{"id":73063,"date":"2021-06-24T11:01:16","date_gmt":"2021-06-24T04:01:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=73063"},"modified":"2021-06-24T11:01:16","modified_gmt":"2021-06-24T04:01:16","slug":"menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru","title":{"rendered":"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru"},"content":{"rendered":"<p>Menurut para ilmuwan, kebakaran lahan gambut Indonesia dapat dijelaskan secara lebih baik melalui pendekatan yang baru dikembangkan dengan mempertimbangkan dampak-dampak perubahan iklim dan membantu memprediksi titik-titik panas emisi karbon dan polusi udara dari pembakaran gambut.<\/p>\n<p>Sebuah <a href=\"https:\/\/web.archive.org\/web\/20070927234618\/http:\/mscweb.kishou.go.jp\/general\/activities\/products\/olr.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">indeks<\/a> terkait dengan hujan yang digunakan oleh <a href=\"https:\/\/www.jma.go.jp\/jma\/indexe.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Badan Meteorologi Jepang<\/a> telah menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan kebakaran-kebakaran lahan gambut aktif di Indonesia daripada tolak ukur konvensional berdasarkan pola-pola iklim <a href=\"https:\/\/www.weather.gov\/mhx\/ensowhat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">El Ni\u00f1o-Southern Oscillation<\/a> (ENSO) selama dua dekade terakhir.<\/p>\n<p>Menurut suatu <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/7671\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">studi<\/a> terbaru yang didanai oleh <a href=\"https:\/\/www.maff.go.jp\/e\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang<\/a> bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan <a href=\"https:\/\/www.upr.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Palangka Raya<\/a> (UPR) di Indonesia, temuan-temuan tersebut, yang difokuskan pada tingkat-tingkat air tanah sebagai penentu utama kebakaran gambut, akan mempermudah respon terhadap perkiraan  kebakaran yang berhubungan dengan perubahan cuaca dan iklim ekstrim.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/62105\/scientists-on-indonesias-polluting-haze?fnl=en\">Kebakaran lahan gambut<\/a> merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca, partikel-partikel halus dan aerosol, memperburuk perubahan iklim, dan membahayakan kesehatan manusia. Kebakaran tersebut dapat membara selama berbulan-bulan dan berhubungan dengan pengelolaan lahan serta aktivitas lain di sekitar pemukiman manusia.<\/p>\n\n<p>Para petani telah menggunakan api secara tradisional sebagai cara yang murah dalam <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/37016\/clearing-the-smoke-the-causes-and-consequences-of-indonesias-fires?fnl=\">membuka lahan<\/a> untuk pertanian di Indonesia, yang memiliki salah satu tingkat tertinggi dari deforestasi dan degradasi hutan di dunia.<\/p>\n<p>Pada tahun 2016, pemerintah Indonesia mendirikan Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan tujuan untuk memulihkan 2 juta hektar lahan gambut yang terdegradasi.<\/p>\n<p>Kebakaran terburuk di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir dimulai dengan <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/564\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kebakaran Besar Kalimantan<\/a> (1982\u20121983), yang dikaitkan dengan episode ENSO yang kuat. Suhu permukaan laut dan angin di Samudra Pasifik di daerah khatulistiwa berfluktuasi selama siklus-siklus ini dan dapat mempengaruhi cuaca global. Mereka juga mempengaruhi curah hujan tropis dan dapat mengakibatkan kondisi yang sesuai untuk kebakaran hutan dan peristiwa-peristiwa ekstrim lainnya.<\/p>\n<p>Pada tahun 2019, kebakaran lahan gambut terjadi tanpa korelasi ENSO ini. Hal ini mendorong para ilmuwan untuk mencari pendekatan baru yang mempertimbangkan dampak dari perubahan iklim terbaru terhadap kebakaran-kebakaran di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201c<a href=\"https:\/\/hhaya05.wixsite.com\/photographers-portfo\/2018\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Analisis<\/a> kami tentang kebakaran gambut di Indonesia pada tahun 2019 menunjukkan bahwa mereka sulit untuk dipadamkan bahkan dalam periode hujan lebat \u2013 hal itu tergantung pada tingkat air tanah,\u201d kata Hiroshi Hayasaka, seorang peneliti di <a href=\"https:\/\/www.arc.hokudai.ac.jp\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Arktik<\/a> Universitas Hokkaido di Jepang dan penulis utama studi tersebut. \u201cPada tahun-tahun ketika curah hujan rendah, kebakaran gambut menjadi sangat aktif.\u201d<\/p>\n\n<p>Ketiga penulis tersebut fokus pada kawasan hutan rawa tropis didekat Palangka Raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, di mana dulu <a href=\"https:\/\/crisp.nus.edu.sg\/~acrs2001\/pdf\/126boehm.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Mega Rice Project<\/a> membangun 4.000  kilometer saluran irigasi yang mengaliri lahan gambut disekitarnya. Akibatnya, gambut kering yang mudah terbakar (kelas rendah batubara) dalam volume yang sangat besar menjadi terpapar, dan menyebabkan kebakaran berulang di kawasan tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ds.data.jma.go.jp\/tcc\/tcc\/products\/clisys\/explanation.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Indeks<\/a> terkait hujan Jepang dikenal sebagai OLR-MC (Outgoing Longwave Radiation \u2013 Maritime Continent) dan mengukur transportasi panas dan kelembaban atmosfer diatas Indonesia (dari Kalimantan sampai Papua Barat).<\/p>\n<p>Indeks itu diperkenalkan untuk menganalisis enam kebakaran lahan gambut terbesar di Kalimantan dari tahun 2002 hingga 2018, dan hasilnya menunjukkan bahwa kebakaran tersebut terjadi dalam tiga tahap: kebakaran permukaan, kebakaran lahan gambut dangkal dan kebakaran lahan gambut dalam.<\/p>\n<p>Para ilmuwan kemudian mengusulkan model prediksi untuk tingkat air tanah, yang penting untuk mengetahui kondisi kekeringan gambut dan yang diperkirakan dari curah hujan harian. Analisis menunjukkan bahwa kedalaman air tanah untuk masing-masing tahap kebakaran berkisar dari sekitar 300 milimeter hingga 500 milimeter.<\/p>\n<p>Kebakaran lahan gambut selama tiga tahap  tersebut tergantung pada nilai-nilai ini: ketika tingkat air tanah turun, kadar kelembaban gambut menurun dan dapat dibakar dengan lebih mudah.<\/p>\n<p>\u201cModel yang diusulkan sangat sederhana \u2013 semua yang dibutuhkan adalah perkiraan curah hujan harian,\u201d kata Hayasaka. \u201cDalam kasus Indonesia, penting untuk mengukur tingkat air tanah masing-masing lahan gambut dan mengambil <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/3\/i4812e\/i4812e.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">langkah-langkah<\/a> untuk memastikannya tidak berada di bawah 300 milimeter.\u201d<\/p>\n\n<p>Kebakaran-kebakaran lahan gambut aktif di Indonesia \u2014 termasuk yang terjadi pada tahun 2019 ketika kondisi El Ni\u00f1o netral \u2014 dapat dijelaskan oleh tingkat air tanah tersebut. Menurut Aswin Usup dari UPR yang mensupervisi penelitian ini, khususnya penting untuk memprediksi kejadian kebakaran lahan gambut dalam, dimana model evaluasi yang diusulkan mampu melakukannya.<\/p>\n<p>Teknologi satelit mendukung pendekatan baru ini. Data curah hujan disediakan oleh Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang, Badan Meteorologi Jepang dan <a href=\"https:\/\/www.noaa.gov\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat<\/a>, sedangkan satelit Terra dan Aqua yang dioperasikan oleh NASA mengirimkan data dari <a href=\"https:\/\/earth.esa.int\/web\/guest\/missions\/3rd-party-missions\/current-missions\/terraaqua-modis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">instrumen pencitraan<\/a> yang mendeteksi kebakaran-kebakaran hutan tropis dan lahan gambut.<\/p>\n<p>\u201cPendekatan evaluasi berbasis curah hujan ini mengisi kebutuhan penelitian yang menghubungkan prediksi kebakaran lahan gambut dan tingkat air tanah,\u201d kata Daisuke Naito, peneliti CIFOR dan salah satu penulis studi tersebut.<\/p>\n<p>Penggunaan indeks OLR akan sangat berguna untuk menganalisis kebakaran-kebakaran tropis di masa depan yang terkait dengan El Ni\u00f1o dan perubahan iklim,\u201d Hayasaka menambahkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut para ilmuwan, kebakaran lahan gambut Indonesia dapat dijelaskan secara lebih baik melalui pendekatan yang baru dikembangkan dengan mempertimbangkan dampak-dampak perubahan iklim dan membantu memprediksi titik-titik panas emisi karbon dan polusi udara dari pembakaran gambut. Sebuah indeks terkait dengan hujan yang digunakan oleh Badan Meteorologi Jepang telah menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan kebakaran-kebakaran lahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":364,"featured_media":73066,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[2622,10609],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[9822],"class_list":["post-73063","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-lahan-gambut-indonesia","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menurut para ilmuwan, kebakaran lahan gambut Indonesia dapat dijelaskan secara lebih baik melalui pendekatan yang baru dikembangkan dengan mempertimbangkan dampak-dampak perubahan iklim dan membantu memprediksi titik-titik panas emisi karbon dan polusi udara dari pembakaran gambut. Sebuah indeks terkait dengan hujan yang digunakan oleh Badan Meteorologi Jepang telah menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan kebakaran-kebakaran lahan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-06-24T04:01:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2047\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"David Henry\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru\"},\"author\":{\"name\":\"David Henry\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18\"},\"headline\":\"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru\",\"datePublished\":\"2021-06-24T04:01:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru\"},\"wordCount\":758,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2021\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru\",\"name\":\"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg\",\"datePublished\":\"2021-06-24T04:01:16+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg\",\"width\":2047,\"height\":1365,\"caption\":\"Hutan gambut di Desa Parupuk, Katingan, Kalimantan Tengah. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18\",\"name\":\"David Henry\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g495ca2761fca34dfb5a2f6b5d002bf4a\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"David Henry\"},\"description\":\"David Henry is a freelance writer who focuses on issues relating to climate change, food security and sustainable development.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/davidhenry\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/73063\\\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru","og_description":"Menurut para ilmuwan, kebakaran lahan gambut Indonesia dapat dijelaskan secara lebih baik melalui pendekatan yang baru dikembangkan dengan mempertimbangkan dampak-dampak perubahan iklim dan membantu memprediksi titik-titik panas emisi karbon dan polusi udara dari pembakaran gambut. Sebuah indeks terkait dengan hujan yang digunakan oleh Badan Meteorologi Jepang telah menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan kebakaran-kebakaran lahan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2021-06-24T04:01:16+00:00","og_image":[{"width":2047,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"David Henry","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru"},"author":{"name":"David Henry","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18"},"headline":"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru","datePublished":"2021-06-24T04:01:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru"},"wordCount":758,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#respond"]}],"copyrightYear":"2021","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru","name":"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg","datePublished":"2021-06-24T04:01:16+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg","width":2047,"height":1365,"caption":"Hutan gambut di Desa Parupuk, Katingan, Kalimantan Tengah. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menurut Para Ilmuwan, Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Dapat Diprediksi Menggunakan Pendekatan Evaluasi Baru"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18","name":"David Henry","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g495ca2761fca34dfb5a2f6b5d002bf4a","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g","caption":"David Henry"},"description":"David Henry is a freelance writer who focuses on issues relating to climate change, food security and sustainable development.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/davidhenry"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/73063\/menurut-para-ilmuwan-kebakaran-lahan-gambut-di-indonesia-dapat-diprediksi-menggunakan-pendekatan-evaluasi-baru#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/36671790491_9cd7de14e1_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73063","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/364"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=73063"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73063\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73065,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73063\/revisions\/73065"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/73066"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=73063"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=73063"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=73063"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=73063"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=73063"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=73063"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=73063"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=73063"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=73063"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=73063"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=73063"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=73063"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=73063"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}