.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Pemantauan Konservasi Dunia Program Lingkungan PBB<\/a> dan ketua investigator TRADE Hub menyatakan, \u201cKami mengumpulkan data mengenai komoditas pertanian dan perdagangan hasil alam liar di Brasil, Tiongkok, Basin Kongo, Indonesia dan berbagai tempat lain untuk lebih menginformasi perjanjian perdagangan dan perusahaan perdagangan. Kami ingin belajar bagaimana, misalnya, perdagangan minyak sawit terkait dengan deforestasi dan emisi serta pendapatan desa.\u201d<\/p>\n<p>Komoditas kunci berisiko yang diidentifikasi oleh <a href=\"https:\/\/www.lse.ac.uk\/granthaminstitute\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Grantham Institute on Climate Change and the Environment<\/a> adalah sawit, daging sapi, cokelat, kopi dan jagung. Bagaimana interaksinya dengan iklim sangat terkait dengan kebijakan negara konsumen dan kelembagaan negara produsen.<\/p>\n<p>\u201cKonsumsi minyak sawit di Uni Eropa (UE) ditentukan oleh kebijakan dibanding preferensi konsumen, dan memberi dampak jauh,\u201d kata Elizabeth Robinson, direktur lembaga tersebut. \u201cUE menetapkan target bioenergi terbarukan, misalnya, meningkatkan permintaan. Penurunan permintaan dari UE juga didorong oleh kebijakan \u2013 kini muncul diskusi mengenai penghapusan pada 2030. Saya pikir mereka terlalu fokus pada minyak dibanding menghentikan deforestasi. Hal ini mengarah pada kerugian di pihak produsen, konflik antar pemerintah dan benturan di lapangan.\u201d<\/p>\n<p>Perjanjian perdagangan makin menerapkan \u201cpendekatan non-tarif\u201d untuk mempengaruhi negara produsen, tambahnya. Misalnya, <a href=\"https:\/\/www.seco.admin.ch\/seco\/en\/home\/Aussenwirtschaftspolitik_Wirtschaftliche_Zusammenarbeit\/Wirtschaftsbeziehungen\/Freihandelsabkommen\/partner_fha\/partner_weltweit\/indonesien.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Indonesian\u2013European Free Trade Association\u2019s Free Trade Agreement<\/a> mengatur pengurangan tarif terkait perlindungan hutan, yang memicu isu kedaulatan.<\/p>\n<p>Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mengeluarkan <a href=\"https:\/\/asean.org\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/10.-ASEAN-Joint-Statement-to-COP26.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Pernyataan Bersama mengenai Perubahan Iklim ASEAN<\/em><\/a> pada COP26. ASEAN menyeru ditingkatkannya target dan peluang untuk pendanaan implementasi, kata Profesor Simon Tay, Ketua <a href=\"http:\/\/www.siiaonline.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Singapore Institute of International Affairs<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cSecara mandiri kita ingin \u2018Komunitas Iklim ASEAN\u2019 meningkatkan aksi,\u201d katanya. \u201cPasar karbon diperlukan untuk mendorong target lebih dari <a href=\"https:\/\/unfccc.int\/process-and-meetings\/the-paris-agreement\/nationally-determined-contributions-ndcs\/nationally-determined-contributions-ndcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">NDC (Komitmen Kontribusi Nasional)<\/a>. Kita juga harus menemukan solusi berbasis alam dengan kredit karbon berkualitas tinggi dan terverifikasi, mengaitkan pertumbuhan dengan tanggung jawab karbon. Kita juga perlu melihat bagaimana konsesi sawit dan komoditas lain dapat dikelola lebih baik untuk reduksi emisi, meningkatkan penghidupan bagi masyarakat dan memasukan investasi secara benar.\u201d<\/p>\n\n<p>Michael Brady, ilmuwan utama dan pimpinan kelompok riset Rantai Nilai, Pendanaan dan Investasi di CIFOR-ICRAF, meneliti perjanjian regional sebagai bagian dari <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/project\/PMO-2146\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Aksi Terukur untuk Manajemen Lahan Bebas Asap di Asia Tenggara<\/a>, sebuah program bersama dengan <a href=\"https:\/\/www.ifad.org\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian<\/a> dan <a href=\"https:\/\/www.gec.org.my\/index.cfm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Global<\/a> yang diimplementasikan <a href=\"https:\/\/asean.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">oleh Sekretariat ASEAN<\/a>, CIFOR and Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Global.<\/p>\n<p>\u201cTerdapat 23 juta hektare lahan gambut di Asia Tenggara, 38 persen gambut tropis dunia. Indonesia dan Malaysia memiliki 99 persen,\u201d katanya. \u201cPerubahan iklim memperburuk cara pembakaran dalam membersihkan lahan gambut yang berdampak serius pada terjadinya asap lintas batas terhadap kesehatan, perdagangan, produksi, transportasi, perikanan, pertanian, kehilangan nyawa, dan keengganan investor luar negeri.\u201d<\/p>\n<p>Estimasi kerugian pada peristiwa kebakaran 2015 mencapai angka 16 miliar dolar AS. \u201cIni menjadi isu lintas sektor bagi ASEAN, yang kemudian menetapkan sejumlah kerangka kebijakan. Perjanjian Polusi Asap Lintas Batas ASEAN memberi basis politik yang kuat, dengan mensyaratkan kerja sama negara anggota untuk mencegah dan memantau asap, menyajikan informasi, dan melembagakan legislasi.\u201d<\/p>\n<p>Ia merinci beberapa faktor dalam menurunkan kebakaran dan melindungi lahan gambut. Secara regional, yaitu koordinasi antara negara dan aktor non-negara; serta metodologi, data dan estimasi pemantauan dengan pendekatan yang konsisten. Secara nasional, melalui kepemimpinan yang mendukung; pencegahan terkoordinasi; data berkualitas; dan pemahaman bersama.<\/p>\n<p>Herry Purnomo, ilmuwan di CIFOR-ICRAF dan IPB, yang mengkoordinasi TRADE Hub Indonesia, menyambut ikrar COP26 untuk menghentikan deforestasi dan ikrar Indonesia agar hutan menjadi serapan karbon bersih, pada 2030.<\/p>\n<p>\u201cTetapi bagaimana?\u201d katanya bertanya. \u201cIni area dan tujuan yang kompleks, aliran uang, tingkat dan jenis pekerjaan serta emisi. Sekitar 2 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan berada di lahan gambut. Bagaimana menghadapi ini?<\/p>\n\n<p>Simulasi TRADE Hub di Indonesia menemukan bahwa pendekatan biasa akan memperluas perkebunan kelapa sawit, volume ekspor, penghasilan dan lapangan kerja, tetapi juga emisinya, kecuali lahan gambut dilindungi.<\/p>\n<p>\u201cKomitmen yang ada dapat menurunkan deforestasi sebagaimana kita lihat di Sumatra Selatan,\u201d kata Purnomo, \u201cDan emisi dapat diturunkan secara lokal dengan menerapkan tumpang sari dan bendung kanal.\u201d<\/p>\n<p>Bagaimanapun, seringkali tidak ada pilihan kecuali memindahkan perkebunan di atas lahan gambut ke lahan lain, katanya.<\/p>\n<p>Tiur Rumondang, Direktur Penjaminan, Meja Bundar Kelapa Sawit Berkelanjutan (RSPO), menjelaskan bahwa sertifikasi bertujuan menurunkan emisi dan meningkatkan penghidupan.<\/p>\n<p>\u201cAgar kelapa sawit berkelanjutan menjadi norma, pertama, harus menjadi sektor kompetitif dan berkelanjutan; kedua, penghidupan berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, dan hak asasi; ketiga, melindungi dan memperbaiki ekosistem. Sertifikasi RSPO meliputi panduan mewujudkan hal tersebut. Pada standar P&amp;C RSPO 2018, kami merekomendasikan agar kelapa sawit berkelanjutan tidak di atas lahan gambut.\u201d<\/p>\n<p>Ia memaparkan, skema kredit tahunan untuk petani RSPO yang telah dikucurkan mencapai Rp 19 miliar (sekitar 2 juta dolar AS) untuk 22 kelompok mandiri yang beranggotakan lebih dari 8.000 petani. Pada 2019, praktik kelapa sawit berkelanjutan oleh para anggota telah mengurangi emisi sebesar 1,4 juta ton dan melindungi lebih dari 230.000 hektare hutan bernilai tinggi. Tiur mengaku, angka kelompok tersertifikasi masih kecil \u2013 1-2 persen \u2013 meski tahun lalu kepesertaan meningkat 180 persen.<\/p>\n<p>\u201cKita sempat memiliki organisasi contoh, seperti FORTASBI [Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan], yang menyiapkan program untuk petani,\u201d katanya, \u201cpelibatan meluas. Namun jika kita ingin lebih cepat, kita perlu data lokasi petani berada.\u201d<\/p>\n<p>Ketika moderator meminta kesimpulan singkat, Robinson menyatakan, dari perspektif UE, menjadi penting untuk bekerja sama dengan negara produsen dalam mencapai tujuan yang sama. Tay menggarisbawahi urgensi kerja sama untuk menghindari penolakan. Purnomo menyatakan bahwa deforestasi nol bersih pada 2030 di Indonesia sangat mungkin dilakukan. Brady menyatakan bahwa pendekatan terintegrasi diperlukan, termasuk di tingkat regional. Sementara Rumondang menyatakan, dari perspektif praktisi kelapa sawit berkelanjutan membutuhkan kepastian dari pemerintah.<\/p>\n<p><em><strong>TRADE Hub didanai oleh <\/strong><\/em><a href=\"https:\/\/www.ukri.org\/news\/new-global-research-hubs-to-tackle-complex-development-challenges\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><strong><em>UK Research and Innovation Global Challenges Research Fund<\/em><\/strong><\/a><em><strong> dan dipimpin oleh <\/strong><\/em><a href=\"https:\/\/www.unep-wcmc.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em><strong>Pusat Pemantauan Konservasi Dunia<\/strong><\/em><\/a> <em><strong>Program Lingkungan PBB. Indonesia menjadi salah satu lokasi negara simpul dan lokasi aktivitas riset.<\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Budi daya dan perdagangan komoditas sambil melindungi dan mengelola hutan serta ekosistem alam lain secara berkelanjutan dari ekspansi pertanian menjadi krusial dalam mencapai target pembangunan dan iklim secara nasional maupun internasional. Meski mempertinggi risiko lingkungan, komoditas pertanian juga meningkatkan penghidupan atas kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan pangan. Hal tersebut menjadi topik utama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":408,"featured_media":75599,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[10735,10784,2622],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[10425],"class_list":["post-75598","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-cop26","tag-bahasa-emisi-gas-rumah-kaca","tag-bahasa-lahan-gambut","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Budi daya dan perdagangan komoditas sambil melindungi dan mengelola hutan serta ekosistem alam lain secara berkelanjutan dari ekspansi pertanian menjadi krusial dalam mencapai target pembangunan dan iklim secara nasional maupun internasional. Meski mempertinggi risiko lingkungan, komoditas pertanian juga meningkatkan penghidupan atas kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan pangan. Hal tersebut menjadi topik utama [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-12-14T06:54:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/36414065550_611e1483bf_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1152\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Robert Finlayson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@hanoman01\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan\"},\"author\":{\"name\":\"Robert Finlayson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9f11b936fafb1447982781031ecff773\"},\"headline\":\"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan\",\"datePublished\":\"2021-12-14T06:54:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan\"},\"wordCount\":1090,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/12\\\/36414065550_611e1483bf_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2021\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan\",\"name\":\"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/12\\\/36414065550_611e1483bf_k.jpg\",\"datePublished\":\"2021-12-14T06:54:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/12\\\/36414065550_611e1483bf_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/12\\\/36414065550_611e1483bf_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1152,\"caption\":\"Potret udara sekat kanal gambut di Dompas, Riau. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9f11b936fafb1447982781031ecff773\",\"name\":\"Robert Finlayson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g05d07a7f58f160478412f1c1b51abcf8\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Robert Finlayson\"},\"description\":\"Robert Finlayson is a senior associate fellow with CIFOR-ICRAF who joined in 2010 and has held various positions related to communication and liaison. He now specialises in project development, particularly for land restoration in Indonesia and other countries in Asia.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@hanoman01\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/rfinlayson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/75598\\\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan","og_description":"Budi daya dan perdagangan komoditas sambil melindungi dan mengelola hutan serta ekosistem alam lain secara berkelanjutan dari ekspansi pertanian menjadi krusial dalam mencapai target pembangunan dan iklim secara nasional maupun internasional. Meski mempertinggi risiko lingkungan, komoditas pertanian juga meningkatkan penghidupan atas kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan pangan. Hal tersebut menjadi topik utama [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2021-12-14T06:54:09+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1152,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/36414065550_611e1483bf_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Robert Finlayson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@hanoman01","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan"},"author":{"name":"Robert Finlayson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9f11b936fafb1447982781031ecff773"},"headline":"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan","datePublished":"2021-12-14T06:54:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan"},"wordCount":1090,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/36414065550_611e1483bf_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#respond"]}],"copyrightYear":"2021","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan","name":"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/36414065550_611e1483bf_k.jpg","datePublished":"2021-12-14T06:54:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/36414065550_611e1483bf_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/36414065550_611e1483bf_k.jpg","width":2048,"height":1152,"caption":"Potret udara sekat kanal gambut di Dompas, Riau. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menurunkan Emisi dan Meningkatkan Penghidupan melalui Perdagangan dan Manajemen Gambut Berkelanjutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9f11b936fafb1447982781031ecff773","name":"Robert Finlayson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g05d07a7f58f160478412f1c1b51abcf8","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/adbb9f4d01e69f5319ea24a796268abf90399d5c0d1266935d63375c5615eede?s=96&d=mm&r=g","caption":"Robert Finlayson"},"description":"Robert Finlayson is a senior associate fellow with CIFOR-ICRAF who joined in 2010 and has held various positions related to communication and liaison. He now specialises in project development, particularly for land restoration in Indonesia and other countries in Asia.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@hanoman01"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/rfinlayson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/75598\/menurunkan-emisi-dan-meningkatkan-penghidupan-melalui-perdagangan-dan-manajemen-gambut-berkelanjutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/36414065550_611e1483bf_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/408"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75598"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":75601,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75598\/revisions\/75601"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75598"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=75598"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=75598"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=75598"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=75598"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=75598"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=75598"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=75598"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=75598"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=75598"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=75598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}